
Mereka sudah kembali berada di sofa, Felic merasa bosan dengan jika terus tidur di
tempat tidurnya, walau tidak bisa di pungkiri jika tempat tidurnya di rumah
sakit lebih nyaman dari tempat tidurnya di rumah dan pastinya lebih lebar dan
empuk.
“Kalian kok bisa barengan sih?” Felic masih begitu penasaran dengan kedatangan mereka
yang bersamaan.
“Iya …, tadi tidak sengaja kami bertemu di depan, iya kan tuan Rangga?” dokter Frans
sengaja berbicara formal pada Rangga dan Rangga pun hanya menganggukkan
kepalanya, bukan karena ia tidak ingin mengatakan apapun tapi sepertinya Rangga
sedang melihat situasi.
“Gue kok ngerasa aneh sih sama bahasa lo …!” protes Felic saat Frans berbicara
dengan nada formalnya, rasanya sangat aneh pria yang selenge’an itu berbicara
dengan nada se-formal itu, belajar dari mana? Begitulah mungkin yang di pikirkan
oleh Felic.
“Tidak pa pa…, gue hanya menghormati tuan Rangga saja sebagai tamu di sini!” walaupun
hanya singkat dan sederhana tapi kata itu begitu mengena di hati Rangga, benar
apa yang di katakan dokter Frans, jika ada suami istri dan satu orang lagi,
itu berarti hanya tamu yang tidak bisa menetap di situ, itu sebuah pukulan
keras dari dokter Frans yang langsung mengena dalam hati, wajah dingin Rangga
seketika berubah jadi masam oleh kata-kata dokter Frans.
“Iya …, anda benar dokter Frans! Saya hanya ingin memastikan jika Fe baik-baik saja,
bagaimana keadaanmu Fe?”
“Gue baik, Ga! Lo nggak usah khawatir!”
“Iya …, anda tidak usah khawatir tuan Rangga, istri saya akan selalu baik-baik saja
selama ada saya, saya akan menjaganya dengan sangat baik!” lagi-lagi dokter
Frans berbicara dengan tenangnya tanpa menunjukkan sikap kebencian pada Rangga
tapi malah terasa begitu sakit.
"Oh iya makanannya sudah datang!" dokter Frans segera berdiri saat salah satu anak buahnya membawakan makanan yang sudah di sesuaikan dengan resep dokter gizi untuk Felic.
Dokter Frans segera mengambil makanan itu dan membawanya menuju Felic dan Rangga.
"Mari makan, tapi maaf makanannya harus di sesuaikan dengan kemampuan perut Felic!"
Dokter Frans dengan santainya menata tiga piring di atas meja dan menuangkan makanan-makanan itu.
"Fe ...., biar aku suapi ya!" dokter Frans sengaja memanfaatkan moment itu untuk membuat Rangga menyerah.
Rangga hanya diam mengamati mereka, dokter Frans begitu luwesnya menyuapi Felic.
Hingga makan siang pun selesai, Rangga harus segera kembali ke kantornya.
“Kalau gitu, aku pergi ya Fe. Semoga cepet sembuh!”
“Terimakasih ya atas kunjungannya!”
Rangga hanya tersenyum, tapi senyum itu terasa hambar. Ia memilih berdiri dan
__ADS_1
meninggalkan Felic dan dokter Frans.
“Fe .., gue anter Rangga dulu!”
“Iya …!”
Setelah mendapat persetujuan dari felic, dokter Frans pun segera menyusul Rangga. Ia
berjalan mensejajari langkah Rangga. Rangga yang menyadari kedatangan dokter
Frans hanya mengerutkan keningnya.
“Saya akan mengantar anda!”
“tidak perlu!”
“Saya akan mengantar sampai depan!” akhirnya Rangga menyerah, ia tidak mau terus
berdebat dengan pria di sampingnya itu, entah kenapa setiap kali kata-kata yang
keluar dari bibirnya selalu saja bisa di patahkan oleh pria di sampingnya. Dari
pada hatinya semakin kesal, Rangga memilih untuk diam.
“terimakasih sudah mengantar!” ucap Rangga saat mereka sampai di depan rumah sakit.
“Sama-sama!”
Rangga melangkahkan kakinya kembali meninggalkan dokter Frans yang masih berdiri di tempatnya, tapi terlihat ada keraguan di langkah kaki Rangga, belum sampai lima
langkah, Rangga kembali membalik tubuhnya menghadap dokter Frans, mereka saling
bertatapan dengan kedua tangan yang tersaku di celana.
