Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku
Menemuinya


__ADS_3

Karena kemarin sempat gagal, akhirnya hari ini Felic sengaja datang ke rumah sakit,  dengan alasan mengantarkan makan siang untuk suaminya.


"Bi ....!" sapa Felic saat menghampiri bi Molly yang sedang sibuk mengemas berkas-berkas di ruang kerjanya, bi Molly adalah orang yang bertanggung jawab untuk mengatur gaji seluruh karyawan di rumah itu.


Bi Molly segera menyimpan berkasnya.


"Iya nyonya!" ucap bi Molly dan segera berdiri menghampiri Felic.


"Bantu aku dong bi, aku mau mengirimkan makan siang untuk Frans!"


"Baik nyonya, mari ...!"


Bi Molly pun mengajak Felic menuju ke dapur, hanya makanan sederhana yang Felic bisa lakukan.


Setelah makan siang siap dan di masukkan ke kotak makan, Felic pun segera bersiap-siap.


"Saya pergi dulu ya bi!" ucap Felic sambil mengambil kotak makanannya.


"Iya nyonya ...., hati-hati!"


Ternyata Wilson sudah menunggunya di depan, kali ini Felic tidak perlu kucing-kucingan sama Wilson.


"Kita ke rumah sakit Wil!" ucap Felic sebelum masuk ke dalam mobil.


"Baik nyonya!"


Setelah memastikan nyonya-nya masuk ke dalam mobil, Wilson pun segera berlari mengitari mobilnya dan naik dari pintu lainnya, duduk di balik kemudi.


Mobil pun mulai melaju meninggalkan rumah besar itu.


Hari ini aku harus bertemu sama bu Narti ...., sudah cukup ...., tidak boleh ada yang tertinggal...., batin Felic sambil terus menatap kotak makannya, tujuan utamanya ke rumah sakit adalah untuk menemui bu Narti.


Setelah setengah jam akhirnya sampai juga di depan rumah sakit. Felic pun segera turun sebelum Wilson membukakan pintu mobil untuknya.


"Sekarang kami tinggal pulang nggak pa pa, nanti aku pulangnya sama Frans aja!"


"Baik nyonya ....!"


Wilson pun mengurungkan niatnya untuk mengikuti Felic.


Felic pun langsung menuju ke ruangan suaminya. Ia sudah sangat hafal rumah sakit itu, ia bahkan masih menyimpan luka yang besar saat mengingat kejadian beberapa waktu lalu yang harus terjadi padanya dan kandungannya.


Tok tok tok


Felic mengetuk pintu itu, tapi tanpa menunggu sahutan dari dalam. Ia segera masuk.


“Hai Frans …!” sapanya sambil menunjukkan kepalanya terlebih dulu. Pria berkacamata itu sedang sibuk dengan berkas-berkas di depannya. Melihat kedatangan istrinya, dokter Frans pun segera menutup berkasnya dan tersenyum.


"kamu ke sini?" tanyanya sambil berdiri dan menghampiri Felic. Felic pun segera masuk dan ikut menghampiri suaminya.


Cup


sebuah kecupan mendarat di kening Felic.


"Ada apa?" tanya dokter Frans lagi.


“Iya …, surprise …, aku ngantar makan siang buat kamu!” ucap Felic sambil menunjukkan sebuah kotak makan pada suaminya itu.


"Aku senang sekali ....! Oh iya Fe tunggu sebentar ya aku selesaikan dulu pekerjaanku, nanti kita makan siang bersama!" ucap dokter Frans dan meminta Felic untuk duduk di depan meja kerjanya.


Dokter Frans segera berlari mengitari mejanya. Ia kembali duduk di tempatnya dan membuka kembali berkas itu.


"Cuma sebentar ..., sabar ya!" ucap dokter Frans merasa tidak enak karena telah membuat istrinya menunggu.


Dokter Frans terlihat begitu sibuk. Felic pun tertarik utuk mengintipnya.


