Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku
Season 2 (35. Siapa tuan Seno?)


__ADS_3

Hari ini dengan seijin Rangga akhirnya Zea boleh bekerja. Wajahnya begitu sumringah, bukan karena hari ini bekerja tapi karena peniti yang menempel di kemejanya.


Sesekali ia memandangi peniti itu, terlihat begitu cantik.


"Siang mbak Zea!" sapa seseorang membuyarkan lamunannya. Ia sampai tidak sadar jika ada pelanggan yang masuk.


"Selamat siang, selamat datang!" seorang pelanggan minimarket yang Zea ketahui rumahnya berada di seberang minimarket itu sudah berdiri di depan meja kasir.


"Seneng banget mbak, dapat lotre ya?" gadis itu tersenyum ramah padanya.


"Ya, begitulah!" Zea membalas dengan senyuman juga, "Mau di bantu?"


"Nggak usah mbak, ibu cuma minta beliin tepung!"


"Ohhh!"


"Ya udah, aku ke sana dulu ya mbak!"


Zea hanya mengangguk dan gadis itu pun berlalu, ibunya adalah penjual gorengan langganan Zea.


"Ini saja?" tanya Zea lagi saat gadis itu kembali hanya dengan membawa dua bungkus tepung ukuran setengah kilogram.


"Iya mbak, ibu cuma minta itu. Mau ambil jajan, ntar ibu ngamuk!" gadis itu bicara sambil tertawa membayangkan bagaimana ibunya jika marah. Sapu pasti sudah menyambutnya di depan pintu.


"Semuanya dua belas ribu!"


Gadis itu pun memberikan uang pas, sepertinya ibu gadis itu sengaja memberi uang pas agar tidak jajan.


"Uangnya pas ya!"


"Begini nih ibu, selalu aja nggak ada jatah jajan!"


Zea hanya tersenyum mendengarkan gerutu gadis itu sambil keluar minimarket. Gadis yang masih berusia enam belas tahun itu terpaksa tidak melanjutkan sekolah dan memilih membantu ibunya berjualan gorengan karena masih harus menyekolahkan adiknya yang masih di bangku SD, sedangkan sang ayah sudah lama pergi dan tidak ada kabar beritanya.


Melihat beberapa kehidupan di sekitarnya, Zea selalu berusaha untuk bersyukur. Walaupun selama ini ia tidak pernah bertemu dengan orang tuanya, setidaknya di panti ia mendapatkan kehidupan yang layak. Walaupun ia hanya bisa sekolah sampai SMA saja, sudah lebih dari cukup dari pada anak-anak di luaran sana yang tinggal dengan orang tua kandungnya tapi hidupnya tidak begitu tertata.


Zea selalu berfikir, mungkin orang tuanya sengaja meletakkan dirinya di panti asuhan karena memang orang tuanya bukan orang yang mampu untuk membesarkannya.


...***...

__ADS_1


Seorang pria bernama Seno berusia enam puluh tahun dengan setelan jas rapi tampak memeriksa beberapa berkas. Entah sudah berapa banyak berkas yang sudah ia periksa dari begitu banyak panti asuhan yang tersebar di seluruh ibu kota.


Sudah lebih dari dua puluh tahun, pria itu tidak pernah berhenti untuk mencari seorang anak yang lahir dari rahim wanita yang begitu ia cintai dari hubungan terlarangnya di masa lalu.


Flashback on


Tepat dua puluh tahun lalu atau sepuluh tahun setelah mereka berpisah dan memutuskan untuk berjalan dengan kehidupan masing-masing, ia di pertemukan kembali dengan wanita yang di cintainya itu. Namanya Sintya di sebuah rumah sakit besar.


"Sintya!" panggilnya membuat wanita yang tengah duduk di kursi roda itu begitu terkejut. Ingin menghindar tapi ternyata kakinya tidak cukup kuat untuk pergi.


"Mas Seno!?"


Pria itu berdiri tepat di depan kursi roda yang di duduki oleh wanita bernama Sintya itu.


"Apa yang terjadi denganmu?"


"Bukan hal yang serius, ini hanya sakit biasa!"


Pertemuan pertama itu membuat pria bernama Seno itu memilih untuk datang lagi ke rumah sakit beberapa hari kemudian dan mencari wanita yang bernama Sintya.


