
Ersya yang merasa pembicaraannya akan serius segera menggeser tempat duduknya dan
mendekat pada Felic, ia ingin tahu seserius apa masalah yang sedang di hadapi sahabatnya
itu.
“lalu?”
“Dia masih mencintai Frans!”
“memang apa masalahnya? Asal suamimu mencintaimu itu tidak akan menjadi masalah kan!”
“Tapi masalahnya itu!"
"Itu apa?"
"Suamiku tidak mencintaiku!”
“hahhh??” Ersya benar-benar terkejut dengan pengakuan sahabatnya itu, bagiamana bisa
suami sahabatnya itu tidak mencintainya jika mereka sudah menikah.
“Ada rahasia yang tidak pernah aku katakana padamu dan pada siapa pun!”
“Apa?”
“kami menikah karena hanya kebutuhan masing-masing saja!”
‘hahhh …, kebutuhan?” Ersya mencoba mencerna ucapan sahabatnya itu,
“Maksudnya, karena kebutuhan di ranjang!”
“Astaga…, gila aja memang gue apaan, bukan itu! Istttt …., memang aku seburuk itu apa!”
‘lalu?”
“Kami sama-sama membutuhkan status Sya! Aku butuh dia sebagai seorang yang sudah
menikah, dan dia butuh aku karena hidupnya yang kesepian!”
Ersya lagi-lagi diam, ia menatap sahabatnya itu. Tapi yang di lihat bukan seperti itu, ada cinta di mata sahabatnya itu untuk suaminya.
“Tapi kalian sudah melakukan itu kan?”
‘Setiap hari, bahkan bisa lebih dari sekali!”
“Bagaimana sikap suamimu saat dekat denganmu?”
“dia manja saat bersamaku!”
‘Nahhhh …!” teriak Ersya membuat Felic memegangi dadanya yang terkejut gara-gara
gerakan tiba-tiba Ersya.
“apa sih sya?”
“Itu sudah membuktikan jika suami lo suka sama lo, nggak mungkin lah dia nidurin lo
kalau bukan karena cinta, apa lagi dia Frans suami lo. Gue rasa dia bukan tipe
pria yang mudah tergoda sama seseorang!”
‘tapi ini cinta pertamanya, Sya!”
“Rangga juga cinta pertama lo, tapi lo tetap milih suami lo kan buktinya!”
“Tapi dia wanita yang baik!”
“Tidak ada ceritanya wanita baik-baik yang tega merusak rumah tangga wanita lain, Fe! Kamu itu terlalu polos, kalau gue udah gue bejek-bejek tuh cewek gara-gara suka sama
suami gue!”
Felic menghela nafas, “Nggak tau lah …!”
Felic memang membenarkan ucapan sahabatnya itu, tidak ada wanita baik-baik yang akan mendekati suami wanita lain. Jika memang dia sudah tahu milik siapa pria itu
seharusnya dia menyerah, tapi dia malah mengatakan tidak akan menyerah.
"Jangan menyerah Fe, dia suami lo, lo yang lebih berhak atas suami lo, kecuali jika suami lo yang ngatain buat lebih memilih dia!"
__ADS_1
"Semoga gue bisa!"
Felic merebahkan tubuhnya di sofa dengan menggunakan lengannya sebagai bantalan, kemudian ia teringat dengan map yang sempai ia temukan.
gue harus cari tahu sesuatu ......
Dengan cepat Felic kembali bangun membuat Ersya yang menonton tv begitu terkejut.
"Ada apa lagi Fe?"
Felic segera bangun dan menyambar tas yang sempat ia letakkan di lantai begitu saja.
“Sya…, gue pulang dulu ya!” ucap Felic sambil memeluk sahabatnya itu dan berlalu begitu saja.
“Buru-buru banget!”
“Gue mau mencari tahu sesuatu!”
“Apa?’
‘Bukan hal yang penting, Bye …!”
Felic pun segera meninggalkan rumah Ersya dengan memesan ojek online. Felic berdiri
di depan rumah Ersya sambil menunggu ejeknya datang.
Brrrrrt brrrrrt brrrrrt
Tiba-tiba ponselnya yang berada di dalam tas kainnya bergetar, felic pun segera merogoh
tasnya dan mengambil benda pipih itu, ia melihat siapa yang melakukan
panggilan.
“Frans …? Apa dia sudah tahu kalau aku pergi dari rumah?” gumam Felic.
