Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku
terus menghindar


__ADS_3

  Dokter Frans di rumah sakit terus saja gusar karena mendapatkan laporan dari Wilson jika istrinya terlihat begitu dekat dengan seorang pria di kantor penerbit itu.


"Siapa dia?" gumam dokter sambil menatap foto yang di kirimkan oleh Wilson.


"Sabar Frans ...., mungkin mereka cuma berteman saja!" Ia sengaja menenangkan dirinya sendiri.


Ingin rasanya segera menghampiri istrinya itu, tapi ia masih banyak sekali pekerjaan, terutama urusannya dengan perusahaan Bactiar group itu, ia harus menyiapkan semuanya dengan matang karena tuan Bactiar terkenal dengan kelicikannya.


Ia harus menunda untuk bersama Felic, ia kembali pulang malam seperti biasanya.


Felic sengaja memeluk suaminya itu dari belakang membuat dokter Frans begitu terkejut.


“Fe …!” ucap dokter Frans.


“Frans …, aku merindukanmu! Kenapa pulangnya sangat malam?” tanya Felic memeluk begitu manja suaminya.


“fe …, jangan lagi!” ucap dokter Frans sambil melepas pelukan istrinya itu. Apa yang mereka lakukan tadi malam cukup membuatnya tertekan, saat menyentuh Felic ia teringat dengan darah yang keluar begitu banyak itu.


“kenapa?” tanya Felic begitu kecewa, ia kira dengan bersatunya mereka semalam membuat hati suaminya luluh.


“aku belum siap!” ucap dokter Frans.


Dokter Frans segera meninggalkan Felic ke kamar mandi. Ia masih begitu menghindari istrinya itu. Setiap kali menyentuh istrinya ia teringat dengan janin yang sempat ia pegang tanpa nyawa itu.


Darah yang begitu banyak itu, ia merasa ikut menyakiti istrinya itu. Seandainya ia tidak ikut dalam proses kuret waktu itu mungkin lukanya tidak akan separah ini, traumanya tidak akan begitu membekas di sana.


"Aaaaaaaa ......!" dokter Frans berteriak di dalam kamar mandi, ia mengguyur tubuhnya dengan air dingin, beberapa kali meninju dinding di sebelahnya tanpa ampun.


Saat ia menyakiti istrinya, dirinya sendiri juga merasa sakit. Bahkan mungkin lebih sakit, tapi saat menatap istrinya lagi-lagi bayangan darah dan janin itu kembali muncul. Ia jadi teringat dengan darah yang sama yang ia lihat keluar dari mobil ayahnya waktu itu.


“Maafkan aku Fe …, aku belum siap!”


Setelah puas dengan keluh kesahnya sendiri, ia memilih segera mengakhiri mandinya dan memakai baju tidur. Ia kembali ke luar dengan baju tidurnya.


Felic yang jelas-jelas sangat kecewa, ia memilih segera naik ke tempat tidur dan tidur, ia tidak mau memikirkan kekecewaan yang semakin dalam saja.


Karena seharian ini ia bekerja, membuat tubuhnya begitu capek. Hanya sebentar saja merebahkan tubuhnya, ia sudah masuk ke alam mimpi.


Ceklek


Doker Frans keluar dari kamar mandi dengan baju tidurnya. Melihat istrinya itu sudah tidur, Dokter Frans pun mendekat kearah istrinya itu.


Ia menatap wajah istrinya itu mencoba melawan traumanya sendiri dengan berlama-lama menatap istrinya. bayangan itu kembali saling berkelebat, bagaimana Felic kesakitan, darah, bagaimana ia mengeluarkan sendiri janin itu. Rasanya seperti belum siap jika melihat istrinya itu hamil kembali.


Ia tidak bisa membayangkan bagaimana jika itu terjadi dan terjadi lagi, ia seorang dokter yang sudah begitu banyak menangani kasus yang sama, bahkan begitu banyak kematian di depan matanya. Tapi saat itu menyangkut orang yang ia sayangi kenapa rasanya menjadi begitu berat, bahkan menjadi trauma yang menyakitkan.


Cup


Sebuah kecupan mendarat di kening Felic. Ia sedikit demi sedikit harus melawannya sendiri jika tidak, ia akan menyesal sendiri.


"Aku akan berusaha Fe, demi kamu ....!" ucap dokter Frans lagi. Ia pun segera merebahkan tubuhnya menatap istrinya itu. Sepanjang malam yang ia lakukan hanya menatap istrinya itu, sangat sakit rasanya tapi begitu ia tahan.


***


Pagi ini Felic terlihat sudah sangat rapi, ia bersiap-siap untuk berangkat. Sepertinya ia masih begitu marah pada suaminya itu karena terus saja di cuekin.

__ADS_1


Ia hanya tidak tahu saja jika setiap malam bahkan suaminya itu rela untuk tidak tidur hanya untuk menatap wajahnya, ia membuat terapi dirinya sendiri untuk melawan rasa sakitnya.


Pagi ini Felic sengaja tidak menyapa suaminya. Ia ingin tahu bagaimana reaksi suaminya saat ia yang gantian cuekin dia.


Dokter Frans terus menatap kemanapun istrinya itu berjalan tapi Felic memilih menghindar, sudah dua minggu berlalu tapi suaminya itu terus mengabaikannya itu cukup membuatnya jera. Ia juga punya hati yang seharusnya di jaga perasaan nya.


