Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku
Season 2 (32. Merasa tidak enak)


__ADS_3

"Ga!"


"Hmm?" Rangga mendongakkan kepalanya dan menatap wajah Zea.


"Ga, kamu boleh pergi. Aku tidak pa pa!"


Rangga langsung meletakkan. kotak obatnya begitu saja. Ia menatap Zea dengan tatapan kecewa.


"Sudah aku bilang berapa kali, aku tidak akan pernah pergi meskipun seribu kali kamu memintanya!"


Zea segera menarik tangannya, mengalihkan tatapannya ke tempat lain agar Rangga tidak bisa melihat carian bening yang hampir menetes dari matanya.


"Tapi Ga, ini pasti akan sangat sulit buat kamu!"


"Sesulit apapun nanti, aku pasti bisa menghadapinya, asal bersama denganmu!"


"Jangan membuatku semakin merasa bersalah Ga, dengan kamu bersikap seperti ini akan membuatku semakin sakit!"


Srekkkkk


Bukannya mendebat ucapan Zea, Rangga memilih memeluk istrinya.


"Ga, dengan kamu mempertahankan hubungan kita. Hubungan kamu tidak akan baik-baik saja dengan mama kamu!"


"Aku tidak peduli!"


"Kamu akan kehilangan pekerjaanmu juga!"


"Apa hubungannya?" Rangga masih bicara tanpa berniat untuk melepaskan pelukannya terhadap Zea.


"Nona Ersya tadi ke sini!"


"Aku sudah tahu!"


Sekarang Zea yang terdiam, ia melihat suaminya sama sekali tidak merasa terkejut.


"Bagaimana kalau nona Ersya meminta suaminya untuk memecat kamu?"


Rangga malah tersenyum dan melepaskan pelukannya. Ia menggengam kedua bahu Zea dan menatapnya dengan tersenyum.


"Ga!?"


"Kenapa bisa berpikir seperti itu? Apa menurutmu pak Div akan memecatku gara-gara hubungan kita?"


Zea menganggukkan kepalanya, kemudian ia tersadar sesuatu saat melihat jarum jam.


"Ini masih belum waktunya pulang, apa kamu sudah di pecat sekarang gara-gara nona Ersya ke sini?"


Rangga menggelengkan kepalanya,


"Tidak, tidak semua yang kamu katakan tadi benar. Tapi juga tidak salah!"


"Hahhh?"


"Benarnya, aku pulang karena Ersya ke sini. Pak Div yang memintaku untuk pulang. Tapi bukan karena aku di pecat, pak Div memintaku pulang karena beliau takut jika sampai nona Ersya sampai lepas kendali dan melakukan hal buruk padamu. Walaupun aku sudah sangat mengenal siapa Ersya, tapi aku senang karena pak Div memintaku pulang. Aku tidak akan bisa tenang selama kamu belum benar-benar sembuh!"


"Jadi?"


"Ya jadi, tidak akan ada yang memecatku! Dan apa yang di khawatirkan pak Div tidak akan mungkin terjadi, Ersya memang sedikit kasar tapi dia tidak akan melakukan itu! Iya kan?"

__ADS_1


Zea mengingat kembali bagaimana Ersya datang ke rumahnya. Benar, wanita itu tidak melakukan hal yang kasar padanya malah lebih sopan di banding dua wanita yang datang terakhir.


...***...


Di tempat lain, setelah Ersya sampai di rumah kembali. Ia terlihat lebih pendiam, ia tidak tahu harus mengatakan apa nanti pada sahabatnya.


Benar saja, suara ponselnya berdering dan Felic sedang melakukan video call padanya.


"Aku harus mengatakan apa sekarang?" gumam Ersya yang terlihat ragu untuk menerima telpon dari Felic.


Tapi dengan mengatur nafas dan bibirnya agar kembali tersenyum, ia pun segera menggeser tombol video hingg wajah sahabatnya itu sudah memenuhi layar ponselnya.


"Lama banget sih Er!?"


"Jangan panggil Er, kalau sampai panggil gitu. Aku tutup nih vc nya!?" ancam Ersya.


"Ya abis lama banget, gue udah nggak sabar. Gimana tadi? Berhasil nggak jadi detektifnya?"


"Hmmm!" Ersya begitu ragu untuk mengangukkan kepalanya. Ia benar-benar tidak bisa berbohong dari sahabatnya itu.


"Beneran, sudah tahu? Siapa?"