Ia pun segera menggeser tombol hijau bergambar telpon di layar ponselnya dan
segera mendekatkannya ke daun telinganya sebelah kanan.
“Hallo …!”
“Kamu di mana?”
“Tetap di situ, jangan kemana-mana!” ucap Frans di seberang sana terdengar begitu panik.
“Tapi_!”
Tut tut tut
Belum sempat Felic melanjutkan ucapannya, dokter Frans sudah lebih dulu memutuskan
sambungan telponnya.
“Ihhhhh …, apa-apaan sih …!” gerutu Felic, belum sampai ia benar-benar memasukkan
kembali ponselnya seorang ojek online sudah berhenti di depannya.
“Dengan mbak Felic?”
“Iya mas …! Tapi maaf, sepertinya aku cancel nggak pa pa ya mas, aku ganti deh uangnya!”
“Iya mbak deh mbak nggak pa pa!”
Felic pun segera menyerahkan senilai uang pada pengendara ojek online. Setelah ojek
online itu meninggalkan Felic, Felic pun kembali ke teras rumah Ersya dan duduk di
sana.
Ersya yang keluar rumah begitu terkejut saat mendapati sahabatnya itu masih di
rumahnya, “Belum pergi Fe?”
“Ngusir nih ceritanya?”
Ersya pun memutuskan untuk ikut duduk di samping sahabatnya itu, ia mengurungkan
niatnya untuk ke warung.
__ADS_1
“Ya nggak gitu, Fe! Sensitive banget, PMS ya lo …?! Tadi aja buru-buru, eh ternyata masih ngejogrok di sini!”
“Gue nunggu suami gue!”
“Katanya suami lo nggak tahu kalau lo di sini?”
“tadi tiba-tiba dia telpon, mau nggak mau gue jadi nunggu deh!”
“baguslah …!”
“kenapa?”
“Setidaknya sekarang kau tidak akan cari penyakit lagi!”
“Maksudnya?”
“Dengan mencari tahu latar belakang suami lo, itu berarti lo cari penyakit Fe, kalau
suami lo aja belum siap buat cerita sama lo, itu berarti dia tahu belum saatnya
buat lo tahu semuanya, mungkin suatu saat nanti saat dia siap bakal ngasih tahu
lo sendiri tanpa lo minta!”
“Tumben lo pinter!” ucap Felic, memang benar apa yang di katakana oleh sahabatnya itu.
Jika suaminya belum siap untuk ia tahu bagaimana latar belakangnya lalu buat
apa dia mencari tahu.
Tin tin tin
Sebuah motor berhenti di depan rumah Ersya. Dokter Frans membuka helmnya dan
menghampiri mereka. Felic dan Ersya sudah berdiri.
Dokter Frans segera menarik tubuh Felic ke dalam pelukannya, ia terlihat begitu cemas.
Ersya hanya tersenyum melihat hal itu.
Gitu bilang suaminya nggak suka , nggak cinta ....! Lalu sekarang apa-apaan? Malah bermesraan di depan gue ...., batin Ersya.
“Apaan sih Frans, datang-datang main meluk aja!” protes felic yang masih dalam pelukan
suaminya.
“jangan protes!”
Cukup lama mereka berpelukan, Felic hanya terdiam tidak lagi protes dan membiarkan
suaminya terus memeluknya tanpa mempedulikan sahabatnya.
“Kenapa mesti ngilang sih, kau benar-benar membuatku khawatir!” ucap dokter Frans
setelah melepaskan pelukannya.
“Aku Cuma_!”
Belum sampai Felic menyelesaikan ucapannya dokter Frans segera memotongnya,
“Tidak terjadi sesuatu kan di panti, antara kamu sama Zea?”
“iiitttssss ……, memang apa yang bisa aku lakuin? Mau cakar-cakaran gara-gara memperebutkan suamiku yang ganteng ini?”
“Yahhh siapa tahu, aku ini pria yang begitu tampan!” lagi-lagi dokter Frans membanggakan
dirinya dengan tersenyum penuh kebanggaan.
“belum tahu ya rasanya di cukur sampek botak?!” Felic mengacak-acak rambut suaminya
itu begitu gemas, dan mereka pun kembali tertawa.
Melihat mereka seperti itu seakan-akan memang tidak ada masalah dalam rumah tangga mereka.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
__ADS_1
tri.ani.5249
Happy Reading 🥰🥰🥰