Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku
Mengerjaiku


__ADS_3

"Itu botol minum siapa?" tanya Tisya karena itu bukan botol minum murahan, ia dulu juga punya satu tapi warnanya beda, papa nya yang membelikan dari luar negri.


"Bukan urusanmu juga kan!" ucap Wilson dan melepaskan botol minum itu dan membiarkannya di atas meja.


Tidak berapa lama pesanan mereka pun datang, seporsi ayam geprek dan juga pecel lele.


"Silahkan mbak ...., mas ....!" ucap penjual itu.


"Makasih mas!" ucap Wilson sambil menerima piringnya.


Jika biasanya Tisya hanya makan bakso atau mi Ayam kali ini ia memilih menu yang berbeda.


Tisya pun mengambil sendok dan garpu di tempat yang sudah di sediakan di atas meja dan mulai memakannya.


"Kenapa pakek itu?" tanya Wilson saat melihat Tisya makan dengan sendok dan garpu padahal kalau lalapan menurutnya akan enak kalau pakek tangannya.


"Kenapa?" tanya Tisya heran.


Gini nih orang kaya yang sok bisa jadi orang biasa ...., untung aku lahir dari keluarga biasa saja ...., batin Wilson sambil terus menatap Tisya.


"Bukan gitu cara makannya!"


"Gimana dong?"


"Nih ...., liatin saya ya ...!" ucap Wilson.


Wilson mencelupkan tangannya di baskom air untuk kobokan yang datang bersama dengan makanannya tadi. Dan segera menyuwir daging ayamnya dan di campur dengan sambelnya kemudian melahap makanannya dengan tangannya.


"Ihhhhh jorok banget sih ....!" keluh Tisya.


"Ini nggak jorok, aku kan udah cuci tangan, ayo cobain seru tahu!"


"Nggak yakin deh ....!"


"Udah jangan banyak berpikir, cepetan coba! Emang kobokan gunanya buat apa, mau kamu minum apa!?"


Tisya pun terus melihat Wilson yang menikmati makanannya dengan hanya menggunakan tangan.


Tisya pun segera meletakkan sendok dan garpunya kemudian melakukan hal yang sama seperti yang di lakukan oleh Wilson.


"Gimana enak kan?" tanya Wilson saat Tisya begitu lahap memakannya menggunakan tangan.


"Iya ...., begini lebih enak!"


Tisya pun menikmati makanannya dengan begitu lahap.


Setelah mereka selesai makan, mereka pun kembali ke toko yang ada di seberang jalan untuk berbelanja barang-barang kebutuhan rumah baru Wilson.


Mereka memilih bersama-sama agar tidak terjadi perselisihan nanti pas pemasangan.


Tapi ada yang aneh dengan Tisya, ia terus saja mengibaskan tangannya sepanjang memilih barang di toko.


"Kamu kenapa sih?" tanya Wilson.


"Tangan aku panas banget, pasti ini gara-gara sambal tadi deh!"


"Ya udah sana bersihin pakek sabun aku tunggu di mobil!"

__ADS_1


Selama Tisya di kamar mandi, Wilson pun menunggui para karyawan toko yang sedang memasukkan semua barang belanjaannya.


"Nanti di antar ke alamat ini ya mas!" ucap Wilson sambil menyerahkan secarik kertas berisi alamat rumah Wilson.


"Baik mas!"


Tidak berapa lama Tisya pun menghampiri Wilson.


"Gimana sudah?" tanya Wilson.


"Sudah lebih baik, ayo pulang!"


"Emang rumah kamu apa!?" gumam Wilson sambil masuk ke dalam mobil.


"Iya iya ...., itu rumah kamu tapi masak gitu sih sama cewek, bukain pintunya kek sebelum masuk!" protes Tisya karena Wilson masuk ke dalam mobil lebih dulu tanpa menunggu Tisya ataupun membukakan pintu untuk Tisya.


Wilson pun segera menjulurkan wajahnya ke jendela mobil.


"Memang kamu siapa? Kamu tuan putri? Posisi kamu sama saya sekarang lebih tinggian saya jadi jangan minta yang aneh-aneh, cepetan masuk!"


Tisya pun hanya mendengus kesal karena ulah Wilson itu, ia segera masuk dan menutup pintu mobil dengan begitu keras.


Brakkkkkk


"Kamu mau pintu mobilku lepas? Bisa gantiin?!" ucap Wilson kesal, "Ini belum lunas dan kamu mau seenaknya ngrusakin aja!"


"Biar aja ...., biar sekalian rusak!" ucap Tisya yang tidak mau kalah.


Wilson memukul stang setirnya dengan keras dan segera menoleh pada Tisya, menatap Tisya dengan penuh kemarahan membuat Tisya sampai terkejut hingga ia memundurkan tubuhnya.


"KELUAR ....!" ucap Wilson dengan penuh penekanan.


"KELUAR DARI MOBIL SAYA ....!"


"Nggak mau!"


"KELUAR!"


