Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku
Felic pulang


__ADS_3

Dokter Frans datang dengan kedua sahabatnya. Tapi sepertinya dokter Frans tidak menyadari keberadaan nyonya Tania di sana.


Agra dan Rendi sengaja mengajak sahabatnya itu keluar karena ada yang harus mereka bicarakan. Melihat sahabatnya begitu hancur, cukup membuat dua sahabat dokter Frans itu merasa iba, mereka harus ikut menyelesaikannya.


Setelah memesan berbagai makanan dan minuman Agra memulai untuk mengajak sahabatnya itu bicara.


"Ayolah Frans makan yang banyak!"


Tapi pria itu malah sibuk mengaduk-aduk makanannya.


"Makanan itu tidak akan habis hanya dengan di aduk!" ucap Rendi ikut menanggapi, ia yang paling tidak telaten dengan keadaan yang seperti itu.


"Ayo lah Frans ...., jangan seperti itu!" ucap Agra lagi, "Aku ke sini agar kau mau makan, tapi kalau cuma di aduk perutmu juga nggak akan kenyang!"


"Kalian tidak tahu apa yang aku rasakan!" ucap dokter Frans dengan masih tidak bersemangat.


"Frans ...., jangan terlarut dalam kesedihan, kamu tahu bagaimana Rendi dulu, iya kan Rend?"


"Kenapa jadi aku?" gerutu Rendi karena harus di ingatkan kembali dengan masa kelam itu.


"Ya bagaimana lagi, aku tidak seperti kalian, kalian ini benar-benar tidak bisa menghargai perasaan wanita!" ucap Agra dan langsung mendapatkan tatapan tajam dari kedua sahabatnya.


"Aku berkata yang sebenarnya ...., kalian jangan melihatku seperti itu! Masih ingat kan bagaimana aku dnegan lapang dadanya memaafkan Ara saat ia menutupi kehamilannya dariku dan malah memberitahu si es batu, aku marah, aku cemburu, tapi kan aku tetap kembali dan memeluknya!"


"Itu bukan unsur kesengajaan!" ucap Rendi karena kesal di ingatkan pada situasi masa itu.


"Berarti kamu yang buat Nadin pergi dan menghilang itu unsur kesengajaan?" tanya Agra kemudian.


"Kenapa kesannya jadi kamu menyudutkan dan menyalahkan aku atas segala yang terjadi!?" keluh Rendi kesal.


"Kenapa jadi kalian sih yang bertengkar? Bukannya menghiburku malah membuat kepalaku semakin pusing aja!" ucap dokter Frans kesal.


"Ok ok ...., kita kembali ke persoalan kamu!" ucap Agra menyudahi pertengkaran mereka, "Frans, kita tahu lo selama ini yang paling bijak di antara kita, tapi kenapa sekarang kamu malah tidak bisa menyelesaikan masalahmu?"


"Hehhhh ...., aku bukan marah sama istri aku, tapi aku hanya butuh waktu untuk bisa menguatkan hati aku! Aku takut jika menemuinya, aku akan mengatakan hal yang akan menyakiti perasaannya! Hatiku masih terlalu lemah untuk menemuinya!"


"Tapi sikapmu itu akan membuat istri kamu semakin terluka, kamu tahu itu kan?" ucap Agra berusaha menyadarkan sahabatnya itu, dari ketiga pria itu memang Agra yang usianya paling tua, itulah mungkin yang membuatnya lebih dewasa. Agra juga lebih berpengalaman dari kedua sahabatnya.


"Iya!"


"Lalu bagaimana kalau dia memilih untuk pergi?" tanya Agra, kali ini Rendi lebih banyak diam karena dia sendiri masih sangat sulit mengendalikan istrinya.


"Aku tidak akan biarkan, jika harus ada yang pergi, akulah orangnya, aku tidak mau semua orang yang dekat denganku akan pergi, pergi dan pergi lagi!"


Mereka melanjutkan makannya hingga selesai, walaupun dokter Frans tidak pernah berbicara atau mengunjungi ruangan Felic tapi ia tetap tahu informasi tentang Felic dari Wilson arau bi Molly. Ia tahu jika Felic sulit makan beberapa hari ini.


Ia juga tahu jika saat ini mertuanya sedang mengunjungi istrinya itu, tapi ia memilih menghindar, ia masih belum siap bertemu dengan mertuanya. Setiap hari yang ia lakukan terus saja mengunjungi makan ayah sekaligus buah hatinya.


...🌺🌺🌺...


Hari ini adalah jadwal kepulangan Felic, tapi yang menjadi masalah adalah bukan dokter Frans yang akan menjemput dan mengantarnya


pulang hanya ada Wilson dan bi Molly.


