
Setelah tidak mendapat jawaban atau sanggahan dari Felic, dokter Frans pun kembali
menjalankan mobilnya. Sepanjang perjalanan mereka hanya saling diam.
“Mau makan siang di mana?’ tanya dokter Frans setelah sekian lama diam.
“Terserah lo saja!” jawab Felic enggan. Ia masih begitu kesal dengan perasaannya sendiri.
Mereka pun akhirnya berhenti di sebuah kedai bakso. Dokter Frans memarkir mobilnya di
sana. Tanpa menunggu dokter Frans membukakan pintu, Felic lebih dulu membuka
pintu dan keluar dari mobil, dokter Frans menatapnya tak mengerti.
“Bang bakso jumbonya dua ya, yang pedes gila …!” ucap dokter Frans sebelum menyusul
Felic duduk.
“Iya mas …, minumnya apa?”
“Es teh saja, dua!”
Dokter Frans duduk di depan Felic, mereka saling berhadapan hanya dengan terhalang meja dengan botol kecap, saos dan sambal tapi wanita itu malah memilih memalingkan wajahnya ke tempat lain, menatap lalu lalang jalanan yang begitu ramai, membuat dokter frans berdecak.
“Lo nyesel ya nikah ma gue?” tanya dokter frans.
“Boleh gue jujur?” Felic malah balik bertanya. Dokter Frans pun mengangguk.
Felic menghela nafasnya, “Ya gue nyesel, setelah tahu kalau orang yang mau di jodohin sama gue itu adalah Rangga, pria yang begitu gue cintai hingga saat ini!”
“Jujur banget …, sakit tahu hati gue …!” ucap
dokter Frans sambil memegang letak jantungnya dengan kedua tangan seakan-akan
merasakan sakit yang amat sangat di jantungnya.
“Jujur itu emang sakit, Solikin ….!” Jawab Felic ketus, ada air yang mengembeng di
matanya, tapi berusaha keras untuk ia tahan.
“Siapa Solikin?”
“Penjual somay!”
“Kenapa pakek penjual somay di bawa-bawa!”
Belum sampai Felic menimpali ucapan dokter frans, penjual bakso menghampiri mereka
dengan membawa dua mangkok bakso jumbo mercon.
“Silahkan baksonya!” ucap penjual bakso sambil meletakkan dua mangkok bakso itu di atas meja dengan satu di depan Felic dan satunya lagi di depan dokter Frans.
“Makasih mang!” ucap dokter Frans sambil meraih garpu dan sendok di tempatnya begitu
juga dengan Felic.
Felic pun menambahkan saus, kecap dan yang terakhir sambal, felic menyendok kan
beberapa sendok sambal ke dalam mangkuknya hal itu membuat dokter Frans
tercengang.
“Lo bikin racun atau apa? Di dalam baksonya udah ada cabenya. Jangan banyak-banyak
sambalnya!” ucap dokter Frans sambil meraih mangkuk sambal yang berada di
tangan Felic.
"Ini tidak lebih pedas dari hidup gue!"
"Sadisss ....!"
"Lo yang sadis, emang gue salah banget ya sama lo hingga lo nggak mau lagi bicara sama gue, lo jauhin gue!"
__ADS_1
"Hehhhh ....., maaf deh bukan itu maksud gue, tapi lo baik-baik aja kan?"
“Apa peduli lo?!” jawab felic ketus. Felic pun segera menyantap baksonya yang super
pedas itu. Ia sengaja melakukan itu agar saat menangis tidak ada yang menyadarinya.
Rasanya begitu berat menghadapi semuanya sendiri, saat-saat ia paling membutuhkan dukungan, pria di depannya malah seolah-olah menghilang dari pandangannya. Matanya berair, hidungnya ingusan tapi itu bukan karena ia kepedasan, tapi dengan begitu ia bisa puas menangis.
Dokter Frans hanya bisa menatap Felic, ia bahkan belum sempat menyendok baksonya
sekali saja.
“Boleh gue mengatakan sesuatu sama lo?” ucap dokter Frans . “Cukup dengarkan dan jangan menjawabnya!”
Felic menoleh sebentar pada dokter Frans, dan langsung melanjutkan makannya,
sebenarnya bukan makannya tapi menangisnya. Felic terus terisak sambil
menyantap baksonya hingga menghabiskan tisu satu gulung.
Dokter Frans segera menarik mangkok yang ada di depan felic dan menggantinya dengan
mangkoknya. Felic hendak protes tapi dokter Frans lebih dulu menyetopnya.
“Sudah cukup!” ucap dokter Frans sambil mengusap air mata Felic yuang sedari tadi
tidak berhenti mengalir.
