
Zea tersenyum smirt, ia hanya memiringkan sebelah bibirnya dan tangannya dengan cepat merebut gaun yang ada di tangan Miska,
"Apa yang kamu lakukan?" Miska sampai terkejut di buatnya, hampir saja gaun yang ada di tangannya itu terlepas.
"Mengambil yang menjadi hak saya!"
"Jangan macam-macam, atau saya akan memanggil satpam untuk mengusir kamu dari sini."
Terlihat sekali wajah Miska yang sombong itu semakin Arrogant dengan mempertahankan Rangga.
"Maaf mbak, bukannya mbak yang kemarin ya, mbak datang ke sini sama siapa?" Rangga yang memang sudah mengenali Zea segera mencairkan suasana, Miska begitu terkejut sampai menoleh pada Rangga,
"Sayang, kapan_?" baru mulai bertanya Rangga sudah lebih dulu memintanya untuk diam dengan meletakan. jari telunjuknya di bibirnya sendiri,
"Bisa diam sebentar kan?" ucap Rangga lirih tapi masih bisa di dengar oleh Zea, Zea tersenyum puas melihatnya.
Rangga kembali menatap ke arah Zea dan melanjutkan pertanyaannya,
"Mbak sendiri ke sini?"
"Enggak!" Zea mengedarkan pandangannya tapi ternyata Ersya sudah tidak ada di tempatnya hanya sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya, dengan cepat Zea membuka pesan itu.
//Jangan mencariku, aku bersembunyi, bilang sama suami//
Pesan singkat itu dari Ersya, Zea kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas kecilnya, ia sudah langsung faham dengan apa rencana Ersya.
"Saya ke sini sama suami!"
Seketika wajah Miska yang mulai tenang terlihat kembali berapi-api.
Bisa-bisanya dia mengatakan hal itu ...., tapi Miska tidak bisa gegabah untuk tiba-tiba menyerang Zea karena masih ada Rangga, ia tidak mau citra baiknya di depan rangga rusak.
"Ohhh, lagi cari baju atau mau mencarikan baju seseorang? Mana suaminya?" Rangga terpancing untuk ikut mencari keberadaan suami Zea.
Ya kamu Ga, emang siapa lagi suamiku?
"Sebenarnya gaun itu sudah saya pesan untuk acara resepsi pernikahan kami!" ucap Zea lagi sambil menunjuk gaun pengantin yang ada di tangan Miska saat ini dengan menunjukkan wajah yang penuh kesedihan.
"Jadi_!" Rangga ikut menoleh pada gaun yang berada di tangan Miska.
"Iya, kami memesannya dua hari yang lalu!"
Rangga kembali menatap Miska dan Miska langsung tahu apa arti tatapannya itu,
__ADS_1
"Tidak, pokoknya gaun ini sudah aku ambil. Enak sekali dia mau mengambilnya!"
"Tapi kan kamu bisa pakek gaun yang lainnya!"
"Aku sudah terlanjur suka sama gaun ini, pokoknya nggak mau! Lagi pula dia kan juga hamil, lihat perutnya aja sudah nggak rata bagaimana bisa dia pakek gaun ini!"
Tiba-tiba seorang wanita dengan pakaian elegan, sepertinya manager butik itu menghampiri mereka,
"Maaf, ini ada apa ya ribut-ribut?"
Miska dengan sigap menggunakan kesempatan ini untuk mengadukan pada manager.
"Wanita tidak tahu diri ini dengan seenaknya mau merebut gaun yang sudah saya pilih!"
Wanita itu pun beralih menatap Zea dan tersenyum, kemudian kembali menatap Miska,
"Maaf nona, memang benar gaun ini sudah di pesan oleh nona Zea dua hari yang lalu, maaf atas kelalaian kami karena tidak segera membungkusnya!"
"Hahhh, ini nggak mungkin! Lihat aja ini, dia wanita hamil ini jelas tidak akan mampu membayar gaun dengan harga ratusan juta!" Miska menunjukkan bandrol harga di gaun itu, sekilas Zea meliriknya.
Waw ...., mahal sekali, cari mati nih ...., mau bayar pakek apa nanti ....
Seketika terlihat khawatir di wajah Zea,
"Hahhh, yang benar saja!" Miska begitu terkejut begitu juga dengan Zea, tapi dengan cepat Zea menormalkan wajahnya agar Miska tidak curiga tentang ketidak tahuannya.
"Baiklah, jadi nona Miska bisa memilih gaun yang lainnya, sekarang biarkan gaun itu karyawan saya kemas!"
Walaupun berat akhirnya Miska merelakan gaun itu untuk ia lepaskan.
"Sudah, lebih baik kita cari butik lain saja, aku juga sudah nggak mood fitting baju pengantin di sini!" Miska dengan cepat menarik tangan Rangga meninggalkan Zea yang masih terdiam di tempatnya.
Rangga tidak bisa berbuat apa-apa selain mengikuti permintaan Miska, walaupun begitu ia terus saja menatap Zea meskipun langkahnya sudah sampai di pintu keluar.
Hehhhhh ......
Zea segera menghela nafas dan duduk di sofa yang di duduki Rangga tadi.
Ersya segera keluar dari persembunyiannya dan menghampiri Zea,
"Bagaimana?"
"Bagaimana apanya nona Ersya, gaun itu mahal banget. Bagaimana aku akan membayarnya!"
__ADS_1
"Ya ampun Zea, kamu lupa kamu sekarang siapa. Bahkan kartu yang kamu punya aja bisa buat beli semua baju dan gaun yang ada di butik ini!"
Zea baru teringat jika tadi pagi ajudan papanya datang hanya untuk memberinya sebuah kartu.
Zea tersenyum, "Jadi ini maksudnya tadi!"
"Hemmm, emang kamu pikir siapa yang kasih tahu aku kalau Miska bakalan kesini!"
"Papa aku?"
"Iya lah!"
"Tapi gaun itu buat apa, aku kan nggak mungkin pakek gaun itu!"
"Gaun itu bakal kamu pakek buat acara peresmian itu!" ucap Ersya lengkap dengan senyum cerdiknya.
"Mana muat, lihat ini!" Zea menunjukkan perutnya yang sudah tidak rata itu, ya walaupun belum besar tetap saja perutnya sedikit berisi.
"Lalu apa gunanya butik ini?! Butik ini bahkan akan merubah ukuran gaun itu, gaun pengantin akan berubah jadi gaun pesta yang indah, percaya deh sama pelayanan butik ini!"
Ersya segera menarik tangan Zea, melakukan fitting gaun dan merubah beberapa bagian dari gaun itu,
"Lihat saja, bagaimana reaksi Miska saat melihatmu dengan gaun ini. Hari ini adalah pemanasan saja dan tunggu saat-saat puncaknya!" terlihat sekali Ersya yang begitu gemas untuk membalas ketidak adilan Miska.
"Setelah hari ini dia pasti tidak akan tidur nyenyak!" ucap Ersya lagi.
Setelah selesai fitting, Ersya tidak lupa juga memilihkan beberapa baju yang cocok untuk Zea begitu juga dengan tas dan sepatunya.
"Bukankah ini terlalu banyak?" Zea merasa tidak enak karena sudah menggunakan uang dari kartu itu terlalu banyak.
"Jangan khawatir, kalau aku rasa ini masih terlalu sedikit di banding apa yang papa kamu kasih untuk Miska selama ini, sekarang sudah waktunya kamu mengambil semuanya!"
"Begitu ya?"
"Hmm!"
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
Happy Reading 🥰🥰🥰