"Ehh itu, dia _!" Ersya bingung harus mengatakan apa, "Dia penjaga minimarket!"


"Cantik nggak?"


"Kenapa? Belum move on ya?"


"Jangan mulai deh!?"


Ersya terlihat tersenyum hambar, ia berusaha keras untuk mengalihkan pembicaraan mereka agar Felic tidak terus menanyainya perihal istri Rangga.


"Ya Lo, penasaran banget! Jangan Sampek ya suami Lo cemburu. Gue nggak mau dapet masalah gara-gara ini ya!?"


"Ya gue kan tahu, suami Lo posesif!"


Ersya melihat ke arah pintu, terlihat pintu kamarnya perlahan terbuka dan suaminya sudah berdiri menatapnya di sana.


"Udah dulu ya Fe, mas Div datang!"


Ersya segera mematikan sambungan telponnya. Ia sengaja menghindari percakapan dengan Felic agar ia tidak perlu menjelaskan apa-apa yang bisa menyakiti hati sahabatnya.


Div segera melepas jasnya meletakkan begitu saja di sandaran sofa, perlahan ia menghampiri Ersya yang duduk di sudut tempat tidur.


Div segera menunduk dan mengecup kening Ersya.


"Bagaimana hari ini? Apa ada masalah?"


Ersya hanya menggelengkan kepalanya.


"Baiklah, aku mandi dulu ya!" Div hampir beranjak dari tempatnya tapi Ersya segera menahan tangan suaminya.


"Hmmm? Ada apa?"


Tapi Ersya masih diam membuat Div duduk di sampingnya.


"Mau bicara atau hanya diam saja?"


Div tetaplah Div yang tidak bisa berbasa-basi.

__ADS_1


"Mas Div sudah tahu semuanya kan? Sejak kapan? Kenapa menyembunyikan dariku?"


"Kebiasaan!" keluh pria dingin itu, "Bisa kan tanyanya satu per satu!?"


"Siapa suruh ngancam dulu!?" Ersya juga tidak mau kalah.


"ckkkk!"


"Ayo mas, katakan!" Ersya menggoyangkan tangan suaminya agar memberitahu semuanya.


"Lagi pula bukan urusan kita, kenapa kamu memusingkan hal-hal yang tidak penting. Pikirkan saja kandunganmu, jangan sampai terjadi sesuatu sama dia!" Div bicara sambil mengusap perut Ersya.


"Itu penting mas tuan aku, kamu nggak ngerti sih!?" Ersya begitu kesal dan memilih memalingkan wajahnya.


...***...


"Sayang tidurlah, aku akan tidur di luar!" Rangga mengusap puncak kepala Zea dan meninggalkan kecupan di sama.


Tapi saat hendak beranjak tangannya kembali di tahan Zea.


"Aku takut, temani sampai aku tidur ya!"


Rangga sebenarnya begitu senang saat Zea mengatakan hal itu. Tapi ia takut jika sampai tidak bisa mengendalikan diri. Ia tidak mau membuat Zea kembali trauma terhadapnya.


"Baiklah!"


Rangga kembali duduk di samping Zea, Zea terus menggenggam tangan Rangga hingga ia benar-benar tidur.


"Kamu boleh tidur di sini!" ucap Zea lagi, hal itu menjadi angin segar untuk Rangga.


"Benarkan?"


"Iya, tapi berjanjilah untuk saat ini hanya tidur saja. Aku masih belum nyaman!"


"Iya, jangan khawatir!"


Rangga pun akhirnya bisa kembali tidur di samping Zea, walaupun hanya dengan memeluknya saja sudah cukup baginya.


"Terimakasih ya!"


Rangga mengeratkan pelukannya dan mengecup kening Zea.


"Aku mencintaimu! Setelah ini aku akan memperkenalkan kamu sama papa dan mama dengan baik!"


"Jangan dulu, aku takut!" Zea masih kembali teringat dengan bagaimana reaksi mama Rangga saat ia tahu jika Zea adalah menantunya.


"Kenapa?"


"Seharusnya kamu menikah dengan nona Miska, bukan aku!"


"Aku yang memilih dengan siapa aku akan menghabiskan sisa hidupku, jadi jangan mengkhawatirkan hal-hal yang tidak penting! Tidurlah!"


Zea pun menyusupkan kelapanya ke dada Rangga, mencari kenyamanan di sana hingga ia benar-benar terlelap dalam tidurnya.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya ya


Follow akun Ig aku ya

__ADS_1


IG @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2