
Melihat flash disk dan rekaman ayah akan membuat mereka berdua begitu terharu, banyak sekali kenangan yang telah hilang bersama sang ayah membuat hati dokter Frans makin sakit.
Rasanya ingin mengulang kembali kebahagiaan itu tetapi tidak mungkin,
dia harus mulai beranjak ke masa depan bukan hanya hidup dalam bayang masa lalu.
"Aku beruntung bisa memiliki istri sepertimu terima kasih dan maafkan aku karena terlalu banyak menyakitimu!" ucap dokter Frans
"Jangan berkata seperti itu aku pun juga melakukan hal yang sama!" ucap Felic yang sudah memeluk suaminya itu.
"Setidaknya aku tahu sekarang jika ayahku begitu mencintaiku!" ucap dokter Frans sambil menggendong istrinya dan di bawanya ke tempat tidur, kini tangan Felic mengalung di leher dokter Frans.
"Iya ....! Kau benar aku pun juga mencintaimu sangat ...., sangat ...., sangat ....., sangat ....., mencintaimu!" ucap Felic dengan tersenyum sambil mendongakkan kepalanya mendekatkan bibir mereka.
"Aku tahu!" ucap dokter Frans dan langsung ******* bibir istrinya itu dengan begitu rakus.
Malam ini menjadi malam yang paling bahagia kasih pasangan itu kehidupannya terasa lengkap dan saling melengkapi.
...****...
Felic sudah sangat sibuk hari ini yang menyiapkan segala sesuatu untuk suaminya mulai dari pakaian hingga sarapan untuk suaminya walaupun bukan dia yang masak
"Frans Ini bajunya ya!" ucap Felic sambil menunjuk baju yang sudah ia siapkan saat suaminya itu keluar dari dalam kamar mandi.
"Makasih sayang!" ucap dokter Frans yang sudah memeluk tubuh istrinya itu.
"Fe ...., Frans! Bukan sayang!" protes Felic, menurutnya panggilan suaminya itu yang paling seksi.
"iya iya ....!"
"Hari ini mau kemana? kenapa pagi-pagi sekali?" tanya Felic yang tidak biasanya suaminya itu berangkat sepagi ini.
"Aku mau ketemu ibu!" ucap dokter Frans.
"ibu?" tanya Felic yang bingung dengan sebutan ibu itu ibu yang mana.
"maksudku ibunya Agra!"
" Ohhhhh ....., memang ada yang penting ya?"
"Ada sedikit urusan!"
"Aku nanti rencananya mau jenguk bu Narti loh Frans, kata kami besok bu Narti sudah boleh pulang kan?"
"Iya ...., tapi ke rumah sakitnya jangan hari ini ya, aku akan sibuk, lebih baik besok saja kita ke rumah bu Narti!"
"Yahhhhhh ....!" ucap Felic kecewa, dokter Frans pun segera menghentikan kegiatannya dan mengusap pipi istrinya itu
"Besok saja ya sama aku!"
"Iya deh ....!"
Mereka pun akhirnya turun dan menuju ke ruang makan, bi Molly dan beberapa pelayan yang lainnya sedang sibuk menyiapkan makanan. Karena akhir-akhir ini hidup dokter Frans sedikit sensitif mereka terpaksa memasak makanan yang tidak terlalu mengeluarkan bau yang menyengat bahkan jika sedang menggoreng bumbu mereka tidak boleh di dalam rumah, mereka terpaksa memasak di rumah belakang, menyisakan satu rumah yang khusus untuk memasak.
"Ya udah kamu hati-hati ya di rumah aku nggak usah sarapan!" ucap dokter Frans yang meminta Felic duduk di salah satu bangku yang ada di meja makan.
"Lalu?" tanya Felic tidak mengerti.
"Biar aku bawa aja makanannya!" ucap dokter Frans.
"Beneran?"
"Iya ...!"
"Katanya nggak bisa makan sembarangan sekarang!"
"Iya ...., makanya aku bawa makanan dari rumah!"
Bi Molly pun dengan sigap memasukkan beberapa makanan ke dalam kotak makan dokter Frans dan membawakannya.
"Makasih ya bi!" ucap dokter Frans.
"Sama-sama tuan!"
Felic pun mengantar dokter Frans hingga sampai di halaman.
"Ya udah hati-hati ya jangan lupa makan!" ucap Felic saat mengantar suaminya itu berangkat.