Felic pun sedikit mendongakkan kepalanya, mengintip berkas-berkas itu.

__ADS_1


Dalam berkas itu ada beberapa tuntutan untuk beberapa produk kecantikan.


“Itu apaan Frans …?” tanya Felic sambil mengambil beberapa lembar kertas.


Felic mulai membaca berkas itu, dokter Frans tidak berusaha untuk mengambilnya, ia berfikir mungkin istrinya itu tidak akan tahu.


“Ini produknya …!” ucapan Felic tertahan saat membaca beberapa nama produk yang di antaranya adalah produk kecantikan milik Bactiar group, ia juga biasa menggunakannya beberapa, seperti handbody dan pembersih wajah.


“Iya kau benar…, itu milik bactiar Group!” ucap dokter Frans kemudian.


“Kenapa?” tanya Felic penasaran, pasalnya jelas-jelas mereka sebelumnya tidak saling berhubungan, terlihat dari bagaimana sikap nyonya Tania kemarin saat bertemu dengan suaminya itu.


“Beberapa produknya tidak terdaftar dalam BPOM, dan ada beberapa bahan yang penggunaannya melebihi standar kesehatan!” ucap dokter Frans menjelaskan.


"Masak perusahaan sebesar itu bisa melakukan hal itu?!" gumam Felic.


"Lalu bagaimana dengan handbody dan pembersih wajahku?" tanya Felic yang merasa takut.


"Aku sudah menggantinya lama!"


"Sudah menggantinya ...? Lama ...?" tanya Felic yang tidak percaya, dokter Frans pun mengangguk.


Kenapa aku bisa tidak menyadarinya ya ....


"Beberapa hari terakhir aku lihat kamu mulai malas menjaga tubuh dan wajah kamu!" ucap dokter Frans seperti tahu apa yang sedang di pikirkan istrinya itu.


Kok tahu banget sih dia .....


“Lalu ini semua untuk apa?” tanya Felic lagi.


“untuk jaga-jaga!” ucap dokter Frans.


Apa itu berarti Frans mau melancarkan serangan pada Bactiar group, apa dia tidak tahu jika di sana ada mama nya? Frans akan bermusuhan dengan mamanya ...., Felic memang membenci wanita yang menyebabkan kandungannya keguguran tapi ia juga tidak mungkin membiarkan seorang anak memusuhi ibunya.


"Frans …, aku mohon jangan berhubungan lagi dengan mereka, sudah cukup!” ucap Felic agar suaminya itu mau mengurungkan niatnya.


“tapi …!”


“jangan khawatir, semua akan baik-baik saja!" ucap dokter Frans sambil mengambil kembali kertas yang ada di tangan Felic, ia pun mengumpulkan kembali berkas itu dalam satu tempat kemudian berdiri dan menghampiri istrinya.


"Ayo makan siang! aku sudah sangat lapar!" ucap dokter Frans sambil mengajak Felic duduk di sofa, Felic pun mulai membuka kotak makan itu.


"Masak apa hari ini?” tanyanya lagi.


“Bukan aku Frans yang masak!” ucap Felic setelah berhasil membukanya.


"Aku tahu …! Tapi masakan bi Molly memang yang paling enak!”


Felic pun mulai menyuapkan makanan ke mulut suaminya itu dan bergantian ke mulutnya hingga makanan itu habis.


Setelah menyelesaikan makan siangnya, tiba-tiba dokter Sifa masuk ke ruangannya.


"Maaf dokter menggangu!" ucap dokter Sifa yang merasa sungkan.


"Katakanlah ...!"


"Ada pasien yang butuh penanganan, dan dokter yang kosong hanya dokter Frans!"


"Baiklah ...., aku akan ke sana!"


"Baik dok!"


Dokter Sifa pun kembali keluar,


"Aku kerja dulu ya!" ucap dokter Frans setelah meneguk minumannya!"


"Iya!"

