Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku
Gelap


__ADS_3

"Jangan lupa di catat!"


Wilson satu per satu mengeluarkan barang belanjaan nya dan meletakan beberapa di antaranya ke dalam lemari pendingin.


Ada juga yang di masukkan ke dalam lemari kaca yang ada di atas kompor dan sisanya ia masukkan ke dalam laci meja.


"Banyak ya!"


Tisya terus sibuk mencatatnya dengan buku kecil di tangan.


"Sudah semuanya di catat!"


"Sudah bawel, nih kalau nggak percaya!"


Tisya mengacungkan buku itu agar di lihat oleh Wilson.


Wilson sudah melepas jasnya dan menyingsingkan lengan kemejanya hingga sampai ke siku, dua kancing kemeja bagian atasnya juga sudah di buka. Wilson benar-benar terlihat keren.


"Kau benar-benar tidak menyisakan cemilan satupun untuk di beli!" keluh Tisya.


Hehhhhh


Wilson menghela nafas, ia menyelesaikan pekerjaannya dan mendekati Tisya.


"Tidak untuk hari ini!"


Setelah mengucapkan hal itu, Wilson pun segera meninggalkan Tisya.


"Kemana?" teriak Tisya.


"Mau mandi! Jangan lupa simpan catatan mu itu!"


Wilson pun segera masuk ke dalam kamar meninggalkan Tisya sendiri.


"Kebiasaan!"


Tisya pun menyimpan buku itu ke dalam laci yang ada di dapur dan menuju ke kamar.


Ia bersiap untuk mandi, melepas semua bajunya dan segera berendam di dalam bathtub.


Tapi di tengah-tengah ia mandi, tiba-tiba ia teringat dengan ucapan Wilson bahwa di rumah itu ada penunggunya. Entah kenapa saat membayangkan hal-hal yang menyeramkan seperti itu dia jadi teringat dengan film-film horor yang biasa ia tonton.


Hantu biasanya datang di kamar mandi dengan rambut panjang yang menjulur ke lantai atau tiba-tiba kuntilanak keluar dari bak mandinya.


"Aaaaaa, tidak!"


Ia berteriak, Tisya pun mempercepat mandinya dan segera memakai baju mandinya.


Bukannya segera memakai bajunya, Tisya segera keluar dan menghampiri kamar Wilson.


Tok tok tok


Dengan cepat Tisya mengetuk pintu itu.


"Wil, Wilson ...., buka! Wil ...., buka!"


Wilson yang juga baru selesai mandi, ia hanya mengenakan celana kolor nya dan bergegas membuka pintu.


"Ada apa?"


"Temani aku!"


"Temani apa?"


"Temani aku ganti baju!"


Setelah mendengar ucapan itu, baru Wilson sadar jika Tisya saat ini masih mengenakan baju mandinya, begitu seksi.


"Kenapa sih? Biasanya juga sendiri!"


"Ini salah kamu, siapa suruh tadi menakut-nakuti aku!"


"Astagfirullah ...., penakut sekali!"


"Ayo ...!"


Tisya segera menarik tangan Wilson menuju ke kamarnya. Ia mendudukkan Wilson di atas tempat tidur.

__ADS_1


"Diam dan jangan ke mana-mana!"


"Iya!"


Tisya pun segera memilih baju tidur untuknya. Setelah menemukannya, ia kembali menoleh pada Wilson yang masih duduk di atas tempat tidur.


"Tetap di situ ya, aku ke kamar mandi pakek baju dulu!"


"Iya! sudah sana cepetan pakek baju!"


Tisya pun segera masuk ke dala. kamar mandi dan dengan cepat memakai bajunya, sesekali terdengar ia memanggil Wilson memastikan jika pria itu masih di tempatnya.


"Jangan kemana-mana?"


"Iya!"


Setelah selesai, Tisya pun segera keluar dengan baju tidur lengkap.


"Sudah kan, aku pakek baju dulu!"


Wilson hendak berdiri, ia masih bertelanjang dada.


"Aku ikut!"


Wilson hanya diam, ia berjalan keluar dari kamar Tisya dan Tisya pun mengikutinya hingga sampai di kamarnya.


"Jadi orang itu jangan paranoid banget!" ucap Wilson sambil memilih baju, akhirnya ia mengambil kaos warna abu-abu polos.


"Aku boleh ya tidur di sini? Semalam aja, please ....!"


Tisya begitu memohon, terlihat sekali jika dia begitu ketakutan.


"Jangankan semalam, setiap malam juga boleh!"


"Itu mah mau mu ...!"


Dengan cepat Tisya naik ke atas tempat tidur Wilson, ia menutup tubuhnya dengan selimut hingga sebatas perut.


Wilson pun menyusulnya, mereka duduk berdampingan.


"Kenapa bisa setakut itu sih sama gelap?"


