Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku
senam Hamil


__ADS_3

Tisya lalu berlalu meninggalkan dokter Frans, hal itu membuat  dokter Frans semakin di  heran, ada apa hingga tisya begitu marah


padanya.


Tisya menghentikan langkahnya tepat di pinggir jalan, ia duduk di halte dan menangis.


"Hidupku hancur ....., aku tahu dia kakak ku tapi kenapa dia tidak berperasaan ....!"


"Mas Rizal ...., iya aku harus menghubungi mas Rizal!"


Tisya pun segera merogoh tasnya, mengambil benda pipih itu. Ia harus menghubungi tunangannya itu.


"Hallo mas ....!"


"Iya Tisya!"


"Bisa ketemu kan, di kafe biasa ya mas!"


"Tapi setelah makan siang ya, soalnya aku sibuk banget hari ini!"


"Iya ....!"


Sambungan telpon pun terputus, Tisya sedikit lega karena Rizal mau bertemu dengan nya.


Tisya pun segera memesan taksi dan menuju ke kafe tempat biasa mereka bertemu, memang masih harus menunggu dua jam lagi untuk makan siang, tapi tidak pa pa dari pada dia kelayapan tidak jelas di jalanan.


Akhirnya Tisya sampai juga di kafe, ia segera memesan tempat duduk. Ia menunggu kedatangan Rizal.


Setelah dua jam akhirnya yang di tunggu datang juga.


"Mas ...., di sini!"


Tisya melambaikan tangannya, Rizal segera berjalan mendekatinya.


"Tisya!"


"Duduklah mas ...!"


Rizal pun segera duduk dan memesan minuman untuk mereka berdua.


"Ada apa?"


"Mas aku butuh bantuan mu!"


"Soal?"


"Tolong bujuk papa ya mas agar menarik keputusannya buat ngusir aku dan mama!"


"Kalian di usir?"


"Iya mas ...., aku bukan anak kandung papa!"


"Apa!?" Rizal benar-benar terkejut di buatnya, padahal tujuannya mendekati Tisya agar bisa mengambil perusahaan Bactiar Group.


"Kamu becanda ya?" tanya Rizal memastikannya.


"Nggak mas, aku sekarang sama mama tinggal di kontrakan kecil!"


"Maaf Tisya, aku nggak janji ya! Ya sudah aku harus segera kembali ke kantor, kamu baik-baik ya!"


Rizal segera meninggalkannya tanpa kepastian, bahkan Rizal tidak menawarinya tumpangan.


...***...


Hari ini jadwal Felic senam ibu hamil, dokter Frans sengaja mendaftarkan Felic ke kelas ibu hamil lebih cepat.


Dokter sengaja tidak pergi ke rumah sakit karena ingin menemani istrinya itu.


"Frans ...., serius nih kita senam ibu hamilnya sekarang?" tanya Felic.

__ADS_1


"Iya Fe ....!"


"Tapi kok sepi sih!"


"Sudah di dalam semua kali Fe, ya udah ayo ....!"


Dokter Frans segera mengajak Felic turun dari mobil.


"Frans ...., jangan lupa maskernya, jangan sampek nanti kamu muntah-muntah gara-gara nyium bau ketek ku ya!"


"Nggak bakalan Fe ..., aroma terbaik itu adalah tubuhmu!"


"Jangan mulai gombal deh!"


Felic pun kembali ke mobil dan mengambilkan masker untuk dokter Frans, Ia juga membawakan aroma buah untuk suaminya itu dan lagi permen mint.


"Nah ...., kalau kayak gini lebih bagus ...!" ucap Felic setelah memakaikan masker untuk suaminya itu.


Mereka pun segera masuk ke dalam gedung dan benar saja di sana sudah ada beberapa pasan suami istri, ada instruktur senamnya juga.


"Perutku masih rata sendiri ...!" bisik Felic pada suaminya itu.


"Tidak pa pa, setelah senam ini, pasti perutmu akan besar seperti mereka!"


"Memang mereka di sini di pompa, ada ada aja kamu ini ....!"


"Bunda Felicia Daryl!" sapa instruktur senamnya.


"Iya ...!"


"ayah dan bunda bisa ambil posisi yang masih kosong ya!"


"Iya miss!"


Dokter Frans pun mengajak Felic untuk melewati beberapa pasangan suami istri, mencari matras yang masih kosong.


Akhirnya mereka sampai juga di samping ibu-ibu yang perutnya sudah lumayan besar, sepertinya sudah tinggal satu atau dua bulan lagi melahirkan.


"Hai bun, saya Felic dan ini suami saya Frans!"


"Suaminya kenapa suruh pakek masker bun? Nggak pa pa loh kalau suaminya tidak setampan suami yang lainnya bunda nggak usah minder kayak gitu!"


