Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku
Season 2 (14. Salah faham)


__ADS_3

Bangunlah!" rasa hangat tiba-tiba menutup kedua bahunya yang terbuka, perlahan Zea menyapu air mata yang menutupi pandangannya, sebuah jas menggantung menutupi tubuhnya dan seorang pria berdiri tepat di depannya.


Zea mendongakkan kepalanya, kembali mengusap air matanya agar tatapannya lebih jelas lagi. Namun ia kembali tidak percaya, beberapa kali mengusap air matanya memastikan apa yang ia lihat itu benar.


"Ardi? Kamu benar Ardi?"


Dan pria yang berdiri di depannya sambil mengulurkan tangan itu menganggukkan kepalanya, dengan cepat Zea berdiri dan berhambur memeluk pria itu,


"Ardi aku merindukanmu, sungguh!" Zea semakin bergetar di dalam pelukan pria yang bernama Ardi itu.


Dari kejauhan ada pria yang tengah duduk di balik kemudi tengah memperhatikan mereka, tangannya mengepal dan memukul stang stir berbentuk lingkaran di depannya itu, wajahnya merah menahan amarah hingga otot-otot di wajahnya terlihat saling menampakkan diri. Dengan cepat ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Dia adalah Rangga, setelah melihat Zea keluar dari acara itu. Ia pun segera menyusul, Miska sempat ingin tapi Rangga mengabaikannya.


"Ga mau ke mana, kenapa bawa mobil?"


"Lo pulang sendiri!"


"Kamu mau ke mana?"


"Bukan urusanmu!" Rangga meninggalkan Miska begitu saja.


Mobilnya berjalan lambat, agar bisa menemukan Zea. Zea tidak mungkin sudah jauh apalagi dengan kakinya yang terkilir. Perasaan cemas mendera saat ponsel Zea bahkan tidak bisa di hubungi, beruntung ia memiliki nomor pemilik kontrakan Zea dan memintanya untuk memastikan zea sudah sampai rumah atau belum dan ternyata belum.


Jika Zea memesan taksi, pasti sudah sampai saat ini.


Tapi rasa cemasnya berubah menjadi kemarahan yang tadi sempat tersulut karena gaun saat melihat Zea berpelukan dengan laki-laki lain, bahkan mereka terlihat begitu dekat.


Rangga yang tak mampu menahan marah memilih mengemudikan mobilnya dengan begitu cepat hingga sampai di kontrakan Zea lebih dulu. Ia memiliki kunci rumah itu, tanpa menyalakan lampunya ia memilih masuk dan duduk di sofa ruang tamu untuk menunggu sang istri.


Cukup lama ia menunggu, hingga ia bisa mendengar suara mobil berhenti di depan rumah itu. Rangga segera mengintip Ze dari balik tirai yang menutupi jendela kecil di samping pintu.


"Makasih ya Di, aku nggak tahu kalau tidak ada kamu dan lagi terimakasih sudah mendengar curhatan dari aku!"


"Sama-sama, semoga mimpi indah ya! Jangan nangis lagi!" pria bernama Ardi itu mengusap puncak kepala Zea dan Zea hanya mengangukkan kepalanya sambil tersenyum. Rangga yang melihat hal itu kembali mengepalkan tangannya.

__ADS_1


"Selamat malam, masuklah dulu!"


"Selamat malam, tidak pa pa kamu pergi dulu!"


"Baiklah!" Zea menunggu hingga Ardi kembali masuk ke dalam mobilnya, tepat setelah mobil itu berlalu, Zea pun mulai membalik badannya. Ia melihat mobil Rangga sudah terparkir di sana.


"Rangga sudah kembali!?" gumamnya pelan, ia pun mempercepat langkahnya. Tapi ia ragu saat melihat rumahnya masih begitu gelap tidak mungkin di dalam rumah ada orang.


Ia kembali mengunci pintunya saat sudah masuk, dan saat ia berbalik ia begitu terkejut karena meskipun gelap di balik remang-remang cahaya lampu dari luar ia bisa melihat bayangan seseorang berdiri di depannya.


"Ga?"


Bukannya menjawab panggilan Zea, Rangga malah mendorong tubuh Zea hingga membentur pintu.


"Aughhh sakit Ga!" pekik Zea dan Rangga tidak mempedulikan hal itu, ia mengungkung tubuh Zea antara tubuhnya dan pintu.


