
Rangga sudah memasuki kamarnya yang entah sejak kapan kamar itu mulai di tinggalkan olehnya, bahkan sebelum dirinya menikah dengan Zea, Rangga sudah kerap kali tinggal di apartemen karena menurutnya lebih nyaman di sana.
Tapi entah kenapa kali ini rasanya ingin sekali tidur dan menikmati kesendiriannya di kamarnya sendiri tidak seperti di apartemen, ia harus merelakan tempat tidurnya untuk Miska dan memilih untuk tidur di sofa atau kerap tidur di ruang kerja.
"Ahhhhhh, nyamannya." ucap Rangga dengan tubuh yang baru saja ia hempaskan ke atas tempat tidur, rasanya begitu nyaman, "Nyamannya....!"
Ia mulai menatap langit-langit kamar dengan kaki dan tangan yang terlentang sempurna.
Tapi saat memejamkan mata, hanya bayangan wanita itu yang muncul wanita dengan senyum lembut dan rambut sebatas bahu.
"Tidak!" segera ia tersadar dan membuka mata, "Kenapa dia lagi, ada apa ini?" Rangga segera memegangi letak jantungnya, mengingat kembali bagaimana detak jantung bayi dalam kandungan wanita itu senada dengan detak jantungnya saat ini.
"Kenapa bisa seperti ini? Ingat Rangga, dia sudah punya suami. Tidak sepantasnya kamu mengingat-ingat dia." Rangga segera menepis perasaan aneh itu, perasaan yang seharusnya ia berikan pada Miska.
"Seharusnya ini tidak terjadi. Apa aku harus mulai membuka hati untuk Miska?" tidak ...., rasanya hatinya sekarang tengah menolak bahkan sebelum ia melakukannya. Bahkan jarinya begitu sayang hanya untuk menanyakan keadaannya saat ini walaupun ia tahu wanita itu sekarang tengah terluka karena ternyata papanya memiliki putri lain.
"Mungkin aku hanya kelelahan, aku harus segera tidur dan besok pagi sudah bisa melupakan semuanya." Rangga segera memejamkan matanya dan menutup wajahnya dengan bantal agar segera terlelap.
...****...
Sebuah layar televisi sedari tadi menemani pria yang tengah duduk sendiri dengan botol minumannya itu. Ia terus meneguk botol itu hingga hampir menghabiskan satu botol penuh.
"Kenapa aku sampai tidak kepikiran? Seharusnya aku sudah menduganya sejak dulu!" ia terus saja menyalahkan dirinya sendiri atas kebodohan yang telah ia lakukan akhir-akhir ini.
"Aku harus mencari cara agar bisa dekat lagi dengannya, bagaimanapun caranya." terlihat bahkan ia menarik sudut bibir ****** sebelah, seperti sedang berpikir.
"Ahhhh, jadi nggak sabar lihat reaksi Miska waktu tahu papa yang begitu ia banggakan ternyata mempunyai seorang putri lain dan dia adalah musuh besarnya! Seharusnya aku tadi juga ada di sana, menyaksikan semuanya!"
Lagi-lagi ia meneguk minuman itu hingga benar-benar tidak tersisa, ia meletakkan asal botol yang Sudja kosong itu di lantai dan sengaja menggelindingkan ke lantai,
"Rangga, Rangga, sayang sekali kamu lupa ingatan. Kalau tidak, kamu sekarang pasti sedang berdiri menertawakan aku!"
Pria itu adalah Rizal, ia sudah beberapa kali membuat Zea marah hingga untuk menemuinya lagi ia butuh rencana yang okey.
...***...
"Bagaimana perasaan nyonya sekarang?" kini Zea sudah duduk di kamarnya, dengan gaun yang sudah berganti dengan baju tidurnya. Bibi memijit kaki Zea yang terasa kaku karena seharian ini benar-benar hari yang melelahkan.
"Zea seneng bi, sekaligus sedih!"
Bibi menghentikan pijatannya sejenak dan menatap Zea, "Kenapa? Apa semuanya baik-baik saja?"
"Hmmm, tapi hatiku tidak sekuat itu bi. Saat menyadari kenyataan bahwa Rangga belum bisa mengingatku membuatku merasa sakit, apalagi saat Miska bergelayut manja di lengannya. Rasanya sakit banget bi, semua kebahagiaan malam ini seakan sirna karena satu hal saja bi."
__ADS_1
"Sabar ya nyonya, cinta pasti akan menemukan jalannya sendiri. Pokoknya nyonya tinggal sabar dan sabar. Oh iya nyonya, bukankah besok hari pertama nyonya ke kantor?"
"Hmmm!"
"Semangat ya nyonya, nyonya pasti bisa menunjukkan semuanya pada orang-orang itu."
"Terimakasih ya Bi, oh iya bi papa beni kira-kira sudah tidur belum ya bi?"
