Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku
Tertahan


__ADS_3

Sebenarnya bukan salah Rangga atau Ersya karena saat itu Rizal sudah bilang tidak bisa


menjemputnya dan kebetulan Rangga punya perlu yang sama yaitu menjenguk Felic


yang sedang sakit. Jadi sekalian mereka barengan dan baiknya Rangga mau


mengantar Ersya sampai ke rumahnya.


“Trus lo ngomong kalau rangga mantan gue?” tanya Felic yang penasaran.


“ya nggak lah, gue cuma jelasin kalau Rangga cuma temen!”


“Bagus!”


“Jadi lo nggak cemburu?” tanya ersya lagi dan kali ini langsung mendapat tanggapan


dari dokter Frans.


“Kalian bener-bener ya, nggak nganggap banget gue ada!” ucap dokter Frans.


Ha ha ha ….


Dan langsung di sambut tawa mereka berdua.


“Ya udah …! Gue pulang ya!” ucap Ersya sambil menyambar tasnya, ia segera


meninggalkan pasangan suami istri itu.


Felic yang hendak merebahkan tubuhnya langsung ingat jika suaminya itu masih di


tempatnya.


“Oh iya kenapa kamu masih di sini?” tanya Felic yang sudah kembali duduk dan menatap


suaminya itu.


Dokter Frans mengerutkan keningnya, “maksudnya?” sepertinya ia lupa jika masih dalam masa percobaan.


“Nggak ada tinggal satu rumah, Frans!” ucap felic sambil menatap tajam pada pria itu.


Dokter Frans tersenyum dan berjalan mendekati felic, ia mengungkung tubuh Felic


hingga membuat felic memundurkan tubuhnya.


“Beneran nggak kangen sama aku?” tanya dokter Frans dengan sedikit berbisik hingga membuat bulu kuduk Felic merinding seketika, seperti ada aliran listrik yang sengaja di


salurkan ke tubuhnya.


“Frans…!” ucap Felic dengan suara yang tertahan, tangannya meremas selimut yang ada


di sampingnya.

__ADS_1


Cup


Bibir dokter Frans mendarat di atas bibir Felic membuat Felic terpaku, saat tidak


mendapat penolakan dari Felic, dokter Frans memperdalam ciumannya dan jangan di


tanya juniornya pasti bangun jika sudah begitu.


“Frans …, hentikan!” teriak felic sambil mendorong tubuh suaminya itu saat ia


merasakan ada yang keras yang bergesekan dengan pahanya.


“Apa Fe? Kamu pasti juga ingin kan?" tanya dokter Frans padahal tinggal selangkah lagi.


“Nggak boleh Frans …!” ucap Felic dengan wajah merona nya sambil mengusap perutnya yang masih rata. Dokter Frans hampir saja kelepasan, ia lupa jika harus puasa sampai janin yang ada di dalam perut Felic benar-benar kuat.


“Hahhhh, hampir saja!” ucap dokter Frans sambil mengusap dadanya,


“Tapi ini bagaimana?” tanya dokter Frans sambil menunjuk ke juniornya yang sudah siap tempur. Hal itu membuat Felic tertawa geli sekaligus kasihan.


“Main sendiri aja Frans, sana di kamar mandi!” ucap Felic sambil menyembunyikan senyumnya.


"Tega bener sih, Fe …! Masak aku suruh main sendiri!” ucap dokter Frans sambil


berjalan menuju ke kamar mandi.


"Dasar mesum .....!" gumam Felic sambil tersenyum, memang benar ia juga menginginkannya, ia juga merindukan kehangatan tubuh pria itu, tapi jika sampek kelepasan ia khawatir jika akan membahayakan janinnya.


Ceklek


Pintu kamar mandi terbuka, menampilkan wajah segar dokter Frans dengan rambut basahnya. Astaga ....., godaan banget sih ....., Felic hanya bisa menelan salivanya menatap betapa tampannya sang suami. Andai saja mereka tidak sedang marahan, pasti ia sudah bergelayut manja di tubuh suaminya.


