
Pagi ini, Rangga , Zea dan tuan Seno berada di meja makan yang sama. Ini untuk pertama kalinya mereka menjadi satu keluarga yang utuh.
"Papa nggak kerja?" tanya Zea yang melihat papanya memakai pakaian santai padahal bukan akhir pekan atau hari Minggu.
Tuan Seno meneguk susu yang ada di depannya, ia tersenyum menatap menantu dan putrinya, "Hari ini papa sengaja libur!"
"Kok samaan sama Rangga sih pa?" Rangga memang sudah mulai kembali bekerja, tapi hari ini sengaja ia ijin karena di minta oleh papanya.
"Memang papa yang minta Rangga hari ini ijin!" ucap pak Seno lagi.
"Benarkah?" Zea menoleh pada Rangga.
Rangga menganggukkan kepalanya dan mengusap sisa makanan yang ada di sudut bibir Zea,
"Iya!"
Perhatian kecil yang selalu Rangga berikan membuat Zea merasa begitu istimewa, sekarang ia benar-benar di kelilingi oleh orang-orang yang benar-benar menyayanginya.
"Ada apa?" tanyanya lagi karena ia memang tidak tahu apa-apa dan Rangga pun sebenarnya sama, ia hanya di minta oleh papa mertuanya untuk ijin hari ini. Rangga mengangkat kedua bahunya tanda tidak tahu.
Tuan Seno pun mengambil sebuah amplop dari balik bajunya dan menyerahkan pada mereka.
"Ini hadiah pernikahan dari papa untuk kalian!"
"Ini apa lagi pa? Yang kemarin saja sudah lebih dari cukup pa!"
Selain pesta pernikahan, tuan Seno juga memberikan mobil mewah untuk mereka berdua.
"Buka aja!" perintah tuan Seno lagi terlihat tidak mau menjelaskan lebih banyak lagi.
Dan Zea pun segera membukanya, ternyata tiket paket honeymoon di salah satu hotel di Jogyakarta.
__ADS_1
"Tiket honeymoon?" Zea benar-benar tidak bisa menahan bibirnya untuk tidak tersenyum.
"Hmmm!" tuan Seno menganggukkan kepalanya.
"Ke Jogja?"
"Iya, sebelum kamu melahirkan. Papa ingin kalian menikmati pernikahan kalian! Sengaja papa memilih Jogyakarta karena jaraknya yang tidak begitu jauh, papa rasa akan aman untuk kandungan kamu."
Zea menatap Rangga, meminta persetujuannya dan Rangga pun menggenggam tangan Zea, menyetujuinya.
"Terimakasih pa, ini sudah lebih dari cukup!" ucapnya kemudian, Rangga memang berprisip tapi dia juga tidak bisa mengabaikan kebaikan papa mertuanya.
"Kalian tidak perlu merasa tidak enak. Nanti kalau Zea sudah melahirkan kalian bisa jalan-jalan kemana saja, biar bayinya sama papa!"
Ucapan tuan Seno langsung mendapat tatapan protes dari Zea,
"Mana bisa kayak gitu pa!"
"Kan memang rencana papa begitu, papa akan semakin senang kalau kalian membuatkan cucu lebih banyak lagi."
"Papa ini!" seketika wajah Zea tersipu malu di buatnya.
"Oh iya ada satu lagi." sekarang wajah tuan Seno tampak serius.
"Apa pa?"
"Papa sudah tua, papa ingin menikmati sisa hidup papa dengan cucu-cucu papa nantinya. Untuk itu papa ingin menyerahkan seluruh kuasa atas perusahaan pada Rangga!"
Rangga tercengang, ia menatap pada Zea dan tuan Seno secara bergantian.
"Tapi pa, rasanya Rangga belum pantas menerima semua itu." ucapnya kemudian.
__ADS_1
"Jangan khawatir, papa juga tidak akan melepaskan sepenuhnya. Kamu bisa menjadi pelaksanannya!"
Bukan hanya itu, yang tengah ia pikirkan sekarang adalah perusahan tempatnya kerja sekarang. Mendapatkan kepercayaan Divta bukanlah hal yang mudah, ia tidak mungkin mengecewakannya dengan langsung meninggalkannya begitu saja. Apalagi selama ini, banyak sekali bantuan yang telah Divta berikan untuknya dan keluarganya.
"Tapi pa, bagaimana dengan pak Div? Saya tidak mungkin meninggalkan perusahaan itu begitu saja."
"Jangan khawatir soal itu, sejak jauh-jauh hari kami sudah mendiskusikannya dan tuan Divta setuju. Beliau malah mendukung hal ini."
Melihat keraguan di wajah Rangga, tuan Seno pun melanjutkan ucapannya,
"Tuan Divta bahkan akan membantumu mengelola perusahaan, kami punya kerja sama yang bagus selama ini, jadi apapun yang terjadi dengan perusahaan kita, tuan Divta tidak akan tinggal diam. Anggap saja sekarang tuan Divta sebagai partner kerja kamu!"
Akhirnya dengan segala bujukan dari tuan Seno, Rangga pun menyetujuinya.
...***...
Hari ini Zea dan Rangga benar-benar berangkat ke Jogja, mereka akan menghabiskan waktunya di sana selama satu Minggu.
Menghabiskan waktu untuk jalan-jalan dan menikmati segala fasilitas yang di berikan oleh tuan Seno.
Melupakan segala kepahitan yang pernah terjadi, meninggalkan kenangan pahit itu dan menggantikannya dengan kenangan yang lebih manis.
Kadang dalam hidup membutuhkan bumbu pedas dan kadang juga begitu pahit, tapi segala rasa itu jika di jadikan satu akan menciptakan rasa yang lebih nikmat, cinta yang menyatukan semua rasa itu.
Terimakasih sudah berada Rangga dan Zea selama ini, semoga kisah ini sedikit memberi pelajaran dalam hidup kita.
Tidak semua yang kita inginkan itu akan selalu dapat tercapai, tapi semua hal bisa di usahakan asal dengan jalan dan cara yang baik.
...End...
...Selamat menunggu karya-karya author yang selanjutnya, jangan lupa terus dukung author dengan tetap memfavoritkan karya author, salam sayang dari author untuk kalian semua....
__ADS_1