Felic pun tanpa menawari atau mengajak, segera menuruni tangga. Dokter Frans pun segera mengikutinya turun. Bi Molly sudah siap di ruang makan.


“Sarapannya nyonya!” ucap bi Molly. Dokter Frans menghentikan langkahnya di tengah-tengah tangga. Ia ingin melihat apa yang akan di lakukan oleh istrinya itu.


“Nggak usah bi, aku nggak sarapan, aku berangka dulu …!” ucap Felic dan pergi begitu saja saat dokter Frans turun. Ia sengaja menghindar agar tidak berada dalam satu meja dengan suaminya itu.


Dokter Frans pun akhirnya melanjutkan langkahnya dan duduk di meja makan.


"Silahkan tuan!" ucap bi Molly sambil mengambilkan makanan untuk tuannya itu.


Dokter Frans pun mulai menyantap sarapannya. Walaupun rasanya tidak begitu enak karena tidak ada temannya.


“Tuan!” ucap Bi Molly sambil berdiri di samping dokter Frans.


"hemmm?” tanya dokter Frans Sabil terus menyantap sarapannya.


“Nyonya jarang sekali makan di rumah, apalagi kalau malam, ia selalu menunggu tuan buat makan malam dan akhirnya tidak jadi makan!”


“Suruh dia makan jika malam dan bilang kalau jangan menunggu!" ucap dokter Frans, ia pun beranjak dari duduknya.


"Aku berangkat!” ucap Dokter Frans.


Dasar tuan memang keras kepala …, kasihan nyonya …., batin Bi Molly sambil terus menatap punggung tuannya itu.


...***...


untuk berpikir.


Ia tidak akan lagi merengek untuk minta di peluk atau di sapa. Ia tahu sebenarnya suaminya itu masih sangat mencintai nya tapi ia tidak yakin tidak akan sakit jika suaminya itu akan menolaknya.


Setiap hari mereka hanya saling diam. Apalagi Felic yang sibuk dengan bukunya. Setiap hari ia harus bertemu dengan Langit dan mbak Mia.


Langit teman yang baik untuk di ajak bicara, selain punya kegemaran yang sama buat cerita, Langit juga lebih terbuka.


"Sunny ....!" sapa Langit.


"Apaan sih mas ...., manggilnya jangan gitu, nggak enak ....! Panggil aja Fe, mas ....!" ucap Felic sambil sibuk mengetik. Langit pun ikut duduk di samping Felic.


"Masih banyak ya? Butuh bantuan nggak?"


"Nanti aja kalau ada masalah sama kurangnya kata-kata yang pas aku panggil mas Langit deh ....!"


"Nggak perlu di panggil, aku bakal temenin kamu di sini!" ucap Langit.


"Memang mas Langit nggak ada kerjaan?"


"Bukan nggak ada tapi masih belum ada, jadi gimana nih ...., butuh atau nggak?"


"Ya butuh lah mas, masak ada guru di depan mata di abaikan saja, sayang banget!"

__ADS_1


"Apa ...., sayang ....? Maksudnya sayang sama aku?"


"Sayang sama ilmunya ....!"


"Padahal aku udah baper banget ini ....!"


...***...


Di meja makan lain di rumah besar bactiar group itu, keluarga yang terlihat harmonis itu sedang menikmati sarapannya.


“Kami berangkat dulu ya ma!” ucap tuan Bactiar setelah menyelesaikan sarapannya.


“papa sama Tisya hati-hati ya …!” ucap nyonya Tania sambil mengantar suami dan putri nya ke depan.


“kamu semangat ya sayang di hari pertama kamu kerja!” ucap nyonya Tania menyemangati putrinya Tisya.


“Iya ma …!” ucap Tisya.


“jaga Tisya ya pa!”


“Mama ini, memang putrimu ini mau perang ke mana?” keluh Tisya dengan ucapan ibunya itu.


Setelah ayah dan anak itu meninggalkan rumah. Nyonya Tania mengantar meraka sampai di


depan pintu. Tidak berapa lama dua orang kembali datang menghampirinya.


“Selamat pagi nyonya!” sapa dua orang itu.


“Masuklah …!” ucap nyonya Tania. ia mengajak tamunya ke dalam rumah.


“baik nyonya!”


Mereka pun kini duduk di ruang tamu, dua orang itu menyerahkan sebuah berkas.


“Itu berkas lengkapnya nyonya, nyonya bisa periksa sendiri!”


“Jelaskan padaku!”


“Nama.lengkapnya Felicia daryl, dia dua bersaudara dari keluarga miskin, dulunya.seorang OG di sebuah bank swasta!”


“OG ….?” nyonya Tania begitu terkejut tenyata istri dari putranya hanya seorang OG.


“Iya nyonya, ayahnya hanya seorang satpam di perumahan elit!”


“Dia pasti bukan perempuan baik-baik, dia sama aja seperti temannya itu! Cuma moroti


orang-orang kaya! Dia pasti menikah dnegan Frans karena hartanya, keterlaluan!” ucap nyonya Tania dengan meremas map itu.


...ia seorang dokter yang sudah begitu banyak menangani kasus yang sama, bahkan begitu banyak kematian di depan matanya. Tapi saat itu menyangkut orang yang ia sayangi kenapa rasanya menjadi begitu berat, bahkan menjadi trauma yang menyakitkan~ dr. Frans...


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya

__ADS_1


tri.ani.5249


Happy Reading 🥰🥰🥰


__ADS_2