
Setelah hampir gelap, dokter Frans dan Felic pun berpamitan untuk pulang.
Mereka pun menuju ke mobilnya, Dokter Frans seperti biasa membukakan pintu mobil untuk istrinya, tapi sedari tadi dokter Frans hanya Fokus dengan perut istrinya saja, rasanya tidak percaya akan secepat itu.
Setelah memastikan Felic benar-benar masuk ke dalam mobil, dokter Frans pun segera masuk juga dan mulai menghidupkan mesin mobilnya.
"Frans ....!"
"Emmmm ...?"
"Kita ke apotik ya! soalnya aku sudah telat satu minggu, siapa tahu yang di katakan bu Narti itu benar!"
"Tapi Fe ....!"
"Baiklah gini aja, sekarang periksa denyut nadiku, atau apa yang biasanya di gunakan dokter untuk memeriksa seseorang kalau seorang pasien itu hamil atau tidak!" ucap Felic sambil mengulurkan tangannya berharap suaminya akan memeriksa denyut nadinya.
"Kalau tidak?" tanya dokter Frans lagi.
"Kita masih punya banyak waktu Frans untuk membuat lagi dan lagi ....!" ucap Felic dengan begitu polosnya.
"Baiklah ....!"
Dokter Frans kembali mematikan mesin mobilnya, saat hendak meraih tangan Felic tiba-tiba saja tangannya jadi gemetar.
"Kenapa dengan tanganmu?" tanya Felic.
"Tidak tahu ...., tiba-tiba saja gemetar!" ucap dokter Frans sambil mengibas-ngibaskan tangannya agar berhenti gemetar.
"Baiklah ...., aku siap!" dokter Frans pun meyakinkan dirinya sendiri dan meraih pergelangan tangan Felic, ia tidak membawa alat apapun di mobilnya kecuali P3K.
"Bagaimana?" tanya Felic saat dokter Frans berusaha untuk memastikan sesuatu.
"Sepertinya ....!"
"Iya sepertinya apa?"
"Iya .....!" ucap dokter Frans lalu segera melepaskan tangan istrinya itu, "Tapi aku tidak yakin sebaiknya kita ke apotik!"
"Baiklah ...., tapi iya kan?" tanya Felic memastikan lagi.
"Sudah ku bilang kita ke apotik dulu!"
"Baiklah ....!"
"Pakai dulu seltbelt nya!" ucap dokter Frans sebelum kembali menghidupkan mesin mobilnya, Felic pun segera memakai seltbelt nya dan mobil pun melaju dengan begitu pelang.
"Kenapa pelang sekali Frans?" keluh Felic yang melihat suaminya yang mengendarai mobilnya dengan hanya menggunakan kecepatan di bawah rata-rata, "Kapan kita sampainya?"
"Tidak baik kalau terlalu cepat Fe ....!" ucap dokter Frans.
Seharusnya hanya membutuhkan waktu lima belas menit untuk sampai di apotik, kini meraka membutuhkan waktu setengah jam untuk sampai di sana.
"Kamu tetap di sini, biar aku yang turun!" ucap dokter Frans sambil melepas seltbelt nya.
"Baiklah ....!"
Dokter Frans pun turun, apotik berada di seberang jalan, ia harus menunggu sampai jalanan sepi untuk menyeberang jalan.
Setelah menunggu sekitar lima menit akhirnya dokter Frans bisa menyeberang, Felic hanya terus mengamati apa yang di lakukan oleh suaminya di apotik itu.
"Bisa juga di mengantri!" gumam Felic dari dalam mobil saat melihat suaminya itu ikut mengantri bersama sekitar enam pembeli lainnya, ia dapat urutan ke lima.
Cukup lama, karena sebagian dari mereka ada yang melakukan tes kesehatan juga di apotik itu, ada juga yang melakukan konsultasi untuk mengambil obat.
Dan setelah cukup lama, akhirnya sampai giliran dokter Frans.
"Mau beli obat apa mas?"
"Saya mau membeli testpack yang paling mahal!"
"Baik mas, tunggu sebentar mas!"
Petugas apotek segera mencarikan testpack yang di maksud oleh dokter Frans.
"Butuh berapa mas?" tanya petugas apotek itu lagi saat hendak mengambilnya.
"Sepuluh!"
Petugas apotek segera menghampiri dokter Frans lagi dengan membawa sepuluh testpack yang masih baru itu.
"Ada lagi mas?"
"Iya ...., sebentar saya pinjam kertas dan bolpoinnya!" ucap dokter Frans.
"Baik, tunggu sebentar ya mas!"
Petugas apotek itu pun segera mengambil secarik kertas bekas karton obat dan juga bolpoin.
"Ini mas!"
Dokter Frans pun segera menuliskan beberapa vitamin yang biasa ia berikan pada ibu hamil muda, ada sekitar lima jenis vitamin yang ia tuliskan.
