Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku
Season 2 (8. Honeymoon 1)


__ADS_3

Hingga akhirnya mereka sampai juga di depan sebuah villa dekat dengan kebun teh. Zea menatap villa itu dengan tatapan tidak percaya.


"Kita ke sini? Dengan baju seperti ini?" Zea masih mengenakan kebaya, bahkan ia tidak membawa baju hangat sama sekali.


"Iya!"


"Di sini pasti dingin, aku tidak bawa baju hangat!"


"Kamu tidak butuh baju sayang di sini, yang kamu butuhkan pelukanku!" Rangga bicara sambil mengeringkan matanya, pria itu tampak begitu genit sekarang.


"Jangan gombal deh, ini villa siapa?"


"Aku menyewanya untuk kita bulan madu!"


"Kapan mempersiapkannya?" Zea cukup heran karena perasaan Beru kemarin pria di sampingnya itu merencanakan untuk menikah dengannya tapi depan cepat menyewa sebuah villa untuk mereka berbulan madu.


"Mau di sini saja atau kita masuk sekarang?" Rangga mencubit hidung Zea karena terus saja bertanya.


"Masuk boleh kan?" wanita yang terbiasa jutek padanya itu menjadi begitu manis, bahkan sikapnya sekarang seakan lebih manis dari pada madu.


Rangga segera membuka pintu mobilnya, ia berlari mengitari mobil untuk membuka pintu yang ada di samping Zea, sekarang langit sudah mulai berubah warna menjadi jingga, entah sudah berapa lama mereka menghabiskan waktu seharian ini.


Rangga mengandeng tangan Zea untuk masuk ke dalam villa, penjaga villa langsung menyambut kedatangannya.


"Saya kira nggak jadi datang mas Rangga!?"


"Jadi dong pak!"


Pria dengan penampilan sederhana itu pun beralih menatap wanita yang berada di sampingnya,


"Ini istrinya mas Rangga?"


"Iya pak!"


"Cantik, selamat ya mas Rangga, akhirnya dapat pasangan juga!"


"Bapak nih muji apa apa ya!" Rangga terlihat cukup akrab dengan bapak itu, Zea sudah bisa membaca sesering apa Rangga datang ke tempat ini.


Pria itu hanya tertawa, "Ya sudah, istrinya di ajak istirahat, nanti kalau butuh apa-apa panggil istri saya saja, rumah kami di seberang itu!" ucapnya pada Zea.


"Iya pak, terimakasih!"


Akhirnya bapak itu meninggalkan mereka berdua, Rangga mengajak Zea menyusuri villa untuk melihat-lihat.


"Kamu sering ya datang ke sini?"


"Lumayan, tiap bulan!"


"Sama cewek?" Zea menatap curiga pada pria itu, jika ia maka ia juga bisa maklum dengan apa yang pria itu lakukan padanya padahal mereka baru kenal beberapa bulan ini dan itu pun tidak begitu dekat.

__ADS_1


Bagi Zea, Rangga masih sama. Walaupun dia sudah mengucapkan ijab Qabul di depan penghulu, bagi Zea Rangga adalah pria asing yang tiba-tiba hadir di hidupnya yang kosong.


Ia tidak mengingkari kalau saat ini sedang butuh teman untuk bercerita keluh kesahnya tapi ia tidak yakin apa yang di rasakan pada Rangga saat ini adalah sebuah cinta yang sama besarnya seperti yang dia rasakan pada Frans.


Rangga yang di tanya memilih terdiam dan menatap ke arah halaman belakang yang luas dengan pemandangan hamparan pegunungan yang menutupi matahari yang mulai ternggelam.


"Menurutmu, aku pria yang seperti apa?"


Zea menyusul suami dadakannya itu, ia berdiri di samping Rangga dan ikut menatap hamparan gunung di bagian barat villa itu.


"Mungkin pria playboy!"


"Kamu terlalu polos untuk menilai orang lain!" Rangga beralih menatap Zea dan menekan kedua bahu wanita itu dengan kedua tangannya, "Jangan terlalu dekat dengan pria asing, jangan sampai kepolosanmu itu di manfaatkan untuk kepentingan mereka!"


"Itu termasuk kamu?"


