
Akhir-akhir ini felic jadi sering
melamun, semenjak bertemu dengan bu Narti, Felic terus memikirkan apa yang terjadi di masa lalu.
"Kenapa bisa begitu ya? Lalu siapa orang yang paling tahu ..., apa nyonya Ratih, atau mungkin bi Molly tahu ...!" gumam Felic sambil menatap gelapnya malam sambil menunggu suaminya selesai mandi.
Dokter Frans yang keluar dari kamar mandi melihat istrinya yang sedang melamun segera menghampirinya, tapi sepertinya istrinya tidak menyadari kedatangannya.
Apa yang sedang dia pikirkan ..., batin dokter Frans, hal ini membuat Frans jadi sedikit khawatir.
“Fe …, mikirin apa sih?” tanya dokter Frans sambil berdiri di samping istrinya itu.
"Frans ..., sejak kapan kamu di sini?" tanya Felic.
"Sudah cukup lama!" ucap dokter Frans sambil menatap ke depan, "Jangan suka menyimpan masalah sendiri, nanti bisa jadi bisul loh ...!"
“bukan apa-apa Frans!"
Felic pun segera meninggalkan balkon, dokter Frans pun mengikutinya. Felic mengambil handuk yang baru saja di kenakan oleh dokter Frans dan meletakkannya di keranjang baju kotor.
"Mau kopi?" tanya Felic.
"Boleh ....!"
Felic pun segera meninggalkan kamarnya dan menuju ke dapur, ia meletakkan panco kecil di atas kompor dengan air secukupnya di dalamnya.
Felic mulai meracik kopi dan gila di dalam cangkir. Ia tetap tidak bisa mengalihkan pikirannya pada cerita bu Narti.
"Ahhhhh ...., kenapa ceritanya tidak lengkap sih, aku kan butuh versi lengkapnya!"
"Nyonya ...., kenapa bicara sendiri?" tanya bi Molly yang tiba-tiba datang.
"Bi ...., kau mengagetkan aku ...!" ucap felic sambil memegang dadanya.
"Maaf nyonya!"
Apa bi Molly tahu sesuatu ya ....???
"Bi ....?!"
"Iya nyonya!"
"Bisakah bi Molly menceritakan tentang masa lalu Frans padaku?"
"Nyonya ....?!"
"Plissss ...., ini penting bi!"
"Baiklah ...., tapi bukan sekarang, besok saat tuan tidak di rumah!"
"Baiklah ....!"
Felic pun segera membawa cangkir yang sudah berisi kopi itu ke atas, ke dalam kamarnya.
Hehhhhhh .....
Felic menghela nafas sebelum masuk lagi ke dalam kamarnya.
"Frans ...., ini kopinya!" ucap Felic sambil menghampiri suaminya yang sedang sibuk dengan bukunya itu.
"Makasih, duduklah ....!" ucap dokter Frans sambil menepuk tempat kosong di sampingnya.
Felic pun segera duduk di tempat kosong itu, dokter Frans menyeruput kopinya yang masih panas.
"Masih panas Frans!" Felic memperingatkan pada suaminya itu.
"Hahhh iya ....!" ucap dokter Frans sambil meletakkan kembali di cangkir kopi itu di atas meja.
"Gimana kerjanya tadi lancar?” tanya Felic kemudian saat suaminya hendak mengambil kembali laptopnya.
"tumben nanyain kerjaan?” tanya dokter Frans.
__ADS_1
"Ya nggak pa pa kan, cuma nanya aja ...!” ucap Felic sambil menyenderkan tubuhnya di pangkuan dokter Frans.
Dokter Frans pun mengusap kepala Felic dan meninggalkan kecupan di kening istrinya itu.
Ting
Tiba-tiba ponsel Felic yang berada di atas meja mengeluarkan notif pesan. Felic pun dengan cepat bangun dari pangkuan suaminya dan menyambar ponselnya.
Nyonya Tania ...., Felic begitu terkejut saat mendapat pesan dari wanita itu.
//Bagaimana? Sudah tahu harus apa?//
Dokter Frans yang melihat ekspresi wajah Felic yang tiba-tiba diam itu akhirnya bertanya, “dari siapa?"
Felic pun mengangkat wajahnya, ia lupa jika ia sedang bersama suaminya saat ini.
"bukan siapa-siapa!” ucap Felic.
“Bukan siapa-siapa kok mukanya kayak gitu?”
“Nggak pa pa, memang kenapa muka ku!”
“coba liat!" dokter Fans pun segera menyambar ponsel Felic dan melihat pesan itu.