“Jika tidak kau ijinkan untuk bisa mendapatkan Felic lagi, bolehkan kami tetap
berteman?” pertanyaan pertama yang di lontarkan oleh Rangga. Bukan karena
Rangga kehilangan cintanya, tapi sikap dokter Frans membuatnya merasa kecil.
posesif yang akan melarang istri saya bergaul dengan siapapun!”
“Terimakasih!”
***
Setelah Rangga menghilang di balik keramaian, dokter Frans berencana untuk kembali ke
kamar Felic, tapi saat membalik badannya ia melihat pria sultan itu datang
mengunjungi rumah sakitnya lengkap dengan malaikat kecilnya yang sering kali
membuatnya kualahan.
“hahhhh …., datang di waktu yang kurang tepat!” gumam dokter Frans.
“Itu paman dokter ….!” Teriak Sanaya saat menyadari keberadaan dokter Frans yang
berdiri tidak jauh dari tempatnya. Dokter Frans hanya tersenyum masam.
“Paman dokter ,….!” Dengan langkah kecilnya Sanaya menghampiri dokter Frans. Dokter
Frans segera berjongkok untuk menyambut pelukan Sanaya dengan merentangkan
tangannya.
“Apa yang paman lakukan?’ tanya sanaya saat berhenti tepat satu langkah di depan
dokter Frans.
“Ucle akan memelukmu dnegan penuh cinta!”
“isttt …., isttt …., isttt ….!” Sanaya malah menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
“Ada apa? Apa Uncle dokter salah lagi?” entah kenapa firasatnya selalu benar, di
depan anak-anak kecil inilah semua yang dia lakukan tidak pernah benar.
“Nay cewek paman, kata papi Nay nggak boleh di peluk sembarang pria, itu berarti
paman dokter juga termasuk!”
“Astaga …!” dokter Frans hanya bisa menepuk keningnya, ia menjatuhkan tubuhnya ke
tanah. “sungguh papimu keterlaluan …!”
“Paman tidak pa pa?” tanya Sanaya khawatir saat melihat dokter Frans begitu kacau.
“jangan panggil paman, panggil Uncle, itu lebih keren!” protes dokter Frans dan sanaya
hanya memicingkan matanya.
Agra dan ara segera mendekat, “Frans …, lo kenapa?” tanya Agra melihat wajah kacau
dokter Frans.
“Tanyakan pada putrimu ini, kenapa dia selalu saja membuat gue kehilangan kepintaran!”
keluh dokter Frans sambil berdiri dan membersihkan celananya yang kotor
terkena debu.
Agra menertawakan ucapan dokter Frans, “Itu berarti putri gue lebih bijak dari lo, jadi mulai sekarang jangan membanggakan kebijakan lo lagi!”
Dokter Frans lebih memilih mengabaikan ucapan Agra, ia beralih menatap Ara yang sedari tadi tersenyum menyaksikan kekonyolan sahabat suaminya itu.
“Apa kabarmu kakak ipar? Lama kita tidak bertemu!” sapa dokter Frans dengan
mengulurkan tangannya, tapi segera di tepis oleh Agra.dengan tatapan tajamnya.
“Itss …., posesif sekali kau ini!”
Mereka tidak menyadari jika Agra junior tidak berada di antara mereka, ternyata pria
kecil itu sedang kesal karena banyak ibu-ibu yang sibuk mengagumi ketampanannya
dengan meminta foto bersama, Sagara sudah mirip seperti selebritis.
“Kenapa kalian ke sini?’ tanya dokter Frans, tidak biasanya sahabatnya itu akan
membawa serta semua keluarganya ketika berkunjung ke rumah sakit.
“Jangan di kira kita tidak tahu jika istri lo sedang di rawat di rumah sakit!” walaupun
tidak saling sapa untuk beberapa hari terakhir, tapi pengawasan atas seluruh
anggota keluarga FinityGroup tidak pernah lepas dari penjagaan, karena bukan
tidak mungkin jika lengah para musuh finityGroup akan memanfaatkannya.
Dokter Frans yang menyukai kebebasan tidak begitu suka kehidupannya terlalu di awasi,
kerap kali ia protes pada ibu angkatnya, tapi rasanya tidak ada gunanya.
Dokter Frans pun segera mengajak Agra dan keluarganya menuju ke ruang perawatan Felic,
Sagara juga sudah terbebas dari ibu-ibu pengagumnya. Hanya ibu-ibulah yang bisa
mengalahkan pengawasan ketat terhadap putra sultan itu.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
__ADS_1
Happy Reading 🥰😘😘