Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku
Penyelamatan


__ADS_3

Karena sudah hampir dini hari, jalanan sangat lengah, tidak begitu banyak kendaraan jadi dia bisa mengemudi secepat yang dia mau.


Cukup sulit mengejar karena jelas mobil mereka melaju dengan lincah. Di dalam mobil itu Tisya sudah tidak sadarkan diri karena pengaruh obat bius.


Di dalam mobil itu ada tiga orang pria dengan perawakan besar. dua duduk di depan dan satu menjaga Tisya di belakang.


"Kita diikuti bro!" ucap salah satu dari mereka. Sama-sama Tisya masih bisa mendengar nya tapi ia tidak mampu membuka mata atau menggerakkan badannya.


"Ngebut bro, ngebut ...!"


"Kita pancing aja sekalian tuh orang, kayaknya sendiri!" ucap pria lainnya.


"Ingat apa yang di katakan bos, jangan sembrono, mereka bukan lawan yang bisa di remehkan!" ucap pria yang mengemudikan mobilnya.


"Trus gimana dong dia? Kita apakan?"


"Biarkan saja, kita lihat sampai di markas, masih bisa nyusul kita apa enggak, kalau masih kita ringkus di sana!" ucap pria yang sepertinya otak dari penculikan itu.


Hampir saja Wilson kehilangan jejaknya saat sampai di lampu merah tapi kemudian Wilson memilih untuk menerobosnya agar mobilnya tidak tertinggal jauh.


Akhirnya setelah cukup lama mereka main kejar-kejaran, mereka sampai juga di depan sebuah gudang.


Salah satu dari pria itu bersiul dan tidak berapa lama, beberapa preman keluar dari dalam gudang dan menghadang mobil Wilson.


"Keluar lo!"


"Keluar!"


Wilson melihat begitu banyak pasukan mereka.


Ternyata mereka begitu banyak...., batin Wilson. Tangan Wilson pun menyalakan gps yang terpasang pada mobil rumah sakit itu agar nanti jika dia juga tertangkap maka ada orang yang akan menemukan keberadaannya.


Ia juga.mengaktifkan gps ponselnya dan melakukan panggilan pada dokter Frans, dan menghidupkan mode ulang hingga beberapa kali.


"Ayo cepat turun!"


Lagi-lagi kaca mobilnya di gedor dengan begitu keras hingga menimbulkan getaran di mobil.


Wilson pun memutuskan untuk turun, ia berlari sedikit menjauh dari mobil tidak ada yang menyadari ada gps yang menyala di dalam.


"Lawan satu per satu kalau berani!" ucap wilson sambil menyiapkan kuda-kuda.


"Anak ingusan ini menantang kita, ha ha ha ....!" tampak mereka saling tertawa.


Akhirnya mereka pun memutuskan untuk maju satu per satu, bukan hal yang sulit bagi Wilson melawan satu persatu karena Wilson cukup lihai karate, ia juga pemegang sabuk hitam.


"Ayo siapa yang mau mau duluan?" tanya Wilson sambil tersenyum saat berhasil mengalahkan tiga lawannya.


Beberapa yang masih bersiap pun saling menatap, mereka memberi isyarat untuk menyerang bersama-sama.


Dan benar saja mereka mengeroyok Wilson, lebih dari lima orang sekaligus. Awalnya Wilson baik-baik saja, ia masih bisa menghalaunya tapi kemudian salah satu dari mereka mengambil sebuah balok kayu dan memukulkannya ke punggung Wilson hingga membuat Wilson jatuh tak sadarkan diri.


"Bagus ...., bawa dia sekalian ke markas!" ucap salah satu dari mereka.

__ADS_1


"Baik bos!"


Salah satu dari mereka menyeret tubuhnya tubuh Wilson hingga ke dalam gudang begitu juag dengan Wilson.


"Ikat mereka!"


"Baik bos!"


"Mau kita apakan mereka bos?"


"Kita tunggu saja sampai bos besar datang!"


