Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku
Season 2 (125. Mencari Klinik itu)


__ADS_3

Zea pun akhirnya di temani sang papa dan beberapa anak buahnya mencari tempat di mana ia di lahirkan sesuai dengan catatan medis yang di tinggalkan oleh sang mama.


Sebuah klinik kecil yang berada di pinggiran kota. Sebenarnya ini bukan yang pertama tuan Seno datang ke tempat itu, sebelumnya tuan Seno sudah pernah datang beberapa kali ke tempat itu, anak buahnya juga sudah hampir bisa menemukan pria yang bernama Rusdi.


Karena tidak ingin membuat Zea cemas, ia sengaja tidak menceritakan hal itu pada Zea.


"Kita ke sini, nak!" tapi perlakukan tuan Seno yang seolah sudah hafal dengan tempat itu tentu membuat Zea curiga. Apalagi sepanjang jalan tuan Seno tidak memerlukan bantuan google tau apapun itu. Tanpa bertanya lagi, mereka langsung sampai di tempat itu. Bahkan sekarang tuan Seno bahkan tahu ruangan bidan yang di maksud Zea sebelum Zea mengatakannya.


Mereka mencari bidan yang menangani ibunya melahirkan.


Tapi saat sampai di ruangan itu, seorang bidan muda memberitahu jika wanita yang ia maksud sudah setengah tahun ini tidak bekerja, jadi terakhir kali bekerja, saat tuan Seno menemuinya.


"Apa alasannya ia berhenti bekerja?" tanya tuan Seno.


"Saya tidak tahu pasti, tapi Bu Ambar mengatakan jika beliau sudah terlalu tua untuk membantu melahirkan. Ia memilih menghabiskan waktunya di rumah."


"Boleh kami minta alamat rumahnya!" bidan muda itu pun menuliskan sebuah alamat pada secarik kertas kecil dan menyerahkannya pada tuan Seno.


Setelah berpamitan, mereka pun kembali ke mobil,


"Bagaimana? Apa kita perlu istirahat dulu? Papa akan mencari penginapan yang terdekat dari sini."


"Tidak perlu pa, Zea bisa istirahat di mobil saja!"


"Baiklah, kalau begitu kita cari makan dulu sebelum melanjutkannya. Biar anak buah papa yang mencari alamat itu."


"Iya pa, Zea juga sudah lapar."


Mereka pun mencari tempat makan yang nyaman, karena di pinggiran kota mereka dengan mudah mendapatkan tempat makan yang dekat dengan udara terbuka seperti sawah dan beberapa taman.


"Seger banget di sini pa, udaranya!"


"Iya, papa juga suka ke sini!"


"Jadi papa sering ke sini?"


"Ehhh, maksudnya kalau ada waktu senggang. Papa suka dengan udara terbuka seperti ini."


"Zea juga."


Mereka menikmati makanannya sambil menunggu informasi dari anak buah tuan Seno.


Hingga setelah setengah jam, tuan Seno mendapat telpon dari anak buahnya,


"Bagaimana pa?" tanya Zea yang sudah sangat penasaran.


"Katanya Bu Ambar sudah pindah dari rumahnya!"

__ADS_1


"Lalu?"


"Anak buah papa sedang mencari informasi pada beberapa tetangga."


Wajah Zea berubah cemas, perasaan optimis yang ia bawa ketik a berangkat tadi seakan menguap. Sepertinya nyonya Widya mencurigai semuanya.


"Kalau Bu Ambar tidak ketemu bagaimana pa?"


"Pasti ketemu, kamu jangan khawatir ya."


Akhirnya mereka memilih sebuah penginapan untuk menunggu informasi dari dari anka buah tuan Seno.


Zea sudah mulai merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, menselonjorkan kakinya yang teras kaku karena perjalanan jauh.


Hingga tiba-tiba pintunya kembali di ketuk, "Zee, sayang!"


"Iya pa, buka aja nggak di kunci!"


Zea pun kembali bangun dan tuan Seno masuk ke dalam ruangan itu.


"Ada apa pa, pa sudah ada kabar?"


"Iya, anak buah papa sudah menemukan keberadaan Bu Ambar!"