"Aku pernah terjebak sendiri di dalam gudang yang sangat gelap semalam hingga pagi harinya mama menemukanku sudah pingsan, aku sangat ketakutan! Sejak saat itu aku benar-benar takut sama yang namanya gelap!"


Pantas saja ....., tapi ada untungnya juga sih, dia jadi tidur di sini ....


Wilson pun menggeser duduknya mendekat ke Tisya hingga bahu mereka saling berdempetan.


Wilson mulai mendekatkan bibirnya ke pipi Tisya yang masih sibuk menatap ke depan.


"Oh iya Wil!"


Tisya yang tiba-tiba menoleh padanya membuat Wilson begitu terkejut hingga ia menjauhkan wajahnya kembali.


"Ada apa?"


"Tentang nafkah batin? Bukankah kamu janji akan memberitahuku?"


Wilson malah tercengang mendengarkan pertanyaan Tisya.


"Penasaran banget ya?"


"Iya, aku mau dong nafkah batin!"


Lagi-lagi ucapan Tisya berhasil membuat Wilson tercengang. Kali ini benar-benar membuat tenggorokan Wilson kering. Ia segera meneguk air putih yang ada di gelas di sampingnya.


"Kenapa wajahnya kaget seperti itu sih?"


"Serius? Maksudnya serius mau aku kasih nafkah batin?"


Tisya pun dengan pasti menganggukkan kepalanya.


Wilson pun dengan cepat mendekatkan wajahnya ke wajah Tisya hingga nafasnya menyapu wajah Tisya.


"Mau_ , mau ngapain?" tanya Tisya gugup


"Mau ngasih kamu nafkah batin!"

__ADS_1


Srekkkkk


Tiba-tiba Wilson mengungkung tubuh Tisya di bawahnya, ia hanya ingin mengerjai Tisya saja. Ia tahu jika istrinya itu tidak mengerti dengan ucapannya sendiri.


"Maksudnya?"


Tisya benar-benar gugup kali ini saat tubuh Wilson menindih tubuh nya.


Wilson mendekatkan bibirnya ke daun telinga Tisya lalu berbisik, "Mau berapa ronde sayang?"


Hal itu membuat Tisya bergidik geli,


Srekkkkk


Dengan cepat Tisya mendorong tubuh Wilson hingga Wilson terlentang di sampingnya dan tertawa.


Ha ha ha ha


Tisya segera menoleh padanya, ia bangun dan berkacak pinggang.


"Kamu mengerjaiku ya?"


Wilson masih terus memegangi perutnya sambil tertawa.


Tisya kembali duduk dan melipat tangannya di depan dada, "Ini nggak lucu tau nggak!"


Wilson menghentikan tawanya saat melihat wajah marah Tisya, "Maaf ...., maaf, habis kamu lucu banget sih, masak nafkah batin aja nggak tahu!"


"Sudah aku mau tidur!"


Tisya segera merebahkan tubuhnya memunggungi Wilson dan menutupnya dengan selimut.


"Marah ya?"


"Tidur saja, jangan pedulikan aku!"


"Maaf!"


...****...


Wilson sibuk membuat sarapan untuk mereka pagi ini, semalam Tisya masih marah padanya.


Ia pun membuat sarapan istimewa untuk mereka, telur ceplok ala Wilson.


Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Wilson pun segera menghampiri kamar Tisya, tadi bangun langsung pindah ke kamarnya, sama sekali tidak bicara pada Wilson.


Tok tok tok


"Tikus ....., tikus ...., aku buatkan sarapan untuk kita berdua loh!"


"Ayo sarapan!"


Tetap saja tidak ada sahutan dari dalam.


"Tikus, nanti jam makan siang aku jemput ya, kita harus ketemu sama pengacaranya kakek!"


Wilson sudah hampir berbalik,


Ceklek


Tiba-tiba pintu pun terbuka, Tisya sudah rapi dengan baju kerjanya. Ia melewati Wilson begitu saja, Wilson tahu itu tandanya Tisya tidak akan marah lagi, Wilson tersenyum dan menyusul Tisya ke meja makan.


"Kok cuma telur ceplok?" tanya Tisya saat melihat di depannya cuma ada telur ceplok.


"Dari pada mie instan!" ucap Wilson sambil duduk dan mulai menyantap sarapannya.


Walaupun cuma telur ceplok akhirnya Tisya menyantapnya juga. Memang susah kalau dalam satu rumah tidak ada yang bisa masak. Setidaknya Wilson lebih bisa di andalkan dari pada Tisya, ia masih bisa membuat mie instan, telur ceplok atau memasak nasi.


Bersambung


...Aku tidak mau jadi pilihan karena hati tak perlu memilih, ia selalu tahu ke mana harus berlabuh...


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


IG @tri.ani.5249

__ADS_1


Happy Reading 🥰🥰🥰🥰


__ADS_2