Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku
Season 2 (38. Rencana Miska)


__ADS_3

“Sebenarnya beberapa hari ini tekanan darahku agak


turun, jadi sering pusing. Bisa kan antar aku sampai apartemen aku. Aku juga


takut jika harus pesan taksi!”


Rangga yang merasa tidak tega pun terpaksa menawari


Miska untuk ikut bersamanya.


“Catatkan saja alamat apartemen kamu, biar nanti


saat sampai aku akan membangunkamu!” ucap Rangga sambil menyerahkan sebuah buku


note kecil yang baru saja ia ambil dari dasbort mobilnya. Miska pun melakukan


yang di perintahkan oleh Rangga.


Rangga pun segera menjalan mobilnya, jalanan sudah


mulai sepi. Beberapa kali ia melihat jam tangannya, sudah jam Sembilan malam,


seharusnya saat ini ia sudah berada di rumah dan bersama Zea.


Ia mempercepat laju mobilnya saat jalanan terasa


sepi, hingga tanpa sadar sebuah mobil pick up melaju dengan kencang dari arah


lain. dengan cepat Rangga membantik setir ke kiri hingga mobilnya menabrak


mobil. Kepala Rangga terbentur setir, Miska yang terkejut sampai berteriak


begitu kencang.


Rangga segera memegangi keningnya yang berdarah,


terasa nyeri tapi ia segera menoleh ke sampingnya dan memastikan wanita yang


duduk di sampingnya itu tidak apa apa.


“Miska, apa kamu yang sakit?”


“Ini kakiku, mungkin terbentur! Kening kamu


berdarah!” Miska hampir memegang keningnya tapi segera ia tepis.


“Ini tidak pa pa, aku akan memesan taksi agar ke


sini!”


“Baiklah!


Rangga pun akhirnya memesan sebuah taksi untuk


mereka berdua, ia juga tidak mungkin membiarkan miska sendiri sedangkan dirinya


pulang sendiri dalam keadaan Miska yang kurang sehat dan sekarang bertambah


kakinya sakit.


“Apa perlu kita ke rumah sakit?” tanya Rangga saat


taksi yang mereka pesna sudah datang.


“Baiklah! Kita ke klinik terdekat dari sini saja Ga!”


Rangga yang tidak begitu hafal dengan daerah itu pun


memilih bertanya pada supir taksi. Ia juga meminta pihak bengkel untuk menderek


mobilnya.


Sesampai di klinik, seorang dokter langsung


memeriksa kaki Miska dan memastikan tidak ada hal yang serius.


“Hanya terkilir saja, akan sembuh dalam waktu satu


minggu asal tidak melakukan banyak aktifitas yang berat!”


“Baik dok!”


“ga, kamu nggak di periksa sekalian?” Miska beralih


memperhatikan kening Rangga yang berdarah.


“Tidak pa pa. ini hanya luka kecil saja!”

__ADS_1


Setelah selesai memberikan perawatan atas kaki


Miska, rangga pun kembali mengantar Miska sampai di apartemen.


“Aku sampai sini saja ya!” Rangga enggan untuk ikut


masuk karena memang sudah sangat malam, hampir tengah malam.


“Ke atas dulu ya, biar aku obati luka kamu. Aku nggak


akan tenang kalau kamu pulang dalam keadaan terluka seperti itu!”


Miska terus memaksa hingga akhirnya Rangga pun tidak


mampu menolak. Seolah dewi portuna sedang berpihak padanya hingga ia memiliki


kesempatan yang begitu banyak untuk bisa dekat dengan Rangga.


“Duduklah!” Miska meminta Rangga untuk duduk si sofa


dan dia pun segera mencari kotak obat miliknya.


Cukup lama Rangga menunggu, Rangga sudah hampir


beranjak dari duduknya barulah Miska datang dengan membawa kotak obat dan juga


segelas minuman.


“Ga, mau ke mana?” Miska dengan cepat meletakkan


yang ada di tangannya ke atas meja  kemudian menahan tangan Rangga.


“Ini sudah malam sekali, aku harus pulang!”


“Tunggu dulu, biar aku obati luka kamu!” Miska


berhasil menarik Rangga agar duduk kembali, “Aku juga sudah membuatkan munuman


buat kamu, minum dulu ya!”


“Nanti saja, cepat obati lukaku biar aku bisa segera


pergi!”


