
Matahari semakin condong ke barat, langit biru berubah menjadi senja lalu berganti dengan gelap setelah mentari bersembunyi di balik peraduan dan bintang mulai menghiasi langit malam.
Pria itu tampak sumringah, ia sebenarnya ingin segera menemui istrinya dan melihat bagaiman cantiknya sang istri saat mengenakan gaun pemberian darinya.
Tapi apa boleh buat, dia bahkan tidak punya baju ganti di tempat istrinya. Ia harus kembali ke rumah untuk bersiap-siap sebelum menjemput sang istri.
"Ga, sudah pulang?" sapa wanita paruh baya itu sambil matanya mengekor kemana putranya pergi. Ia seperti hendak mengatakan sesuatu tapi Rangga sudah lebih dulu memotong ucapannya.
"Iya ma, Rangga siap-siap dulu!" Rangga berlari cepat ke kamarnya sebelum mamanya mengatakan banyak hal yang akan membuatnya kesal, mamanya kerap memaksakan keinginannya sendiri padanya hingga membuatnya kerap malas jika harus berhadapan dengan sang mama.
Setelah menutup kembali pintu kamarnya, ia segera membersihkan diri dan mencari baju yang cocok dengan gaun yang akan di kenakan oleh Zea nanti.
Ia tidak sabar memamerkan Zea sebagai pasangannya nanti di acara itu dan Rizal tidak akan bisa mengganggunya lagi.
Aroma semerbak parfum memenuhi ruangan kamar yang lumayan luas itu, rambutnya tampak di sisir rapi dengan sedikit sentuhan gel rambut.
Setelah jarum jam menunjuk ke angka 7 barulah pria itu keluar dengan penampilan yang begitu rapi. Dengan sedikit berlari ia menuruni tangga, tampak sekali kalau pria itu begitu bersemangat, hingga suara mamanya kembali mengalihkan perhatiannya.
"Ga, lihat siapa yang datang!?" mamanya menunjukkan sesuatu padanya.
Langkah pria itu terhenti di ujung tangga, seorang wanita berdiri dengan gaun yang anggun dan seksi di depannya.
Kenapa di bisa di sini? Hingga akhirnya Rangga melirik pada mamanya.
Ini pasti ulah mama ....
Suasana hati yang baik tadi tiba-tiba berubah dalam sekejap, sebuah Beben tiba-tiba di jatuhkan ke pundaknya hingga ia tidak mampu untuk melanjutkan langkahnya lagi.
"Hai Ga!" sapa gadis itu dengan begitu manis. Gaun berwarna biru tua sebatas dada dan bagian bawah panjang di bagian belakangnya, persis seperti yang dia kirimkan untuk Zea.
Kenapa kebetulan sekali sih ...., Ingin rasanya berteriak tapi tidak bisa ia lakukan. Ia harus tetap menjaga wibawanya sebagai seorang laki-laki.
Rangga pun langsung mengalihkan tatapannya pada sang mama yang berdiri tidak jauh dari gadis itu.
"Ma, kenapa Miska di sini?" Rangga bertanya dengan nada kecewa. Tapi sepertinya mama Rangga tidak mempedulikan hal itu, ia masih dapat tersenyum dengan santainya.
Ia berjalan mendekati putranya dan menggandeng lengan putranya itu,
"Mama sengaja meminta Miska buat datang ke acaranya Rizal!"
__ADS_1
Tapi dengan cepat Rangga melepaskan tautan tangan mamanya dari dirinya.
"Buat apa?" kali ini Rangga menunjukkan sorot mata kecewanya.
"Dia kan calon istri kamu!" mama rangga tetap dengan pendirinya, ia tidak mau tahu apapun alasan Rangga.
"Tapi ma_!"
Karena Rangga terus menolak, mama Rangga pun kembali berjalan mendekati Miska dan mencakup kedua bahu gadis itu, ia tersenyum menyayangi pada gadis itu,
"Kamu tuh harus bangga punya calon istri secantik Miska, putri pemilik butik ternama!" tampak sekali mamanya begitu bangga dengan kecantikan Miska.