"Saya mau ini ....!" ucap dokter Frans sambil menyodorkan kertas itu, petugas apotek malah terlihat bingung, beberapa kali ia menatap dokter Frans dengan wajah penuh tanda tanya.
"Ada kan?" tanya dokter Frans lagi memastikan.
"Sebentar ya mas, saya carikan dulu!" ucap petugas itu sambil membawa secarik kertas itu ke meja belakangnya.
Ia mulai memilih beberapa vitamin yang di pilihkan oleh dokter Frans.
Saat dokter Frans sedang menunggu tiba-tiba dari belakang ada yang menyapanya.
"Dokter ....!" sapa seorang ibu itu.
Dokter Frans pun segera menoleh ke belakang, ternyata itu salah satu pasiennya.
"Bu Zen!"
"Apa yang dokter lakukan di sini?" tanya wanita itu.
"Saya sedang cari obat!"
Kemudian wanita itu melihat testpack yang tergeletak di atas meja kasir.
"Istri dokter hamil?" tanyanya tapi belum sampai dokter Frans menjawab wanita itu kembali melanjutkan ucapannya, "Selamat ya dokter!"
Dan saat itu petugas apotik kembali menghampiri dokter Frans, membuat dokter Frans kembali beralih ke petugas itu.
"Bagaimana? Ada?" tanya dokter Frans.
__ADS_1
"Ada mas, apa lagi?"
"Saya mau susu hamil untuk usia trimester pertama, yang merk xxxxgen!"
"Rasa apa mas?"
"Semua rasa!"
"Baik mas!"
Petugas pun segera mengemas semua barang belanjaan dokter Frans, satu kantong plastik besar dan dokter Frans segera melakukan pembayaran.
Setelah dokter Frans meninggalkan apotik itu, wanita tadi mendapat giliran menebus obatnya.
"Mau cari obat apa bu?" tanya petugasnya.
"Ini ...!" ucap wanita itu sambil menyerahkan selembar kertas berisi resep obat yang di tulis oleh dokter Frans.
Petugas itu pun membacanya, dan kembali melihat kertas yang tadi milik dokter Frans, "Kenapa tulisannya sama ya?" gumam petugas itu.
"Ada apa mbak?" tanya wanita itu.
"Ini loh bu, tulisannya kok bisa sama dengan yang mas-mas tadi tulis sih?"
"Ini memang resepnya yang nulis dia, dia tadi dokter Frans Aditya, pemilik rumah sakit FrAd Medika!"
"Benarkah? Pantes ganteng, ternyata seganteng itu ....!"
Dokter Frans segera kembali ke mobilnya,
"Kok lama sih Frans? Kamu beli apa aja?"
Tanpa menunggu jawaban dari suaminya itu, Felic segera memeriksanya.
"Susu ....? Buat apa susu sebanyak ini Frans?" tanya Felic terkejut.
"Buat kamu minum Fe!"
"Tapi nggak sebanyak ini juga!" keluh Felic karena ada sekitar enam karton susu dengan berbagai macam rasa dengan ukuran satu kilogram semua.
"Dan ini ...., ini vitamin?" tanya Felic.
"Iya ....!"
"Testpack nya juga banyak banget!"
"Biar terjaga ke akuratannya Fe ...!"
Gini nih kalau punya suami dokter .....
Felic memilih tidak mau debat dengan suaminya, ia tahu jika suaminya yang paling tahu.
Akhirnya mereka pun sampai juga di rumah, dokter Frans terus menggandeng istrinya itu.
"Frans aku bisa jalan sendiri!" keluh Felic.
"Pokoknya mulai sekarang, aku yang akan jaga kamu!" ucap dokter Frans.
"Wil ...., bawa susu itu ke dapur!" perintah dokter Frans.
"Baik tuan dokter!"
"Tuan ...., nyonya kenapa?" tanya bi Molly yang melihat dokter Frans memapah Felic masuk ke dalam rumah.
"Tidak pa pa bi, Frans aja yang keterlaluan!" ucap Felic.
"Bi ...., Felic kayaknya hamil lagi!" ucap dokter Frans dengan wajah berbinarnya.
"Saya sudah tahu!" gumam bi Molly lirih tapi masih bisa di dengar oleh dokter Frans dan Felic. Hal itu membuat dokter Frans dan Felic tercengang.
"Tahu?" tanya Felic.
"Iya nyonya, tuan dokter muntah kalau mencium bau-bau yang menyengat, dan kadang-kadang melakukan sesuatu yang tidak masuk akal, atau tiba-tiba ingin sesuatu!"
"Ihhhh ...., bibi curang!" keluh dokter Frans.
Mereka pun segera naik ke kamar, setalah meletakkan tas Felic dan jaket dokter Frans, dokter Frans segera menyodorkan sebuah testpack untuk Felic.