“Bi …, kita tunggu Frans dulu ya!” ucap Felic yang masih tetap duduk di atas tempat tidurnya. Pria itu sama sekali tidak muncul semenjak pagi.


"Iya nyonya!” ucap bi Molly, bi Molly sedang sibuk merapikan barang-barang Felic.


“Tapi nyonya, tuan dokter sedang ada pekerjaan! Nyonya di minta pulang lebih dulu!” ucap Wilson yang juga sudah siap di sana untuk menjemput Felic.


"Hehhh ....!" Felic menghela nafas panjang, "Baiklah …!”


Akhirnya Felic hanya pulang dengan bi Molly dan Wilson saja.


Sampai di depan rumah sakit pun, dokter Frans tetap tidak muncul untuk menemui Felic, Felic masih berharap pria itu akan muncul sebelum dia masuk ke dalam mobil.


"Mari nyonya!" ajak bi Molly saat Felic menghentikan langkahnya.


"Iya ...!" ucap Felic, ia harus ikhlas.


"Silahkan nyonya!" Wilson sudah membukakan pintu mobil untuk Felic, Felic pun segera masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


Ternyata sedari tadi dokter Frans memilih melihat Felic dari balik jendela ruangannya, ia bisa melihat dengan jelas istrinya itu masuk ke dalam mobil.


"Maafkan aku, aku tidak bisa mengantarmu ....!" gumam dokter Frans


Mobil mulai melaju meninggalkan rumah sakit, kini Felic duduk di belakang sendiri sedangkan bi Molly duduk di depan di samping Wilson.


Felic memilih duduk dekat dengan jendela, ia terus melihat keluar menatap jalanan. Hatinya sakit tapi ia tidak bisa menyalahkan Frans apalagi marah padanya, ini semua salahnya. Pantas jika suaminya itu marah padanya.


"Wil ....!"


"Iya nyonya!"


"Antar aku ke makan anak aku ya!"


"Tapi nyonya, tubuh nyonya masih sangat lemah!"


"Sebenar saja, ya ....! Aku mohon ....!"


Bi Molly menatap Wilson dan menganggukkan kepalanya.


"Baik nyonya!"


Akhirnya Wilson mengantar Felic ke makam, ia juga menunjukkan di mana dokter Frans memakamkan buah hatinya.


"Ini nyonya makamnya!"


Felic pun segera berjongkok di sana, hanya berupa gundukan tanah kecil di samping sebuah makam. Air matanya kembali luluh, buah hati yang begitu di rindukan kehadirannya ternyata memilih untuk pergi.


"Sudah ya nyonya ...., kita pergi!" ucap bi Molly setelah setengah jam di sana dan Felic hanya diam dan menangis.


"Bi ..., ini makan siapa?" tanya Felic yang sedari tadi tidak menyadari makan itu.


"Ini makan ayah tuan Frans ...!"


"Ayah Frans?"


"Iya nyonya ...., dan itu!" bi Molly menunjuk makan lain yang berjejer dengan makam itu.


"Kenapa makam mereka bisa berdampingan?" tanya Felic yang penasaran.


"Karena mereka meninggal dalam waktu yang sama, di insiden peledakan mobil itu!"


Mungkin itu yang membuat Frans begitu terluka saat harus kehilangan bagian dari hidupnya lagi ....


"Ayah mertua ...., maafkan aku! Aku janji akan menjaga putramu dengan baik, aku janji tidak akan membuatnya terluka lagi ....!" ucap Felic di atas pusaran ayah mertuanya.


"Ayo pulang bi ....!" ucap Felic dan berdiri dari sana, Felic kali ini pulang ke rumah pribadi mereka. Ia tidak mau egois lagi, sudah cukup sikap kekanak-kanakannya.


"Silahkan nyonya!" ucap Wilson yang sudah menunggu di mobil, ia membukakan pintu mobil untuk Felic.


Mobil kembali melaju, mereka benar-benar pulang sekarang. Bi Molly segera mengantar Felic ke kamarnya.


“istirahatlah, nyonya!” ucap bi Molly.


"Terimakasih bi …, sudah mau jagain aku!” ucap Felic lalu menutup tubuhnya dengan selimut, saat ini ia hanya ingin istirahat. Agar nanti saat ia bangun, ia sudah melupakan lukanya.


“sama-sama nyonya, nyonya yang sabar ya …! Bibi tahu, tuan sayang sekali sama nyonya!”


“Aku tahu …!”


Bi Molly segera meninggalkan kamar Felic dan membiarkannya untuk istirahat. Saat ini bukan cuma tubuhnya yang capek tapi juga hati dan pikirannya.


