
Wilson menatap jam tangannya, jarum pendek sudah menunjuk ke angka tiga, setengah jam lagi pasti pekerja juga sudah pulang.
Masih ada waktu setengah jam, Wilson pun memutuskan untuk tidak langsung pulang ke rumah, ia harus mampir ke tempat lain,
Setelah melewati jalan yang cukup padat akhirnya mobil Wilson sampai juga di seberang jalan, di depan kedai bakso tempat nyonya Tania bekerja.
Wilson pun segera keluar dari mobilnya dan menyeberangi jalan yang tidak terlalu luas itu. Nyonya Tania sudah terlihat dari balik kedai, kedai sedang sepi, nyonya Tania sedang sibuk membersihkan meja dengan lap kain di tangannya.
"Selamat siang nyonya!" sapa Wilson membuat nyonya Tania menghentikan kegiatannya dan menoleh pada Wilson.
"Kamu?"
"Maaf nyonya menggangu waktu anda, bisa kita bicara?"
"Duduklah ....! Biar saya buatkan minuman untukmu!"
"Tidak perlu nyonya, kita langsung bicara saja!"
"Saya tidak merasa di repotkan, saya buatkan ya!?"
"Baiklah kalau nyonya memaksa, air putih saja!"
"Baiklah ...., duduklah dulu ...!" pinta nyonya Tania, Wilson pun tidak mampu menolak. Sambil menunggu nyonya Tania kembali, Wilson pun memilih duduk.
"Silahkan!" ucap nyonya Tania sambil menyodorkan segelas air putih pada Wilson.
"Terimakasih nyonya!"
Nyonya Tania pun ikut duduk di depan Wilson yang hanya terpisah oleh meja panjang berwarna biru itu.
Untuk menghargai nyonya Tania, Wilson pun segera meminum air putihnya dua tegukan dan meletakkan kembali gelasnya yang masih berisi setengah itu di atas meja.
"Apa yang ingin kamu bicarakan dengan saya?" tanya nyonya Tania saat Wilson tidak juga bicara.
"Saya minta ijin pada nyonya Tania untuk membiarkan nona Tisya tinggal di rumah saya karena tuan dokter yang menginginkan hal ini!" ucap Wilson menjelaskan, ia tidak mau nyonya Tania sampai berpikir macam-macam padanya.
"Saya tahu Frans pasti punya rencana terbaik untuk putri saya, dia lebih bijak dari pada saya orang tua! Jadi itu tidak masalah bagi saya!" ucap nyonya Tania dengan begitu yakin.
"Terimakasih atas pengertian nyonya Tania, tuan dokter juga meminta saya untuk membawa nyonya ke rumah tuan dokter, nyonya!"
"Maafkan saya, kalau tentang itu saya tidak bisa, saya masih ingin menjalani hidupku yang baru ini!"
"Kalau nyonya tidak bersedia, tuan dokter punya pilihan lain untuk nyonya!"
"Apa itu?"
"Nyonya Tania harus bersedia pindah ke rumah yang sudah di siapkan oleh tuan dokter, rumah yang hampir sama dengan rumah ini dengan seorang asisten rumah tangga di sana!"
"Itu tidak perlu Wilson, katakan pada Frans, saya sudah nyaman tinggal di sini!" ucap nyonya Tania.
"Baiklah nyonya, saya akan menyampaikan ini pada tuan dokter, kalau begitu saya permisi nyonya!"
__ADS_1
"Tunggu sebentar!" ucap nyonya Tania sambil berdiri dari duduknya.
"Ada apa nyonya?"
Nyonya Tania pun segera menuju ke gerobaknya dan meracikkan dua mangkuk bakso.
"Biar saya buatkan bakso untuk kalian berdua, Tisya tidak bisa masak dan kata Tisya kamu setiap hari makan mie instan, tidak baik makan mie instan setiap hari!" ucap nyonya Tania sambil sibuk meracikkan bakso dan memindahkannya ke dalam wadah plastik.
Si tikus itu pakek ngadu lagi sama emaknya ...., kan kalau gini jadi malu ...., batin Wilson sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Setelah di pindahkan ke wadah plastik dan memasukkannya ke dalam kantong plastik nyonya Tania segera menyerahkannya kepada Wilson.
"Ini ....!" ucap nyonya Tania.
"Tapi tidak perlu di repot seperti ini nyonya!"
"Tidak repot, jangan makan mie instan terus, sesekali saya akan mengirimkan makanan buat kalian!"
"Terimakasih nyonya, kalau begitu saya bawa baksonya nyonya, sekali lagi terimakasih!" ucap Wilson yang merasa tidak enak.
"Sama-sama, tolong jagain Tisya ya ...., maaf kalau dia nanti bakal banyak merepotkan kamu!"
"Iya nyonya!"