"Mau mencobanya sekarang?" tanya dokter Frans.
"Apa tidak pa pa sekarang? Bukankah yang paling akurat itu di pagi hari?" tanya Felic.
"Aku rasa tidak pa pa! Besok pagi kita bisa mencobanya lagi!"
"Baiklah ....!"
"Biar aku temani ya?"
"Tunggu di sini Frans ...., aku juga nggak bakal ngilang kalau cuma ke kamar mandi!"
"Baiklah ...., tapi aku akan menunggumu di depan kamar mandi, jangan mengunci pintunya!"
"Iya ....!"
Felic pun segera masuk ke kamar mandi dengan membawa dua buah testpack di tangannya.
Jantung Felic begitu deg deg an saat membayangkan jika nanti hasilnya tidak sesuai dengan yang di harapkan.
Ia memejamkan matanya, ia benar-benar tidak siap untuk melihatnya. Dengan perlahan ia membuka matanya. Hampir saja ia berteriak tapi segera ia tahan. Ia segera keluar dari dalam kamar mandi.
"Gimana?" tanya dokter Frans, tapi Felic terus saja diam, ia menyembunyikan hasil testpack itu di belakang punggungnya.
"Belum ya?" tanya dokter Frans lagi, terlihat wajahnya begitu kecewa tapi segera kembali tersenyum, "Tidak pa pa Fe, kita masih punya banyak waktu, mungkin bukan sekarang!"
"Tapi aku maunya sekarang!" ucap Felic yang tidak mampu lagi menahan senyumnya, ia segera mengangkat kedua testpack itu dan menunjukkannya pada dokter Frans.
"Garis dua Frans ...., garis dua ...!"
Dokter Frans masih tercengang di tempatnya. Ia masih belum yakin dengan apa yang ia lihat dan ia dengan.
Ia segera mengambil testpack itu dan memastikan dengan matanya sendiri.
"Ini artinya positif?" tanya dokter Frans memastikan lagi.
"Iya Frans ...., iya ....!"
"Kita akan jadi orang tua? Kita punya bayi ...?"
"Iya ....!"
__ADS_1
Air mata dokter Frans seakan hendak menetes di sudut matanya. Ia segera mengangkat tubuh Felic dan memutarnya.
"Stop Frans ...., lepasin!" ucap Felic membuat dokter Frans segera menurunkan Felic.
"Maaf ...., itu tadi kelepasan ...!"
Felic pun segera memeluk suaminya kembali dengan penuh haru.
...***...
Hari ini tuan Bactiar benar-benar melakukan apa yang di katakan nya, ia mengajak Tisya ke rumah sakit untuk melakukan tes DNA. ia sampai menggandeng rumah sakit besar selain rumah sakit dokter Frans tentunya.
"Pa ...., Tisya nggak mau pa!" ucap Tisya sebelum masuk ke ruang untuk melakukan tes DNA itu.
"Papa nggak butuh pendapat dari kamu!" ucap tuan Bactiar dengan begitu dingin.
Nyonya Tania menunggu mereka di luar. Ia juga tidak kalah cemasnya, Tisya hanya bisa pasrah dengan apa yang di lakukan oleh papanya.
Setelah setengah jam akhirnya mereka kembali ke luar, nyonya Tania segera menyambutnya. Tisya segera memeluk mamanya.
"Pa ...., mama mau bicara sama papa!" ucap nyonya Tania. Tuan Bactiar pun hanya diam.
"Tisya ...., kamu tunggu mama di mobil!" ucap nyonya Tania kemudian.
Tisya dengan terpaksa meninggalkan kedua orang tuanya.
Mereka pun sekarang sudah berada di lorong sepi rumah sakit itu agar pembicaraan mereka tidak akan ada yang mendengarkannya.
"Katakan!" ucap tuan bactiar sambil menatap langit dari tembok kaca itu.
"Pa ...., saya mohon, apa yang akan papa dapatkan dengan melakukan tes DNA ini? Papa hanya akan membuatnya semakin rumit, biarkan semua kembali berjalan seperti semula, aku, papa, Meira dan Tisya!"
"Tidak semudah itu, kau telah mengirim putriku ke luar negri dengan alasan jika Tisya butuh banyak perhatian dari ku, lalu bagaimana dengan Meira yang sudah lima tahun ini di sama, apa dia tidak butuh perhatian? Mana cinta yang kau berikan pada Maira? Kau bahkan mengabaikannya saat dia minta kamu datang untuk menghadiri kelulusannya!"
"Bukan seperti itu pa!"
"Jika nanti terbukti Tisya bukan putri biologis ku maka tunggu surat dari pengadilan!" ucap tuan Bactiar sambil berlalu meninggalkan nyonya Tania.