***


Di saat yang sama, nyonya Tania berencana untuk menjenguk Felic. Sebenarnya bukan itu tujuan utamanya. Ia ingin mencari tahu sesuatu.


“Permisi mbak, ruangan atas nama Felicia di mana ya?” tanya nyonya Tania pada petugas resepsionis rumah sakit.


“Maaf nyonya, tapi pasien atas nama Felicia baru saja pulang nyonya!” ucap resepsionis itu.


“Pulang?" nyonya Tania memastikan kembali apa yang ia dengar itu benar.

__ADS_1


“Iya nyonya!”


Hehhhh ...., aku terlambat ....!!!


“Apa saya boleh minta alamatnya?” tanya nyonya Tania, ia harus mencari tahu tentang Felicia ini.


“Maaf nyonya, tapi kami tidak bisa membocorkan data pasien!”


“Tapi Felicia kerabat saya, saya belum menjenguknya!” ucap nyonya Tania memberi alasan agar ia bisa mencari tahu tentang Felic


“Maaf nyonya …, ini sudah peraturan rumah sakit nyonya, kami tidak boleh membocorkan informasi apapun tentang pasien!”


“Ya sudah terimakasih ya mbak!”


“sama-sama nyonya!”


Akhirnya nyonya Tania pulang dengan tangan kosong, ia tidak mendapatkan apapun hari ini. Padahal ia sangat penasaran.


***


Semenjak Felic pulang dokter Frans seperti sengaja terus menghindar, ia bahkan pulang lebih malam dari biasanya.


Sudah satu minggu ini di rumah, tapi semuanya belum mengubah apapun. Bahkan suaminya itu semakin dingin saja.


“Frans…!” ucap Felic saat melihat suaminya itu pulang.


“Aku mau mandi, gerah banget!” ucap dokter Frans lalu berlalu begitu saja. Felic kembali duduk di atas tempat tidur.


“Hehhhh .....! Dia masih marah!” gumam Felic, Felic pun memilih mengambilkan baju ganti untuk suaminya itu dan membuatkan kopi untuk suaminya itu.


"Fe ...., kamu harus kuat, luluh kan hatinya lagi ....!" ucap Felic untuk menyemangati dirinya sendiri, ia pun membawa secangkir kopi itu kembali ke kamarnya.


Tepat saat ia sampai di kamar, suaminya itu baru keluar dari dalam kamar mandi.


“Kopinya Frans! Dan itu bajunya udah aku siapin!” ucap Felic sambil meletakkan secangkir kopi itu di atas meja dan menunjuk baju yang sudah ia siapkan di atas tempat tidur.


‘Terimakasih!” ucap dokter Frans dingin sambil menyambar baju itu.


Dokter Frans kembali ke ruang ganti dan memakai bajunya. Tidak berapa lama ia kembali keluar dan menghampiri kopinya.


Ia duduk di sofa sambil sibuk dengan berkas yang sengaja ia bawa dari rumah sakit.


"Frans ...., aku mau bicara!" ucap Felic.


"Aku masih sibuk, jadi jangan ganggu dulu ya!"


Akhirnya Felic milih tidak menggangu pekerjaan suaminya. Ia memilih membuka laptopnya dan mulai mengumpulkan inspirasi untuk mulai menulis lagi.


Cukup lama hingga tengah malam, tapi saat suaminya itu menyelesaikan pekerjaannya, ia malah naik ke tempat tidur.


Felic pun segera menutup laptopnya dan menghampiri suaminya itu, mematikan lampu kamar dan menggantinya dengan lampu tidur.


"Frans …!”


“aku capek banget, aku mau istirahat dulu!” ucap suaminya itu dan memilih merebahkan tubuhnya dan tidur membelakanginya.


“Biar aku pijitin ya!” ucap Felic sambil memegang kaki suaminya itu dan memijatnya di sana.


“Nggak usah …, tidurlah!” ucap dokter Frans sambil menyingkirkan tangan Felic, ia pun kembali memilih untuk tidur membelakangi Felic.


Segitu marahnya kamu sama aku Frans ...., batin Felic sambil menatap punggung suaminya itu. Ia pun akhirnya memilih tidur sambil terus menatap punggung suaminya itu. Berharap suaminya itu akan berbalik dan memeluknya.


...Aku kuat, tapi mungkin aku tidak akan setegar ini jika aku tidak mencintaimu, mungkin nanti kamu akan tahu bagaimana aku mencintaimu~Felicia Daryl...


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


tri.ani.5249

__ADS_1


Happy Reading 🥰🥰🥰


__ADS_2