
Seperti biasanya, Felic akhir-akhir ini
begitu sibuk di kantor penerbit, Ia sengaja menyibukkan diri agar tidak merasa kesepian di rumah, walaupun bisa ia kerjakan di rumah tapi ia memilih tempat itu karena di sana ia bisa bertanya pada orang-orang yang lebih berpengalaman.
Mereka melakukan pengeditan dan menambah beberapa part yang kurang. Ia, mbak Mia dan Langit ternyata tergabung dalam satu tim.
“Senang tahu bisa kerja sama sama kamu!" ucap Langit sambil menggerakkan otot-otot nya setelah setengah hati hanya berkutat dengan layar laptopnya.
"Fe juga senang, mas Langit sangat baik sama Fe ...!" ucap Fe, ia sudah menutup laptopnya, hari ini ia ingin sedikit bersantai. Ia ingin jalan-jalan sebelum pulang, biar kepala nya tidak penuh-penuh sekali.
"Habis ini mau ke mana?" tanya Langit lagi saat Felic mulai mengemasi barang-barangnya.
"Mau jalan-jalan mas, sudah lama nggak jalan-jalan!" ucap Felic sambil menatap Langit sebentar dan tersenyum.
"Mau aku temenin?" tanya Langit sambil ikut mengemasi barang-barangnya, padahal belum dapat jawaban iya dari si pemilik jawaban.
"Nggak ah mas ...., nanti bisa jadi masalah ....!" ucap Felic yang jelas-jelas akan menolak, bisa bahaya jika suaminya tahu. Ingat kembali bagaimana suaminya itu memukuli Wilson saat itu, padahal hanya memeluk Wilson, orang kepercayaannya. Apalagi kalau ini jelas-jelas orang asing.
"Kenapa? Memangnya kamu sudah punya pacar?” tanya Langit sambil mengikuti langkah Felic yang sudah meninggalkan mejanya, ia juga sudah membawa barang-barang nya.
Felic pun tiba-tiba menghentikan langkahnya membuat Langit mengerem mendadak langkahnya hampir saja menabrak Felic. Felic menoleh pada Langit yang telah menanyakan hal itu.
“Kenapa nanyanya gitu, mas? Memang penting banget ya buat tau masalah pribadi aku?” ucap Felic yang mulai ketus saat ini, ia paling tidak suka orang luar pengen tahu banget masalah pribadinya. Baginya cukup dia dan keluarganya yang tahu.
“Ya karena aku suka sama kamu, aku menaruh hati sama kamu!” kali ini ucapan Langit benar-benar berhasil membuat Felic terkejut. Bagaimana pria yang baru di kenalnya dua satu minggu ini tiba-tiba bilang suka sama dia.
“Aku sudah punya suami, bukan cuma pacar!” ucap Felic ketus sambil berlalu meninggalkan Langit. Tapi Langit terus mengikuti langkahnya hingga keluar gedung.
“kamu pasti bohong!” ucap Langit yang masih tidak percaya. Felic duduk di bangku yang ada di depan gedung. Langit pun ikut duduk dengannya.
“kenapa bisa bicara seperti itu?” tanya Felic sambil menoleh pada pria yang terus mengikutinya.
“Aku nggak pernah liat kamu di atar sama suami kamu apa lagi di jemput, yang biasanya jemput kamu itu bukan suami kamu kan?”
“suamiku sibuk, itu orang kepercayaan suamiku!"
"Nggak percaya!" ucap Langit sambil menatap ke depan.
"Mau percaya atau nggak itu urusan mas Langit, yang penting saya udah bilang tadi!" ucap Felic yang tidak mau kalah. Ia sampai lupa kenapa pria di sampingnya itu terus saja mengikutinya.
"Mas ...., kenapa masih di sini?" tanya Felic lagi saat sadar.
"Mau ikut kamu jalan-jalan!"
"Terserah lah ....!"
Akhirnya Felic memilih berjalan, ia menyusuri trotoar tanpa arah.
"Jadi ini ya yang di sebut jalan-jalan?" tanya langit.
"Ya ...., kalau saya bulang jalan-jalan, ya berarti saya jalan-jalan, bukan naik mobil atau motor!"
Brrrttttt brrrttttt brrrrtttttt
Tiba-tiba ponsel Felic berdering, Felic pun segera mencari benda tipis itu. Ia melihat siapa yang melakukan panggilan padanya.
"Mbak Mia!" gumam Felic lirih tapi masih bisa di dengar oleh Langit yang cukup dekat dengannya.