Walaupun sedikit kecewa tapi Miska segera mengobati


baru saja ambil, mengambil beberapa obat luka.


“Tahan ya, mungkin akan sedikit perih!” Miska


membersihkan luka Rangga dengan cairan anti septik lalu menutupnya dengan


plester luka. Walaupun sesekali Rangga menahan sakit, ia sama sekali tidak


berniat untuk mengeluh. Apalagi saat ini tubuh Miska begitu dekat, ia tidak mau


sampai tergoda oleh rayuan Miska.


“Sudah selesai!” ucap Miska seperti angina segar


baginya. Dengan cepat ia menjauhkan tubuhnya dari wanita itu.


“Ya sudah aku pulang!” Rangga dengan cepat berdiri.


“Tapi kamu belum meminum minuman kamu, kamu minum


dulu ya!”


“Maaf aku tidak bisa, kamu minum sendiri saja ya!”


Rangga dengan cepat berlalu beberapa langkah tapi tangan Miska dengan cepat


menahan tangannya.


“Apa tidak sebaiknya kamu tidur di sini saja, ini


sudah sangat malam. Pulang besok saja ya!” Miska tidak berniat untuk melepaskan


tangan Rangga agar pria itu tidak pergi dari rumahnya.


“Maaf, tapi aku harus pulang. hubungi aku jika


terjadi sesuatu dengan kakimu, aku akan mengantarmu ke rumah sakit!”


Rangga melepaskan tangan Miska dan berlalu begitu


saja, walaupun Miska gagal mengajak Rangga bermalam di rumahnya dengan

__ADS_1


mencampur obat bius di minuman Rangga, tapi ia setidaknya sudah mampu menahan


pria itu hingga selarut itu.


Taksi yang di tumpangi Rangga tadi sudah pergi


terpaksa ia harus memesan taksi yang lain lagi. Ia melihat begitu banyak


panggilan tak terjawab dari Zea, tapi saat melihat jam sudah menunjuk ke angka


satu, ia mengurungkan niatnya menghubungi Zea, ia takut jika telponnya akan


menggangu istirahat istrinya.


“Ke alamat xxx, pak!”


“Baik mas!”


Rangga benar-benar sudah tidak sabar untuk sampai di


rumah.


“Aku melupakan benda itu di mobil!” gumamnya pelan


saat mengingat paper bag yang sudah ia siapkan untuk Zea.


Akhirnya setelah satu ja, ia sampai juga di rumah


Zea. Melihat beberapa lampu yang masih menyala dengan cepat Rangga masuk ke


dalam  rumah. Tapi saat bibirnya hendak


terbuka memanggil nama snag istri, ia sudah mendapti istrinya tertidur di sofa


dengan tv yang masih menyala.


Rangga segera berjongkok di samping Zea, menatap


wajah lelah Zea yang tengah menunggunya.


“Sayang, maafkan aku ya!” Rangga mengusap puncak


kepala Zea dan meninggalkan kecupan di sana membuat wanita itu terbangun


olehnya.


“Ga!”


“Tidurlah, aku akan membawamu ke kamar!” Rangga


segera menyusupkan lengannya di bawah paha dan juga punggung Zea, kini tubuh


Zea sudah berpindah ke gendongan Rangga.


Rangga menurunkan Zea di atas tempat tidur, “Tidurlah!”


Saat Rangga ingin menarik selimut untuk Zea,


tiba-tiba lengan Zea sudah mengalung di leher Rangga.


“Aku merindukamu!” ucap Zea lirih sambil menatap


Rangga dengan mata sendunya.


“Aku juga!” Rangga tidak mampu berpaling dari sang


istri, ia mendekatkan wajahnya pada wajah zea hingga ia bisa merasakan hembusan


nafas Zea di sana.


“Bolehkan malam ini aku_!”


belum selesai Rangga berbicara, Zea sudah menganggukkan kepalanya membuat


Rangga tersenyum. Sudah hampir satu bulan dan dia tidak bisa menyentuh


istrinya. Tidur dalam satu tempat tanpa bisa melakukan apapun itu sungguh


sangat menyiksa.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan like dan komentarnya yang banyak ya, kasih vote juga. hadiahnya juga jangan lupa biar aku tambah semangat nulisnya


follow akun ig aku ya


ig @tri.ani5249

__ADS_1


Happy Reading


__ADS_2