Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku
Dokter Frans Aditya


__ADS_3

Sebuah nama yang cukup di perhitungkan di dunia kedokteran. Frans aditya, dia lulus


terbaik di bidangnya, anak angkat seorang pemilik kerajaan bisnis finityGroup.


Sekarang ia sudah memegang kendali sebuah rumah sakit swasta terbesar di ibu kota. Kehidupan pribadinya tidak segemilang karirnya. Walaupun namanya meroket tajam, tapi siapa yang tahu tentang kehidupan pribadinya.


Dokter yang selalu tampil nyentrik dengan kehidupan yang tidak suka terikat, hidupnya


yang bebas berbeda sekali dengan kedua sahabatnya yang lebih suka dengan


kehidupan yang serius. Ia lebih enjoy menikmati hidup, jalan-jalan, dan


melakukan apapun yang menyenangkan, hidupnya tidak kaku, penuh warna.


Di hari libur ia lebih sering menghabiskan waktunya untuk mendalami kemampuannya


dalam hal jurnalistik dan fotografer. Hidupnya penuh dengan ekspresi, senyumnya


sering mengembang di bibirnya, tapi matanya yang tajam membuat wibawanya tidak


pernah memudar.


“Bi …, jika ada yang mencariku, bilang aku sedang ada acara di luar kota!” ucap dr.


Frans pada asisten rumah tangganya, ia sudah membawa tas ransel di punggungnya, sepertinya akan bepergian cukup jauh.


“Baik tuan!”


Sebelum langkahnya mencapai mobil, asisten rumahnya kembali mengejarnya, nama asisten


rumah tangganya adalah bibi Molli, ia sudah bekerja dengan dr. Frans sejak kecil,


ia juga berasal dari rumah besar, rumah nyonya Ratih. Ibu angkat dr. Frans.


Saat dokter Frans memutuskan untuk tinggal di rumah sendiri, nyonya Ratih


mengirimkan bibi Molli untuk menjaganya.


“Tuan!” panggil bibi Molli, membuat dokter Frans mengurungkan niatnya untuk masuk ke


dalam mobil.


“Iya, ada apa bi?”


“Tadi tuan Agra menelpon, katanya tuan Agra akan datang ke klinik!”


“Astaga …, dia suka sekali menyusahkan ku! keluh dokter Frans, ia sedikit berdecak lalu menghembuskan nafasnya sedikit lebih dalam, " Baiklah …., biar nanti aku telpon dia, aku pergi


dulu bi, jaga diri di rumah!”


“Baik tuan!”


Dokter Frans segera masuk ke dalam mobil, ia memacu mobilnya dengan kecepatan sedang


sambil menikmati perjalanan. Music pop Indonesia favoritnya menjadi temannya


dalam perjalanan. Ia sampai di bandara dan melalukan cek in.

__ADS_1


Perjalan ke Surabaya.


Kali ini perjalanannya berbeda, dia ke Surabaya bukan hanya untuk jalan-jalan saja tapi juga untuk mengunjungi sahabatnya. Sudah dua bulan ini sahabatnya itu berada di Surabaya, kehidupan rumah tangga sahabatnya yang rumit, kadang membuatnya tidak berkeinginan untuk segera menikah.


Hidupnya lebih banyak di habiskan untuk jalan-jalan dan slubukan ke tempat-tempat yang tidak akan pernah di pikirkan orang lain untuk di kunjungi, sebenarnya ada maksudnya yaitu mencari seseorang yang telah lama menetap di hatinya.


“Surabaya I’m coming …..!” teriak dr. Frans saat sampai di Surabaya. ia memejamkan matanya dan merentangkan tangannya, mencoba menikmati udara kota Surabaya yang sebenarnya tidak jauh beda dengan kota jakarta, panas.


“Lebih baik jalan-jalan dulu sebelum memberi kejutan sama si tukang batu!” ucap dokter Frans bermonolog sendiri sepanjang langkahnya.


Dokter Frans memilih mengelilingi kota Surabaya naik ojek dengan kamera yang tak


pernah lepas dari tangannya. Banyak sekali gambar yang telah ia ambil. Karena dengan naik ojek ia bisa leluasa mengabadikan hal-hal yang di anggapnya unik dan tidak akan pernah ia dapatkan jika naik mobil.


“Lapar sekali ….!” ucap dokter Frasn setelah seharian berkeliling.


