
Wilson segera menjalankan mobilnya meninggalkan tempat itu, Tisya menyimpan kembali cek itu ke dalam tasnya.
"Apa rencanamu setelah ini?" tanya Wilson sambil sibuk menyetir.
"Aku akan langsung ke kantor papa saja!"
"Baiklah aku akan mengantarmu!"
Tugas ke tiga :
...Memastikan cek itu sampai pada tuan Bactiar...
Mobil Wilson akhirnya sampai juga di depan gedung Bactiar group.
"Sudah sampai, jadi turun atau tidak?"
Tisya masih terlihat terdiam di tempatnya.
"Hari ini mungkin jadi hari terakhir aku berhubungan dengan papa!"
Wilson pun mengusap punggung Tisya, "Aku akan mengantarmu sampai di dalam!"
"Tidak perlu, aku bisa sendiri!"
Saat Tisya akan turun, Wilson kembali menahan tangannya,
"Ada apa?"
Srekkkkk
Wilson tiba-tiba memeluk tubuh Tisya, membuat wanita itu begitu terkejut.
"Wil, ada apa?"
Bukan menjawab tapi tangan Wilson memasukkan benda kecil ke dalam jas kecilnya memastikan jika benda itu aman dan tidak terjatuh lagi.
Setelah itu, Wilson melepas pelukannya.
"Tidak pa pa, cepat turun sana, aku akan menunggumu di sini!"
"Memang kita mau ke mana lagi?"
"Kita bisa merayakan hari ini dengan makan malam di luar!"
"Baiklah, aku turun ya!"
Tisya pun segera keluar dari mobil itu dan berjalan memasuki gedung itu.
Setelah memastikan Tisya masuk, Wilson pun mengambil ponselnya dan mengaktifkannya memastikan jika suara Tisya bisa masuk ke dalam ponselnya.
Tisya berjalan melewati lobby, dirinya yang baru menjadi terasa asing di tempat yang dulu menjadi tempatnya besar.
Langkahnya terhenti saat melihat Maira tidak jauh dari tempatnya berdiri saat ini.
"Kak Maira!"
Maira yang terlihat sedang berbicara dengan seseorang segera menolah padanya, tapi saat tahu jika itu Tisya, Maira malah memilih untuk pergi.
"Kak ...., kakak ....!"
__ADS_1
Dengan cepat Tisya mengejarnya, setelah mereka sampai di ujung tangga barulah Tisya bisa meraih tangan Maira.
"Kak tunggu!"
Maira menatap Tisya kesal,
"Sudah aku bilang jangan ganggu aku!"
"Tidak, kak Maira masih marah sama Tisya?"
"Nggak usah tanya, kamu sudah tahu jawaban nya!"
Maira menghempaskan tangan Tisya dan mulai menaiki tangga, tapi Tisya tetap tidak menyerah, langkahnya yang cepat mampu menyaingi langkah Maira, Tisya berada satu tangga di atas Maira.
"Aku sudah mengatakan alasannya kan kak, jadi Tisya mohon jangan membenci Tisya lagi! Lagian kak Maira kan juga tidak tahu bagaimana perasaan Wilson kan?"
"Jadi menurut kamu dia lebih mencintai kamu dari pada aku makanya dia milih kamu! Kalau cuma alasannya uang satu milyar, bukankah Wilson bisa juga nikah sama aku dan pasti uang itu aku kasih buat kamu!"
Tisya terdiam, membuat Maira berdecak, "Nggak bisa jawab kan? Kamu seneng kan nikah sama Wilson?"
"Kak Maira kok bisa ngomong kayak gitu sih sama Tisya?"
"Ya apa namanya coba, aku udah pernah bilang kan sama kamu kalau aku suka sama Wilson, kenapa kamu tidak menolak menikah dengan nya? Padahal kamu bisa menolaknya!"
Tisya masih terdiam, ia membenarkan ucapan Maira. Jika hanya alasannya uang satu milyar, pasti Maira juga tidak keberatan untuk memberikan uang itu padanya.
Setelah tidak ada jawaban dari Tisya, Maira pun memilih berlalu, "Minggir!"
Bahunya menyenggol dengan keras bahu Tisya, hingga Tisya sedikit bergeser dari posisinya.
Tisya menyandarkan tubuhnya di sandaran tangga, perkataan Maira masih berkecamuk di kepalanya saat ini.
"Apa aku salah?" gumamnya lirih sambil menatap Maira yang semakin menghilang.
Cukup lama Tisya terdiam di sana, saat ini ia sedang perang batin antara memilih Wilson atau memilih kakaknya.
