
Tisya akhirnya sampai juga di depan rumah Wilson. Ia menghela nafas begitu dalam kemudian memasukkan map itu ke dalam tasnya.
"Siang pak!" sapa Tisya pada pak mandor yang sedang mengawasi pekerjaan beberapa pekerja yang menangani bagian depan rumah itu.
"Mbak Tisya ...., kenapa baru datang? pak Wilson sedari tadi sudah marah-marah gara-gara mbak Tisya nggak datang-datang, dia masih belum setuju dengan ide dari mbak Tisya!" ucap pak mandor itu panjang lebar.
"Jangan khawatir pak, biar itu jadi tanggung jawab saya!"
Belum sampai ia masuk ke dalam rumah, ponselnya lebih dulu berdering membuat Tisya kembali menghentikan langkahnya, ia segera merogoh tas kecilnya yang menggantung di lehernya.
"Ahhhh bos lagi, si kucing hitam itu pasti sudah ngadu yang enggak-enggak!" gerutu Tisya.
Tisya pun segera mengangkat sambungan telponnya.
"Iya hallo pak!"
"Lama sekali sih ngangkatnya, ini jam berapa? Kamu kemana saja? Klien kita sampek telpon ke kantor, dia komplain gara-gara kamu nggak datang-datang!"
"Maaf pak ...., saya tadi ada urusan sebentar!"
"Awas saja kalau ini terjadi lagi, jadi kamu akan saya potong setengahnya, kamu di mana sekarang?"
"Sudah di rumah klien pak!"
"Bagus, cepetan kerja!"
"Siap pak!"
Sambungan telpon pun terputus.
Hehhhhh ......
Lagi-lagi Tisya harus menghela nafasnya dalam.
"Belum juga gajian udah mau di potong aja, memang dasar si kucing hitam itu pengen di kasih pelajaran sama Tisya!" gumam Tisya.
Tisya pun segera masuk ke dalam rumah tanpa permisi dan langsung di sambut oleh tatapan tajam Wilson.
Beraninya dia menatapku seperti itu ...., batin Tisya.
"Ada apa? Ada yang salah sama tatapanku?" tanya Wilson membuat Tisya terkejut.
Ihhhh bagaimana dia bisa tahu apa yang aku pikirkan ....
"Ok ...., saya marah sama kamu karena kamu tukang ngadu ya ...!" ucap Tisya kesal.
"Saya nggak ngadu ya, saya cuma mau bersikap profesional sebagai klien kamu, umumnya orang bekerja harusnya sampek jam berapa?"
"Jam setengah delapan!"
"Bagus ....! Tahu kan sekarang jam berapa?" tanya Wilson sambil menunjuk jam dinding yang menggantung di atas akuarium.
"Jam setengah satu siang!"
"Bagus ...., saya terbiasa bekerja mulai pukul setengah tujuh dan akan kembali ke rumah jam lima, saya tidak suka dengan keterlambatan, jadi selama anda di sini jangan pernah lakukan itu atau saya bisa bilang sama bos kamu untuk memecat orang-orang yang tidak disiplin!"
__ADS_1
"Ya jangan dong ....!"
"Baiklah untuk hari ini saya akan memaafkan!"
"Terimakasih!"
"Tapi ada syaratnya?"
"Apa?"
"Buatkan saya masakan! Saya lapar, saya butuh asupan makanan sebelum kembali bekerja, saya tidak mungkin hanya menunggu orang yang tidak bisa menghargai waktu seperti anda nona Tisya!"
"Tapi saya nggak bisa masak!"
"Masak mie instan aja nggak bisa, ini ...!" ucap Wilson sambil menyerahkan sebungkus mie instan pada Tisya beserta telurnya.
Ternyata tadi Wilson sudah bersiap-siap untuk memasak, tapi saat melihat Tisya datang dia jadi punya cara untuk mengerjai gadis yang menurutnya begitu sombong dan manja itu.
Akhirnya Tisya menyerah, ia meletakkan semua tasnya dan menuju ke dapur,
"Apa yang harus aku lakukan sekarang, di apakan mie ini!?" gumam Tisya bingung, ia memang suka. makan mie tapi ia tidak pernah melihat bagaimana proses mie itu di masak.
Tisya pun mengambil sebuah panci, membuka bungkus mie itu dan meletakkan mie dalam panci.
"Ini bagaimana cara menyalakannya?" ucap Tisya, beberapa kali ia memutar tombol itu tapi tetap tidak mau menyala.
"Kenapa tidak menyala sih???"
"Sedikit di tekan biar menyala!" ucap orang yang berada di sebelah dapur, itu adalah suara Wilson. Ternyata Wilson mendengar ucapan Tisya.
Setelah menekannya, Tisya kembali memutar hingga menimbulkan bunyi 'Klek'.
"Yesss ....., menyala!" sorak Tisya.