Ia memegangi perutnya yang sudah minta di isi, ia kembali berjalan menyusuri


warung yang ada di pinggir jalan.


“Kali ini makan makanan khas Surabaya!” dokter Frans mengelilingi warung pinggir jalan, sebenarnya ia lebih suka makan di pedagang kaki lima.


Pilihannya jatuh pada sebuah warung penjual rujak cingur yang ada di pinggir jalan. Dengan


sedikit menundukkan kepalanya agar tidak terbentur dengan palang besi yang


menjadi penyangga tenda.


“Mbak …., rujak cingurnya satu ya, yang pedas!” ucap dokter Frans setelah berhasil masuk ke dalam tenda itu.


“Iya mas!” ucap gadis berhijab itu sambil berbalik menatap dokter Frans. Senyumnya


“Wiiishhhh …., ada oase di tengah panasnya kota Surabaya ….!” Ucap dokter Frans membuat


gadis itu mengerutkan keningnya.


“Jangan banyak senyum seperti itu, nanti rujaknya jadi kemanisan!” goda dokter Frans


lagi membuat gadis itu mengerti maksud ucapan pembelinya itu. Gadis itu segera


mengalihkan tatapannya dari dokter Frans dan beralih menatap racikan rujak


cingurnya.


Setelah puas menggoda gadis penjual rujak cingur itu, dokter Frans pun memilih duduk di


kursi panjang yang terbuat dari kayu, ia sengaja memutar kursinya hingga


menghadap ke gadis yang sedang sibuk meracikkan rujak cingur untuknya.


“Sudah lama berjualan? nggak ke sekolah ya? atau sudah putus sekolah?” Tanya dokter Frans tanpa basa-basi.


“Saya cuma membantu ibu, mas!” ucap gadis itu tanpa mengalihkan tatapannya dari


racikannya.


“Masih sekolah kan?” Tanya dokter Frans lagi.

__ADS_1


Gadis itu menghampiri dokter Frans sambil membawakan sepiring rujak cingur dan di


letakkan di meja depan dokter Frans.


“Sudah lulus, mas!”


“Makasih …!” ucap dokter Frans sambil menarik piring itu agar lebih dekat dengannya.


"Beneran sudah lulus?" tanya dokter Frans memastikan lagi, dan gadis itu pun mengangguk. "Kok lebih pantes jadi anak SMA ya!"


Dokter Frans pun segera menyantap makanannya, menikmati setiap suapannya.


"Enak ......!" ucap dokter Frans kemudian.


“Kuliah dong?” lagi-lagi dokter Frans begitu kepo.


Gadis itu hanya tersenyum, dia kembali ke arah gerobaknya tak berniat untuk menjawab


pertanyaan dokter Frans. Tapi bukan dokter Frans kalau mudah menyerah.


“Siapa namamu?” Tanya dokter Frans sambil menyantap makanannya.


Gadis itu menoleh kembali, mungkin ia berfikir pria di depannya itu sangat


menyebalkan. Tapi pembeli adalah raja, ia tidak bisa mengabaikan pertanyaannya.


“Ais …, Aisyah!” ucap gadis itu tanpa menatap dokter Frans.


“Nama yang bagus, aku suka!” puji dokter Frans dengan entengnya sambil terus menyantap rujaknya.


Akhirnya dokter Frans menghabiskan makanannya, ia berdiri dan menghampiri Aisyah si penjual rujak cingur, ia sedang asik dengan bukunya.


“Sudah ku duga, kau pasti kuliah. Belajarlah yang rajin tapi juga jangan terlalu


terpaku pada satu tempat saja, nikmati saja hidup ini dengan batas yang baik!”


ucap dokter Frans sambil menyerahkan selembar uang lima puluh ribuan.


“Ambil saja kembaliannya, semoga nanti kita bertemu lagi!” dokter Frans meninggalkan


gadis itu begitu saja, ia berjalan seperti tanpa beban.


“Dasar pria aneh …!” ucap gadis itu sambil menggelengkan kepalanya.


Siapa yang paling mengerti tentang kita selain diri kita sendiri …., Jangan biarkan prasangka orang lain mematahkan hatimu dan dirimu, merubahmu menjadi orang lain.


Visual dokter Frans



Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


tri.ani.5249

__ADS_1


Happy Reading 😘😘😘😘😘


__ADS_2