Felic pun segera menggeser tanda hijau dan menempelkannya di daun telinganya.
"Hallo mbak Mia!"
"Hallo Fe ...., maaf ya aku nelpon kamu lagi!"
"Iya nggak pa pa mbak, ada apa?"
"Kata bos, deadline kita di majukan, jadi dalam waktu dua hari sudah harus produksi, gimana nih bisa nggak lembur?"
"Bisa mbak, ya udah aku kembali!"
__ADS_1
"Makasih ya Fe ...!"
"Sama-sama mbak!"
Felic pun segera menutup telponnya. Langit yang tidak bisa mendengar apa yang di katakan oleh mbak Mia, ia hanya bisa menunggu Felic bicara.
"Ada apa?"
"Deadline produksi di ajukan, jadi aku harus kembali, mas Langit kalau mau jalan-jalan, jalan-jalan aja sendiri ....!" ucap Felic sambil berlari kembali ke kantor itu, untung saja ia belum terlalu jauh berjalannya.
"Memang siapa yang mau jalan sendiri ...!" gumam Langit sambil menggelengkan kepalanya. Ia pun ikut lari mengejar langkah Felic.
Dalam waktu sepuluh menit mereka sudah sampai kembali di kantor.
"Maaf ya kalian harus kembali!" ucap mbak Mia yang terlihat tidak enak hati.
"Nggak pa pa mbak!"
Mereka pun akhirnya kembali duduk di tempat yang sama, membuka laptop masing-masing dan mulai berkutat dengan tulisan-tulisan itu.
"Ini minumlah ...., kamu pasti haus gara-gara lari-larian!" ucap Langit sambil menyodorkan botol minuman untuk Felic.
"Makasih mas ...., tau aja kalau lagi haus!" Dengan cepat Felic meneguk minuman itu hingga sisa setengah.
"Ahhhh ...., lega!"
"Memang kalian baru dari mana? Kenapa lari-larian?" tanya mbak Mia heran.
"Ini nih mbak, Felic katanya mau jalan-jalan, pas aku ikutin ternyata beneran jalan kaki dia ....!" ucap Langit membuat mbak Mia tertawa.
Tapi saat mbak Mia menatap Langit, ia tahu pria itu menaruh perasaan pada Felic.
"Mas Langit ...., jangan terlalu dekat loh sama mbak Felic!" ucap mbak Mia tiba-tiba.
"Kenapa?"
"Mbak Mia tahu?" Langit begitu terkejut saat mbak Mia tahu tentang itu. Tapi itu masih saja membuatnya tidak percaya.
"Ya tahu ...., soalnya beberapa waktu lalu suaminya Felic yang ngangkat telpon saya!"
"Ya udah kalian lanjut dulu ya, saya masih ada urusan sama bu bos!"
"Siap mbak!"
Kini tinggal Felic dan Langit di ruangan itu. Langit terus saja diam sepanjang mengerjakan. Ia masih kepikiran dengan apa yang mereka katakan. Ia juga masih berusaha u tuk tidak percaya jika Felic sudah punya suami.
...***...
Di tempat lain, dokter Frans terlihat mondar-mandir, ia benar-benar tidak tenang. Karena baru saja ia kedatangan tamu yang sangat penting menurutnya dalam perjalanan hidupnya selama ini.
Flashback dua jam lalu
"Ibu ...., ada apa ibu repot datang ke sini, kenapa tidak memanggilku saja!?" ucap dokter Frans yang sudah berdiri dan menundukkan kepalanya memberi hormat.
Tapi wanita paruh baya itu memilih tidak menjawabnya, ia duduk di sofa panjang di ruangan itu.
"Duduklah ...!" ucap nyonya Ratih. Ya wanita itu tetap jadi idolanya selama ini. Menurutnya tidak ada ibu sebaik dia, sempurna menyayangi putra-putranya tanpa membedakan kandung atau angkat.
Elegan, tegas dan penyayang, begitulah gambaran wanita berkelas itu. Bahkan langkah kakinya mampu membuat gentar setiap orang yang berurusan dengannya.
Dokter Frans pun duduk di sofa lain yang lebih kecil.
"Saya bisa pulang jika ibu menghendaki!" ucap dokter Frans lagi.
"Tapi ibu tidak melihat itu dari matamu, ibu tahu semuanya!"
"Maksud ibu?"
"Berhenti bersikap egois, harga wanita seperti kamu menghargai ibumu ini!"
__ADS_1
"Maaf ibu!"
