
Saya kira ia hanya bercanda jika ia ingin ikut bekerja di rumah besar itu karena ia sudah punya pekerjaan yang sangat bagus di kantor, tapi ternyata tidak ia sungguh-sungguh dengan ucapannya.
Bima benar-benar melamar menjadi sopir di rumah besar, saya tidak tahu kenapa Bima bisa melakukan hal itu.
Tuan Wijaya akhirnya menerima Bima sebagai sopir, saya tidak tahu jika keputusan itu ternyata membuat hubungannya dengan Tania renggang. Bahkan Tania sempat berfikir untuk pergi dari suaminya dan menitipkan putranya yang masih berusia dua tahun di panti asuhan.
Bima saat itu begitu marah, ia bahkan hampir saja menyusul Tania ke rumah orang tuanya, tapi saya tanu jika putranya bukan bersama Tania tapi di panti asuhan.
Bima pun mengambil kembali putranya, lambat laun saya tahu apa alasan Bima memilih untuk menjadi sopir pribadi tuan Wijaya dari pada jabatannya yang tinggi di kantor.
Semua itu karena hubungan masa lalu antara ayah tuan Wijaya dan ayah Bima, mereka memiliki ayah yang sama. Ibu Bima menitipkan pesan pada putranya sebelum meninggal agar menjaga kakaknya itu sebagai ganti karena telah merebut ayahnya.
Ternyata nyonya Ratih tahu tentang hal itu, saat nyonya Ratih ingin mengatakannya pada tuan Wijaya. Bima pun melarangnya, ia hanya meminta jika suatu saat karena pengorbanannya itu ia harus kehilangan nyawanya, maka ia menitipkan putranya pada nyonya Ratih.
Semenjak saat itu hubunganku dengan Tania terputus, saya tidak tahu lagi kabar tentangnya karena saat itu saya sangat marah melihat bagaimana ia menelantarkan putranya.
Hingga akhirnya tragedi itu membuat nyonya Ratih begitu takut kehilangan putranya, ia memilih menitipkan putranya di tempat yang sama dnegan tempat putra Bima agar nanti jika dewasa mereka bisa dekat layaknya saudara.
Nyonya Ratih memilih putra tuan Salman sebagai ganti putra nya, karena teror itu terus berlanjut meskipun tuan Wijaya sudah tiada. Beruntunglah karena nyonya Ratih punya tuan Salman untuk menjaga putra-putra.
Hingga akhirnya saat tuan Frans dan tuan Agra di jemput dari panti asuhan dan di kirim ke luar negri untuk melanjutkan pendidikannya bersama tuan Rendi juga.
Sepulang dari pendidikan nya, nyonya Ratih memintaku untuk menjaga tuan Frans sampai saat ini.
Flashback off by bi Molly
Mendengarkan cerita dari bi Molly membuat nyonya Tania semakin merasa bersalah, walaupun akhirnya ia tahu apa alasan suaminya memilih mengorbankan hidupnya dan meninggalkan istri dan putranya.
"Maafkan aku Mo ...., saat itu aku begitu bodoh hingga lupa jika cinta suamiku begitu besar padaku!"
"Tidak pa pa nyonya! Saya sudah memaafkan!" ucap bi Molly.
"Jangan memanggilku seperti itu jika kamu tetap menganggap ku sebagai sahabat kamu!" ucap nyonya Tania yang keberatan di panggil nyonya.
"Maaf tapi saya tidak bisa!" ucap bi Molly.
Dokter Frans dan Felic hanya diam mendengarkan cerita dari bi Molly, setelah sekian lama mereka mencari kebenarannya ternyata bi Molly malah lebih tahu dari siapapun.
Sudah lebih dari tiga puluh tahun bi Molly mengabdikan dirinya pada keluarga finityGroup hingga ia melupakan kehidupan pribadinya sendiri. Hingga usianya yang menginjak lima puluh tahun bi Molly masih betah menyendiri.
"Baiklah ...., sekarang waktunya untuk pergi, dan mama akan di antar sopir untuk pulang!" ucap dokter Frans karena mereka sudah harus berpisah, ia masih punya tujuan lain.
"Sopir ....?" tanya nyonya Tania.
"Iya ma .... , akan lebih baik jika mama tinggal di rumah kami, sopir akan mengantar mama ke rumah kami!"
__ADS_1
"Jangan Frans, biar mama tinggal di rumah mama saja, mama sudah terlanjur menikmati kehidupan mama dengan penuh kesederhanaan, jadi biar mama tetap di sana!"
"Baiklah kalau mama berkeras hati, sopir akan mengantarkan mama pulang ke rumah mama!"
"Terimakasih Frans, kalian mau ke mana?"