Melihat ada kesungguhan di wajah Wilson, Tisya pun tidak bisa berkata-kata apa apa selain keluar dari dalam mobil itu.


Setelah Tisya benar benar keluar, Wilson pun segera melajukan mobilnya begitu saja meninggalkan Tisya yang masih tertegun di tempatnya.


"Hahhhh ...., dia benar-benar serius!" ucap Tisya yang masih tak percaya karena ia di turunkan begitu saja.


Ting


Tiba-tiba notif pesan masuk ke dalam ponselnya. Tisya pun menghela nafasnya begitu dalam dan segera merogoh tasnya dan mengambil ponsel yang tersembunyi di dalamnya.


Ia segera membuka pesan itu.


//Jangan sampai lebih dari lima belas menit sampai di rumah, kalau sampai terlambat gaji kamu benar-benar akan di potong//


"Kucing hitam itu benar-benar gila, dia sudah menurunkan ku di sini dan aku harus sampai dalam lima belas menit, memang aku om jin yang bisa ngilang apa!"


Tisya pun segera lari ke pinggir jalan, ia bukan naik angkot kali ini ia memilih ojek.


"Ojek neng?" tanya tukang ojek yang kebetulan mangkal di pinggir jalan.

__ADS_1


"Iya mas, ke alamat ini ya!" ucap Tisya sambil menunjukkan alamat yang tertera di ponselnya.


"Baik neng, pakek helmnya dulu ya!" ucap tukang ojek itu sambil menyerahkan helm cadangan.


"Nanti lebih cepat ya bang!" ucap Tisya sambil menaiki motor itu.


"Baik neng!"


Motor pun mulai melaju, Tisya pun menyalakan stop watch nya agar ia tidak sampai terlambat, jangan sampai gajinya yang belum pernah di terimanya sudah lebih dulu di potong.


"Dia benar-benar ingin mengerjai ku!" gumamnya lagi setelah melihat waktunya yang masih tinggal lima menit padahal mereka masih jauh.


"Bang ...., lebih cepat lagi ya!" ucap Tisya lagi saat melihat waktunya cepat sekali berlalu.


Setelah perjuangan yang cukup sulit karena bang ojek harus nyelip-nyelip dan mencari jalan tikus agar sampai lebih cepat. Akhirnya setelah perjalan panjang itu, Tisya sampai juga di depan rumah Wilson.


"Makasih ya bang, ini uangnya!" ucap Tisya sambil memberikan selembar uang lima puluh ribuan.


"Tapi neng tunggu kembaliannya!"


"Buat abang saja!" ucap Tisya sambil berlari masuk ke dalam rumah Wilson masih ada waktu tiga puluh empat detik lagi.


Wilson sudah duduk dan menunggunya di ruang tamu dengan kaki yang di lipat dengan stop watch di tangannya.


"Aku datang ....!" ucap Tisya dengan nafas yang terengah-engah karena lari dari pagar depan sampai ke dalam rumah.


"Tapi waktunya sudah habis sejak tadi, kamu terlambat dua belas detik!" ucap Wilson.


"Hanya dua belas detik dan kamu memasukkannya dalam kategori terlambat? Benar-benar keterlaluan!" keluh Tisya tidak percaya.


"Dua belas detik adalah waktu, lalu kalau kau suka terlambat seperti itu kapan kamu akan bisa menghargai waktu!"


"Baiklah aku salah, aku terlambat, tapi aku haus, bisa memberiku air sekarang?" tanya Tisya.


"Tidak sebelum kamu bekerja!"


"Bekerja apa lagi? Kamu tahu jika aku baru saja mengeluarkan uang lima puluh ribu ku gara-gara kamu!"


"Baiklah ...., begini saja, kalau kamu mau uangmu kembali dan mendapatkan uang sampingan, bagaimana kalau kamu bekerja di rumah ini menjadi asisten rumah tangga di sini, kamu lihat kan aku tidak punya asisten rumah tangga di sini!"


"Maksudnya aku jadi ART? Nggak!" tolak Tisya.


"Ya sudah kalau nggak mau, aku bisa cari orang lain, padahal aku menawarkan gaji yang lumayan!"


"Berapa?" tanya Tisya yang terlihat penasaran. Wilson pun tersenyum.


"Lima juga satu bulan, cukup kan untuk biaya hidup sehari hari!" ucap Wilson.


Dan Tisya pun mulai berpikir, uang liam juta sekarang sangat berarti buat hidupnya. Ini kesempatan yang bagus tapi ART adalah pekerjaan yang jelas-jelas ia tidak punya pengalaman di dalamnya, walaupun terlihat sepele tapi itu sangat rumit baginya.


Bersambung


...Kadang kita tidak menyadari dari arah mana cinta itu akan tumbuh, tapi kita bisa memulainya dengan banyak perjuangan agar nanti kita akan tahu bagaimana kita mempertahankan sebuah hubungan...


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya

__ADS_1


tri.ani.5249


Happy Reading 🥰🥰🥰🥰


__ADS_2