“Ada ya cewek kayak lo …, ini gue cowok lo? Nggak jaga image banget si depan cowok,
mana ingusan lagi!”
“Jangan becandain gue!”
“Dengerin yang gue omongin dan catet dalam hati dan pikiran lo selamanya. Mau bagaimana
pun kita nikah, gue nggak bakalan lepasin lo sampai kapanpun!”
Mendengarkan ucapan dokter Frans membuat Felic tercengang, ia tidak mengerti jalan pikiran
kapanpun saat Felic memintanya, dan tadi dia mengatakan pernikahan ini tidak akan berpengaruh apapun untuk hidup mereka, lalu sekarang kata-katanya beda.
“Kenapa?lo nggak konsisten ya!”
“Emang lo pengen lepas banget ya sama gue?”
“Nggak tahu!”
“Itu lah kenapa, lo aja nggak ngerti apa yang di inginkan sama hati lo. Lo itu labil, gue nggak mungkin nglepasin lo di saat-saat labil kayak gini! Dan lagi gue cowok, pantang bagi gue ngingkari janji gue sendiri, gue sudah janji sama bokap lo buat jagain lo apapun yang terjadi!”
“Jadi gue nggak bisa dong dekat lagi sama Rangga?”
“Boleh …!” jawab dokter Frans pasti.
Felic kembali tercengang, dengan mudahnya pria yang sudah menjadi suaminya itu mengatakan hal itu, “Boleh?” tanya Felic penasaran dengan pria yang selalu dengan kejutan-kejutannya itu.
“Boleh, tapi jangan harap bisa lepas dari gue karena gue bakal tetap nahan lo agar
tidak lepas!”
“Walaupun nanti lo nemuin cinta lo?”
“Ya …!”
“Egois banget sih lo!”
“Ini bukan egois, tapi sebuat keteguhan hati buat mempertahankan apa yang sudah
menjadi miliknya!”
Felic tidak lagi menjawab ucapan dokter frans ia memilih untuk kembali menghabiskan
semangkuk bakso lagi milik dokter Frans dan dokter Frans hanya bisa menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
“Sudah habis, antar gue ke tempat kerja lagi!” ucap felic sambil berdiri dan
meninggalkan mejanya.
“Bentar gue bayar dulu!”
Dokter Frans pun menghampiri mang tukang bakso dan mengambil dompetnya yang ada di
saku celananya.
“Berapa mang?”
“Dua puluh lima ribu aja mas!”
Dokter Frans pun menyerahkan selembar uang seratus ribuan dan pergi begitu saja.
“Mas …, kembaliannya!” teriak mang tukang bakso.
“Ambil aja mang kembaliannya!”
“Ini terlalu banyak!” teriak mang tukang bakso lagi.
“Nggak pa pa, anggap saja rejeki mang hari ini!”
Dokter Frans pun menyusul Felic masuk ke dalam mobil, tapi di dalam Felic malah
menatap dokter Frans tidak percaya.
“Lo ini ya …, itu uang loh, trus lo kasih begitu saja? Banyak lo, itu gaji gue sehari!”
“Jangan pikirin uang yang nggak seberapa itu, jangan terlalu pelit jadi orang, sedekah perlu!”
“songong banget sih lo jadi orang!”
“Sudah lo mau kembali ke tempat kerja lo apa mau ngoceh aja di sini?”
“Iya …., Sobri!”
“Tadi Solikin, sekarang Sobri!” keluh dokter Frans sambil menjalankan mobilnya
meninggalkan mang tukang bakso. Dokter Frans mengantar Felic kembali ke tempat
kerjanya.
Setelah beberapa menit mobil melaju, akhirnya mereka sampai juga di depan temat kerja
Felic. Dokter Frans memarkir mobilnya tepat di depan pintu masuk.
“Sudah sampai, cepet turun!” ucap dokter Frans, ia menoleh pada wanita di sampingnya
itu, tapi ia begitu terkejut saat melihat wajah Felic begitu pucat sambil
menahan sakit.
“Fe …, lo kenapa?” tanya dokter Frans begitu khawatir, ia segera melepaskan sabuk
pengamannya dan memegang tangan Felic yang mencengkeram perutnya. Felic tidak
menjawab pertanyaan dokter Frans ia memilih diam sambil menggigit bibir
bawahnya.
Kali ini tangan sebelah Felic beralih mencengkeram lengan kemeja dokter Frans, ia
hendak mengucapkan sesuatu tapi bibirnya terlalu kaku karena begitu menahan
rasa sakit.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
__ADS_1
tri.ani.5249
Happy Reading 🥰😘❤️