
Plakssss
Felic menampar pipi suaminya itu dengan begitu keras, hingga membuat dokter Frans sedikit memundurkan tubuhnya. Felic menangis, ia menutup bagian dadanya yang sudah terbuka, bahkan dressnya sudah tidak berbentuk.
“Frans …, kamu keterlaluan! Kau benar-benar melukai perasaanku!”
Felic segera mendorong tubuh dokter Frans yang terpaku dan berlari menuju ke kamar mandi.
Felic segera mengunci dirinya di kamar mandi, tanpa melepas dress selutut nya itu, ia segera mengguyur tubuhnya di bawah guyuran shower. air matanya tidak berhenti menetes bercampur bersama air dingin yang juga membasahi tubuhnya.
Rasanya seperti di lecehkan oleh suaminya sendiri, hatinya benar-benar terluka. Bahkan untuk menatap dirinya sendiri begitu sakit.
“kamu jahat Frans …, kamu jahat ….!” Felic beberapa kali memukul dadanya yang terasa sesak.
Dokter Frans ternyata tak kalah menyesalnya, ia sangat merasa bersalah karena sudah keterlaluan dengan istrinya.
Rasa cemburunya membuatnya begitu marah tanpa bisa mengendalikan diri.
"Lo bodoh Frans ....., bodoh ....!"
Bug bug bug
Dokter Frans terus memukul dinding di depannya. Hanya penyesalan yang datangnya di akhir, ia hanya bisa memukul dinding beberapa kali untuk menekan luka di hatinya.
Dulu ia bisa menasehati sahabatnya karena ia tidak tahu jika cinta ternyata bisa membuat orang benar-benar gila.
Sekarang saat ia merasakan sendiri yang mananya cinta, ia bahkan tidak mengenali dirinya sendiri. Rasanya seperti berubah, ada Felic dalam dirinya. Identitas nya telah bercampur dengan identitas istrinya.
Ia yang selalu bisa mengendalikan emosi, tiba-tiba berubah seratus delapan puluh derajat saat orang lian bersiap untuk mengambil apa yang ia punya.
Saat ada orang lain yang mendekati miliknya, tidak disangka jika ternyata rasa cemburunya bisa membuatnya berlaku kasar pada istrinya.
"Maafkan aku Fe ....!" ucapnya sambil mendekatkan dirinya ke pintu kamar mandi.
"Maafkan aku ....! Jangan hukum aku Fe ....!"
Ia pun menjatuhkan tubuhnya di depan pintu kamar mandi. Begitu lama tapi istrinya itu tidak juga keluar dari sana.
Dokter Frans pun kembali berdiri, ia tidak sabar untuk meminta maaf, ia hanya bisa berharap semuanya tidak bertambah buruk karena kebodohannya.
Ia terus mondar-mandir di dalam kamar menunggu Felic keluar dari kamar mandi. Tapi sampai satu jam istrinya tidak juga keluar dari kamar mandi.
Akhirnya dokter Frans pun memutuskan untuk mengetuk pintu itu.
Tok tok tok
Dokter Frans mulai cemas karena hanya terdengar gemericik air, suara Fe tidak terdengar lagi.
"Fe …, maafkan aku, keluarlah …!” teriak dokter Frans.
"Fe ....., ayolah ....!"
__ADS_1
"Aku akan mendobraknya jika kamu tidak keluar juga!"
"Fe ...., aku mohon jangan diamkan aku seperti ini ...., keluarlah ....!"
Hingga beberapa kali dokter Frans mengetuk tapi tetap tidak ada jawaban dari dalam, hanya ada suara gemericik air.
Dokter Frans pun semakin panik, ia sudah berpikir yang tidak-tidak. Rasanya belum siap kehilangan untuk ke sekian kalinya.
Dokter Frans pun memutuskan untuk mendobrak pintu itu.
Brakkkkk
“Fe …!”
Ia melihat Felic masih berdiri di bawah kucuran air itu, wajahnya sudah terlihat membiru.
Dokter Frans segera berlari mendekati Felic dan memeluknya, tapi dengan cepat felic menolaknya.
“Jangan sentuh aku!” ucap Felic dengan sisa kekuatannya.
“fe …, maafkan aku ..!” maafkan aku …!” ucap dokter Frans lagi sambil terus mencoba memeluk istrinya itu,
"Kamu jahat Frans ...., kamu jahat ....!" ucap Felic sambil terus memukul dada suaminya itu.
"Maafkan aku ..., maafkan aku ...., aku sangat menyesal ...., maafkan aku ....!"
Dokter Frans pun akhirnya berhasil memeluk Felic mereka berada di bawah guyuran air berdua.
"Kita keluar ya ...!" ucap dokter Frans sambil mengendong Felic keluar dari kamar mandi. Ia tidak peduli dengan dirinya yang basah saat ini. Ia harus mengeringkan rambut Felic dan membuatnya hangat.
Dokter Frans membawa Felic ke kamar, menduduknya di depan meja rias.
Felic masih terus diam dengan wajah pucat nya. Dokter Frans mengambil mesin pengering rambut dan menghubungkan dengan stok kontak, dengan mesin itu ia sibuk mengeringkan rambut Felic.
