Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku
Felic sadar


__ADS_3

Ibu Felic yang sedang fokus pada Felic pun jadi terpancing untuk ikut melihatnya,


ibu Felic ikut tercengang di buatnya. Mereka memikirkan bagaimana cara membayarnya belum lagi biaya perawatan dan obat-obatannya. Asuransi kesehatannya tidak akan bisa mengkaver semuanya.


Dokter Frans ingin tertawa sebenarnya, tapi takut dosa, ia berusaha keras untuk menyembunyikan senyumnya.


"Gremmm, hremmm ....!" Dokter Frans berusaha menormalkan mimik wajahnya.


 “Ayah sama ibu tenang saja, biar semuanya


nanti Frans yang urus, yang penting ayah dan ibu tinggal mendoakan kesembuhan


felic saja!”


“Frans tapi kamu dapat uang dari mana sebanyak itu, belum lagi nanti kalau Felic


menginapnya sampai sepuluh hari atau lebih!”


“Frans punya tabungan bu, jangan khawatir. Lagi pula ini adalah fasilitas yang di


berikan oleh rumah sakit apabila ada karyawan rumah sakit yang keluarganya


sakit makan akan mendapatkan fasilitas VIP berdasarkan kinerjanya!”


“Heh …., untung saja kalau begitu, ibu jadi lega! Ngomong-ngomong siapa sih pemilik


rumah sakit ini baik sekali, ibu jadi pengen ketemu sama orangnya!”


Mendengarkan ucapan ibu mertuanya, dokter Frans hanya tersenyum. Ia tidak mungkin mengatakan kalau dialah pemiliknya.


Gue nggak mungkin bilang kalau gue


pemiliknya, bisa-bisa mereka syok berat ntar …., lagian begini lebih enak …


Memang benar kenyataannya jika seluruh karyawan di rumah sakit itu akan di fasilitasi


ruang VIP sebagai reward jika ada keluarga yang sakit dan juga perawatan gratis


sesuai dengan kinerjanya.


Karena peraturan yang di buat sedemikian rupa membuat rumah sakit FrAd Medika menjadi rumah sakit favorit selain pelayanannya yang


begitu bagus juga fasilitasnya lengkap. Di rumah sakit ini mengedepankan kenyamanan pasien.


Untung saja orang tua Felic percaya begitu saja, Dokter Frans bisa bernafas lega, setidaknya ia tidak perlu menjelaskan saat ini juga.


“Sudah sangat sore, lebih baik ayah mertua sama ibu mertua pulang saja, Felic biar Frans saja yang jagain!” ucap dokter Frans yang merasa kasihan dengan mertuanya.


“Kamu beneran nggak pa pa kalau kami tinggal?’ tanya ayah Felic yang masih berat meninggalkan putrinya.


“Tidak pa pa ayah mertua, lagian Frans juga bekerja di sini, jadi tidak masalah. Di sini frans


juga sudah punya baju ganti!”


“Baiklah kalau gitu ayah sama ibu pulang ya, kalau butuh sesuatu atau ada sesuatu jangan


sungkan memberitahu kami!”


“tentu….!”


Setelah kepergian ayah dan ibu mertuanya kini Frans kembali sendiri. Ruang VVIP ini hanya


di khususkan untuk keluarga besar FinityGroup, di ruang ini jugalah saat itu Ara melahirkan. Ia pun memutuskan untuk mandi, di sana juga ada ruang ganti persis seperti apartemen, biasanya jika malas untuk pulang dokter Frans akan menginap di kamar itu.


Dokter Frans mengguyur tubuhnya dengan air dingin, kepalanya yang sempat sakit karena


terlalu fokus pada Felic kini perlahan membaik. Ia segera menyudahi mandinya dan mengganti pakaiannya dengan pakaian yang lebih santai.


Dokter Frans kembali menghampiri Felic, menatap wajah Felic dengan mata yang masih


tertutup.


“Ehggg …!’ tiba-tiba Felic melakukan gerakan, tapi sedikit mengerang membuat dokter


Frans mendekat.


“Fe …, gimana keadaan lo?” tanya dokter Frans sambil mencari denyut nadi Felic, meletakkan


stetoskopnya ke dada Felic memastikan jika Felic baik-baik saja.

__ADS_1


“Frans …, kita di mana?” tanya Felic ketika membuka matanya, ia melihat sekelilingnya


yang terlihat asing.


“Di pasar!”


“Gue serius …!” ucap Felic sambil memukul pundak dokter Frans hingga ia melupakan


sakitnya.


“Augh ….!”


Melihat Felic kesakitan, dokter Frans pun segera meraih tubuh Felic dan menidurkannya


kembali.


“Hati-hati dong, udah tahu sakit masih saja berulah!”


“Abis gue nanya serius lo jawabnya pakek becanda!” ucap Felic sambil memanyunkan


bibirnya.


