Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku
kebenarannya


__ADS_3

Dengan cepat Felic memeluk sahabatnya itu, tapi Ersya juga dengan cepat melepaskan


pelukannya karena melihat hal yang begitu janggal dari sahabatnya itu.


“Fe…, lo ngapain berantakan gini? Abis perang sama siapa?” tanya Ersya sambil


mengacak-acak rambut Felic.


"Sama nenek lampir! Kesel gue, rasain tuh nenek lampir pasti nangis bombay gara-gara rambutnya acak adul!"


"Siapa Fe, nenek lampir?"


“Mas Rizal!” ucap Felic sambil menatap Ersya. Ersya begitu terkejut setelah mendengar nama itu.


“Mas Rizal? Maksudnya nenek lampirnya mas Rizal?” tanya Ersya yang masih belum mengerti.


"Cewek yang sama mas Rizal!"


"Cewek ....?" entah kenapa saat mendengar cewek, badan Ersya menjadi lemas. Ersya menjatuhkan tubuhnya begitu saja ke tempat duduk di belakangnya.


Ia tidak tahu harus berkata apa pada sahabatnya itu. Sebelumnya memang semuanya baik-baik hingga sebuah


alasan membuat semuanya hancur.


Felic mengangguk, ia ikut duduk bersama sahabatnya itu. Ia mendekatkan kursinya agar


bisa mendengar dengan jelas apa yang akan di katakana oleh sahabatnya itu.


“Kami akan bercerai, Fe! Mas Rizal melayangkan gugatan cerainya padaku!” air mata Ersya yang sedari tadi di bendung kini tumpah juga akhirnya.


"Tapi kenapa?" Felic tidak kalah terlukanya, ia bisa ikut merasakan sakit yang di rasakan sahabatnya kini.


"Gue nggak tahu, tiba-tiba saja hubungan kami menjadi hambar! Mas Rizal jarang pulang dan jarang ngasih kabar!"


“Kenapa tidak pernah cerita sama gue?”


"Gue kira saat itu bisa nyelesaiin sendiri Fe, tapi nyatanya nggak!"


Felic segera memeluk sahabatnya itu, pembawaan Ersya yang selalu ceria sehingga mampu menutupi semua kesedihannya.


Sebelumnya memang Felic sudah curiga karena setiap kali ia ke rumah sahabatnya itu, tidak pernah sekalipun ia melihat Rizal di sana. Rizal juga sudah jarang menemani


Ersya di acara-acara yang Ersya datangi dengan berbagai alasan yang kurang masuk


akal.


“Sekarang ceritakan padaku, Sya! Jika lo masih nganggap gue sahabat lo!”


Ersya pun menghapus air matanya walaupun berkali-kali ia hapus air mata itu tetap saja runtuh, ia juga membetul kan duduknya,


ia sebenarnya tidak mau membebani sahabatnya itu dengan masalah yang ia hadapi tapi sekarang Felic sudah terlanjur


mengetahuinya. Ia tidak mungkin menutupinya lagi.


“Saat mas Rizal datang dengan membawa surat gugatannya, gue bahkan tidak mampu bertanya!”


"Lalu apa alasannya?"


"Setelah berhari-hari gue cuma nangis aja, kemudian mas Rizal datang lagi monta tanda tangan dari gue, barulah gue tanya Fe, kenapa? Karena dia punya yang lebih dari gue!"


“Sejak kapan?”


“Dua bulan yang lalu, dan keputusan pengadilan  akan jatuh satu minggu lagi!”


“Karena wanita itu?”


“Mungkin, tapi alasan yang paling menyakitkan bukan itu!”


“Apa?”


“Kami tidak juga mendapatkan keturunan! Dia bilang jika mungkin gue tidak bisa menjadi ibu karena kita sudah menikah selama empat tahun dan juga belum hamil, Fe! Sakit banget rasanya!”


Ersya kembali menangis, Felic segera mengusap tangan Ersya mencoba menenangkannya.


“Sabar ya Sya, itu berarti mas Rizal memang bukan jodoh yang baik buat kamu!”


"Makasih ya Fe, udah ada buat gue!"

__ADS_1


"Sebelumnya lo yang selalu ada buat gue, jadi sekarang sudah waktunya sahabat lo ini juga berguna buat lo!"


"Apaan sih Fe ...., nggak gitu juga kali!" Akhirnya berkat ucapan Felic terselip senyum juga di bibir Ersya.


"Oh iya Sya, siapa wanita itu? kenapa gue ngerasa familiar banget sama wajah itu?!"


“Masak sih Fe, Mungkin karena wanita itu adalah anak dari pemilik perusahaan


tempat mas Rizal kerja! Dia pasti sangat kaya, dan juga cantik! Wajahnya sering wira-wiri di surat kabar kali Fe!”


“Jadi lo belum pernah ketemu sama wanita ulet itu?”


“Gue nggak punya keberanian Fe, gue terlalu takut! Gue belum siap!”


“Dia udah jahat banget sama lo, Sya! Jadi mulai sekarang lupakan saja dia, anggap dia tidak pernah ada di hidup lo! Mulailah dengan yang baru! Gue mendukung lo seratus persen, Okey ....!”


“Makasih ya Fe ….!”