“tukang ketik?" tanya dokter Frans saat melihat siapa yang membaca nama yang tertera dalam pesan itu, untungnya lagi gambar profilnya bukan foto tapi setangkai bunga.
Untung saja aku kasih nama tukang ketik …
“Kenapa nanyanya harus apa?”
“Iya Frans, soalnya kemarin aku di tanya bingung, harus di tulis yang mana dulu!”
“kenapa pakek tukang ketik segala?”
"lagi males ngetik!”
“Ya udah …, aku ke ruang kerja dulu ya ada beberapa berkas yang harus aku tanda tangani!”
Dokter Frans pun meninggalkan Felic. Ia memang harus melanjutkan berkas yang kemarin sudah ia siapkan. Ia harus memberi pelajaran pada mereka. Rasa nya tidak akan
adil jika membiarkannya begitu saja.
Felic yang melihat suaminya sudah keluar ia segera menuju ke balkon, ia harus melakukan panggilan pada wanita yang sudah mengaku menjadi ibu dari suaminya.
“hallo ….!”
“bagaimana? Apa kau sudah mendapat jawabannya?”
“Bisa kita bertemu besok di kafe A&A, ada beberapa hal yang ingin aku tanyakan sebelum mengambil keputusan!”
"Baik aku tunggu, jam berapa?”
“jam dua siang!”
Dokter Frans yang kebetulan masuk kembali ke dalam kamar untuk mengambil stampel rumah
sakitnya tidak sengaja mendengarnya.
“Kafe A&A, jam dua? Mau ketemu sama siapa?” gumam dokter Frans.
Felic yang kembali lagi ke dalam kamar begitu terkejut saat melihat suaminya sudah di sana.
“Frans …, sejak kapan di kamar?”
“baru saja! Aku mau ambil ini!” ucap dokter Frans sambil menunjukkan stampel di tangannya.
"Ya sudah tidur lah dulu, aku tidak akan lama!”
Dokter Frans pun kembali keluar. Ia menuju ke ruang kerjanya.
Ia duduk di kursinya, tapi bukan langsung bekerja. Ia memilih memikirkan siapa yang baru saja di hubungi oleh istrinya.
__ADS_1
"siapa yang menghubunginya? Aku harus mengikutinya besok!"
...***...
Di tempat lain terlihat nyonya besar itu sudah mulai kesal. Ia tidak menyangka jika Felic akan secerdik itu.
"Kenapa dia tidak langsung pergi setelah ancaman yang aku lakukan!"
Nyonya Tania beberapa kali terlihat meremas ponsel mahalnya.
"Papa juga keterlaluan ..., kenapa sih dia masih menghubungi wanita itu!" ucap nyonya Tania yang terbakar cemburu karena baru saja suaminya itu memamerkan sebuah foto mereka sedang makan malam dengan putri sulungnya di sana.
Nyonya Tania pun segera keluar dari kamarnya. Ia mengambil mantelnya dan naik mobil. Ia harus melakukan sesuatu.
Setelah menempuh perjalanan selama setengah jam, ia pun turun di depan sebuah rumah.
"Nyonya ...!" seorang paruh baya menghampirinya.
"Di mana ayah?"
"Tuan sudah istirahat nyonya!"
Nyonya Tania pun segera berjalan cepat menuju ke kamar orang yang di panggil ayah.
Ia membuka pintu kamar itu. Terlihat di sana pria renta sedang bersandar di sandaran kursi.
"Tan ....!"
"Ayah ....!"
nyonya Tania segera menghampiri ayahnya itu.
"Ada apa malam-malam kesini?"
"Ayah ...., Andi mengecewakan aku!" keluhnya pada sang ayah.
Andi adalah mana panjang dari tuan Bactiar, Andi Bactiar.
"Ada apa?"
"Dia makan malam dengan mantan istri dan putrinya! Ia bahkan tidak menghubungi aku!"
"Jangan membesarkan masalah ..., itu bukan hal yang serius, jangan kekanak-kanakan ....!"
"Apa ayah tahu tentang Frans?"
"Frans?" tanya pria tua itu, tubuhnya terlihat sangat renta.
"Iya yah ..., putra pertamaku!"
"Dimana dia?"
"Dia pemilik rumah sakit besar, FrAd Medika!"
Pria tua itu tersenyum,
"Kenapa ayah tersenyum?"
"Itu pasti ulah istri Wijaya!"
...Lebih baik mencintai dan kehilangan daripada tidak pernah mencintai sama sekali." - St Agustinus...
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰
__ADS_1