"Bukan padaku, tapi pada istrimu!" ucap nyonya Ratih dengan nada yang begitu tenang, kemarahan yang di kemas dalam balutan nada elegan. Tidak keras tapi cukup menusuk.
"Jangan sampai karena kebodohanmu itu, istrimu di ambil orang lain. Usia pernikahan kalian masih seumur jagung, ini hanya bagian dari kerikil kecil yang memang harus mau injak, memang sedikit sakit.
Tapi jangan terus meletakkan kakimu di atasnya, angkat dan kembalilah berjalan, maka rasa sakit itu perlahan menghilang. Kebahagiaan itu di cari bukan terus di hindari.
Jika memang kamu sudah merasa tidak cocok dengan istrimu, maka tanda tangani ini, dan saya akan menyerahkannya langsung pada istrimu!"
nyonya Ratih menyerahkan beberapa lembar kertas yang bagian atasnya tertulis 'Pengadilan agama'.
"Ibu ....!" melihatnya saja sudah cukup membuat dada dokter Frans sesak, bagaimana ia bisa melakukan itu. Sudah cukup baginya kehilangan buah hatinya dan tidak lagi dengan istrinya. Ia bahkan tidak berani memegangnya.
"Saya hanya memberi tawaran, yang pergi biarlah pergi. Yang masih bertahan, lakukan yang terbaik untuk mempertahankannya. Jangan sampai surat ini nanti datang dari tangan istrimu, itu pasti akan lebih menyakitkan!"
Ucapan nyonya Ratih benar-benar berhasil membuat jantungnya terasa semakin tercabik-cabik, ia membayangkan jika Felic benar-benar akan pergi saat ia masih sangat mencintainya. Rasanya begitu sakit.
"Saya tinggalkan surat ini padamu, lakukan yang menurutmu benar!" ucap nyonya Ratih lalu pergi meninggalkan ruangan dokter Frans. Dokter Frans terus menatap kertas-kertas itu, ia masih tidak bisa membayangkan jika hal itu terjadi pada rumah tangganya.
Ia membayangkan bagaimana nanti jika Felic sudah tidak tahan dengan sikapnya dan memilih pergi.
...***...
Malam ini Felic pulang sangat larut, masih kurang dua puluh lima persen, ia juga harus menambahkan beberapa bab agar sedikit berbeda dengan via online nya.
“Aku antar pulang ya!” ucap Langit yang sudah duduk di atas motornya. Felic sedang berdiri di depan kantor itu. Ia sengaja meminta Wilson untuk pulang lebih dulu karena ia harus lembur dan berjanji akan menghubunginya jika pekerjaannya selesai.
“Nggak usah mas, saya sudah pesan taksi!” ucap Felic, ia memang tidak berencana menghubungi Wilson lagi karena ini jam kerjanya sudah selesai, kasihan Wilson jika masih harus menjemputnya.
“Nggak baik malam-malam pulang sendiri!"
"Siapa bilang aku sendiri, aku sama sopir taksi!"
" Ayo aku antar aja, jangan ngeyel!"
"Tapi taksinya?"
"Di batalin aja, nih pakek helmnya!" ucap Langit sambil menyerahkan helmnya, tapi Felic terlihat begitu ragu untuk menerimanya.
" jangan takut, aku nggak gigit ...!”
"Emang drakula apa!!! baiklah …!”
Akhirnya Felic mau di antar oleh langit, Ia membatalkan pesan taksinya dan memilih naik motor bersama Langit.
"Pegangan ....!" ucap Langit saat motornya mulai melaju.
"Nggak usah cepet-cepet, biar aku nggak perlu pegangan!" ucap Felic sedikit berteriak agar Langit bisa mendengarnya.
"Ya emang ...., siapa juga yang mau cepet-cepet, biar kita bisa lama-lama berduanya!" ucap Langit yang tidak kalah teriaknya.
"Dasar modus ...!" gerutu Felic kesal, "Ya udah yang cepet ....!" teriak Felic.
Langit tersenyum senang, ia benar-benar menambah kecepatannya dua kali lipat.
"Aaaaaaa .....!" teriak Felic terkejut dan dengan reflek ia melingkarkan lengannya di perut Langit, ia juga takut jika tidak pegangan dengan kecepatan yang seperti itu.
...Ini hanya bagian dari kerikil kecil yang memang harus mau injak, memang sedikit sakit.Tapi jangan terus meletakkan kakimu di atasnya, angkat dan kembalilah berjalan, maka rasa sakit itu perlahan menghilang. Kebahagiaan itu di cari bukan terus di hindari.~DTIS...
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰
__ADS_1