
Pagi ini Wilson sudah terlihat sangat rapi, ia harus pergi ke rumah sakit sebentar untuk memastikan jika barang-barang peralatan rumah sakit sudah datang dengan aman.
Tapi dia tidak mungkin meninggalkan Tisya sendiri, apalagi hari ini para pekerja sedang libur.
Wilson pun memutuskan untuk mengajak Tisya sebentar, sekalian membelikan baju yang pantas untuk adik atasan nya itu.
Tok tok tok
Wilson mengetuk pintu kamar Tisya sambil sesekali melihat jam tangannya, masih ada waktu hingga satu jam ke depan.
Ia begitu terkejut saat seseorang menepuk bahunya, dengan reflek Wilson beralih ke belakang.
"Astagfirullah ....!" pekik Wilson sambil kembali memutar tubuhnya membelakangi Tisya.
"Ada apa sih? Ada yang serem ya?" tanya Tisya yang bingung sambil mengedarkan pandangannya.
"Kamu itu yang serem ....!" ucap Wilson masih berdiri membelakangi Tisya, tapi Tisya berputar agar bisa berdiri di depan Wilson, mengetahui hal itu Wilson pun juga melakukan hal yang sama.
"Kenapa jadi berputar putar sih ....?" tanya Tisya protes.
"Diam di tempat kamu ....!"
"Kenapa sih?"
"Kenapa masih pakek baju begituan?" tanya Wilson sambil mengelap keringat di keningnya, tiba-tiba saja panas melihat Tisya berpakaian seperti itu.
Ya Allah ...., pertahankan pertahanan ku ....., ini ujian berat ya Allah ....
"Sudah aku bilang, semua bajuku Seperti ini, cuma baju kerjaku aja yang panjang, itu juga cuma ada dua yang aki belum saat masuk kerja!"
"Tetap di sini .....!" ucap Wilson. Ia pun berjalan meninggalkan Tisya dan kembali ke dalam kamarnya.
Wilson mencari kaos lengan panjang miliknya dan juga celana olah raganya yang sedikit kekecilan.
Wilson pun kembali keluar dengan berjalan mundur.
"Pakek ini saja ...!" ucap Wilson sambil menyerahkan baju untuk Tisya.
"Jadi maksudnya aku suruh pakek ini?"
"Iya ....!"
"Kenapa sih pakek ini aja, nggak keluar rumah juga!" protes Tisya, ia sudah membayangkan kayak apa jadinya pakek baju Wilson yang jelas kebesaran itu.
"Kita akan keluar!"
"Kemana?"
"Belanja baju buat kamu, cepetan ganti bajumu, jangan pakek yang seperti itu lagi!" ucap Wilson.
"Iya!" walaupun kesal tapi Tisya tetap menurut i permintaan Wilson. Ia kembali ke dalam kamarnya dan mengganti baju serba mini nya dengan baju serba kebesarannya.
Hehhhhhh .....
Wilson menghela nafas lega, "Sampai kapan bakal kuat kayak gini ...., bisa nggak sih si tikus itu nggak neror terus .... !" gerutu Wilson sambil duduk di sofa, ia juga mengambil air putih untuk dia minum.
"Panas banget masih pagi ....!" gumam Wilson lagi sambil melonggar dasi dan melepas kancing paling atas kemejanya.
__ADS_1
Lima menit kemudian Tisya keluar dengan baju serba kegedeannya.
"Wil ...., aku kok ngrasa aneh ya sama ini ....!" ucap Tisya sambil meregangkan lengannya menunjukkan seberapa besar baju itu di tubuhnya.
"Nggak usah banyak protes, ayo berangkat!" ucap Wilson dan langsung berdiri.
"Ehhh bentar ...!"
"Apa lagi?"
Tisya pun segera mendekati Wilson dan berdiri tepat di depannya membuat Wilson sedikit mundur tapi Tisya segera menarik dasinya.
"Ini berantakan!" ucap Tisya.
Wilson segera menepis tangan Tisya, "Biar aku sendiri!"
"Aku juga bisa!" ucap Tisya sambil menarik kembali dasi itu hingga membuat wajah Wilson begitu dekat dengan wajahnya.
Kenapa dia begini ya ...., maksudku bukan cantik tapi ...., ihhh mikir apaan sih ...., batin Wilson saat mata mereka saling bertemu.
"Biar aku rapikan!" ucap Tisya sambil mengalihkan matanya ke kancing kemeja Wilson.