Wilson pun segera meninggalkan kedai bakso itu dan berjalan menyeberangi jalan, nyonya Tania masih terpaku menatap punggung Wilson hingg Wilson masuk ke dalam mobil.
"Dia sopan sekali, berbeda dengan Rizal ...., untung saja Tisya tidak jadi sama Rizal ....!" gumam nyonya Tania hingga mobil Wilson benar-benar pergi meninggalkan tepatnya.
Dokter Frans dan Felic sudah sampai lagi di rumah, bi Molly sudah menyiapkan makan siang untuk mereka.
"Silahkan tuan dan nyonya ...., makan siang nya!" ucap bi Molly sambil menyiapkan piring untuk Felic dan dokter Frans.
Dokter Frans pun menuangkan dua gelas air putih untuknya dan Felic.
"Minumlah dulu!" ucap dokter Frans sambil menyodorkan gelasnya.
"Terimakasih suami tampanku!" ucap Felic sambil meneguk air putihnya, Felic pun memperhatikan sayur lodeh yang ada di atas meja itu, aromanya begitu menggoda.
"Bibi masak apa lagi?" tanya Felic yang sudah begitu semangat, ia sekarang menjadi mudah lapar. Ia menyendok kan nasi ke dalam piringnya.
"Bibi masak sayur nangka muda nyonya!" ucap bi Molly selain itu di meja juga ada beberapa lauk seperti ayam goreng dan ikan.
"Nangka muda? Dapat dari mana bi?" tanya Felic di kota nangka muda harganya cukup mahal.
"Tadi pas tuan sama nyonya pergi ada tetangga yang memberikan nangka muda yang sudah dikupas bersih, bibi tinggal memasaknya!"
"Mereka baik banget sih Bi sama kita, padahal kita kan belum saling kenal!" ucap Felic begitu takjub.
"Karena tuan dokter juga baik dengan orang-orang sini nyonya!" ucap bi Molly membuat dokter Frans menghentikan minumnya.
"Jangan memujiku bi, aku bisa gede kepala! Jangan sampai banyaknya pujian ini malah akan membuat langkahku terhenti karena besar kepala!" ucap dokter Frans sambil meletakkan kembali gelasnya.
__ADS_1
"Itu bukan sekedar pujian tuan, tapi bibi begitu bangga dengan kebaikan tuan setiap kali tuan mengajak saya ke sini!"
"Setiap kali?" tanya Felic tidak percaya, seberapa sering bi molly juga ikut ke sini.
"Iya nyonya ...., hampir satu tahun sekali tuan mengajak saya ke sini, setiap berkunjung ke sini selalu saja ada yang tuan dokter tinggalkan di sini!"
"Apa?" tanya Felic penasaran.
"Fe ...., katanya lapar, ayo cepetan makan keburu dingin nggak enak nanti!" ucap dokter Frans agar Felic tidak terus bertanya.
"Isssttttt ....., aku kan penasaran Frans!"
"Penasaran nya nanti setelah makan, okey ....!" ucap dokter Frans sambil menyuapkan makanan ke mulut istrinya itu.
Akhirnya Felic melupakan pertanyaan, mereka pun segera makan.
Setelah selesai makan, mereka pun memutuskan untuk mandi dan melaksanakan sholat dhuhur.
Dokter Frans sudah berada di atas tempat tidur, walaupun tidak ada AC, tapi kamar itu sama sekali tidak terasa panas, bahkan sangat sejuk, jendela kamarnya langsung terhubung dengan halaman belakang yang sangat luas dengan banyak pepohonan yang di atur begitu rapi, tidak ada rumput liar yang tumbuh di bawahnya.
Felic yang baru saja keluar dari kamar mandi segera menghampiri suaminya.
"Sini ....!" ucap dokter Frans sambil menepuk tempat kosong di sampingnya.
"Ada apa?" tanya Felic yang sudah duduk di samping nya.
"Aku mau nagih janji, ganti terimakasih sama ganti gemes yang tadi!" ucap dokter Frans sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Felic hingga Felic sedikit memundurkan kepalanya tapi dokter Frans lebih dulu menahan tengkuk Felic.
"Ini masih siang suami ganteng ku!"
"Emang ada aturan ya kalau siang hari nggak boleh bermesrahan?"
"Ya enggak sih ....!"
"Ya sudah mana upahnya?" ucap dokter Frans.
Felic pun perlahan mendekatkan bibirnya pada bibir suaminya hingga bibir itu menempel sempurna di bibir suaminya.
Dokter Frans pun segera ******* bibir Felic, karena tidak mendapat penolakan dokter Frans pun memperdalam ciumannya.
Bersambung
...Jika kita melangkah lalu terhenti, jangan lupa untuk mengingat kembali betapa beratnya untuk sampai di titik ini agar kita tidak lupa untuk memulainya kembali...
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
Happy Reading 🥰🥰🥰
__ADS_1