"Ada apa nyonya?"
"Rasanya aku masih nggak enak, aku tadi juga nggak nyapa papa sama sekali, apalagi aku nggak ngomong dulu soal ini sama papa, gimana kalau beliau kecewa sama Zea?"
"Nggak mungkin nyonya, tapi jika nyonya ingin menghubungi tuan, itu akan jauh lebih bagus."
Setelah mendapatkan saran dari bibi, Zea pun segera meraih ponselnya yang ia letakkan di atas nakas samping tempat tidur dan mencari nomor kontak papa mertuanya. Hanya panggilan pertama saja dan langsung terhubung,
"Selamat malam pa!"
"Selamat malam nak, ada apa? Apa ada masalah?"
"Maaf ya pa, Zea malam-malam ganggu istirahat papa."
"Tidak pa pa, kebetulan papa juga belum tidur."
"Sebenarnya Zea mau minta maaf, maaf karena Zea tadi tidak menyapa papa, Zea bingung harus menyapa bagaimana kalau di depan Rangga. Dan lagi soal tadi, Zea benar-benar tidak bermaksud merahasiakannya sama papa, sungguh! Hanya saja papa Seno khawatir jika ada banyak yang tahu takut seseorang akan berusaha untuk menggagalkannya."
"Terimakasih ya pa atas pengertian papa."
"Sama-sama, oh iya malam ini Rangga tidur di rumah. Terimakasih ya nak, semua ini tidak akan terjadi tanpa kamu."
"Bukan Zea pa, memang Rangga sendiri yang meras lebih nyaman saat dekat dengan keluarga di banding dengan Miska!"
"Semoga!"
Akhirnya setelah bertukar kabar dan saling minta maaf, Zea pun menutup kembali telponnya. Ia segera menghela nafas lega setelah mengetahui papa mertuanya tidak meras keberatan dengan apa yang di lakukan malam ini.
"Sudah bi, bibi istirahat saja. Zea juga mau istirahat. Pokoknya besok Zea nggak boleh terlambat!" Zea meminta bibi untuk menyudahi pijitannya, rasanya tidak enak membiaaarkan bibi terus memijitnya setiap malam padahal seharian pasti bibi sudah banyak bekerja.
...***...
Karena sedang berada di komplek perumahan orang tuanya, Rangga pun memanfaatkan kesempatan itu untuk lari pagi keliling komplek.
Walaupun sudah banyak berubah karena ia mengingat tempat itu dua tahun lalu, tetap saja tidak melupakan seluk beluk tempat itu.
__ADS_1
Setelah berlari sejauh lima ratus meter dari rumahnya, ia pun memilih untuk duduk di pos pinggir jalan, tepatnya di pertigaan biasa ia bertemu dengan Zea saat berangkat kerja.
"Hahhh, rasanya ada yang aku rindukan di tempat ini!" gumamnya sambil mengirup udara di sana dan sekelebat bayangan saat ia kerap menghentikan mobilnya hanya untuk menunggu seorang gadis dengan seragam minimarket.
"Dia lagi, sebenarnya siapa gadis berseragam minimarket itu?" gumamnya kembali sambil mengingat-ingat moment itu, tapi tetap saja ia tidak bisa mengingat wajahnya.
Hingga seorang ibu-ibu yang baru saja membeli sayuran melintas di depannya, Rangga segar turun dan menghampirinya,
"Bu!?" sapanya.
Wanita dengan kantong kresek yang ia tenteng di kiri dan kanan tangannya itu tampak mengerutkan keningnya,
"Mas Rangga ya?"
"Iya Bu!" Rangga tersenyum dan wanita itu tampak melihat ke sekeliling Rangga, mencari seseorang yang mungkin bersama Rangga,
"Sendiri saja mas Rangga? Istrinya nggak ikut?"
Istri, apa yang dia maksud Miska?
"Enggak Bu, kebetulan nginep sendiri di rumah papa."
"Katanya sedang hamil ya istrinya, berapa bulan mas?"
"Hamil?" Rangga malah bingung, ia tidak merasa kalau Miska tengah hamil dan itu juga tidak mungkin.
"Iya, ibu Susan kemarin ketemu sama istrinya mas Rangga di halte."
Ahhh sudahlah , di iyakan saja dari pada ujungnya panjang ...., Rangga malas mempermasalahkan hal yang di rasa tidak penting untuknya.
"Iya Bu, oh iya Bu sebenarnya tadi aku mau tanya, di dekat sini apa ada minimarket ya?"
"Ya ampun, mas Rangga nih gimana sih? Wong setiap hari saja mas Rangga ke sana, mas Rangga bercanda ya?"
"Ahhh iya, saya lupa Bu."
"Tuh mas di ujung jalan sama, itu minimarket satu-satunya di sini!"
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
IG @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...