Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku
Konsultasi kesehatan


__ADS_3

“Anda jangan bicara sembarangan…, jaga ucapan anda, sebelum saya seret anda keluar!”


"Saya berani berbicara demikian karena nyonya Ratih lah yang mengorbankan ayah dokter, memintanya menggantikan dirinya yang berada dalam mobil itu, jika bukan ayah anda maka nyonya Ratih lah saat itu yang akan mati!”


"Jangan bicara omong kosong di depan saya, jadi sebaiknya anda keluar sebelum saya kehilangan kesabaran saya. Jangan sampai kemarahan saya nanti bisa menyeret anda ke dalam jeruti besi!"   


"Dasar keras kepala!" umpat tuan Bactiar lalu berdiri dan meninggalkan ruangan dokter Frans begitu saja.


"Bicara omong kosong apa lagi dia ....!" umpat dokter Frans begitu kesal.


Ia memilih duduk di tempatnya dan beberapa kali mengumpatkan kata-kata kasar pada tuan Bactiar.


Tok tok tok


Tiba-tiba pintu ruangannya kembali di ketuk, tidak berapa lama dokter Sifa datang.


"Permisi dok, apa dokter jadi melakukan pemeriksaan kesehatan?"


Ahhhh iya ..., gara-gara orang tidak waras tadi gue sampek lupa mau periksa kesehatan ...


"Iya dok, jadi ..., apa dokter Wira sudah siap?"


"Sudah dok!"


"Baiklah katakan kalau aku akan ke ruangannya!"


"Baik dok!"


Dokter Sifa pun meninggalkan ruangan itu, dokter Frans segera bersiap-siap menemui dokter Wira.


Sebenarnya tidak perlu membuat janji, tapi dokter Frans tidak mau membuat pasien lain tertunda hanya gara-gara dirinya, ia menunggu giliran seperti pasien-pasien dokter Wira yang lain.


Ruangan mereka hanya berjarak satu lantai, kedatangannya langsung di sambut dokter Wira.


"Masuklah dokter!"


"Terimakasih!"


Dokter Frans pun segera masuk dan duduk di tempat duduk pasien.


"Ada masalah apa dok?" tanya dokter Wira.


"Sepertinya ada masalah dengan lambungku, karena akhir-akhir ini sering muntah tanpa sebab apa lagi kalau pagi hari!"


"Baiklah biar saya periksa dok!"


Dokter Wira segera meminta dokter Frans untuk tidur di tempat tidur pasien, dokter Wira melakukan pemeriksaan pada lambung dan beberapa organ pencernaan dokter Frans.


"Apa yang dokter rasakan? Apa dokter suka muntah setelah makan?" tanya dokter Wira.


"Tidak, hanya pada beberapa makanan saja, atau saat mencium bau-bau yang sebenarnya tidak begitu menyengat tapi tiba-tiba hidung saya menjadi begitu sensitif, seperti saat ini saya bisa mencium aroma parfum dokter, rasanya saya tidak begitu menyukainya!"


"Benarkah ...., apa terlalu menyengat?"


"Apa dokter Wira ganti parfum?"


"Tidak, ini parfum yang biasa saya pakai dok, biasanya dokter menyukainya bahkan dokter juga meminta rekomendasi parfum ini dulu sama saya!"


"Benarkah?" tanya dokter Frans tidak percaya, ia begitu meragukan hidungnya saat ini.


"Sepertinya sekarang saya tidak suka ...!" gumamnya lagi.


Akhirnya dokter Wira selesai memeriksa kesehatan dokter Frans.


"Bagaimana dok? Apa yang terjadi dengan saya?"


"Sepertinya anda sehat dok, tidak terjadi masalah apa-apa, bahkan kalau saya lihat dokter ini makannya sangat teratur, dan tidak mungkin ada masalah sama lambung dokter!"


"Begitukah ...?" tanya dokter Frans, sepertinya ada yang salah ....


"Bagaimana kalau dokter minum vitamin saja, itu sepertinya lebih baik dari pada obat!"


"Tapi ini serius dok, saya sampek tidak bisa makan gara-gara hidung saya ini!" ucap dokter Frans yang masih tidak terima.


"Bisa jadi ini hanya semacam imbal balik saja dok!"


"Imbal balik kalau istri dokter tidak mengalaminya, makan dokter yang kena, soalnya istri saya dulu juga gitu, saat itu saya setiap pagi mual, bahkan saya tidak bisa bangun dari tempat tidur sebelum matahari meninggi!"


"Memang ada hukum seperti itu?"


"Ada dok, coba saja dokter tanyakan pada istri dokter nanti!"


"Baiklah ...., terimakasih sarannya!"


"Sama-sama dok!"


Akhirnya dokter Frans pun keluar dari ruangan dokter Wira. Ia tidak sabar untuk bertemu dengan istrinya dan bertanya. Tapi seperti nya ia tidak faham dengan ucapan dokter Wira.


