Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku
Season 2 (19. Penjelasan Rangga )


__ADS_3

Zea pun segera beranjak dari tempat tidur. Tampa mencuci mukanya ia hanya mengganti baju dan memakai jaket tebal karena sepertinya malam ini sedikit lebih dingin.


"Yang benar saja, bisa-bisanya dia melakukan hal itu. Bukankah dia punya keluarga!" Zea terus menggerutu, rasa capek di tubuhnya seketika hilang begitu saja. Bahkan dia tidak memperdulikan bagaimana matanya tadi begitu berat untuk di buka.


Zea tidak punya kendaraan, ia pun memilih menyewa ojek online untuk mengantarnya ke tempat tujuan.


"Ke klub xxx ya pak!"


"Iya mbak!"


Wajah Zea sekarang begitu cemas, tapi hal yang membuatnya menduga-duga kenapa bisa mereka menelponnya.


"Apa dia sadar pas mereka meneleponku? Seharusnya kan mereka menelpon keluarganya!" gumamnya sepanjang perjalanan sambil terus menatap ponselnya, ia hanya berharap ini bukan mimpi dan berakhir kecewa.


Akhirnya setelah menempuh perjalana semalam empat puluh lima menit, ia sampai juga di tempat yang di tunjuk penelpon.


"Pak tunggu saya ya, saya akan segera kembali!"


"Baik mbak!"


Zea pun segera turun dari taksi, memandangi tempat yang terlihat begitu asing untuknya. Bahkan untuk berada di sekitar tempat itu pun ia tidak kepikiran dan sekarang harus mendatanginya.


Melihat kedatangan Zea, seseorang langsung menyambutnya.


"Saya Zea mas, apa_?" belum sampai Zea melanjutkan ucapannya ia sudah bisa melihat seorang pria yang tengah menyandarkan kepalanya di atas meja dengan begitu banyak botol di depannya.


Zea pun dengan cepat berjalan dan menghampiri pria itu,


"Astaga...., ini apa-apaan!"


Di tangah keterkejutannya pria itu kembali menghampirinya,


"Ini kunci mobilnya dan ini tagihan yang belum di bayar!"


Dia benar-benar ya ..., menyusahkan saja ...


Matanya begitu terbelalak melihat tagihan yang harus ia bayar atas apa yang di lakukan oleh pria yang tengah tidak sadarkan diri itu.


"Bentar mas!" Zea punya ide, ia pun segera menggeledah saku jas, kemeja dan celana pria itu dan akhirnya menemukan sebuah dompet. Tidak ada uang cas, hanya beberapa kartu.


"Payahhhh!" gumamnya pelan lalu kembali menatap dua pria yang berdiri di depannya.


"Apa di sini menerima pembayaran melalui kartu?"


"Iya mbak! Apa anda tahu nomor pin nya?"


Ahhhh kenapa aku tidak bertanya padanya waktu itu!?


Ia geram sendiri, yang di tangannya sekarang adalah kartu yang sempat di berikan padanya dan ia tolak begitu saja.


Sekarang harus gimana?


Beruntung Zea baru saja mendapatkan gaji. Beberapa botol minuman yang sudah pria itu habiskan hampir saja menghabiskan seperempat dari gajinya satu bulan.


Rugi dehhh ....


"Kalau begitu saya titip mobilnya di sini saja ya mas, saya nggak bisa nyetir!"


"Iya mbak!"


"Dan lagi tolong bantu saya buat bawa ke taksi ya mas!"


Akhirnya dua orang membantu memapah Rangga sampai ke dalam taksi.


"Terimakasih ya mas!"


Taksi pun kembali berjalan setelah Zea juga ikut masuk.

__ADS_1


Zea tidak mungkin membawa Rangga ke rumah orang tuanya, ia juga tidak tahu di mana rumahnya.


Dengan susah payah Zea memapah Rangga hingga ke tempat tidur.


"Kenapa dia bisa sekacau ini?"


"Dia juga lebih kurus!"


Zea pun melepaskan sepatu, kaos kaki serta jasnya.


"Zea ...., Ze ....!" rancau Rangga membuat Zea menghentikan kegiatannya. Zea yang hendak bangun kembali di tarik oleh Rangga hingga tubuhnya menimpa pria itu, begitu erat hingga ia tidak mampu untuk melepaskannya.


"Ga lepasin!" Zea terus meronta, tapi Rangga malah semakin mengeratkan pelukannya.


"Aku tidak akan melepaskanmu, aku mencintaimu, sungguh, aku mencintaimu!" Rangga terus merancau membuat Zea terdiam, ia menatap wajah kacau suaminya. Pria yang biasa berpenampilan rapi itu begitu kacau sekarang. Bahkan ia bisa melihat air mata yang menitip di sudut matanya.


Tidak, aku tidak bisa luluh semudah ini ...., Zea pun segera menggelengkan kepalanya. Ia perlahan melepaskan pelukan Rangga dan menutup tubuh suaminya dengan selimut.


"Tidurlah!"


Tapi lagi saat Zea hendak meninggalkannya, tangannya berhasil di tahan oleh Rangga. Perlahan Rangga membuka matanya dan tersenyum,


"Zea istriku ....!"


"Kamu benar istriku! Maafkan aku .....!" Zea terdiam, ia membiarkan Rangga mengatakan apapun yang ia mau hingga akhirnya pria itu kembali tertidur.


