Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku
Season 2 (112. Tempat ternyaman)


__ADS_3

Kini di ruangan itu kembali tinggal Zea dan Rangga. Rangga mengedarkan tatapannya, ruang ini tentu sangat mewah di banding apa yang sudah ia berikan pada Zea sebelumnya.


"Apa kamu senang tinggal di sini?"


"Hmmm?"


"Apa tidak ada tempat yang lebih nyaman dari tempat ini?"


"Ada!"


"Dimana?"


"Di tempat di mana aku bisa tinggal dengan suamiku!"


Zea menyadari sesuatu pada perkataannya sendiri dan ia pun berusaha untuk meralatnya, "Maksudnya, walaupun rumah itu sederhana. Tidak ada kemewahan tapi jauh lebih bagus jika kita bisa menghabiskan waktu bersama dengan keluarga yang kita cintai. Bukankah begitu?"


"Hmmm!"


***


Bagi sekali seperti biasanya setelah sampai di kantor, ia akan segara menemui zea. Tapi sekarang ada yang aneh, di tangannya sedang menenteng sesuatu.


"Mau kemana semangat sekali?" pertanyaan itu, Rangga tahu sapa orangnya. Ternyata pria berkaca mata itu telah berdiri di belakangnya entah sejak kapan tapi yang pasti i sudah mengawasi gerak-gerik Rangga sedari tadi.


"Aku harus menemui nona Zea!"


"Itu apa?" sekretaris Revan menunjuk tas makan siang yang berada di tangan kanan Rangga sedangkan tangan kirinya ia gunakan untuk membawa tas yang berisi laptop.


"Oh ini, hanya makanan biasa."


"Tidak biasanya kamu bawa bekal!?"


"Ini bukan untukku, ini untuk nona Zea!"


"Nona Zea?"


"Jangan salah faham, nona Zea tengah hamil Sekaran dan pekerjaan kita banyak menguras tenaga, aku hanya ingin membantunya saja."


"Ohhhh!"


"Aku pergi dulu!"


Rangga tidak mau berlama-lama menanggapi sekretaris Revan. Jika sudah bicara dengannya tidak akan pernah ada habisnya.


***


Ini juga hari pertama Miska menjalani pekerjaannya sebagai cleaning servis.


"Bagus, semoga kamu bisa bertanggung jawab dengan pekerjaaamu!" ucap tuan Seno saat Miska mengantarkan minuman ke ruangannya.


"Miska pasti akan berusaha sebaik mungkin, Miska akan mendapatkan cinta dari papa lagi."


"Papa tunggu sampai saat itu tiba!"


"Miska permisi pa, Miska harus melanjutkan pekerjaan Miska!"


"Hmmm!"


Miska pun segera meninggalkan ruangan itu, padahal ia tadi sudah berharap papanya akan memuji keputusannya tapi nyatanya hanya kata-kata yang membuat Miska semakin kesal.


"Papa benar-benar sudah di buktikan oleh wanita itu." Miska berjalan dengan kesal, tangannya tengah membawa nampan.

__ADS_1


Tapi langkanya segera terhenti saat melihat ke arah pintu masuk, di sana ada Rangga. Bibirnya segara tersenyum dan berjalan cepat menghampiri Rangga.


Tapi belum sampai di dekat Rangga, tiba-tiba langkahnya terhenti saat seseorang lebih dulu menghampiri Rangga.


"Dia lagi!?" ucapnya geram sambil meremas nampan di tangannya.


Zea sudah lebih dulu menghampiri Rangga,


"Hai!"


"Hai, sudah siap?"


"Siap, kata papa kita bisa menggunakan salah satu ruangan kosong di sini saja untuk bekerja, Bagaimana menurutmu?"


"Itu ide yang bagus, bisa di mulai sekarang?"


"Ayo!"


Zea pun menunjukkan ruangan yang bisa mereka gunakan sebagai tempat kerja berdua. Ternyata sebuah ruang meeting kecil, salah satu ruang meeting yang biasa di gunakan untuk meeting dalam skala kecil atau meeting dalam lingkup internal saja.


"Bagaimana, nyaman kan di sini?"


"Nyaman!"


Selain meja meeting ruangan itu juga di lengkapi dengan sofa dan meja kecil dan sepertinya tempat itu yang paling nyaman untuk mereka bekerja.


Mereka pun akhirnya mulai membicarakan pekerjaan, mengoreksi beberapa berkas dan membuat berkas-berkas baru.


Miska yang kesal akhirnya mengintip mereka dari balik pintu,


"Kalau begini, bisa-bisa Rangga akan segera ingat semuanya. Aku harus memastikan sesuatu!"


Tapi saat hendak meninggalkan tempat itu, ia melihat Rangga memberikan sesuatu pada Zea.


Jadi Rangga sengaja membawa itu untuk Zea ...., Miska tadi pagi melihat bagaimana Rangga begitu sibuk untuk menyiapkan makanan itu. Ia benar-benar tidak menyangka jika itu di siapkan untuk Zea.