"Rangga nggak suka ya di paksa-paksa! Pokoknya Rangga mau pergi sendiri!" Rangga berjalan begitu saja melewati Miska dan mamanya.
Tapi sang mama langsung menghampiri Rangga dan menarik tangannya, membawanya ke ruang makan, sedikit jauh dari Miska agar gadis itu tidak sampai mendengar percakapan mereka.
"Ayo lah sayang, mama nggak mungkin kan minta Miska buat kembali, apa kata Tante Widya nanti!" mamanya bicara sambil memohon, ia sampai mengatupkan kedua tangannya di depan dada.
"Mama nih apa apaan sih, Rangga nggak suka dengan cara mama!" Rangga dengan cepat meraih tangan mamanya agar tidak melakukan hal itu.
"Mama cuma mau yang terbaik buat kamu, Miska adalah wanita yang baik sayang!"
"Kecilin suara kamu Ga!"
Hehhh ...
Rangga hanya bisa menghela nafas kesal sekaligus pasrah. Ia tidak suka dengan cara mamanya.
"Dengarkan mama baik-baik, pokoknya mama nggak mau tahu, kamu harus pergi sama Miska malam ini, titik!" mamanya masih bersikeras untuk memaksa Rangga.
"Tapi_!"
"Kamu mau mama kena serangan jantung gara-gara kamu, kamu mau mama mati muda gara-gara kamu kan? Jadi turuti mama!"
"Kenapa sih mama suka sekali ngancam? Rangga punya pilihan Rangga sendiri, rangga akan kenalkan sama mama!"
"Kamu terlalu keras kepala, mama nggak suka siapapun itu, yang mama mau cuma sama Miska!"
"Kok jadi mama sih yang memaksakan kehendak mama sama Rangga, kata mama dulu asal aku dapat calon mama suka, dan aku bisa hidup bahagia, tapi sekarang kenapa jadi beda sih ma?"
__ADS_1
"Karena mama tahu, Miska yang terbaik! Jadi kamu sekarang tingga pilih saja, pergi sama Miska atau mama akan_!"
Mama Rangga menatap ke arah pisau buah yang ada di atas meja makan dan dengan cepat mengambilnya.
"Mama akan potong Urat nadi mama biar mama mati sekalian dan kamu bisa lakuin apa aja yang kamu suka!"
"Ma_! " pekik Rangga dan langsung meraih pisau yang ada di tangan mamanya yang sudah siap memotong urat nadinya, "Mama nggak usah aneh-aneh deh!"
"Kalau pengen mama tetep hidup, sekarang pergi sama Miska!"
Rangga tidak bisa lagi menolak permintaan mamanya,
"Baiklah ma, untuk kali ini Rangga menuruti permintaan mama!"
Rangga pun melempar dengan kasar pisau yang ada di tanganya dan berjalan menghampiri Miska.
"Mau pergi atau tetap di sini?!" Rangga bicara tanpa ada nada ramahnya, ia sama sekali tidak berniat untuk mengandeng tangan Miska membuat gadis itu harus sedikit berlari mengejar Rangga.
Papa Rangga yang mengetahui apa yang di lakukan sang mama, ia pun segera menghampiri istrinya setelah mobil Rangga keluar dari halaman rumah mereka.
"Kenapa sih masih mengekang anak kita? Dia itu sudah dewasa loh ma, sudah waktunya dia menentukan hidupnya sendiri!"
"Mama bukan tanpa alasan pa melakukan hal itu, mama hanya tidak mau sampai Rangga salah memilih pasangan saja!"
"Rangga tidak pernah salah memilih pasangan ma!"
"Buktinya dulu si Felic meninggalkan Rangga, itu bukankan artinya Felic bukan wanita yang baik?"
"Semua sudah takdir ma, Rangga tidak di takdirkan berjodoh dengan Felic, kalau mereka tidak berjodoh bukan berarti Felic wanita yang tidak baik!"
"Terus saja bela Rangga! Mama cuma pengen yang terbaik buat Rangga, titik!" wanita yang sudah ia nikahi selama tiga puluh lima tahun itu memilih meninggalkannya dari pada terus berdebat dengannya.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @ tri.ani5249
__ADS_1
...Happy Reading 🥰🥰🥰...