Zea yang belum bisa melupakan kesalahan yang di lakukan Rangga ia pun memilih tidur di sofa ruang tv. Tapi nyatanya matanya sulit untuk kembali terpejam.


Ia kembali terngiang dengan kata-kata Rangga bahwa dia mencintainya.


"Jika dia benar mencintaiku kenapa memilih pergi dengan wanita itu?"


"Apa memang dia pria yang seperti itu?"


"Entahlah, aku bahkan tidak tahu harus mempercayai siapa sekarang!"


...***...


Pagi hari Zea sudah bangun lebih dulu seperti biasa dan Rangga masih pulas di atas tempat tidur.


Ia pun mengambil ponsel Rangga dan mengirimkan pesan pada pihak kantor bahwa Rangga kurang enak badan dan tidak bisa masuk untuk hari ini.


Setelah memasak untuk Rangga, ia pun bergegas pergi ke toko. Meninggalkan Rangga sendiri.


Tengah hari barulah Rangga bangun, sambil memegangi kepalanya yang masih pusing ia mengamati sekitar.


"Ini ....!"


"Zea!"


Dengan cepat ia bangun dan benar ini kamar Zea.


"Kenapa aku bisa sampai di sini?"


Ia melihat di samping tempat tidur sudah ada air perasan jeruk nipis yang sudah hilang panas nya dengan selembar kertas di bawahnya.


Rangga mengambil gelas itu dan meminumnya, mengambil kertas dan membacaranya.


Minumlah, air perasan jeruk nipis bisa mengurangi pengaruh alkohol. Aku juga sudah memasak untukmu, setelah sarapan kamu boleh pergi


"Aku sudah di sini, aku tidak mungkin pergi!" ia tersenyum sambil terus mengamati gelasnya. Ia yakin kedatangannya ke tempat yang seharusnya ini bukan sebuah kebetulan, sudah waktunya untuk menyelesaikan kesalah pahaman di antara mereka.


Rangga pun perlahan turun dari tempat tidur,


Melihat makanan yang sudah dingin tersaji di atas meja.


"Ini keluarga kecilku!" senyum yang beberapa hari hilang seakan kembali muncul dengan begitu bersemangat ia menyantap makanannya, walaupun sudah tidak panas lagi.

__ADS_1


Setelah makan, ia pun memutuskan untuk mandi. Ia tidak berniat untuk pulang, ia memilih menunggu sampai Zea pulang.


Malam hari, saat tiba jam waktu Zea pulang. Rangga pun bergegas berjalan kaki menuju ke minimarket Zea. Ia menunggu hingga wanita itu keluar dari toko. Memilih menunggu di tempat parkir depan.


Ia segera berdiri begitu melihat Zea mulai menutup rolling door nya.


"Kamu!" Zea tampak begitu terkejut karena mendapati Rangga membantunya menutup toko.


"Aku menunggumu pulang! Lalu aku memutuskan untuk menjemputmu!"


"Buat apa, pulanglah!"


"Aku tidak mungkin membiarkan istriku bekerja sendiri, hari ini aku tidak kerja jadi aku harus membantu istriku!"


"Tidak perlu!"


"Tapi pasti uangmu habis banyak untuk membayar minumanku semalam!"


"Anggap saja itu hutang!"


Setelah selesai menutup toko, Zea berlalu begitu saja tapi dengan cepat Rangga mengikutinya.


"Pasti capek ya? Apa ingin makan sesuatu sebelum pulang?"


"Nggak!"


"Baiklah, malam ini aku yang akan masak untukmu!"


"Tidak perlu!"


Tidak perlu bagaimana cueknya Zea terhadapnya, Rangga terus saja mengikutinya. Hingga akhirnyaereka sampai juga di rumah, Rangga dengan cepat membukakan pintu rumah untuk Zea dan kembali menutupnya saat Zea sudah masuk.


"Kenapa masih ikut masuk, pulanglah!"


Tapi bukannya menuruti keinginan Zea, Rangga malah memeluknya.


"Aku merindukanmu!"


Tapi dengan cepat Zea mendorong tubuh Rangga.


"Aku bukan wanita yang hanya di ada saat kau butuh, jika kamu menginginkan wanita seperti itu, di jalanan banyak!"


Srekkk


Seakan tidak peduli dengan kemarahan Zea, Rangga malah kembali meluk Zea. Melingkarkan tangannya di pinggang Zea.


"Aku merindukanmu!" Ia menyusupkan kepalanya di tengkuk wanita yang telah mengisi hatinya yang kosong begitu lama.


"Jangan memaksaku lagi, aku sungguh tidak suka!"


"Sungguh ini menyiksaku, aku minta maaf karena telah melukaimu, aku terbakar cemburu saat itu!"


"Kamu Tidak pernah mau mendengarkan penjelasan ku, jadi sekarang aku pun tidak butuh penjelasan darimu!"


"Ze, kasihani aku! Sudah cukup melewati hari-hari ku beberapa hari ini seperti tidak bernyawa tanpamu. Aku terlalu cemburu saat melihat kamu memakai gaun yang bukan dariku, saat aku melihat kamu berpelukan dengan pria lain di tepi jalan malam itu, aku benci semua itu, aku benci saat bang Rizal menyentuhmu, aku tidak mampu mengendalikannya, sungguh!"


Zea perlahan melepaskan lengan Rangga yang melingkar di pinggangnya.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2