"Apa anda yang bernama Seno?" seorang dokter malah balik bertanya dengannya.


"Iya, apa telah terjadi sesuatu?"


Seketika perasaannya berubah, dunianya seakan runtuh. Walaupun saat itu dia sudah memiliki keluarga yang utuh tetap saja ia tidak pernah bisa melupakan cinta pertamanya. Wanita yang begitu ia cintai itu. Tapi tetap saja dia seorang laki-laki, pantang baginya menangis di depan dokter.


"Nyonya Sintya menitipkan ini untuk anda!" dokter itu menyerahkan sebuah amplop besar berwarna coklat.


Hingga beberapa bulan pria itu bahkan tidak berani membuka amplop itu atau hanya sekedar menyambangi kuburannya. Hanya lewat di depan pintu masuk pemakaman saja sudah membuatnya begitu sakit. Wanita yang telah bertahun-tahun ia cintai dalam diam, harus menghembuskan nafas terakhirnya karena sebuah penyakit yang menggerogoti tubuhnya. Kanker otak, entah sejak kapan wanita itu merasakan sakit hingga benar-benar menyerah dengan hidupnya.


Barulah suatu malam, di ruang kerja itu dia memberanikan diri untuk membukanya. Ia berharap bisa mengobati rasa rindunya pada wanita yang telah begitu ia cintai.


Ternyata ada sebuah surat di dalamnya.


Mas Seno, mungkin saat mas Seno baca surat ini aku sudah tidak berada di dunia ini. Maafkan aku karena sudah meninggalkanmu sepuluh tahun yang lalu.


Mas Seno pasti sangat kecewa denganku, tapi percayalah semua yang aku lakukan demi mas Seno, aku tidak mau membuatku susah dengan terus mengurusi wanita penyakitan sepertiku.


Ada hal penting yang lebih penting dari hidupku mas, mas maafkan aku karena aku tidak pernah mengatakan hal ini sebelumnya pada mas Seno.

__ADS_1


Hari itu di saat aku memutuskan untuk pergi dari hidup mas Seno selamanya, aku telah membawa buah cinta kita, saat itu aku tengah hamil tiga bulan.


Dunia seakan berhenti dengan berhentinya pria itu membaca surat itu. Sebuah harapan baru seperti muncul dalam hidupnya. Tepat saat ia tahu jika putri yang sekarang hidup bersamanya bukanlah putri kandungnya. Tapi ia tidak pernah menuntut apapun pada istri sah nya saat ini, karena memang kehadiran putrinya sangat mengobati rasa sepi dalam hidupnya.


Pria itu pun kembali untuk melanjutkan membaca, ia penasaran bagaimana dengan darah dagingnya itu.


Saat itu aku tidak tahu harus melakukan apa mas, aku juga tidak mungkin untuk membesarkannya sedangkan aku sendiri dalam keadaan yang begitu lemah. Tapi aku juga tidak mampu menyakitinya.


Di malam yang sama saat ia aku lahirkan ke dunia, aku memilih menitipkan putri kita di salah satu panti asuhan.


Mas, aku minta tolong. Jika mas bersedia, tolong cari putri kita dan pastikan dia hidup dengan baik. Jangan biarkan dia menderita sendiri.


Aku tahu, kamu pasti akan melakukannya, salam sayang dariku, Sintya.


Pria itu melipat kembali surat itu. Sebuah masalah muncul, wanita itu tidak menuliskan di mana ia menitipkan putrinya, di panti asuhan mana.


Ia kembali melihat isi amplop dan ternyata ada sebuah foto, terlihat sekali foto itu sudah sangat lama, bahkan bayi yang berada dalam foto masih terlihat merah, tampak baru beberapa jam di lahirkan.


Flashback off


"Apa sudah ada petunjuk?"


"Sedikit tuan, tapi sepertinya agak sedikit sulit!" seorang pria berdiri tidak jauh darinya dengan menunjukkan beberapa berkas yang lainnya.


"Lalu?"


"Pengurusnya sudah berganti semua dan tinggal beberapa saja yang memang sudah berusia tiga puluh tahun dan mengabdikan hidupnya di sana!"


"Besok antar saya ke sana!"


"Baik tuan!"


(*Siapa ya kira-kira tuan Seno ini? Apa ada hubungannya ya dengan Zea?)


Bersambung*


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya

__ADS_1


IG @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2