
Kini Ersya sudah bersiap-siap untuk membawa Felic jalan-jalan, sebenarnya ia begitu
takut tapi ia yakin dengan perkataan orang jika Felic akan baik-baik saja,
perkataan siapa ya itu?
Mereka juga sudah mendapat ijin dari ibunya Felic walaupun banyak sekali wejangan
sebelum mereka berangkat.
“Sudah siap, mom?” tanya ersya tapi Felic malah memelototkan matanya karena mendengar panggilan mom dari Ersya.
“Apaan sih Fe melotot kayak gitu, keluar loh entar matanya!”
“Jangan panggil gue mom ya , gue nggak suka! Gue lebih suka di panggil bubu atau bunda!”
protes Felic.
“Gitu aja protes lo …!” keluh Ersya.
“Biarin!”
Kini Ersya sudah membawa Felic jalan-jalan dengan kursi rodanya, Ersya mendorong
pelang kursi roda Felic menyusuri jalan sempit, sesekali mereka berpapasan dengan tetangga Felic yang sebenarnya banyak yang julit ya.
“Fe …, ngapain pakek kursi roda?” tanya tetangga yang kebetulan lewat.
“lagi pengen main becak-becakan, tante!” jawab Ersya dengan gayanya yang nyablak.
“Di tanya beneran malah jawabnya asal!” ucap ibu itu sambil berlalu dnegan wajah kesal.
“Keterlaluan lo Sya!” ucap Felic setelah ibu-ibu tadi menjauh.
‘Biarin Fe, sekali-kali tetangga yang kayak gitu perlu di lawan juga!”
“Bisa-bisa besok ada trending topik, ‘Felic yang tiba-tiba jadi orang kaya ternyata di
siksa suaminya sampek nggak bisa jalan’ malang bener nasib suami gue!”
Ha ha ha
Ersya hanya tertawa mendengarkan lelucon dari Felic, tapi mungkin memang itu bukan
sekedar lelucon, bisa jadi besok benar-benar akan tersebar berita kayak gitu, dan ibunya pulang-pulang dari pasar mencak-mencak gara-gara jadi nara sumber dadakan yang di mintai klarifikasi.
Setelah memalui beberapa rintangan tetangga
yang bermulut pedas, hingga akhirnya mereka sampai di sebuah taman yang berada
di dekat rumah Felic, taman itu tidak terlalu luas tapi cukup asri dan enak
untuk sekedar menikmati udara segar karena jauh dari jalan raya.
“Kita berhenti di sini ya, udara pagi sangat baik untuk ibu hamil!” ucap Ersya saat
mereka sudah sampai.
“Ya udah aku duduk di situ aja deh …!” ucap Felic sambil menunjuk sebuah bangku
yang berada di bawah pohon besar.
“Baiklah …!” Ersya kembali mendorong kursi rodanya sedikit mendekat biar Felic tidak
berjalan terlalu lama.
Setelah Felic berpindah dari kursi roda menuju ke kursi taman, ersya tampak
mencari-cari sesuatu. Setelah apa yang dia cari ketemu, Ersya tersenyum senang.
“bentar ya Fe, gue tinggal dulu!” ucap Ersya.
“Lo mau kemana?” tanya felic sambil menahan tangan Ersya. Jujur ia takut jika di tinggal sendiri apalagi ia tidak bisa ngalakuin apa-apa.
__ADS_1
“bentar aja, ntar gue balik lagi!” ucap Ersya dan langsung meninggalkan Felic begitu
saja tanpa mengindahkan panggilan Felic.
“Mau kemana sih? Masak gue di tinggal sendiri sih …!” gerutu Felic setelah Ersya menghilang.
Felic hanya bisa duduk sambil mengamati beberapa benda di sekitarnya, melihat bunga
yang bermekaran dan beberapa kupu-kupu yang beterbangan.
“Hay.…!” suara seseorang tiba-tiba membuatnya menoleh. Sedikit terkejut tapi setelah
melihat siapa yang datang ada kelegaan tersendiri, ia sangat merindukan pria
itu sebenarnya sudah satu minggu ini mereka tidak bertemu.
“Frans?”
Dokter Frans tersenyum dan segera duduk di samping Felic, “Ngapain ke sini?” tanya Felic
sambil memasang wajah judesnya.