...***...


Dokter Frans sampai di rumah, ia segera mencari istrinya. Ia hanya ingin menanyakan apa yang di katakan oleh dokter Wira.


"Fe ...., Fe ....!"

__ADS_1


Felic yang sedang sibuk di taman segera menghampiri suaminya itu.


"Sudah pulang?" tanya Felic sambil memeluk suaminya itu.


"Iya ...., apa yang kamu lakukan?" tanya dokter Frans.


"Aku sedang ikut menanam bunga, aku juga mencoba menanam beberapa sayuran di belakang, kan sayang lahannya kosong tidak di manfaatkan.


Mereka pun berjalan menuju ke kamarnya. Felic segera membantu suaminya itu melepas jaketnya dan meletakkannya di gantungan.


"Baguslah kalau kamu punya kesibukan, jadi nggak perlu khawatir kalau bosan!"


"Kenapa pulang jam segini?" tanya Felic, ini masih siang dan suaminya sudah ada di rumah saja.


"Tadi aku baru saja konsultasi dan periksa kesehatan sama dokter Wira!"


"Trus hasilnya gimana?" tanya Felic dokter Frans pun memilih untuk duduk di sofa. Ia tidak begitu yakin dengan yang ingin di tanyakan.


Felic pun mengikutinya dan duduk di sampingnya, "Bagaimana?"


"Apa kamu merasakan mual? Apa hidungmu sensitif terhadap bau? Atau kau akan merasakan ingin sesuatu secara tiba-tiba?"


"Tidak ....!" jawab Felic bingung, "Kenapa?"


"Soalnya kata dokter Wira, ini semacam facback, imbal balik gitu!"


"Imbal balik apaan?"


"Aku juga bingung, ahhhh ...., mungkin dokter Wira salah! Ya sudah aku mandi dulu!"


...***...


Selain di teror dengan perut dan hidungnya, kini dokter Frans bertambah di teror dengan ucapan tuan Bactiar.


Bohong jika dia tidak memikirkan kata-kata pria itu, kata-kata terlalu memprovokasi, tapi ia juga tidak bisa menghindar untuk tidak memikirkan hal itu.


Ia tahu jika nyonya Aruni lah yang bersalah dan menjadi dalang dalam pembunuhan itu.


Ia hanya sibuk berandai-andai, seandainya bukan ayahnya yang ada dalam mobil itu, mungkin saja sekarang ayahnya masih ada.


Setelah bertemu dengan tuan bactiar,


dokter Frans terlihat begitu murung. Mungkin benar yang di katakan oleh pria itu, seandainya ayahnya tidak mau waktu itu mungkin ayahnya masih hidup sampai saat ini, ia tidak perlu tinggal di panti asuhan, ia juga tidak perlu merasa kesepian.


"Benarkah seperti itu yang akan terjadi?" gumam dokter Frans.


Brrrttttt brrrttttt brrrrtttttt brrrrtttttt


Tiba-tiba ponselnya berdering membuyarkan lamunannya.


"Hallo ...!"


"Hallo dokter ....!"


"Ada apa paman, apa ibu baik-baik saja?" tanya dokter Frans.


"Nyonya ingin bertemu dengan anda!"


"Baiklah, katakan pada ibu jika saya akan datang!"


"Terimakasih dokter, selamat siang!"


Akhirnya sambungan telpon pun terputus.


Tanpa menunggu nanti atau besok, dokter Frans pun segera beranjak dari duduknya. Ia segera memakai jaketnya dan keluar dari ruangannya.


Seperti biasa jika ia pulang cepat, ia pasti akan memberitahukan hal itu pada dokter Sifa agar jika ada yang mencarinya tidak perlu bertanya lagi.


Dokter Frans segera meluncur ke rumah nyonya Ratih. Kedatangannya langsung di sambut oleh beberapa pelayan dan penjaga.


Sebelum menemui nyonya Ratih ia melihat Sagara dan Abimanyu sedang sibuk di ruang keluarga.


"Hai ....!"


Sagara segera menoleh padanya, melihat kedatangan dokter Frans, Sagara dan Abimanyu pun segera berdiri dan menghampiri dokter Frans.


"uncle dokter, apa kabar?" tanya Sagara.


"Salam dokter Frans!" Sapa Abimanyu.


"Uncle dokter baik, apa yang sedang kalian lakukan?"


"Sagara sedang belajar!"


"Benarkah, tapi dari tadi yang uncle lihat yang mengerjakan tugas Abimanyu!" ucap dokter Frans menyelidik.


"Ahhhh ...., uncle! Pelan kan suaramu uncle, baiklah Sagara mengaku, tapi ini tidak setiap hari, iya kan Abi?" tanya Sagara sambil menyenggol bahu Abimanyu.


"I-iya dokter Frans!" ucap Abimanyu ragu. Karena setiap kali ada PR makan Sagara akan meminta Abimanyu untuk mengerjakannya.