Dokter Frans pun menghembuskan nafasnya kasar dan duduk di samping Felic di


kursi kecil yang tadi, ia menyilang kan kaki kirinya di atas kaki kanannya,


melipat tangannya di depan dada dan menyandarkan punggungnya menatap Felic


dengan begitu serius.


“Kenapa menatapku seperti itu?’ tanya Felic dengan suara lemahnya.


“Tau nggak karena ulah lo ini, bisa bikin orang tua lo jantungan! Lo nggak sayang


sama mereka?”


“ya sayang lah …! Mana ada anak yang nggak sayang sama orang tuanya!”


“Trus menurut lo, dengan nyiksa diri lo kayak gini bisa bikin semuanya menjadi baik?


Nggak! Semuanya malah akan bertambah sulit!”


“nah gitu …, manis juga lo …!”


“cccckkkk!”


Felic berdecak.


Felic mengamati tempatnya kini, jika ada alat yang menempel di tangannya, ini adalah


alat rumah sakit tapi melihat ruangan yang luas itu lebih mirip seperti hotel


bintang lima.


“Frans, kita di mana?” tanya felic lagi karena pertanyaannya tadi belum sempat di jawab


oleh pria itu.


“Kita di rumah sakit!”


“Dengan ruang sebagus ini?”


“Memang ruang VVIP!” jawab dokter Frans pasti.


“Hahhhhh….!” Felic terlonjak kaget sampai ia kembali melupakan sakitnya.


“Augh ….!”


Lagi-lagi Felic kembali memegangi perutnya yang terasa nyeri.


‘Sudah di bilang jangan banyak bergerak, lambungmu itu luka jadi diam saja!” hardik


dokter Frans sambil meminta Felic untuk kembali tidur, kali ini dokter Frans


menyangga punggung Felic dengan bantal agar ia bisa duduk dengan nyaman, tubuh


dokter Frans yang terlalu dekat padanya membuat hatinya deg-degan, Felic


terpaku di buatnya.

__ADS_1


Dokter yang selesai meletakkan bantal itu, ia menatap wanita itu, wajah mereka begitu


dekat hingga nafas yang berhembus itu saling bersahutan. Dokter frans terpaku


menatap mata bening itu.  Hingga seper


sekian detik mereka terpaku.


Dokter Frans segera mengalihkan tatapannya, ia kembali duduk. Entah kenapa sekaran ia


jadi salah tingkah sendiri, ia bahkan bingung harus melakukan apa, atau menanyakan apa.


“Frans!”


ucap Felic setelah ia bisa menormalkan kembali jantungnya.


“Iya?’


dengan cepat dokter Frans mendongak.


“Cairan infusnya habis!” ucap felic sambil menunjuk kantong cairan infus yang


tergantung itu sudah kosong.


“Astaga …., gue sampek lupa!” dokter Frans pun segera mengambil kantong cairan infus


yang masih penuh dan menggantinya dengan yang kosong. Mengatur alirannya dan


memastikan jika darah felic tidak tersedot naik arena sepertinya sidah cukup


lama habis. Untuk saja darahnya tidak ikut naik.


“Frans, kenapa gue tidak di rawat di ruang biasa aja, kelas dua misalnya?” tanya felic


sambil memperhatikan betapa cekatannya suaminya itu merawatnya. Itu seharusnya


pekerjaan perawat tapi dokter Frans melakukan semuanya sendiri, ia tidak


mengijinkan siapapun merawat Felic jika ia berada di sana.


“Jangan khawatir masalah biaya, lagian ini rumah sakit gue!” ucap dokter Frans santai.


“Mimpi lo ketinggian, kasian ntar yang punya rumah sakit ini kalau dengar lo terus


ngehalu jadi pemilik rumah sakit!”


“Sudah jangan bawel, tidur aja lagi. Gue laper, gue mau pesan makan. Tapi kalau gue


makan di sini, gue takut ntar lo pengen!”


‘Emang kenapa kalau gue pengen?”


“Lo Cuma boleh makan bubur!”


“Bubur?”


tanya felic memastikan apa yang barus aja ia dengan dan dokter Frans pun


mengangguk. “Selama berapa hari?”


“Sampai lo benar-benar sembuh!”


“Tega banget sih lo!” protes Felic. Walaupun kesal akhirnya felic kembali tidur.


Melihat Felic sudah kembali tidur, dokter frans pun memesan makanan untuknya, ia tidak


mungkin meninggalkan Felic terlalu lama. ia meminta anak buahnya untuk


membelikan makanan dan mengantarnya ke ruang perawatan felic. Ia begitu lapar,


karena semenjak siang ia belum memakan apapun. Baksonya pun yang makan Felic.


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


tri.ani.5249

__ADS_1


Happy Reading 🥰😘❤️❤️


__ADS_2