“Semangat …!” Felic benar-benar tidak menyangka jika rumah tangga sahabatnya akan


berakhir dengan secepat ini. Karena yang ia tahu mereka sudah menjalin hubungan


sejak Ersya masih SMA hingga menikah tidak pernah ada kabar keretakan hubungan


mereka. Selama ini mereka benar-benar pasangan yang begitu kompak.


Sepuluh tahu sudah dan kini harus berakhir. Ternyata lamanya bersama tidak menjamin


langgengnya sebuah hubungan. Butuh banyak waktu untuk saling mengenal tapi hanya butuh satu alasan untuk mempertahankan sebuah hubungan, yaitu kepercayaan.


***


Di tempat lain, dokter Frans sedang menunggu kabar dari Wilson. Walau bagaimana


pun dia sangat mencemaskan istrinya itu.


“Kenapa dia lama sekali tidak memberiku kabar?!” gumam dokter Frans sambil


mondar-mandir di ruangannya.


notif pesan masuk ke ponselnya.


Dokter Frans kembali mengeluarkan ponselnya dan melihat siapa yang telah mengirimkan


pesan untuknya,


“Wilson!”


Ia pun kembali duduk tapi kali ini bukan di ruangannya tapi di kursi panjang yang


ada di lorong rumah sakit menuju ke pintu lift.


Beberapa foto di kirim oleh Wilson, foto pertengkaran Felic dengan  beberapa orang. Dokter Frans memperbesar foto


yang ada di layar ponselnya, ia memastikan jika apa yang di lihatnya memang


benar.


“Mereka?”


gumamnya sambil matanya terfokus pada sesosok wanita paruh baya itu.


“Kenapa mereka bisa bertemu?”


Tubuh dokter Frans tiba-tiba kehilangan keseimbangan, ia menjatuhkan tubuhnya begitu saja ke lantai,


seakan bayangan masa lalu yang telah


lama ia kubur satu persatu mulai bermunculan kembali. Keringat dingin tiba-tiba muncul begitu saja memenuhi tubuhnya. Ponselnya entah sudah terlepas begitu saja.


“Frans …!” suara seseorang menyadarkannya, “Kamu kenapa?”


Ternyata itu adalah Divta, Divta sedang berdiri menatapnya dengan tangan yang sedang menggandeng tangan mungil putri kecilnya.


Divta memang rutin datang ke rumah sakit untuk memeriksakan kesehatan Divia.


Divta segera menghampiri dokter Frans saat melihat dokter Frans sedang tidak baik-baik saja.

__ADS_1


Dokter Frans segera mendongakkan kepalanya saat merasa namanya di panggil, “Bang!”


Mereka sudah duduk di bangku yang semula di duduki oleh dokter Frans. Mereka masih


saling diam, Divta memberi waktu pada dokter Frans hingga ia benar-benar siap untuk menceritakan semuanya.


“Ini bukan hal yang serius sebenarnya, bang!”


“Lalu?”


“Hanya aku merasa belum siap saja dengan hal-hal yang mungkin akan aku hadapi sebentar


lagi!”


“Sebenarnya aku bukan orang yang bijak Frans tapi aku sarankan mulai sekarang kamu harus


membuat keputusan pada dirimu sendiri! Berdamai atau berperang!”


“Maksud, bang Divta?”


“Memutuskan untuk mau menghadapi semuanya dengan segala kekuatan yang kamu punya atau memilih menghindar tapi selamanya kau akan di kejar-kejar oleh bayang-bayang mungkin ini atau mungkin itu karena kata mungkin tidak akan pernah menjadi pasti!”


Dokter Frans hanya diam, mencoba mencerna ucapan pria yang lebih tua enam tahun


darinya.


“Ya sudah …, sepertinya Divia sudah di panggil dokter! Semangat ya!” ucap Divta


sambil meninggalkan dokter Frans sendiri. Dokter Frans masih menatap punggung


pria matang itu hingga menghilang bersama putrinya di balik pintu pemeriksaan.


Drrrttt drrrttttt drrrrtttt


Getaran yang di timbulkan dari ponselnya yang berada di bawah kakinya menyadarkannya.


Ia segera mengambil ponselnya itu dan melihat siapa yang melakukan panggilan.


Dokter Frans mengerutkan keningnya, tidak biasanya ia melakukan panggilan jika tidak


ada yang genting. Teringat kemarin saat Felic tiba-tiba menghilang di panti asuhan hingga Wilson melakukan panggilan padanya.


“Wilson?”


Dokter Frans pun segera menggeser tombol hijau dan menerima panggilan itu,


“Ada apa?” tanya dokter Frans saat panggilannya tersambung.


“Tuan sepertinya nyonya dalam keadaan yang kurang baik!”


Mendengar hal itu, dokter Frans begitu panik. Ia sudah berpikir mungkin Felic kenapa-napa lagi.


“Ada apa dengannya?”


“Nyonya terus menangis bersama sahabatnya!”


“Ya sudah, aku akan menyusul! Awasi dia terus!”


“Baik tuan!”


Dokter Frans segera berlari, dengan tidak sabar ia menunggu pintu lift terbuka hingga


ia beberapa kali menekan tombol yang sama.


Setelah melewati lift, ia segera meminta seseorang menyiapkan mobil untuknya. Dengan cepat ia pun masuk ke dalam mobil dan memacu mobilnya lebih cepat dari


biasanya.


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


tri.ani.5249


Happy Reading 🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2