__ADS_1


dokter Frans pun terpaksa harus meninggalkan istrinya itu, ia harus menangani pasiennya.


“Aku boleh ya keliling di sini?” tanya Felic saat langkah dokter Frans sudah sampai di ambang pintu.


"kenapa?” tanya dokter Frans yang terlihat tidak rela.


“Cuma pengen liat seluar biasa apa rumah sakit ini!” ucap Felic.


"terserah, tapi aku sudah kembali dalam satu jam, jadi jangan lama-lama!” ucap dokter Frans sambil berlalu meninggalkan ruangan itu. Dengan langkah lebarnya ia menuju ke ruang operasi.


Felic pun tidak mau membuang-buang waktu, hanya satu j dan dia harus menemukan keberadaan bu Narti di tempat seluas ini. Felic pun segera meninggalkan ruang dokter Frans dan menuju ke ruang resepsionis, ia menanyakan pasien atas nama ibu Narti.


“bu Narti di rawat di ruang perawatan kelas tiga, di ruang Bougenville 6!” ucap perawat yang berjaga itu.


“terimakasih ya atas informasinya!”


Felic pun tidak mau berlama-lama, ia segera menuju ke ruangan yang di tunjuk, karena rumah sakit itu terlalu


besar jadi butuh waktu hampir setengah jam hanya untuk menemukan satu ruangan itu.


Ruangan yang di huni lima pasien itu, Felic masih harus mencari pasien yang bernama bu


Narti.


Hingga langkahnya terhenti pada pasien yang sudah cukup berumur, seorang wanita yang terlihat sudah cukup tua. Ia hanya sendirian tanpa ada yang menungguinya.


“Maaf mengganggu istirahat ibu, boleh saya bertanya?!” sapa Felic sebelum ia duduk di sana.


"kamu siapa?” tanya wanita tua itu sambil memperhatikan Felic, ia memang tidak mengenal Felic.


“Kenalkan bu, saya Felicia!" ucap Felic sambil menjabat tangan wanita tua itu.


"Felicia?" tanyanya lagi.


"Iya bu, bu Narti bisa memanggilku Felic saja!”


"apa saya mengenal nak Felic ini?” tanyanya lagi sambil masih mengamati wajah itu, ia berharap Felic salah satu dari anak asuhnya dulu.


"Tidak bu!"


Mendengarkan jawaban Felic, terlihat sekali jika ia begitu kecewa. Harapannya untuk bertemu dengan anak-anak yang pernah ia besarkan sebelum meninggal cukup besar. Bahkan anak-anak kandungnya juga ikut mencarikan untuk sang ibu.


Sakit bu Santi sudah cukup parah di usia tuanya.


"Maaf bu, tapi saya ke sini mau bertanya pada bu Narti tentang panti asuhan kasih Bunda!” ucap Felic, mendengar nama itu mata bu Narti terlihat berbinar, akhirnya ada yang mengingatkannya kembali pada tempat itu.


“Kasih Bunda?” mata wanita itu terlihat berkaca-kaca, ia terlihat sekali berharap jika ada keajaiban.


“Iya bu!” ucap Felic, "Saya ingin menunjukkan sesuatu sama bu Narti, saya berharap bu Narti nanti bisa menjawab pertanyaan saya, karena ini sangat penting!" ucap Felic penuh harap pada wanita tua itu.


"Apa?"


"Sebenar bu, biar saya ambil!"


Felic pun mengambil berkas di tasnya dan menyerahkannya pada bu Narti.


...Hidup adalah rangkaian pelajaran yang harus dijalani untuk dipahami." - Ralph Waldo Emerson...


...Jangan mengeluh karena kita kurang paham dengan apa yang ingin di sampaikan oleh kehidupan, karena kita tidak akan menemukan maknanya nanti~DTIS...


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


tri.ani.5249

__ADS_1


Happy Reading 🥰🥰🥰🥰


__ADS_2