Wilson yang sedang sibuk memeriksa berkas-berkas dari rumah sakit menjadi terganggu dengan suara Tisya yang begitu berisik.
Wilson yang mendengar suara sorak Tisya hanya menggelengkan kepalanya.
"Begitu saja sudah senang, memang dia tidak pernah melihat kompor di rumahnya, aneh ....!" gumam Wilson.
Tisya bingung harus melakukan apa lagi, menurutnya ini sudah benar, tapi ia melihat mie nya bukan semakin empuk tapi malah mengeras dan coklat, keluar asap dari pancinya.
"Asap ....., asap ....., kenapa asapnya semakin banyak?!" teriak Tisya, hal itu membuat Wilson terkejut.
"Asap ...., jangan-jangan ....!"
Wilson pun dengan cepat berlari menghampiri Tisya di dapur, ia sudah melihat asap dan api yang keluar dari panci.
"Awas ....!" dengan cepat Wilson menarik tubuh Tisya menjauh dari kompor. Wilson mengambil handuk basah dan menutupkannya di atas panci dan mematikan kompornya.
Tisya begitu terlihat takut, dengan cepat memeluk Wilson saat api sudah padam.
"Tenanglah ..., sudah tidak pa pa!" ucap Wilson, ia merasakan hal yang aneh saat Tisya begitu dekat dengan dirinya.
Tisya segera menjauh dari tubuh Wilson dan merasa tidak enak karena sudah memeluk pria itu sembarangan.
__ADS_1
"Maaf ...., tadi aku terlalu takut!" ucap Tisya sambil merapikan rambutnya.
"Tidak pa pa, tapi apa yang kamu lakukan dengan panci ku?"
Isssstttt ...., dia hanya mencemaskan pancinya sedangkan wajah cantikku ini hampir saja terbakar dan dia tidak mempedulikannya ...., batin Tisya kesal.
"Astaga ...., bagaimana orang seumur ini belum tahu cara memasak mie instan! Mana bisa memasak mie tanpa di kasih air!"
Wilson pun mengambil panci gosong itu dan meletakkannya di dalam tempat cuci piring, kemudian ia mengambil sebungkus mie instan lagi.
"Lihat ini ....!" Wilson menunjukkan tulisan yang ada di bagian belakang bungkus mie, "Di sini sudah di tuliskan cara memasak mie yang baik dan benar!"
Tisya pun mengambil mie itu dan memperhatikan bungkus mie itu melihat di bagian belakangnya.
"Kenapa aku baru melihatnya sekarang ya!" gumam Tisya.
"Karena kamu terlalu sombong, makanya jangan cuma bersembunyi di dalam lubang saja!" ucap Wilson sambil sibuk mengambil panci baru dan mengisinya dengan air secukupnya dan kembali menyalakan kompor.
"Memang aku cacing apa di dalam lubang!" protes Tisya yang tidak suka dengan julukan Wilson.
"Kamu bukan cacing, tapi tikus ..., sukanya korupsi! Bahkan waktu keja aja juga masih sempat-sempatnya di korupsi!"
"Enak aja kalau ngomong!" ucap Tisya sambil memperhatikan air yang sudah mulai mendidih itu, Wilson segera mengambil mie instan di tangannya dan memasukkannya ke dalam air mendidih itu.
Wilson begitu lihai memasak mie instan membuat Tisya tanpa sadar mengaguminya.
"Ahhhh ...., akhirnya siap juga, laper banget!" ucap Wilson yang sudah meletakkan mie itu di dalam mangkuk lengkap dengan topingnya, Wilson segera membawa mie instannya ke meja makan dan akan memulai memakannya.
"Kenapa terus mengikuti ku?" tanya Wilson.
"Aku lapar, apa kau tidak akan membaginya dengan ku?" tanya Tisya, ia memang belum sarapan sejak pagi, perutnya sudah protes minta di isi.
"Kalau mau buat sendiri!" ucap Wilson sambil melahap mie yang masih mengepul asapnya itu.
"Dasar kucing pelit!" umpat Tisya dan kembali ke dapur, ia akan memasak untuk dirinya sendiri.
Awalnya Wilson tidak peduli, ia tenang-tenang saja memakan mie nya tapi kemudian ia teringat bagaimana dapurnya hampir saja kebakaran gara-gara gadis itu.
"Hahhhhh ...., sayang banget dapurku kalau sampek kebakar!" gumam Wilson.
Wilson pun akhirnya memilih meninggalkan mie nya dan menyusul Tisya, ia mengambil alih pekerjaan Tisya untuk membuat mie instan.
"Sinikan biar aku buatkan, aku nggak mau ya kalau sampai dapur baruku terbakar gara-gara kamu!"
"Issstttttt ....!" Tisya kesal sekaligus senang karena ia tidak perlu membuat mie sendiri.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰
__ADS_1