“Maafkan aku sayang …, aku terlalu di buta kan dengan cemburu, aku tidak bertanya dulu sama kamu! Setelah apa yang terjadi pada kita beberapa hari belakangan ini, membuatku begitu takut kehilangan kamu ...., maafkan aku, aku tidak membenarkan apa yang baru saja aku lakukan, tapi bisakah kau memaafkan aku untuk ke sekian kalinya, dan mungkin di waktu yang akan datang aku akan melakukan hal-hal yang akan membuatmu kesal, biarkan aku meminta maaf, dan kau akan memaafkan aku! Aku tahu aku egois, aku pemarah, aku tidak tahu diri, aku menyebalkan, aku kekanak-kanakan, tapi aku tidak akan lelah untuk meminta maaf padamu ....!”
Felic masih saja diam. Dokter Frans pun berjongkok di depan Felic. Ia sudah bicara panjang lebar pada istrinya itu, tapi tetap saja istrinya itu diam. Setelah rambut Felic kering, dokter Frans beralih mengambil minyak kayu putih dan mengoleskannya ke tangan dan kaki Felic.
Mata dokter Frans terus saja menatap istrinya itu. Ia benar-benar terluka melihat Felic terus mendiamkannya.
“Maafkan aku ya …! Maaf ...., maaf ...., katakanlah aku harus melakukan apa agar kau memaafkan ku, atau aku harus minta maaf di depan banyak orang, aku mau, aku akan lakukan, tapi jangan sekarang ya besok pagi ....!”
"Fe ...., bicaralah sekali saja, katakan jika kau mau memaafkan aku dan kau akan menghukum ku seperti biasanya, tapi jangan hukum aku dengan harus berpisah darimu, aku tidak sanggup, biarkan aku mati saja jika harus tanpa kamu!"
Felic mulai melengkungkan bibirnya saat melihat betapa berusaha nya suaminya untuk meminta maaf padanya.
Saat melihat bibir Felic mulai melengkung, "Fe ...., apa itu artinya kau memaafkan aku?"
Felic pun mengangguk.
“terimakasih …! Terimakasih ....!” ucap dokter Frans begitu senang, ia pun segera memeluk Felic dengan begitu erat.
__ADS_1
"Frans ...., bajumu basah ....!" keluh Felic.
Dokter Frans tersenyum dan melepaskan pelukan nya. Ia segera melepas baju basahnya begitu saja dan mencari baju ganti. Kemudian kembali menghampiri Felic.
Dokter Frans pun segera membopong tubuh Felic dan menidurkannya di atas tempat tidur.
“Istirahatlah …!” ucap dokter Frans ia hendak menyimpan baju basahnya yang bercecer di lantai,
Tapi Felic segera menggenggam tangan dokter Frans.
Dokter Frans pun mengurungkan niatnya untuk bangun, ia segera mendekatkan wajahnya ke Felic.
Felic menatap wajah suaminya itu, ia ingin mengatakan sesuatu tapi bibirnya masih terlalu kelu untuk mengucapkan sesuatu.
Cup
Dokter Frans segera ngecup kening
Felic dan beralih ke beberapa titik di
wajahnya. Kali ini kecupan itu tidak terasa penuh nafsu tapi kecupan yang begitu hangat penuh cinta dan penyesalan. Felic bisa melihat kilatan air mata di mata suaminya.
“Apa kau sudah memaafkan ku?" tanya Felic lirih, hanya itu yang ingin ia tanyakan semenjak ia datang ke dalam kamar itu.
“Kamu tidak bersalah…! Aku bukan marah padamu hanya saja aku masih begitu terluka dengan kehilangan
anak kita! Tapi percayalah, mungkin dunia ini memang tidak bisa memberikan semua yang aku mau, tapi dia memberikan dirimu padaku, sebagai hal yang terindah.
Setelah ini aku tidak membutuhkan apapun lagi, aku tidak peduli kita akan punya anak lagi atau tidak, yang paling penting kamu masih selalu di sisiku, itu sudah cukup!"
“Benarkah? Apa hal terbaik yang kami dapatkan di hidupmu?”
“ Kamu ...., kamu adalah hal terbaik itu, mungkin terdengar sangat klise, karena aku begitu lama mendiamkan mu! Tapi percayalah ...., itu bukan karena aku marah padamu, aku hanya sedang melawan diriku sendiri!"
"Apa kau berbohong padaku?" tanya Felic yang masih sangat ragu, tapi dia juga tidak siap kehilangan suaminya. Waktu yang singkat itu telah mengubah Felic yang keras kepala menjadi Felic yang sangat mencintai suaminya. Ia bahkan seakan menutup matanya dari semua kesalahan suaminya.
" Tidak …, maafkan aku dan sekarang tidurlah …! Aku akan menemanimu ...!” dokter Frans mengusap puncak kepala Felic.
Dokter Frans memeluk Felic dalam tidurnya, akhirnya malam itu berlalu dnegan tidur yang saling berpelukan.
...Benar jika orang mengatakan jika cinta itu buta, aku bahkan tidak bisa membedakan mana cinta dan mana ingin memiliki, itu buta atau egois. Atau aku memang sudah terlanjur masuk ke dalam hidupnya hingga aku tidak mampu lagi untuk berpaling~Felicia Daryl...
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
Happy Reading 🥰🥰🥰
__ADS_1