"Ga lepasin, apa yang kamu lakukan?" lagi-lagi Rangga tidak menjawab, di balik kegelapan itu Zea bisa melihat sorot mata tajam dari pemiliknya.


Rangga langsung ******* dengan kasar bibir Zea, begitu kasar hingga Zea tidak bisa merasakan cinta di dalam ciuman itu, hanya rasa amarah yang besar yang tengah menguasai pria yang tengah menguasai tubuhnya itu.


Tanganya berusaha untuk mendorong tubuh pria itu tapi tidak bisa,


Bukannya melepaskan Zea, Rangga mengangkat tubuh Zea yang hanya menyisakan kain tipis yang menutupi bagian atas dan bawah tubuhnya dan menggendongnya seperti membawa karung, kepalanya yang di belakang dengan tangan yang terus memukul punggung Rangga, tapi tetap saja Rangga tidak ingin melepaskannya. Rasa marah dan cemburu sudah membutakan hatinya.


Dengan kasar ia menghempaskan tubuh Zea ke atas tempat tidur, Zea yang memundurkan tubuhnya berhasil di tarik kembali oleh Rangga hingga kini Zea berada di bawah tubuh Rangga, Rangga bertumpu pada kedua tangan dan lututnya, kembali menatap tajam pada Zea. Zea begitu ketakutan, ia tidak suka dengan apa yang di lakukan oleh Rangga saat ini.


"Mana yang sudah di sentuh olehnya? Oleh mereka? Mana saja, ini, ini, atau ini?" Rangga menunjuk pada bibir, lalu beralih pada kedua buah dada dan terakhir ke bagian inti Zea.


Apapun yang Rangga lakukan tadi ia terima, tapi tidak dengan tuduhan ini. Entah dapat kekuatan dari mana hingga ia bisa mendorong tubuh Rangga hingga pria itu hampir terjatuh ke belakang. Zea segera bangun dan ....


Plakkkk


Sebuah tamparan keras menyapu pipi pria yang telah menikahinya,


"Kamu salah jika menanyakan hal itu padaku!"

__ADS_1


Kini mereka sama-sama berdiri, Zea yang hanya mengenakan bra dan CD tidak membuatnya merasa risi saat ini, dengan kedua tangannya ia mendorong pria yang mulai redam emosinya.


"Kamu pikir aku wanita murahan yang bisa dengan mudah di sentuh oleh pria manapun? Jika iya, kamu salah besar!"


"Ohhhh aku tahu, mungkin ini kesalahan terbesarku karena telah dengan berani membiarkanmu menyentuhku!"


"Aku menyesal telah mengijinkannya, aku menyesal dengan status baruku!" kali ini Zea bicara sambil menunjuk ke arah dada Rangga yang hanya terdiam. Sepertinya pria itu tengah menyadari kesalahannya. Awalnya dia bukan pria yang seperti itu, tapi ternyata rasa cemburunya telah membutakan semuanya.


"Sekarang pergi dari sini, dan jangan pernah kembali lagi! Aku tidak butuh belas kasihmu, aku tidak butuh semua yang kamu punya, pergi dengan wanita itu! Dan jangan pernah ingat aku lagi!"


"Ze, maafkan aku! Aku hanya_!"


"PERGI!" sebelum Rangga menyelesaikan ucapannya, Zea sudah lebih dulu berteriak beruntung bagian belakang rumahnya jalan raya, jadi tidak akan ada yang mendengar keributan mereka.


Zea mendorong tubuh Rangga hingga keluar kamar dan segera menutup pintunya dari dalam.


"Ze, maafkan aku! Maafkan aku aku salah, tolong biarkan aku bicara!" Rangga berusaha keras mengetuk pintu itu, agar Zea mau membukakannya.


"Pergi Ga, aku tidak mau melihatmu lagi, pergi!" Zea menjatuhkan tubuhnya di lantai, ia menyandarkan punggungnya di daun pintu. Air matanya terus saja mengalir, ia merasakan benar-benar terhina dengan ucapan Rangga. Saat kesetiaannya di ragukan, kesuciannya di ragukan, membuatnya begitu terluka.


"Tapi Ze_!"


"Pergi, biarkan aku sendiri untuk saat ini!"


"Baiklah, istirahatlah! Aku akan kembali besok!" Rangga pun memutuskan untuk pergi, ia tidak mau membuat Zea semakin tertekan olehnya.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @ tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2