"Ke suatu tempat, kapan-kapan mama juga pasti Frans ajak ke sana tapi bukan sekarang ma!"
"Baiklah, kalau begitu mama duluan ya!" ucap nyonya Tania saat sopir yang di hubungi dokter Frans sudah menghampiri mereka.
"Hati-hati ma!" ucap Felic sambil melepaskan tangan ibu mertuanya yang sedari tadi terus ia genggam.
"Kalian juga!" ucap nyonya Tania.
Setelah nyonya Tania lebih dulu meninggalkan mereka, kini giliran mereka yang juga segera menuju ke mobil.
Karena sudah terlalu siang mungkin mereka nanti akan sampai di tempat tujuan begitu malam.
Seperti sebelumnya bi Molly duduk di depan bersama sopir sedangkan dokter Frans dan Felic di belakang.
"Tidurlah ...., nanti akan sangat lama!" ucap dokter Frans sambil menepuk dadanya agar Felic bersandar di dadanya.
Felic pun tersenyum dan bersandar di dada suaminya.
"Frans ....!" ucap Felic sambil mendongakkan kepalanya agar bisa menggapai wajah suaminya itu.
"Hemmm?" tanya dokter Frans sambil mengecup kening istrinya.
"Bagaimana perasaanmu saat ini?" tanya Felic.
"Setelah semua kesedihan di masa lalu, hari ini aku dapat pelajaran satu hal, bahwa semua yang jahat, semua yang buruk akan indah jika kita memandangnya dari sudut pandang yang berbeda, aku lega ...!"
"Ada satu lagi Frans!"
"Apa?"
"Saat kamu memaafkan, maka kamu akan mendapatkan kedamaian yang sama seperti orang yang kesalahannya telah kau maafkan!"
Cup
Dokter Frans kembali mencium kening istrinya itu, ia membenarkan apa yang di katakan oleh istrinya, memaafkan memang membuat dirinya lebih tenang, kebencian itu tiba-tiba saja hilang dari dalam hatinya.
...***...
Di tempat lain Wilson tampak begitu kesal karena ia sudah menunggu di depan toko selama satu jam seperti orang bodoh.
__ADS_1
Ia pun memutuskan untuk masuk lebih dulu dan memilih-milih barang. Ia menuju ke tempat wallpaper dan berapa vintage.
Saat ia sedang memilih vintage yang cocok untuk ruang kerjanya, di sebelahnya terlihat Vintage yang agak besar itu tiba-tiba saja menggantung dan seperti akan terjatuh.
Wilson masih bersikap cuek tapi saat melihat ada seorang gadis yang berdiri tepat di bawahnya, Wilson menjadi tidak fokus, ia terus menatap vintage itu berharap tidak terjatuh dan menjatuhi gadis itu.
Tapi ternyata yang ia pikirkan benar-benar akan terjadi, saat gadis itu mengambil barang yang ada di rak di bawahnya membuat rak itu bergerak sedikit dan vintage itu melesat.
"Awas ....!" Teriak Wilson, ia segera berlari menghampiri gadis itu, Wilson datang di waktu yang tepat.
Wilson segera menarik tubuh gadis itu ke dalam pelukannya dan mengorbankan tangannya untuk menangkis vintage itu agar tidak mengenai mereka.
Brakkkkkk
Seketika mereka jadi pusat perhatian seluruh pengunjung, begitu pun dengan para karyawan toko.
Gadis yang berada dalam dekapan Wilson itu segera membuka matanya saat tidak merasakan sakit pada tubuhnya.
Tapi saat membuka mata ia begitu terkejut melihat darah yang mengalir dari kening pria yang telah mendekap tubuhnya.
Ternyata prediksi Wilson meleset, ia kira vintage itu akan jatuh tepat mengenai tangannya ternyata tidak, vintage itu jatuh mengenai keningnya dan sikunya menggores keningnya.
"Berdarah ....!" ucap gadis itu membuat Wilson terkejut, ia balik menatap gadis itu tapi ia tidak melihat darah dan mengamati tangannya juga tidak ada darah.
"Mana?" tanya Wilson sambil melepaskan pelukannya.
"Itu di kening kamu ....!" ucap gadis itu sambil menunjuk kening Wilson yang berdarah.
"Maaf kak atas ketidak nyamanan ini!" ucap karyawan toko yang merasa tidak enak dengan mereka.
"Tidak pa pa!" ucap Wilson sambil memegang keningnya yang berdarah itu.
"Biar aku obati dulu ya keningnya, biar darahnya nggak terus merembes!" ucap gadis itu dan Wilson hanya menganggukkan kepalanya.
Bersambung
...Memaafkan akan lebih baik dari pada memendam kebencian...
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰
__ADS_1