Dokter Frans hanya tersenyum melihat tingkah mereka,


"Dasar ...., nurun banget dari bapaknya!" gumam dokter Frans sambil tersenyum.

__ADS_1


Ia jadi teringat dengan masa-masa kecil itu, saat Agra begitu tergantung dengan Rendi, saat itu dia masih sangat kecil tapi ia ingat. Sebelum mereka akhirnya harus masuk ke panti asuhan.


Agra dan Rendi saat itu sangat dekat, sedangkan dia hanya bisa melihat meeka dari luar saat ayahnya mengajaknya datang ke rumah majikannya.


Usianya dua tahun lebih muda dari Agra dan Rendi, itulah yang mungkin membuat Agra tidak begitu dekat dengan dokter Frans dulu, tapi mereka di dekatkan saat sama-sama di panti asuhan.


"Baiklah ...., aku akan tutup mulut! Apa oma ada?" tanya dokter Frans lagi.


"Oma di ruang kerjanya!"


"Lanjutkan jagoan!" ucap dokter Frans yang sudah berbalik hendak meninggalkan mereka, tapi Sagara segera menahannya lagi.


"Ada apa lagi?"


"Janji ya uncle, jangan kasih tahu oma!"


"Janji ....!"


Dokter Frans pun segera menuju ke ruang kerja nyonya Ratih. Ia mengetuk pintu itu seperti biasanya saat ia datang dan paman Salman akan membukakan pintu itu.


“selamat sore paman!"


"Selamat sore dokter!"


Dokter Frans pun masuk dan segera menghampiri nyonya Ratih.


"Selamat sore ibu!" sapa dokter Frans.


“Selamat sore, duduklah …!” perintah nyonya Ratih sambil meletakkan ponselnya.


Dokter Frans pun duduk di sofa yang lebih kecil dari yang di duduki nyonya Ratih saat ini.


"Bagaimana kabar ibu?”


"Ibu baik, bagaimana kabar istrimu?" tanya nyonya Ratih, "Dia tidak melakukan kesalahan lagi kan?"


"Ibu!"


"Ibu tahu jika wanita itu menemui istri mu!"


"Maksud ibu?"


"Tania!"


"Ibu tahu?" tanya dokter Frans terkejut. Seharusnya itu sudah bukan hal yang mustahil jika nyonya besar tahu apa yang terjadi karena anak buahnya bahkan lebih banyak dari yang ia kira.


“Ibu tahu apa yang terjadi, pertemuan mu dengan Tania!”


"Maafkan Frans ibu, karena Frans tidak menceritakan ini kepada ibu!"


“Ibu juga tahu tentang Bactiar yang menemui mu, ibu tahu hal ini pasti akan terjadi nanti, makanya ibu memanggilmu!”


"Maafkan Frans karena sempat meragukan ketulusan ibu!"


“Ibu tahu, mungkin jika ibu di posisimu, ibu juga akan melakukan hal yang sama! Tapi bukan itu intinya, ibu punya ini untukmu!" ucap nyonya Ratih sambil menyerahkan sebuah flashdisk yang sedari tadi berada di tangannya kepada dokter Frans.


"Ini apa, ibu?" tanya dokter Frans.


"Saya tidak tahu isinya, tapi ini dari ayahmu! Dia hanya menitipkan ini padaku dan memintaku untuk menyerahkannya di waktu yang tepat, mungkin sekaranglah waktu


yang tepat itu!”


Dokter Frans sibuk menatap benda kecil itu.


“ibu minta maaf jika menurut kamu ibu salah …, tapi jangan biarkan hubungan yang sudah terjalin begitu indah, hancur karena orang-orang yang punya maksud tertentu!”


"Frans mengerti ibu!"


"Ya sudah pergilah dan pikirkan apa yang ibu katakan!"


“Baik ibu, kalau begitu saya permisi ibu, semoga ibu tetap sehat!”


Dokter Frans pun segera keluar dari ruang kerja nyonya Ratih,


Ia ingin segera pulang dan melihat apa isi dalam flashdisk itu. Tapi saat hampir mencapai mobilnya, ia bertemu dengan Agra yang baru keluar dari mobilnya.


“Frans …, tumben ke sini, ada apa?" tanya Agra.


“Ibu memanggilku! Ya sudah aku pulang dulu ya!” ucap dokter Frans yang kembali membuka pintu mobilnya.


“Kenapa tidak makan malam sekalian, ayolah …!”


“Tidak, lain waktu saja! Ada yang harus aku kerjakan!” ucap dokter Frans dan dengan cepat masuk ke dalam mobil. Mobilnya mulai melaju meninggalkan halaman rumah besar itu.


“Kenapa dia buru-buru sekali?” gumam Agra sambil terus menatap mobil dokter Frans yang semakin menghilang.


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


tri.ani.5249

__ADS_1


Happy Reading 🥰🥰🥰🥰🥰


__ADS_2