"Siap sayang!" ucap dokter Frans sambil mengusap kasar rambut Felic.
"Frans ....., Aku serius!" keluh Felic tidak suka. Dokter Frans hanya tersenyum dan kemudian mengecup kening istrinya sebelum benar-benar pergi.
Dokter Frans berangkat dengan membawa mobilnya sendiri. Ia sengaja meninggalkan Wilson di rumah bersama Felix, untuk menjaganya.
Tidak berapa lama akhirnya dokter Frans sampai juga di rumah besar itu rumah di mana ditinggali oleh Nyonya Ratih dan keluarga besarnya.
Kedatangannya ke rumah itu hanya ingin menanyakan satu hal tentang video itu dan ucapan Tuan Bachtiar sekaligus meminta maaf karena sempat meragukan nyonya Ratih.
Seperti biasa kalau masih pagi seperti ini maka keluarga itu masih lengkap, Agra pun belum berangkat kerja begitupun dengan Sanaya dan Ara, sedangkan Sagara dan Abimanyu yang tetap tinggal di rumah selama proses ujian berlangsung.
"Selamat pagi uncle dokter!" sapa Sanaya yang barus saja keluar dari kamarnya dan hendak ke depan untuk menemui Abimanyu.
"Nay ...., kamu masih di rumah?"
"Sapa Nay dulu baru bertanya Uncle, itu aturannya!" keluh Sanaya.
"Ah iya ...., selamat pagi Nay, Kenapa masih di rumah? Kamu nggak sekolah?"
"Iya Uncle, Mama juga, papa juga ...., semua masih di rumah! Mungkin uncle yang kepagian datangnya!"
"Ahhhh benarkah ....? uncle sampai tidak sadar! Bagaimana ujian Gara?"
"Gara terlalu mengandalkan Abi, uncle! Dia sungguh manja!"
"Benarkah seperti itu? Ahhh dia keterlaluan!" ucap dokter Frans bergaya tidak tahu.
"Lihat aja nanti kalau kami sudah berada di sekolah yang sama, dia pasti kalah sama Nay!" ucap Sanaya membanggakan dirinya sendiri.
"Iya kau benar ....! Oke semoga sukses! Oma ada kan?"
"Ada uncle, Oma ada di ruang kerjanya bersama opa Salman!"
__ADS_1
Tidak berapa lama Agra pun datang menghampiri mereka, ia akan berangkat kerja tapi saat melihat dokter datang ia mengurungkan niatnya.
Mungkin ada sesuatu yang penting yang sahabatnya itu tidak ketahui, setiap hari datang ke rumahnya itu bukan hal yang biasa.
Biasanya sangat sulit menghubungi dokter Frans bahkan untuk makan malam bersama saja itu sangat sulit.
"Frans!"
"Gra ....!"
"Tumben banget kamu sering ke sini? Apa ada sesuatu yang penting yang aku tidak ketahui?" tanya Agra menyelidik.
"Ada, memang sedikit penting!"
"Apa aku boleh tahu?" tanya Agra lagi.
"Itu bisa kamu tanyakan langsung sama ibu, apa Ibu ada?"
"Ada ..., ibu di ruang kerjanya!"
"Baiklah ...., aku ke sana dulu!"
"Boleh aku ikut?" tanya Agra yang penasaran.
"Iya tentu ...., mungkin kamu juga perlu tahu!" ucap dokter Frans.
"Baiklah ayo ....!"
Mereka pun menuju ke ruang kerja Nyonya Ratih, disana sudah ada paman Salman juga.
Beberapa hari ini Paman Salman juga sering mendatangi kediamannya nyonya Ratih, entah apa yang sedang mereka kerjakan tapi sepertinya memang penting.
"Selamat pagi dokter, tuan muda!" sapa paman Salman.
"Selamat pagi paman, apa ibu di dalam?"
"Iya ....!"
"Boleh kami masuk?"
"Tentu ...., silahkan!"
Agra dan dokter Frans pun masuk ke dalam ruangan itu atas ijin paman Salman.
"Selamat pagi ibu!” sapa Dr Frans Begitu juga dengan Agra.
Nyonya Ratih yang sedang sibuk dengan berkas-berkas di depannya pun segera mendongakkan kepalanya.
"Kalian ....?" tanya nyonya Ratih, ia segera menutup berkasnya.
