
Pagi ini seperti biasa setelah sholat subuh, dokter Frans akan menyempatkan waktunya sebentar untuk olah raga di ruang olah raga pribadinya,
Setelah merasa tubuhnya sudah cukup berkeringat, dokter Frans pun kembali ke kamar untuk segera mandi dan membersihkan tubuhnya.
Tapi saat sampai di kamar ia melihat istrinya itu masih tertidur pulas.
"Yahhh dia tidur lagi ...!" gumam dokter Frans, ia tidak tahu jika istrinya ternyata kembali tidur.
Dokter Frans pun memutuskan untuk segera masuk ke kamar mandi dan membersihkan diri. Saat keluar dari kamar mandi, ia juga masih mendapati istrinya itu tidur dengan pulasnya.
Dokter Frans pun mengurungkan niatnya untuk mencari baju ganti, dengan memakai handuk yang masih melilit di pinggangnya, dokter Frans pun menghampiri istrinya.
Dengan perlahan ia merangkak ke atas tempat tidur dan berhenti di samping Felic.
Ia mendekatkan wajahnya pada istrinya itu, dan mengecupi seluruh wajah istrinya membuat pemilik wajah itu melenguh karena terganggu tidurnya.
Dokter Frans hanya tersenyum, ia. segera melingkarkan tangannya di atas perut Felic sambil terus menciumi wajah istrinya itu.
"Frans ....., jangan ganggu!" gumam Felic masih enggan membuka matanya. Felic malah mengeratkan selimutnya dan membelakangi suaminya.
"Fe ...., sudah siang loh ...., katanya mau ikut sama aku?" ucap dokter Frans sambil mengusap kepala Felic yang tidak ikut tertutup selimut.
Felic pun teringat dengan kejutan yang di janjikan oleh suaminya, ia segera membalik badannya dan membuka selimutnya, tapi tangannya tanpa sengaja menyentuh dada bidang suaminya itu, Felic memegang-megang sesuatu yang menonjol di sana, ia masih berusaha untuk membuka matanya, tapi begitu berat, semalam olah raganya terlalu banyak.
"Ini apa Frans?" tanya Felic.
"Jangan aneh-aneh ya, kalau kamu pegang kayak gitu bagian atas bisa bangun yang bawahnya!" ucap dokter Frans, Felic pun dengan cepat membuka matanya, ternyata ia sedang memegang p*t*ng dokter Frans. Kemudian matanya beralih pada handuk yang melingkar di pinggang suaminya itu.
"Frans ...., kenapa telanjang?" tanya Felic sambil menjauhkan tangannya dari p*t*ng dokter Frans.
"Aku habis mandi Fe, tapi kalau kamu mau aku nanti bisa mandi lagi, gimana?" tanya dokter Frans dengan mata yang ia kedipkan beberapa kali sambil menggoda istrinya itu.
"Nggak .....!" ucap Felic dengan tegas, Felic pun segera turun dari tempat tidur, "Dasar mesum!" gumamnya lagi.
Felic pun berjalan menuju ke kamar mandi, ia segera membersihkan diri. Tadi pagi sebelum sholat subuh ia sudah mandi dan keramas, pagi ini ia begitu malas untuk mandi lagi.
Tidak berapa lama Felic keluar lagi dengan wajah yang lebih segar tapi baju tidur itu masih melekat di tubuhnya, sedangkan dokter Frans sudah rapi dengan kaos hitam lengkap dengan jaket dan juga celananya, begitu pas di tubuhnya. Dokter Frans tampak begitu tampan, ia terlihat lebih muda dari usianya.
"Fe ....., kamu nggak mandi?" tanya dokter Frans karena melihat istrinya masih mengenakan baju tidurnya.
"Tadi pagi kan sudah mandi, rambutku saja masih belum terlalu kering!" ucap Felic sambil memperlihatkan rambutnya yang memang terlihat masih sedikit basah.
__ADS_1
"Tapi kan udah tidur lagi Fe, nggak gerah nanti? Kita mau perjalanan jauh loh ....!"
"Nggak pa pa nanti kalau gerah, tinggal berhenti dan tunggu aku mandi di pom bensin atau fasilitas umum lainnya!" ucap Felic dengan entengnya, ia hampir masuk ke ruang ganti tapi dokter Frans segera menahan tangannya.
"Tunggu ....!"
"Ada apa lagi sih Frans?" tanya Felic sambil menatap suaminya itu.
"Lihat ...., aku sudah menyiapkan baju kamu!" ucap dokter Frans sambil menunjuk ke atas tempat tidur.
"Baju ku? Kamu?" tanya Felic tidak percaya, selama ini dirinya yang menyiapkan baju untuk suaminya bukan sebaliknya, lalu bagaimana caranya suaminya itu menyiapkan baju untuknya.