Dan tidak berapa lama orang yang di sebut sebagai bos besar datang juga. Pria berperawakan tidak begitu tinggi dengan kumis tipisnya masuk dan salah satu dari mereka menyiapkan kursi untuknya duduk tepat di depan Tisya.


"Hehhhh ...., keponakanku yang cantik, sayang sekali kau harus mengalami hal seperti ini!" ucapnya sambil mengusap kepala Tisya.


Kemudian pria itu menatap pria ya g juga di ikat bersama Tisya.


"Dia siapa?"


"Berdasarkan informasi yang kami dapat, dia adalah suaminya bos!"


"Ohhh jadi dia juga sudah menikah? Pantas tua bangka itu begitu getol ingin memberikan semuanya pada anak ini!" gumamnya.


"Apa yang akan kita lakukan sama pria ini bos?" tanya pria yang sepertinya ketua preman itu.


"Biarkan saja dia untuk beberapa waktu, saya ingin lihat bagaimana anak ini nantinya, ambilkan air cepat!"


"Baik bos!"


"Ini buat apa air segini, ambilkan satu ember bukan satu gelas!" ucapnya begitu kesal karena menghadapi anak buah preman yang sedikit lola.


"Baik bos, maaf bos!"


Anak buah itu pun segera meninggalkannya lagi dan tidak berapa lama kembali dengan membawa satu ember air.


"Ini bos airnya!"


Dan dengan cepat pria itu mengambil ember itu kemudian ....


Byuuuurrrrr


Pria itu menyiram air ke wajah Tisya hingga membuat Tisya perlahan sadar dari obat bius.


Mata Tisya mengeryit mencoba menyesuaikan matanya dengan ruangan yang penerangannya nya sedikit redup itu. Ia ingin mengucek matanya tapi ternyata tangannya di ikat dengan kursi.


Ia membuka matanya dengan begitu lebat agar bisa melihat dengan jelas siapa pria yang duduk di depannya itu.


"Om Gerry!" pekik Tisya.


"Apa kabar keponakan cantikku?"


"Om tolongin Tisya om ....!" ucap Tisya merengek sambil berusaha untuk melepaskan tali pengikat tangannya.

__ADS_1


Ha ha ha ....


Tapi pria itu malah tertawa melihat rengekan dari Tisya.


"Ommm!"


"Kamu itu terlalu polos sayang ....!"


"Apa maksud om?"


...**""**...


Di tempat lain, setelah menyelesaikan merawat Felic dan bayinya, dokter Frans pun beristirahat sebentar.


Felic sudah di pindahkan ke ruang perawatan biasa.


"Ma ..., Tisya kemana?" tanya dokter Frans saat tidak menemukan Tisya bersama mamanya.


"Tisya pulang dulu tadi sama Wilson, mama sengaja suruh Tisya buat istirahat, tapi entah kenapa dedari tadi perasaan mama nggak enak ya! Ponsel mama mati, kamu bawa ponsel nggak, coba hubungi mereka dong Frans!"


"Baik Ma, tapi kayaknya ponsel Frans ketinggalan di mobil deh ma, aku ambil dulu ya!"


"Memang mobil kamu udah di sini?"


"Iya, tadi Wilson sudah minta seseorang untuk mengambilnya di Restoran!"


"Ya udah cepetan ya, biar Fe mama yang jaga!"


"Iya ma!"


Dokter Frans pun turun ke lantai bawah, ia menuju ke mobilnya yang terparkir di lapangan parkir. Rumah sakit masih terlihat sepi karena belum subuh.


Ia mengambil ponselnya dan saat membuka layar ponselnya ada begitu banyak panggilan dari Wilson.


"Kenapa Wilson meneleponku beberapa kali seperti ini?" gumam dokter Frans, dan panggilan itu masih tersu berlangsung.


Dokter Frans pun mengangkat sambungan telepon dari Wilson.


"Hallo Wil, hallo ...., Wil ...., kamu di sana?"


Beberapa kali dokter Frans mengajak bicara tapi tetap saja tidak ada jawaban.


Dokter Frans pun memastikan. telpon itu karena tetap tidak ada jawaban.


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


IG @tri.ani5249


Happy Reading 🥰🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2