"Kenapa kalian bisa mendatangi Ibu secara bersamaan?" tanya nyonya Ratih lagi.
"Frans ingin bertemu dengan ibu ada yang ingin katakan pada ibu!" ucap dokter Frans.
"Duduklah kalian!" perintah nyonya Ratih dan mereka pun berjalan menuju ke sofa, nyonya Ratih lebih dulu duduk dan di susul Agra dan dokter Frans.
“Ada apa Frans? Apa ada sesuatu yang tidak ibu ketahui?!” tanya nyonya Ratih.
"Untuk Apa?" tanya nyonya Ratih.
“Maafkan aku ibu, karena telah berprasangka buruk terhadap ibu!”
Agra tidak mengerti apa maksudnya semua ini
"Apa ada sesuatu yang Agra tidak tahu ibu?" tanya Agra.
"Iya ...., dan mungkin ini saatnya kalian tahu!" ucap nyonya Ratih.
"Maksud ibu?"
"Kalian sebenarnya saudara sepupu!" ucap nyonya Ratih.
"Saudara sepupu?" tanya Agra tidak mengerti, sepupu dari siapa dan siapa ia tidak tahu.
"Ayah Frans adalah saudara seayah dengan ayah kamu Agra!"
"Benarkah ....?" tanya Agra dengan begitu senang. Itu mungkin salah satu alasan kenapa ibunya begitu menyayangi dokter Frans.
"Kita saudara Frans ...., lo senang tidak punya saudara gue?" tanya Agra sambil tersenyum memukul bahu dokter Frans sambil memeluknya terharu.
"Gue juga seneng Gra, tapi sekarang lepasin gue dulu, biar gue ngomong sama ibu!" ucap dokter Frans.
"Baiklah ...., baiklah ...., aku terlalu senang!" ucap Agra sambil melepas pelukannya.
Dokter Frans kembali menatap nyonya Ratih.
"Ibu tidak marah kan sama Frans?"
“Tidak , ibu tidak marah, tidak pa pa Ibu tidak menyalahkan siapapun! ibu memakluminya, ibu tahu pasti kamu akan berpikir seperti itu,
bukan hanya kemarin, mungkin sejak kecil, sejak dulu, bagaimana bisa ayah kamu ikut dalam mobil itu,
ibu tahu itu, tapi maaf ibu belum bisa menjelaskannya padamu saat itu!”
"Frans mengerti ibu, mungkin jika saat itu aku tidak akan bisa mengerti semuanya!”
Agra hanya bisa diam dan mendengarkan pembicaraan antara sahabat dan ibunya itu ia belum terlalu mengerti apa yang dimaksud sedangkan Paman Salman masih berdiri di tempatnya tepat di belakang Nyonya Ratih.
“Jadi apa yang ibu berikan padamu bukan sebuah bentuk kasihan Frans,
memang itu hak mu! Ayahmu adalah saudara kandung ayahnya Agra, dia punya sebagian dari apa yang ayah Agra punya!”
Setelah melakukan pembicaraan itu, nyonya Ratih mengajak kedua putranya itu untuk menuju ke meja makan.
“Ayo ikutlah sarapan bersama kami!” ucap nyonya Ratih.
"Iya ibu!"
Walaupun ia sudah membawa bekal, ia tidak mungkin menolaknya. rasanya sangat segan untuk menolak.
“Segera lakukan resepsi pernikahan kalian, ibu mau minggu depan!” ucap nyonya Ratih sambil berjalan menuruni tangga.
__ADS_1
“Bu…, kenapa buru-buru sekali?” tanya dokter Frans.
“Frans …, ini sudah terlalu lama, kalian sudah menikah hampir satu tahun dan kalian belum resepsi!”
"Tapi bu, Agra juga tidak melakukannya bahkan pernikahannya sudah hampir delapan tahun!”
"Beda Frans ..., gue sama lo!" ucap Agra. Memang akan sangat beresiko memperkenalkan keluarga meeka di depan umum. Berbeda dengan dokter Frans yang memang tidak begitu berpengaruh di bawah nama finityGroup. Kebanyakan lawan-lawan mereka jika tidak bisa menyerang dari depan mereka akan main halus dengan menyerang dari dalam.
“Tidak ada tapi-tapian, ibu akan menyiapkan semuanya!” ucap nyonya Ratih dengan begitu tegasnya.