“Karena aku sedang merindukan seseorang dan kata orang obat paling ampuh itu bertemu,
jadi aku harus menemui orang yang aku rindukan!” ucap dokter Frans sambil
tersenyum menatap felic, menampakkan gigi gingsulnya.
“jangan gombal!”
“Nggak! orang bicara beneran di bilang gombal, kalau gombal itu gini, tau nggak kenapa buah jeruk itu asam?”
“Masa bodo sama jeruk!”
“Jawab nggak tau gitu aja kali Fe, nggak asik banget!’ gerutu dokter Frans, “jawabnya,
karena manisnya udah di kamu semua!”
“garing banget!”
“Kenapa?”
“Di kulkas ada hati kan?”
“Iya!”
“Yang kamu lihat di kulkas, itu bukan hati sapi. Itu hatiku yang beku karena ditinggal kamu."
“Tambah garing aja ngomongnya, kamu
masih waras kan?”
“Aku gila Fe, aku gila karena merindukan kamu! kalau kamu tanya berapa kali kamu datang ke pikiranku, jujur saja, cuma sekali. Habis itu, gak pernah pergi-pergi lagi sih …!”
“Sudah ya cukup! Pantes aja suka
gombal, pasti banyak banget cewek yang kamu gombalin trus kamu ajak nikah!”
“Jangan ketus gitu dong Fe, ini aku serius!”
“Ya udah …, langsung ke intinya aja, mau ngapain ke sini? Bukannya aku sudah bilang jangan temui aku sampai kamu benar-benar yakin!”
“Aku beneran yakin Fe, kalau kamu
yang ada di hati aku, bukan yang lain!”
“termasuk Zea?”
“Iya .., termasuk Zea!”
“Apa buktinya?”
“Masak sih Fe, kamu nggak bisa
__ADS_1
lihat kesungguhan ku? Coba fahami bagaimana aku, aku memang tidak bisa menjadi
orang yang kamu inginkan dengan sejuta kata-kata romantisnya, aku adalah aku,
aku Frans yang selengekan tapi aku selalu serius dengan hatiku!”
Mendengar ucapan dokter Frans
panjang lebar, membuat hati Felic sedikit melemah. Mungkin ia salah karena
terlalu menuntut suaminya seperti yang ia mau tapi bayangan bagaimana suaminya
itu memperlakukan begitu istimewa pada wanita lain membuatnya menutup mata
untuk bisa mudah memaafkan.
“Aku belum bisa maafin kamu!”
“Nggak pa pa, aku cuma mau ngasih ini sama kamu!” ucap dokter Frans sambil merogoh
saku jasnya dan menyerahkan sebuah surat yang di bungkus dengan warna merah jambu
untuk Felic.
“Surat?”
“Ya …, berdasarkan informasi yang aku baca, ada seorang gadis yang suka di kasih
surat!”
“Maksudnya gadisnya aku?” dokter Frans pun mengangguk.
Felic pun bersiap membuka surat itu, membuat dokter Frans segera menahan tangan
Felic, “Jangan!”
Felic mengerutkan keningnya bingung, “Kenapa?”
“Bisa nggak itu di buka di rumah saja?!” tanya dokter Frans sambil menggaruk
tengkuknya yang tidak gatal, ia belum siap melihat reaksi Felic saat membaca
surat itu.
“Niat nggak nih ngasihnya, jangan sampek aku berubah pikiran ya!” ancam Felic.
“Aku belum siap lihat reaksi kamu!” ucap dokter Frans dengan polosnya, melihat
ekspresi dokter Frans persis seperti ABG yang sedang jatuh cinta.
“Ya udah kalau nggak boleh aku buka sekarang, berarti kamu pergi dari sini atau aku
yang pergi!”
“jangan dong!” ucap dokter Frans, ia masih begitu merindukan wanita yang telah menjadi
istrinya itu. Cukup dengan bisa bicara berdua seperti ini sudah menyembuhkan
rasa rindunya.
“kalau jangan berarti kamu masih punya waktu sampek aku selesai baca surat ini!” ucap
Felic sambil mengacungkan surat itu.
“ya udah deh, terserah kamu!” dokter Frans menyerah, dari pada di minta pergi lebih
baik melihat reaksi Felic saat membaca surat dari dirinya, “ Tapi jangan tertawa ya!”
“terserah aku dong, yang baca aku!”
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
__ADS_1
Happy Reading 🥰🥰🥰