"Kita ke sana sekarang ya pa!" Zea sudah hampir saja turun dari tempat tidur tapi segera di cegah oleh tuan Seno, "Ada apa pa?"


Jika di lanjut besok pagi, itu artinya aku nggak bisa ketemu Rangga dong ...., Zea pun segera menggelengkan kepalanya.


"Nggak pa, kita pergi sekarang! Zea nggak capek kok pa, sungguh!"


"Baiklah kalau kamu memaksa, kita pergi sekarang!"


Mereka pun akhirnya melanjutkan perjalanan mereka, sekarang bukan hanya di pinggiran kota tapi di sebuah perkampungan kecil. Dan akses untuk ke tempat itu, mereka masih harus melewati jalan yang banyak berlubang dan sawah-sawah serta perkebunan. Walaupun jalan sudah cukup gelap saat mereka sampai di sana tapi pemandangan itu masih bisa di lihat dari sorot lampu mobil.


Beruntung mobil masih bisa lewat meskipun saat berpapasan, mereka harus menghentikan mobilnya sebentar guna memberi jalan pada pengguna jalan lain.


Hingga mobil mereka berhenti di depan sebuah rumah sederhana yang sebagian dindingnya masih dari bambu. Walaupun kecil tampak rumah itu cukup bersih dengan halaman yang luas yang di tanami berbagai macam bunga hias.


"Hati-hati." tuan Seno membantu Zea untuk turun dari mobil dan mereka pun berjalan menuju ke pintu. Tuan Seno segera mengetuk pintu itu hingga saat pintu di buk seorang wanita tua berdiri di balik pintu itu.


"Anda?"


"Maaf jika saya datang lagi. Tapi kali ini kedatangan saya tidak sendiri, saya bersama putri saya!"


Dari percakapan mereka, Zea jadi yakin kalau sebelumnya memang papanya sudah pernah bertemu dengan wanita di depannya.


Wanita renta itu beralih menatap ke arah Zea, memperhatikan Zea dari atas hingga ke bawah.

__ADS_1


"Chintya!" ia tampak terkejut karena hampir semua yang ada pada Zea begitu mirip dengan Chintya, ibunya.


"Boleh kami masuk?" tanya tuan Seno lagi.


Tapi wanita renta itu tidak menjawab, ia hanya memberi jalan agar mereka berdua bisa masuk ke dalam rumahnya.


Zea dan tuan Seno pun masuk. Wanita bernama Bu Ambar itu segera membuatkan teh hangat untuk mereka.


"Silahkan di minum!"


"Terimakasih!"


Zea dan tuan Seno segera meneguk teh buatan Bu Ambar.


"Apa lagi yang bisa saya bantu?"


"Bu, saya mohon. Jika bukan untuk saya, tolong ceritakan semua tentang Cintya pada putri kami!"


"Iya Nek, Zea mohon. Jika nenek ada yang mengancam, tolong katakan. Biar anak buah papa saya membantu nenek."


"Saya sudah tua, kalaupun ada yang mengancam saya, sekarang saya tidak takut karena saya punya Allah yang akan melindungi saya." Bu Ambar tampak memberi jeda pada ucapannya. Sepertinya memang sebelumnya ia sempat menerima ancaman.


Flashback on


"Bu, Bu, ada yang pingsan di teras ibu!" di tengah malam seseorang mengetuk pintu rumah ku dengan begitu keras membuat ku yang tengah menangani pasien di dalam terpaksa keluar.


"Ini kenapa?" tanyaku pada pria yang sepertinya kerabat dari pasien yang ada di dalam, dan pria itu hanya menggelengkan kepalanya. Aku pun kemudian memastikan kalau wanita itu masih hidup dengan menempelkan jariku ke depan hidung.


Wanita muda itu tampak luka-luka di beberapa tubuhnya.


"Wanita ini datangnya dari mana?" tanyaku sekali lagi memastikan jika tidak akan ada yang mengikutinya karena luka itu bukan berasal dari sebuah kecelakaan melainkan sebuah penyiksaan.


"Nggak tahu Bu, tiba-tiba sudah di sini saja saat saya kembali dari warung."


"Ya sudah, bantu saya bawa masuk."


Aku pun di bantu oleh pria itu dan juga asistenku membawa masuk wanita yang tengah pingsang itu.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


Ig @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2