"Pa ...., tunggu!" teriak nyonya Tania membuat tuan Bactiar menghentikan langkahnya tapi tidak membuatnya berbalik pada wanita yang telah ia nikahi selama dua puluh lima tahun itu.
"Saya rasa sudah cukup pembicaraan kita, kita lanjutkan nanti saat hasilnya keluar!" ucap tuan Bactiar sambil kembali berjalan meninggalkan nyonya Tania.
Nyonya Tania hanya bisa terdiam sambil mengepalkan kedua tangannya, air matanya bahkan tidak mampu ia bendung lagi.
...***...
Tuan Bactiar kembali ke hotel tempatnya menginap beberapa hari ini. Ia sudah mengundang beberapa pengacara untuk membantu kasusnya.
"Bisa kan ini di usahakan?" tanya tuan bactiar.
"Saya rasa akan sangat sulit, karena kita tahu lawan kita siapa? Ia berada di bawah pengaruh finityGroup?"
"Saya tahu ...., tapi saya tidak mau tahu kalian harus membela saya nanti di pengadilan, saya akan membayar berapapun asalkan kita bisa memenangkan kasus ini, buat penggeledahan tanpa ijin itu menjadi penguat untuk menjatuhkan dokter itu!"
"Baik tuan, akan kami usahakan!"
Sambil menunggu hasilnya yang akan keluar setelah tiga hari, tuan Bactiar terus saja berusaha menjatuhkan dokter Frans.
Hari ini adalah sidang pertama kasus mereka, setelah menyerahkan beberapa bukti untuk mematahkan bukti yang di berikan oleh pihak dokter Frans, ternyata usahanya tetap gagal.
Tuan Bactiar melakukan banding pada pihak dokter Frans. mereka berhadapan di pengadilan untuk ke sekian kalinya.
Dan akhirnya kemenangan di tangan dokter Frans, tuan Bactiar tidak ada pilihan lain selain mengaku kalah, ia memilih membayar denda sesuai yang di sebutkan oleh jaksa penuntut umum.
***
Tuan Bactiar pun melakukan akhirnya melakukan konferensi pers secara resmi dan meminta maaf pada pihak dokter Frans. Ia menyatakan jika semua itu terjadi atas keteledorannya.
"Saya mengakui jika semua itu terjadi atas kesalahan pihak kami, saya juga meminta maaf kepada seluruh badan pemeriksaan obat dan makanan, karena tidak terbuka.
Kami bersedia untuk membayar semua kerugian yang telah kami sebabkan, dan kami juga akan menarik kembali barang-barang yang tidak sesuai dengan standard BPOM.
Menghukum dan merumahkan pihak-pihak yang terkait dalam pelanggaran ini, saya selaku CEO Bactiar group mengucapkan permohonan maaf dan semoga ke depannya akan lebih hati-hati!"
Tuan Bactiar melakukan itu agar namanya tidak semakin buruk di mata publik, ia bahkan secara resmi meminta maaf pada dokter Frans atas tindakannya yang keterlaluan.
Dokter Frans yang menyaksikan konferensi pers itu dari ruang kerjanya hanya tersenyum smirtt.
"Dasar penjilat ....!" gumam nya.
***
Akhirnya hari yang di tunggu tiba, seorang pegawai pos mengantarkan hasil tes DNA itu langsung ke kamar hotelnya.
"Permisi tuan!"
"Iya!"
"Saya mengantarkan hasil tes RNA dari rumah sakit xxxx!"
"Baiklah terimakasih!"
"Silahkan tanda tangan di sini tuan!"
Tuan Bactiar pun membubuhkan tanda tangan pada buku kecil itu. Ia segera masuk kembali ke dalam kamarnya.
Ia segera membuka amplop berwarna coklat itu dan membacanya dengan seksama.
"Tidak Cocok....!"
Ternyata terbukti jika Tisya bukan putri biologisnya. tuan Bactiar begitu terluka sekaligus terkejut. Ia sampai menjatuhkan kertas itu ke lantai.
"Dia bukan putri biologis ku? lalu putri siapa, siapa ayahnya?"
Seperti sebelumnya karena terbakar emosi ia segara melempar segala sesuatu yang ada di hadapannya dan kembali meremas hasil tes itu. Ia tidak menyangka akan di bohongi sejauh itu, putri yang telah ia rawat dengan penuh kasih sayang ternyata bukan putri biologisnya.
Bersambung
Maaf ya semuanya, hari ini dan mungkin untuk beberapa hari ke depan up nya cuma bisa satu-satu ya, soalnya nih agak kurang enak badan takut kalau di paksakan malah nggak karu-karuan
Mohon di maklumi ya, minta doanya aja agar segera sehat kembali
Pengumuman ke dua
Jangan lupa untuk tetap kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak, ingat besok hari senin, okey ....
follow Ig aku ya
tri.ani.5249
__ADS_1
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