Rangga malah tertawa mendengar pertanyaan Zea, ia sama sekali tidak tersinggung olehnya,


"Apa menurutmu aku masih orang asing? Aku masih belum memiliki ikatan apapun denganmu?"


"Kamu terlalu dadakan untuk mengikatku!"


Ha ha ha ....


Lagi-lagi Rangga terbahak untuk mengetahui kenyataan wanita di sampingnya yang sudah tidak muda lagi itu begitu polos, untuk wajahnya imut jadi kerap membuatnya gemas.


"Hahhh?" Zea benar-benar tercengang mendengar pernyataan dari Rangga yang menurutnya terlalu vulgar.


Cup


Tiba-tiba bibir pria itu sudah mendarat saja di bibirnya, "Manis sekali!"


Zea sampai memundurkan kepalanya karena terkejut dengan serangan dadakan yang di lakukan oleh Rangga, dan Rangga kembali tertawa.


"Kita lihat kamar yuk!" ajak Rangga yang tanpa menunggu persetujuan dari Zea, ia langsung menarik tangan wanita itu.


Rumah yang sebagian besar berbahan kayu dengan di dominasi warna coklat tua, tampak sepi berbeda dengan yang ada di dalam salah satu kamar itu, mereka benar-benar menikmati kebersamaan mereka.


...***...


Langit sudah gelap, saat wanita itu bangun ia sudah tidak mendapati pria yang mengajaknya ketempat itu berada di sampingnya.


Zea segera bangun dan membersihkan diri. Ada baju ganti yang sudah di letakkan di kursi kayu yang ada di samping tempat tidur. Baju berbahan satin tipis, cukup trasparan untuk di kenakan.


"Masak aku keluar pakai ini, memang nggak ada baju hangat, aku kan bisa kedinginan!" gumamnya saat memandangi pantulan dirinya di dalam cermin besar yang berada di pojok ruangan.


Beruntung ia melihat jas milik Rangga tergeletak di atas tempat tidur, sepertinya pria itu sengaja meninggalkannya di sana.


"Dia kemana lagi!?" gumamnya pelan.

__ADS_1


Dengan cepat memakai jas itu untuk menutupi lekuk tubuhnya yang begitu terlihat meskipun memakai baju.


Zea menyusuri setiap ruangan, mulai dari dapur, ruang tv, ruang tamu hingga halaman belakang. Bibirnya langsung tersenyum saat melihat pria itu sedang sibuk dengan arang dan alat panggangnya.


"Ga, ngapain?"


Pria yang di tanya itu langsung mendongak dan menatap ke arah Zea, dia tersenyum begitu manis membuat Zea tidak bisa menolak apapun yang di lakukan oleh pria itu.


"Kamu sudah bangun?"


"Aku lapar!"


"Kesini lah, kita barbeque an di sini, Pumpung di puncak!"


Zea pun berjalan mendekat tanpa alas kaki, karena jelas dia tidak akan nyaman memakai sandal hak tinggi.


Rangga yang melihat Zea berjalan sedikit berjinjit segera menatap ke arah kakinya, dengan cepat Rangga menghampiri Zea.


"Pakai sendalku!"


"Kamu?"


"Aku tidak akan apa-apa, nanti aku akan cari sendal yang lainnya!"


Perhatian kecil yang selalu Rangga berikan untuknya membuatnya cukup nyaman berada di samping pria itu. Ia tidak peduli dengan apa yang akan terjadi selanjutnya, yang penting saat ini ia merasa bahagia dengan kedatangan Rangga di hidupnya.


Beberapa makanan sudah siap di santap, ada sosis, daging, jagung dan mereka menikmati hanya berdua sambil menatap langit yang bertabur bintang.


"Ga!"


"Hmm?"


"Apa selamanya kamu akan bersikap seperti ini padaku?"


"Iya!" Rangga menarik kepala Zea agar bersandar di bahunya, mereka duduk di halaman hanya dengan beralaskan sebuah tikar, sesekali Rangga menyuapkan sosis ke mulut Zea setelah memastikan makanan itu tidak panas lagi.


"Apa ini tidak akan masalah?"


"Semua tidak akan masalah kalau kita tetap bersama!"


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @ tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2