Wilson terlihat begitu tegang, sampai untuk bernafas saja ia terlihat enggan.
"Kenapa tegang sekali sih Wil, aku kan nggak gigit, bukan drakula aku nya!" ucap Tisya saat sudah menyelesaikan merapikan dasi Wilson.
"Enggak ...., siapa juga yang tegang!" ucap Wilson sambil mengalihkan wajahnya dari Tisya, tangannya juga terlihat mengusap totol-totol keringat yang ada di keningnya.
"Nahhh itu sampek keringatan!"
"Perasaan enggak!"
"Sudah ayo berangkat, keburu siang!"
Wilson pun langsung berlalu meninggalkan Tisya, ia membuka penutup mobilnya yang masih terparkir di depan rumah, sebenarnya pengerjaan garasi mobilnya sudah selesai tinggal mengganti cat temboknya saja.
Tisya mengikutinya di belakang, Wilson pun segera masuk ke dalam mobil begitu pun dengan Tisya.
"Kenapa duduk di situ?" tanya Wilson saat Tisya duduk di bangku belakang.
"Kenapa?"
"Aku bukan sopir kamu ya!"
hehhhh gitu aja jadi masalah ....., batin Tisya. Ia pun kembali keluar dan duduk di samping Wilson.
"Pakek sabuk pengamannya!"
"Iya .... , bawel!"
Mobil pun mulai melaju menuju ke rumah sakit FrAd Medika.
"Kenapa kita ke sini? Katanya mau belanja?"
"Aku ada kerjaan sebentar, terserah kamu mau ikut turun atau tetap di sini!"
"Lama apa enggak?"
__ADS_1
"Fleksibel ...., bisa lama bisa enggak!"
"Ikut aja deh ...!"
Walaupun dengan perasaan malu, Tisya akhirnya ikut turun dan benar saja akhirnya dia jadi pusat perhatian. Bukan karena dia seorang model tapi karena bajunya yang terlihat begitu kebesaran, tapi tetap saja pantas di pakai olehnya.
"Itu tren baju terbaru ya?" tanya seseorang yang kebetulan mengenal Tisya sebagai seorang model.
"Mungkin ...., bagus ya!"
Ihhh gila nih tikus ...., pakek baju kebesaran aja masih jadi tren center ...., batin Wilson sambil tersenyum tipis.
Wilson pun mulai melakukan pekerjaannya, bukan di dalam ruangan seperti yang di pikirkan oleh Tisya, pekerjaan Wilson di halaman belakang rumah sakit, mengecek barang-barang yang baru saja datang memastikan tidak ada yang tertinggal atau kelebihan.
Setelah dua jam akhirnya pekerjaan Wilson selesai, Tisya sudah duduk di bawah pohon seperti gelandangan.
"Sudah selesai ...., ayo!" ucap Wilson sambil menghampiri Tisya.
"Gila kamu wil ...., aku bisa gosong kalau kayak gini terus!" keluh Tisya karena udara panas di tambah sinar matahari yang menyengat tepat di ubun-ubun.
"Gitu aja ngeluh ...., kalau mau kerja ya harus susah ...!"
"Ya nggak gini-gini amet Wil ....!"
"Mau tetap di sini, atau pergi sama aku!"
"Iya iya ...., nggak sabaran banget sih jadi orang!" ucap Tisya kesal sambil berdiri dan membersihkan bokongnya yang kotor terkena tanah.
Mereka pun segera menuju ke tempat mobilnya yang terparkir.
Mobil pun mulai melaju kembali meninggalkan rumah sakit. Mereka langsung menuju ke pusat perbelanjaan yang berada di pusat kota.
Wilson langsung mengajak Tisya ke toko baju yang harganya cukup terjangkau.
"Kenapa nggak di toko sebelah sih? Aku biasa beli di situ!" protes Tisya saat mereka bukan masuk ke toko baju dengan brand ternama tapi malah masuk ke sebelahnya.
"Sekarang cari yang luar biasa! Emang kamu punya uang berapa?" tanya Wilson.
"Nggak punya uang!"
"Nah itu tahu, jangan di pikir ini gratis ya, nanti kamu harus menggantinya!"
"Ganti? Aku ganti pakek apa?"
"Nanti kalau kamu sudah gajian, kamu boleh gantian belikan kemeja buat aku!"
"Ihhhh aku kira gratis!" keluh Tisya yang kesal.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰🥰
__ADS_1