
“Sebenarnya beberapa hari ini tekanan darahku agak
turun, jadi sering pusing. Bisa kan antar aku sampai apartemen aku. Aku juga
takut jika harus pesan taksi!”
Rangga yang merasa tidak tega pun terpaksa menawari
Miska untuk ikut bersamanya.
“Catatkan saja alamat apartemen kamu, biar nanti
saat sampai aku akan membangunkamu!” ucap Rangga sambil menyerahkan sebuah buku
note kecil yang baru saja ia ambil dari dasbort mobilnya. Miska pun melakukan
yang di perintahkan oleh Rangga.
Rangga pun segera menjalan mobilnya, jalanan sudah
mulai sepi. Beberapa kali ia melihat jam tangannya, sudah jam Sembilan malam,
seharusnya saat ini ia sudah berada di rumah dan bersama Zea.
Ia mempercepat laju mobilnya saat jalanan terasa
sepi, hingga tanpa sadar sebuah mobil pick up melaju dengan kencang dari arah
lain. dengan cepat Rangga membantik setir ke kiri hingga mobilnya menabrak
mobil. Kepala Rangga terbentur setir, Miska yang terkejut sampai berteriak
begitu kencang.
Rangga segera memegangi keningnya yang berdarah,
terasa nyeri tapi ia segera menoleh ke sampingnya dan memastikan wanita yang
duduk di sampingnya itu tidak apa apa.
“Miska, apa kamu yang sakit?”
“Ini kakiku, mungkin terbentur! Kening kamu
berdarah!” Miska hampir memegang keningnya tapi segera ia tepis.
“Ini tidak pa pa, aku akan memesan taksi agar ke
sini!”
“Baiklah!
Rangga pun akhirnya memesan sebuah taksi untuk
mereka berdua, ia juga tidak mungkin membiarkan miska sendiri sedangkan dirinya
pulang sendiri dalam keadaan Miska yang kurang sehat dan sekarang bertambah
kakinya sakit.
“Apa perlu kita ke rumah sakit?” tanya Rangga saat
taksi yang mereka pesna sudah datang.
“Baiklah! Kita ke klinik terdekat dari sini saja Ga!”
Rangga yang tidak begitu hafal dengan daerah itu pun
memilih bertanya pada supir taksi. Ia juga meminta pihak bengkel untuk menderek
mobilnya.
Sesampai di klinik, seorang dokter langsung
memeriksa kaki Miska dan memastikan tidak ada hal yang serius.
“Hanya terkilir saja, akan sembuh dalam waktu satu
minggu asal tidak melakukan banyak aktifitas yang berat!”
“Baik dok!”
“ga, kamu nggak di periksa sekalian?” Miska beralih
memperhatikan kening Rangga yang berdarah.
“Tidak pa pa. ini hanya luka kecil saja!”
__ADS_1
Setelah selesai memberikan perawatan atas kaki
Miska, rangga pun kembali mengantar Miska sampai di apartemen.
“Aku sampai sini saja ya!” Rangga enggan untuk ikut
masuk karena memang sudah sangat malam, hampir tengah malam.
“Ke atas dulu ya, biar aku obati luka kamu. Aku nggak
akan tenang kalau kamu pulang dalam keadaan terluka seperti itu!”
Miska terus memaksa hingga akhirnya Rangga pun tidak
mampu menolak. Seolah dewi portuna sedang berpihak padanya hingga ia memiliki
kesempatan yang begitu banyak untuk bisa dekat dengan Rangga.
“Duduklah!” Miska meminta Rangga untuk duduk si sofa
dan dia pun segera mencari kotak obat miliknya.
Cukup lama Rangga menunggu, Rangga sudah hampir
beranjak dari duduknya barulah Miska datang dengan membawa kotak obat dan juga
segelas minuman.
“Ga, mau ke mana?” Miska dengan cepat meletakkan
yang ada di tangannya ke atas meja kemudian menahan tangan Rangga.
“Ini sudah malam sekali, aku harus pulang!”
“Tunggu dulu, biar aku obati luka kamu!” Miska
berhasil menarik Rangga agar duduk kembali, “Aku juga sudah membuatkan munuman
buat kamu, minum dulu ya!”
“Nanti saja, cepat obati lukaku biar aku bisa segera
pergi!”
Walaupun sedikit kecewa tapi Miska segera mengobati
baru saja ambil, mengambil beberapa obat luka.
“Tahan ya, mungkin akan sedikit perih!” Miska
membersihkan luka Rangga dengan cairan anti septik lalu menutupnya dengan
plester luka. Walaupun sesekali Rangga menahan sakit, ia sama sekali tidak
berniat untuk mengeluh. Apalagi saat ini tubuh Miska begitu dekat, ia tidak mau
sampai tergoda oleh rayuan Miska.
“Sudah selesai!” ucap Miska seperti angina segar
baginya. Dengan cepat ia menjauhkan tubuhnya dari wanita itu.
“Ya sudah aku pulang!” Rangga dengan cepat berdiri.
“Tapi kamu belum meminum minuman kamu, kamu minum
dulu ya!”
“Maaf aku tidak bisa, kamu minum sendiri saja ya!”
Rangga dengan cepat berlalu beberapa langkah tapi tangan Miska dengan cepat
menahan tangannya.
“Apa tidak sebaiknya kamu tidur di sini saja, ini
sudah sangat malam. Pulang besok saja ya!” Miska tidak berniat untuk melepaskan
tangan Rangga agar pria itu tidak pergi dari rumahnya.
“Maaf, tapi aku harus pulang. hubungi aku jika
terjadi sesuatu dengan kakimu, aku akan mengantarmu ke rumah sakit!”
Rangga melepaskan tangan Miska dan berlalu begitu
saja, walaupun Miska gagal mengajak Rangga bermalam di rumahnya dengan
__ADS_1
mencampur obat bius di minuman Rangga, tapi ia setidaknya sudah mampu menahan
pria itu hingga selarut itu.
Taksi yang di tumpangi Rangga tadi sudah pergi
terpaksa ia harus memesan taksi yang lain lagi. Ia melihat begitu banyak
panggilan tak terjawab dari Zea, tapi saat melihat jam sudah menunjuk ke angka
satu, ia mengurungkan niatnya menghubungi Zea, ia takut jika telponnya akan
menggangu istirahat istrinya.
“Ke alamat xxx, pak!”
“Baik mas!”
Rangga benar-benar sudah tidak sabar untuk sampai di
rumah.
“Aku melupakan benda itu di mobil!” gumamnya pelan
saat mengingat paper bag yang sudah ia siapkan untuk Zea.
Akhirnya setelah satu ja, ia sampai juga di rumah
Zea. Melihat beberapa lampu yang masih menyala dengan cepat Rangga masuk ke
dalam rumah. Tapi saat bibirnya hendak
terbuka memanggil nama snag istri, ia sudah mendapti istrinya tertidur di sofa
dengan tv yang masih menyala.
Rangga segera berjongkok di samping Zea, menatap
wajah lelah Zea yang tengah menunggunya.
“Sayang, maafkan aku ya!” Rangga mengusap puncak
kepala Zea dan meninggalkan kecupan di sana membuat wanita itu terbangun
olehnya.
“Ga!”
“Tidurlah, aku akan membawamu ke kamar!” Rangga
segera menyusupkan lengannya di bawah paha dan juga punggung Zea, kini tubuh
Zea sudah berpindah ke gendongan Rangga.
Rangga menurunkan Zea di atas tempat tidur, “Tidurlah!”
Saat Rangga ingin menarik selimut untuk Zea,
tiba-tiba lengan Zea sudah mengalung di leher Rangga.
“Aku merindukamu!” ucap Zea lirih sambil menatap
Rangga dengan mata sendunya.
“Aku juga!” Rangga tidak mampu berpaling dari sang
istri, ia mendekatkan wajahnya pada wajah zea hingga ia bisa merasakan hembusan
nafas Zea di sana.
“Bolehkan malam ini aku_!”
belum selesai Rangga berbicara, Zea sudah menganggukkan kepalanya membuat
Rangga tersenyum. Sudah hampir satu bulan dan dia tidak bisa menyentuh
istrinya. Tidur dalam satu tempat tanpa bisa melakukan apapun itu sungguh
sangat menyiksa.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan like dan komentarnya yang banyak ya, kasih vote juga. hadiahnya juga jangan lupa biar aku tambah semangat nulisnya
follow akun ig aku ya
ig @tri.ani5249
__ADS_1
Happy Reading