"Kok lihatnya gitu banget, ada yang salah?" tanya dokter Frans sambil sibuk mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil yang menggantung di lehernya.


“Ehhh ....!" Felic benar-benar gagal fokus, "Sudah?" tanya Felic balik agar tidak terlalu terlihat jika ia sedang mendambakan tubuh itu.


“Sudah pacar, lihat aku sudah segar begini!”


jawab dokter Frans sambil merapikan rambutnya yang sedikit lebih kering. Ia segera meletakkan handuk kecil itu di gantungan dan memakai kembali kemejanya yang berada tidak jauh dari Felic, tapi sungguh mata Felic masih tidak mau beralih dari tubuh bersih suaminya itu, matanya terus mengikuti kemanapun suaminya itu bergerak.


Bahaya nih kalau dia terus di sini, aku bisa khilaf ini ....., Felic harus perang batin. Tubuhnya ingin tapi ia harus memikirkan anak dalam kandungannya. Aku harus kuat pokoknya ....


"Ya udah Frans, pulang geh ….!” ucap Felic, walaupun dalam hatinya jangan.


Dokter Frans menghentikan jarinya yang sedang sibuk mengancingkan kemejanya dan menatap Felic.


“Nggak!” ucap dokter Frans.


‘Pulang, atau nggak ketemu sama aku lagi!” ancam Felic.


Ahhh tega bener jadi istri, padahal aku kan

__ADS_1


masih pengen peluk-peluk …., Dokter Frans hanya bisa mendengus kesal.


“Iya…, iya deh aku pulang!” ucap dokter Frans menyerah, ia mengambil ponselnya dan


kembali menghampiri istrinya, meninggalkan kecupan di pipi Felic mengusap perut


rata Felic dan meninggalkan kecupan di sana juga.


“Baik-baik ya sama bunda!”


“Hati-hati!” ucap Felic saat dokter Frans sudah hampir meninggalkan kamarnya, dokter Frans


pun tersenyum dan melambaikan tangannya lalu berlalu meninggalkan kamar itu.


***


Ersya sudah berada di perusahaan tempat rangga bekerja, di salah satu cabang


perusahaan finity Group yang di kelola langsung oleh Divta, terlihat dari papan nama yang besar yang terpampang di depan sehingga orang dapat dengan mudah mengenali perusahaan itu. Rangga adalah salah satu karyawan terbaik di tempatnya kerja.


“maaf mbak …, bisa ketemu sama Rangga nggak?” tanya Ersya pada petugas resepsionis


itu. Resepsionis itu melihat penampilan Ersya, ersya memang selalu berpenampilan rapi khas pegawai bank, cantik dan rapi tentunya.


“Oh pak Rangga ya? Pak Rangga baru saja keluar meeting bersama CEO!” ucap resepsionis itu.


“Akan lama atau sebentar ya mbak?” tanya Ersya lagi.


“Kurang tahu ya mbak, biasanya dua jam tapi juga bisa lebih!”


Ia harus bertemu, walaupun harus menunggu dua jam Ersya tidak akan menyerah.


“Yah …, sayang sekali! Tapi boleh ya aku nunggu di sini?”


‘Silahkan mbak!” ucap resepsionis itu sambil menunjuk lobby dengan kursi tunggu di sana.


Kursi itu cukup nyaman untuk duduk apa lagi di suguhi dnegan sebuah akuarium


besar di sana dengan suara gemericik air di tambah ruangan itu juga ber AC.


Entah karena terlalu nyaman atau karena ia terlalu capek, rasanya matanya sulit untuk


di buka. Lama kelamaan ia tidak mampu mengendalikan matanya yang semakin kesini


semakin berat saja dan akhirnya ia tertidur di sofa warna hitam itu.


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Happy Reading 🥰🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2