"Iya ...., lihat ini ....!" ucap dokter Frans sambil menarik tangan Felic dan menunjukkan baju yang sudah ia siapkan.
Felic pun mengangkat satu persatu baju beserta d*lamannya itu.
"Ini beneran kamu yang siapin?" tanya Felic masih begitu sangsi.
"Gitu banget sih, nggak percayaan!"
"Ini nanti kalau aku pakek akan terlalu banyak lapisannya Frans , dan ini kenapa sudah ada dress masih pakek jaket?"
"Biar nanti kamu nggak masuk angi Fe!"
"Tapi mungkin di sana akan sedikit dingin loh Fe!"
"Nggak pa pa!" Felic yang nggak mau debat lagi dengan suaminya segera membawa baju-baju itu ke dalam ruang ganti, walaupun mereka sudah menikah lama tapi rasanya masih sangat canggung jika harus melepas baju di depan suaminya.
"Aku tunggu di meja makan ya Fe ...., jangan lama-lama!" teriak dokter Frans dari dalam kamarnya. Felic yang mulai melepas baju tidurnya pun segera menghentikan kegiatannya.
"Iya ....!" ucap Felic dari dalam ruang ganti.
Setelah selesai mengganti bajunya, Felic pun segera menyusul suaminya, ia juga sudah membawa tas kecil yang berisi barang-barang pribadinya yang selalu dia bawa kemana-mana.
Bi Molly sudah berdiri di samping suaminya saat Felic keluar dari kamar, dokter Frans sengaja mengosongkan kamar atas dan pindah di kamar bawah agar Felic tidak perlu naik turun tangga.
"Selamat pagi nyonya!" Sapa bi Molly sambil menundukkan kepalanya bersama pelayan-pelayan yang lainnya.
"Pagi bi!"
Dokter Frans pun segera berdiri dan menarik kan kursi kosong untuk Felic.
__ADS_1
"Duduk Fe ...., koki sudah memasak semua makanan kesukaanmu!" ucap dokter Frans sambil menyendok kan nasi ke dalam piring Felic.
"Nggak usah banyak-banyak Frans, ini masih pagi!" ucap Felic sambil menahan tangan suaminya saat ingin menyendok kan satu centong nasi lagi ke dalam piring Felic.
"Tapi nanti perjalannya sangat jauh, nanti kamu bisa kelaparan!" ucap dokter Frans, Felic pun segera melambaikan tangannya agar suaminya bisa lebih mendekatkan kepalanya.
Dokter Frans pun mengerti, ia pun mendekatkan kepalanya ke bibir Felic,
"Memang nanti di jalan nggak ada penjual makanan ya?" bisik Felic agar bi Molly tidak mendengar pembicaraan mereka.
Dokter Frans pun berbalik membisikkan sesuatu pada Felic, "Nanti kalau bi Molly ikut, dia tidak akan mengijinkan mu makan di sembarang tempat!"
"Memang bi Molly juga ikut?" tanya Felic yang masih berbisik, membuat orang yang sedang mereka bicarakan terlihat begitu penasaran.
Mau bagaimanapun, bi Molly adalah mata dan telinga bagi nyonya Ratih. Segala sesuatu yang terjadi pada kehidupan dokter Frans wajib di laporkan pada nyonya Ratih.
Sebelum bekerja di rumah dokter Frans, bi Molly adalah orang kepercayaan di rumah besar nyonya Ratih, karena menurut nyonya Ratih menempatkan bi Molly di rumah dokter Frans sangat penting semenjak dokter Frans memutuskan untuk tinggal sendiri di rumahnya sendiri.
Rumah yang sekarang di tempati oleh dokter Frans adalah hadiah atas di berhasilnya dokter Frans membesarkan rumah sakit yang awalnya hanya sebuah klinik itu.
Selain rumah, nyonya Ratih juga memberikan pelayan-pelayan terbaiknya begitu pula dengan penjaganya.
"Memang itu tugas bi Molly, kamu mau ibu Ratih mengutus orang lain untuk mengawasi kita?" tanya dokter Frans sambil berbisik, Felic pun segera menoleh pada bi Molly dan menatap bi Molly dari atas sampai ke bawah.
Kalau bi Molly aja segitu ketatnya ...., gimana dengan orang lain yang sama sekali tidak kami kenal ...., bisa-bisa buang air kecil saja ada aturannya ....
Melihat istrinya masih terdiam dengan menatap bi Molly membuat dokter Frans penasaran,
"Gimana? Berubah pikiran atau tidak?" tanya dokter Frans dan Felic pun menggelengkan kepalanya.
"Nggak ...., aku mau bi Molly saja!" ucap Felic membuat dokter Frans tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
...Tidak perlu menjadi orang lain agar terlihat baik di mata orang lain, cukup jadi dirimu sendiri biar nanti kamu tidak terlalu kecewa saat apa yang di harapkan tidak sesuai dengan kenyataan...
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
__ADS_1
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