Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku
Suamiku konyol sekali


__ADS_3

Setelah melewati ruang yang luas dan tangga yang tinggi di tengah ruangan yang menghubungkan dengan lantai dua itu akhirnya mereka pun sampai juga di depan sebuah kamar, kamar yang berada di lantai dua.


Bibi Molly yang selalu mengikuti langkah dokter Frans dan Felic sudah siap membukakan pintu untuk mereka.


“Silahakan nyonya, tuan!” ucap bibi Molly setelah pintu terbuka.


“Terimakasih bi!” jawab dokter Frans, ia segera meloncat ke atas tempat tidurnya yang sudah


lama ia tinggalkan, merebahkan tubuhnya di sana, “Aku sungguh merindukan tempat


tidur ku!”


Felic yang masih berdiri bersama bibi Molly hanya bisa berdecak, ia ingin sekali


memukul suaminya itu tapi ada anak buahnya di sana,. Pasti belum sampai di


pukul sudah kena dulu dianya.


“Nyonya, di kamar mandi kami sudah menyiapkan air hangat!” ucap bibi Molly membuat Felic tercengang, sejak kapan mereka tahu jika mereka akan pulang ke rumah itu.


“Ehhhh …, air hangat?”


Sejak kapan gue mandi pakek air hangat ….


“kalau begitu kami permisi dulu, nyonya! Semoga malam anda menyenangkan!”


Felic hanya tersenyum, kikuk ia berusaha mengartikan maksud ucapan dari bibi Molly.


“Malam yang menyenangkan?” gumam Felic setelah bibi Molly dan semua pengawal itu


keluar dari kamarnya. Felic masih tetap terdiam di tempatnya, memandangi kamar


yang begitu luas itu, kamar itu lebih luas dari kamar rumahnya.


“Kenapa lo masih di situ aja, ayo ke sini!” Dokter Frans menepuk tempat kosong di


sampingnya, melihat dokter Frans sudah berada di posisi seperti itu membuat


Felic merinding sendiri, ia sudah membayangkan hal-hal yang akan terjadi


selanjutnya. Walaupun selama ini mereka sudah terbiasa tidur bersama, tapi tak


ada yang lebih dari sebuah ciuman panas. Itu pun tidak setiap hari.


“Frans!”


“hemmm? Ada apa?”


“lo ngapain begitu?” tanya Felic yang memperhatikan dokter Frans yang tidur telentang di atas tempat tidur itu.


“Emang ada yang salah?” tanya dokter Frans yang merasa tidak bersalah tanpa berkeinginan membuka matanya.


“Nggak sih, tapi …!”


Dokter Frans pun merubah posisinya, ia bangun dan duduk bersila di atas tempat tidurnya yang luas itu.


“Kalau kayak gini bagaimana?”


“Iya …, itu lebih bagus! Kalau gitu gue mandi dulu!”


Felic pun segera menuju ke sebuah pintu yang ada di dalam kamar itu, karena ada


banyak pintu membuat Felic sedikit bingung.

__ADS_1


Bagaimana di dalam kamar ada banyak pintu begini …?


Melihat wajah bingung dari felic membuat dokter Frans tersenyum, ia pun turun dari


tempat tidur dan menghampiri istrinya itu.


“Kalau mau mandi, pintunya yang ini!” ucap dokter Frans sambil menuntun Felic menuju


ke sebuah pintu yang langsung terhubung ke kamar mandi, tapi sebelum sampai di


kamar mandi mereka harus melewati sebuah ruangan ganti.


“Masih ada pintu lagi di dalam pintu?” tanya Felic heran.


“Ya ada banyak pintu di sini, biar kamu tersesat!”


“Hahhhh?”


“Tersesat di hati aku!”


“Cie…, garing!”


“Yang penting gue udah usaha!”


“Ini pintu mana lagi yang harus gue masuki buat bisa mandi?” tanya Felic karena di


dalam ia masih melihat ada tiga pintu yang di pisahkan oleh cermin-cermin besar


yang membuat pantulan dirinya menjadi begitu banyak, pintunya juga tampak lebih


banyak karena pantulan dari cermin itu.


Belum sampai dokter Frans memberitahunya, felic sudah lebih dulu duduk berjongkok


“Lo kenapa?”


“Gue pusing!”


“Pusing kenapa?”


“Rumah lo bener-benar bakal menyesatkan!”


“Ahhhh …, lebay lo!”


Dokter Frans memilih berjongkok di depan felic, memegangi kepala Felic, hingga Felic


benar-benar siap untuk kembali bangun.


“katanya mau mandi? Ayo aku antar!”


Kali ini Felic mau berdiri, ia di antar dokter Frans masuk ke dalam kamar mandi,


bukannya selesai pusingnya kini malah bertambah lagi, kamar mandi ini lebih


mewah drai pada kamar mandi rumah sakit itu.


“Gue belum siap!” ucap felic sambil memeluk dokter Frans membuat dokter Frans


tersenyum di buatnya.


“Kalau begitu biar aku bantu!” ucap dokter Frans membuat Felic mendongakkan kepalanya.


“Hahh …!”

__ADS_1


Tiba-tiba saja tubuhnya ,melayang di udara, dokter Frans sudah membawa tubuh Felic menuju ke shower, di bawah guyuran air itu akhirnya mereka mandi bersama tanpa


melepaskan pakaiannya.


“Frans …, lo gila!”


“Tapi ini menyenangkan, kan?”


Mereka mirip seperti anak kecil yang sedang main air dia bawah guyuran hujan. Sesekali


mereka melontarkan candaan dan saling mengusapkan sampo ke kepala.


“rambut lo banyak juga!” ucap felic saat mengusapkan sampo itu di kepala dokter Frans.


“emang dari sononya udah banyak!”


“Augh augh ….!” Tiba-tiba kaki Felic terpeleset membuatkannya kehilangan keseimbangan.


Untung saja dokter Frans dengan sigap menarik tubuh Felic ke dalam pelukannya.


Felic tercengang saat mata mereka saling bertemu, tubuh mereka menempel sempurna di


bawah guyuran air, titik-titik air yang mengenai wajah Felic membuatnya semakin


seksi, bohong jika dokter Frans tidak terpengaruh apalagi ia bisa melihat apa


yang ada di dalam dada Felic dengan kaos tipisnya yang terkena air, begitu


transparan.


Kenapa ada yang keras …?


“Stop …!” teriak Felic sambil mendorong tubuh dokter Frans, membuat dokter Frans


melepaskan pelukannya.


“Ada apa sih?” tanya dokter Frans kesal.


“Ada yang keras di bawah sana!” ucap Felic sambil menunjuk bagian bawah dokter


Frans.


“Sudah sah juga …, sekali-kali nggak pa pa kali Fe!”


“Apanya yang sekali-kali?”


“Kita coba!”


Felic segera menjauh dari dokter Frans dan mengambil handuk yang berada di gantungan


dan melilitkannya di bahunya.


“Maaf …, gue belum siap!” ucap felic lalu berlalu begitu saja meninggalkan dokter Frans yang masih tercengang di tempatnya.


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


tri.ani.5249


**gimana nih udah siap belum ya belah durennya? Siap-siap haredang ya buat besok

__ADS_1


Happy Reading 🥰😘😘**


__ADS_2