Akhirnya mereka pun sampai di meja makan, semua keluarga sudah lengkap di sana.
Tapi dokter Frans segera menghentikan langkahnya saat ia merasakan ada sesuatu yang begitu tidak ia sukai.
"Ayo dokter Frans duduklah!" ajak Ara yang sudah berada di samping Agra.
Tapi bukannya duduk dokter Frans malah berlari menuju ke kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya.
Saat Ara akan mengejarnya segera di tahan oleh Agra.
"Biar aku aja yang liat!"
"Baiklah ...!"
Agra menyusul dokter Frans ke kamar mandi, ia mendengarkan sahabatnya itu sedang muntah.
Hoeks ...hoek ...., hoek ....
Ia segera menyenderkan punggungnya di dinding saat di rasa semua isi perutnya sudah keluar semua.
Tok tok tok
"Frans ...., lo nggak pa pa?" tanya Agra dari luar.
"Nggak ..., gue nggak pa pa!"
Dokter Frans segera berkumur dan mengelap bibirnya dengan tisu kemudian keluar dari kamar mandi.
"Apa yang terjadi Frans?"
"Nggak tahu ...., akhir-akhir ini perut dan hidungku tidak bisa di ajak kompromi, aku nggak jadi ikut sarapan ya, katakan pada ibu aku minta maaf, aku berangkat dulu!"
"Beneran nggak sarapan dulu?"
"Nggak usah ....!"
Akhirnya dokter Frans pun memilih keluar tanpa melewati meja makan itu, ia segera pergi ke rumah sakit.
Agra kembali menghampiri keluarganya.
"Mana Frans?" tanya nyonya Ratih.
"Seperti nya Frans kurang enak badan ibu!"
"Tapi dia terlihat baik-baik saja!"
"Iya ..., katanya perut dan hidungnya sedikit menyusahkan akhir-akhir ini!" ucap Agra sambil menyantap makanan nya.
"Jangan-jangan Felic hamil, bby?" tanya Ara yang penasaran.
"Memang jika Felic hamil, Frans yang muntah-muntah, kamu ada-ada aja!"
"Beberapa waktu lalu aku membaca artikel tentang hamil simpatik bby!"
"Apa hamil simpatik itu?" tanya Agra yang tidak kalah mengerti.
"Hamil simpatik itu semacam hamil dan yang mengalami ngidam itu orang lain, bisa ibu dari si hamil , ayah si hamil atau juga bisa suaminya!" ucap nyonya Ratih ikut menjelaskan.
"Ada ya yang kayak gitu? Baru tahu aku ...!" ucap Agra sambil mengangguk-anggukkan kepalanya
"Jadi untu Fe akan punya dedek bayi ya mom?" tanya Sanaya yang ternyata sedari tadi mendengarkan pembicaraan antara orang tua itu.
"Mungkin Nay, berarti belum pasti, jadi jangan di bicarakan dengan orang lain dulu ya, usssst ....!" ucap Ara sambil menempelkan jari telunjuknya di depan bibir Sanaya.
"Iya mom ...., ini rahasia!"
***
Di tempat lain anak buah tuan Bactiar kembali menemuinya karena ada informasi penting yang kembali ia dapatkan.
“Ada informasi apa?” tanya tuan Bactiar sambil duduk di kursi kerjanya.
"kami sudah tahu siapa ibu kandung dokter Frans tuan!” ucap salah satu dari mereka yang sepertinya ketuanya.
“Siapa?" tanya tuan Bactiar begitu penasaran.
“Tania putri!”
Hal itu berhasil membuat tuan bactiar begitu terkejut, ia sampai berdiri dari duduknya dan berjalan mendekati anak buahnya itu.
"Tania …, istri saya?” tanya tuan Bactiar tidak percaya sambil menarik kerah kemeja pria itu.
“I-iya tuan!” ucapnya menjadi begitu ragu.
Tuan Bactiar pun mendorong pria itu dengan begitu kasar, ia sampai menjatuhkan tubuhnya di kursi.
"Tidak mungkin!” gumamnya sambil memegangi kepalanya. Hingga beberapa lama, dua orang itu tidak berani berbicara lagi hingga tuan Bactiar kembali bertanya.
“Apa ini berarti istri saya tahu?” tanya tuan Bactiar lagi.
“Mungkin tuan, mungkin yang mereka bicarakan waktu itu tentang itu!”
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰
__ADS_1