Enak aja bilang suami gue nggak tampan, liat muka suami gue bengek lo .....


Felic hanya tersenyum dan menatap dokter Frans yang terlihat menahan tawa.


"Iya bun, suami saya soalnya giginya tonggos, nggak enak di liat, nanti malah merusak pemandangan!" ucap Felic sekenanya membuat dokter Frans mencubit lengan Felic.


"Baik ayah bunda, kita mulai senamnya ya ....!" terdengar instruksi dari instruktur senam. Felic pun kembali fokus dengan tempatnya.


Akhirnya setelah satu jam, senam pun selesai, banyak ibu-ibu yang memilih untuk mengumpul dan bergosip ada juga yang menghampiri Felic untuk berkenalan karena Felic anggota baru satu-satunya di bulan ini.


Setelah selesai berkenalan, dokter Frans segera mengajak Felic untuk pergi,


"Kenapa buru-buru sekali sih Frans?" keluh Felic saat mereka sudah kembali di mobil.


"Gara-gara kamu bilang suami kamu tonggos, mereka malah nyaranin buat pasang kawat gigi lah, oprasi lah, seneng banget liat suaminya jadi bahan becandaan ....!"


Felic hanya tertawa, ia senang melihat wajah suaminya itu. Dokter Frans sudah membuka maskernya dan manyum.


"Jangan seperti itu, sini aku cium!"


Felic pun segera mendaratkan bibirnya pada bibir dokter Frans, saat Felic hendak menariknya kembali dokter Frans malah menahan tengkunya, dokter Frans ******* bibir Felic dengan begitu ganas.


"Ini baru sepadan ...!" ucap dokter Frans setelah melepaskan bibir Felic.


"Ihhhh ...., selalu menang banyak!"


"Baiklah aku yakin kamu sekarang lapar, mau makan apa?"

__ADS_1


"Aku mau makan bakso yang pentol nya buesar ...!"


"Siap mengantar tuan putri ...!"


Dokter Frans pun kembali menghidupkan mobilnya mereka menuju ke kedai bakso dengan pentol besarnya.


...***...


Sudah satu bulan Tisya dan Ibunya tinggal di kontrakan kecil itu. Rizal semakin jarang menghubunginya.


Bahkan tuan Bactiar juga sudah mengirimkan surat cerai pada nyonya Tania.


Nyonya Tania tidak punya pilihan lain selain menandatanganinya.


Ia hanya mendapatkan lima belas persen dari saham yang di miliki tuan Bactiar sebagai harta gono gini.


"Tisya kamu mau ke mana?" tanya nyonya Tania.


"Tisya mau ketemu sama mas Rizal ma!"


"Mama akan cari pekerjaan, jangan pulang terlalu malam ya!"


Tapi putrinya itu memilih berlalu begitu saja, ia sudah sangat kesal dengan mamanya itu.


Mereka berjanji bertemu di kafe biasanya, Tisya begitu senang saat mendapat telpon dari Rizal. Ia berharap Rizal akan membantunya.


"Mas ...!"


"Duduklah!"


"Ada apa mas!"


"Tisya sebaiknya kita putus ya, aku tidak bisa melanjutkan pertunangan ini!"


"Mas ....!"


"Maafkan aku, aku tidak bisa melupakan Ersya, aku masih sangat mencintainya!"


Tisya semakin terpuruk, ternyata bukannya mendapatkan bantuan, tapi ternyata Rizal malah memutuskan pertunangan mereka dnegan alasan mereka bertunangan bukan karena cinta, Rizal berencana mengajak rujuk Ersya.


Tisya begitu terluka, ia sampai menangis di jalanan. Tisya pun memutuskan untuk ke klub dan minum minuman keras,


Tisya terus saja mengumpat di sepanjang jalan dengan tanpa sadar, ia sudah mabuk.


"Apa salahku ...., kenapa semuanya meninggalkanku ....!"


Wilson yang barus saja pulang dari rumah dokter Frans tidak sengaja melihat Tisya di jalan,


"Bukankah itu nona Tisya!"


Wilson pun segera turun dari mobilnya dan menghampiri Tisya yang mabuk.


"Nona ...., apa yang nona lakukan di sini?"


Tisya menatap Wilson, ia masih bisa mengenali Wilson.


"Kau ...., dan siapa Frans ...., dia itu kakakku ...., tapi dia tidak pernah menyukaiku ...., aku juga ...., aku juga membencinya ....!"


Tisya terus saja merancau di jalan membuat Wilson tidak tega, akhirnya Wilson pun memutuskan untuk membawa Tisya.


Karena tidak tahu di mana tempat tinggal Tisya, Wilson pun mengajak Tisya ke apartemennya.


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk **author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


tri.ani.5249

__ADS_1


Happy Reading 🥰🥰🥰🥰**


__ADS_2