"Ini apa?"


"Bukalah!"


Zea begitu bersemangat untuk membukanya, ternyata isinya makanan sehat berupa sayuran dan lauk yang baik untuk ibu hamil.


"Aku sengaja browsing di internet bahwa makanan-makanan itu baik untuk ibu hamil."


Zea menatap Rangga dengan tatapan sendunya. Rasanya ingin sekali memeluk pria itu. Ia hanya bisa meneteskan air matanya dengan bibir yang bergetar, "terimakasih."


Srekkkkk


Rangga seperti tahu apa yang di pikirkan oleh Zea, tiba-tiba ia memeluk tubuh Zea,


"Maaf ya jika aku sudah membuatmu susah."


Zea menghentikan tangisnya dan kembali memastikan apa yang baru saja ia dengar.


Brakkkkk


Tapi belum sampai Zea menanyakan hal itu, tiba-tiba pintu di buka dengan kasar oleh Miska.


"Kalian apa-apaan sih, bisa-bisanya berpelukan di sini, kalian tidak memandang aku?"


Rangga melepaskan pelukannya dan Zea pun menghapus air matanya. Zea berdiri saat Miska menghampiri mereka.

__ADS_1


"Kamu yang apa-apaan, sebenarnya pekerjaanmu apa, kami tidak membutuhkan cleaning servis di sini , jadi pergilah!"


"Jaga mulut kamu ya!" Miska begitu kesal, ia mengacungkan jari telunjuknya di wajah Zea.


"Kamu yang jaga mulut, jangan sampai aku membuka semua kebusukanmu di sini!"


Miska yang kesal pun mengayunkan tangannya hendak menampar Zea tapi dengan cepat Rangga menahan tangan itu dengan mencengkeram pergelangan tangannya.


"Pergi dari sini atau aku akan berbuat lebih kasar dari ini!" ucap Rangga dengan suara dalamnya.


"Tapi Ga, aku yang calon istri kamu, bagaimana bisa kamu malah membela dia."


"Jangan membuatku bertambah marah!" melihat tatapan Rangga yang menakutkan, Miska pun akhirnya menyerah. Ia pun meninggalkan ruangan itu dengan penuh kemarahan.


"Kamu tidak pa pa kan?" Rangga segera meminta Zea untuk duduk. Ia juga mengambilkan Ir putih untuk Zea, "Minumlah!"


"Aku tidak pa pa , Ga! Sungguh!"


"Boleh aku memegang perutmu sebentar saja?" Rangga benar-benar merasa khawatir dengan bayi dalam kandungan Zea.


Zea tersenyum, "boleh!"


Rangga pun menempelkan telapak tangannya di perut Zea, Sayang ..., kamu baik-baik saja kan? mulai saat ini papa yang akan jaga kamu sama mama dari orang-orang jahat itu ....


Seperti mengerti apa yang sedang di rasakan oleh rangga, tiba-tiba perut Zea bergerak membuat Rangga terkejut,


"Zee, dia bergerak!?" Rangga begitu bahagia.


Anak kita pasti bisa merasakan kehadiran papanya, Ga ....


...***...


Rangga masih pulang ke apartemen, tapi kali ini ia bukan untuk tinggal. Ia kembali ke apartemen untuk mengambil beberapa baju gantinya.


Miska yang melihat hal itu segera menghentikan rangga,


"Sayang, kamu apa-apaan sih. Kamu mau ke mana? Kalau mau marah gara-gara kejadian tadi, okey aku minta maaf tapi jangan pergi dari sini, aku mohon. Kau harus apa tanpa kamu?"


"Aku akan tinggal di rumah papa, jarak kantor tuan Seno dengan rumah papa lebih dekat. Kalau kamu masih mau tinggal di sini, tinggallah aku tidak akan memintamu pergi!"


"Tapi aku harus apa tanpa kamu? Baiklah, bagaimana kalau aku ikut kamu sayang?"


"Jangan aneh-aneh, rumah papa itu rumah dengan tetangga yang saling peduli, mereka akan mempertanyakan hubungan kita. Lebih baik jangan cari masalah sampai semuanya selesai!"


"Selesai?"


"Maksudku, sampai hari pernikahan kita!" Rangga sengaja mengatakan hal itu agar Miska tidak curiga.


"Aku pergi!" Rangga menenteng tas ranselnya nya, ia tidak perlu membawa banyak baju karena di rumah papanya masih banyak baju yang tertinggal di sana.


Ia benar-benar sudah tidak tahan tinggal dengan miska, rasanya ia ingin segera lepas dari wanita itu. Tapi untuk itu, ia masih harus bermain cantik sambil menunggu semua ingatannya kembali.


Miska hanya bisa membuang semua barang yang ada di kamar itu, ia benar-benar kesal dan tidak tahu harus melakukan apa lagi. Semakin ke sini, Rangga semakin tidak bisa ia kendalikan lagi.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249

__ADS_1


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2