"Biarlah semua berjalan seperti semestinya!"
Tisya memilih berjalan menuju ke ruangan tuan Bactiar.
Langkahnya terhenti di depan pintu besar itu, setelah meminta ijin pada sekretaris tuan Bactiar.
Ia sibuk menatap cek yang berada di tangannya dan juga sebuah pintu yang ada di depannya itu.
Hehhhhh
Tisya menghela nafasnya dalam dan kembali memasukkan kertas kecil itu ke dalam tasnya.
Tok tok tok
"Masuk!"
Ada sahutan dari dalam, ia hafal betul suara siapa itu, suara seseorang yang dulu begitu sayang padanya.
Ceklek
Tisya membuka pintu itu, menatap pria yang sedang berdiri di samping jendela menikmati suasana sore atau sedang mengamati pria yang berada di bawah sedang berdiri di samping mobilnya dengan Aerophone yang melekat di lubang telinganya.
"Pa!"
__ADS_1
"Duduklah!" ucap pria itu tanpa mengalihkan tatapannya, pria paruh baya itu sama sekali tidak menatap Tisya, ia memilih untuk tetap memperhatikan pria yang sedang berdiri di bawah sana.
"Pa, Tisya mau bicara!"
"Bicaralah, aku akan mendengarkannya!"
Tisya pun memilih melanjutkan pembicaraannya, entah pria itu memperhatikannya atau tidak.
"Tisya ke sini mau mengembalikan uang yang sudah papa habiskan untuk menghidupi Tisya selama ini!"
Kali ini ucapan Tisya berhasil mengalihkan tatapan pria itu, ia segera menoleh pada Tisya dan mendekat i meja.
"Tisya tahu pa, ini masih belum sebanding dengan yang sudah papa keluarkan selama dua puluh empat tahun ini! Setelah ini aku tidak akan memanggil anda papa lagi, karena anda memang bukan papa saya!"
Tisya menyodorkan sebuah cek yang bertuliskan satu milyar itu membuat kening tuan Bactiar berkerut, semakin menampilkan banyaknya kerutan di keningnya itu, ubannya juga sudah banyak yang tumbuh.
"Apa ini semua gara-gara pria yang sedang menunggumu di bawah itu?"
"Maksud anda?"
"Ckkkk!" tuan Bactiar berdecak saat mendengar panggilan baru itu.
"Rupanya kamu sudah ketularan sama dokter itu, bahkan pengawal pribadi dokter itu sekarang sudah mengawal mu!"
"Pengawal pribadi?" Tisya bergumam.
"Hehhh aku sampai lupa jika kakak laki-laki mu itu dokter yang kaya raya, uang satu milyar bukan uang yang sedikit kan!"
"Tapi Tisya tidak meminta pada kak Frans! Jadi anda tidak perlu meributkan dari mana saya mendapatkannya!"
Tuan Bactiar mengepalkan tangannya hingga otot-otot tangannya muncul di permukaan.
"Kamu benar-benar tidak punya rasa terima kasih!"
"Anda yang mengajarkan saya seperti ini, anda mengajarkan saya bahwa kasih sayang itu bisa di tukar dengan uang, jadi jangan salahkan saya jika nanti kita bertemu lagi, saya akan menghitung semua budi yang saya berikan sebagai hutang!"
"Pergi! Pergi dari sini!"
Tuan Bactiar begitu marah hingga suaranya pun meledak-ledak. Ia ingin memperalat putrinya itu tapi tidak di sangka semua malah berbalik padanya.
"Saya pasti akan pergi, saat kita bertemu lagi nanti, tidak ada lagi hubungan antar papa dan putri, kita orang lain dan selanya akan jadi orang lain, permisi tuan Bactiar!"
Tisya pun dengan mantap meninggalkan ruangan itu dengan elegan. Meninggalkan tuan Bactiar yang begitu marah.
brakkkkkk
Tuan Bactiar menyapu seluruh isi meja dengan kedua tangannya dan memukul meja itu dengan begitu keras.
"Sial!"
Saat ini ia benar-benar kehilangan semuanya, putri dan istrinya. Sekeras apapun dia mengingkari tapi tetap saja ia tidak rela jika istri dan putrinya itu menjadi orang lain. Sebegitu egoisnya aku ....
Bersambung
...Menyesal, kenapa selalu datang di akhir. Agar kita tahu bagaimana sulitnya untuk memperbaiki ke masa lalu, jadi gunakan hari ini untuk menjadi lebih baik agar sesal juga tidak datang di masa depan...
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
__ADS_1
IG @tri.ani.2549
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰🥰