Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku
Jangan sakiti Istriku!


__ADS_3

Mendengar jeritan Tisya, Wilson dengan kepala beratnya mencoba membuka matanya. Ia melihat pria itu mencambuk tubuh Tisya hingga beberapa kali.


"Hentikan!" teriaknya dengan sisa kekuatannya.


Pria bernama Gerry itu menoleh kepada suami Tisya itu, ia tersenyum smirtt.


"Akhirnya bangun juga


....!" pria itu beralih pada Wilson. Ia tidak begitu mengenal pria yang iya tangkap itu. Sepertinya ia juga tidak mencari informasi dari anak buahnya.


Gerry menarik dagu Wilson hingga membuat kepalanya mendongak, ia terus tersenyum.


"Senangnya bertemu dengan mu, kamu putra Bima?"


Pria ini tidak mengenal tuan dokter? Atau dia mengenal tapi tidak pernah melihat wajahnya?


Wilson tetap memilih diam, ia berpikir jika memang pria di depannya ini tidak tahu tentang dokter Frans, mungkin memang sasaran utamanya dokter Frans dan Tisya. Tadi sama-sama ia sempat mendengar tentang kakek Tisya, berarti jika benar pria di depannya ingin mengalihkan surat wasiat itu menjadi atas namanya.


Wilson juga sudah tahu dari nyonya Tania jika kakek Tisya ingin mengalihkan semua property nya atas nama Dokter Frans dan Tisya.


Dia pasti salah sasaran ...., batin Wilson.


"Kamu memang cukup tampan, mapan, sudah punya rumah sakit besar! Jangan serakah lah ...., kamu bisa memberikan semuanya milik kakekmu padaku dan aku janji akan menjaganya ....!"


"Baiklah ...., saya akan menyerahkannya, tapi ada syaratnya!" ucap Wilson.


"Saya suka yang seperti ini!" pria itu tersenyum puas dan melepaskan dagu Wilson kasar hingga membuat kepala Wilson terhempas ke belakang.


Ia seperti mendapat dua harta karus sekaligus, memang sebelumnya dia meminta anak buahnya untuk menangkap dokter Frans juga, tapi ia tidak tahu jika anak buahnya belum melaksanakan perintah yang ke dua.


Gerry kembali duduk dan melipat kakinya di atas kaki yang lain, mengambil cerutunya dan anak buah yang siap di belakangnya menyalakan korek api.


Asap mulai mengepul dari bibirnya saat pria itu menghembuskannya.


"Apa yang kamu mau?"


"Lepaskan Tisya dan saya akan menandatangani surat itu!"


"Bukan hal yang sulit!"


Tisya terlihat hendak bicara tapi Wilson segera memberi kode agar Tisya tetap diam.


Bagaimana bisa dia mengaku sebagai kak Frans ...., kalau om Gerry sampai tahu bagaimana? Tisya terlihat khawatir, apalagi mereka belum tahu apakah pertolongan akan segera datang. Salah satu orang-orang yang menangkap mereka ada yang tahu kalau Wilson adalah suaminya. Tapi sepertinya pria yang tahu itu sedang menunggu di luar jadi tidak tahu apa yang si lakukan oleh bosnya di dalam.


"Apa mau mu?" tanyanya dengan menjauhkan cerutunya, mengapitnya di jari-jari tangan agar tetap mengepul.


"Lepaskan Tisya, kamu tahu kan tujuh puluh persen nya adalah milik saya!? Jadi tidak perlu dua puluh lima persen itu dan aku akan menandatanganinya!" ucap Wilson sok tahu, atau memang dia sudah tahu.


Dia benar-benar cari mati ...., memang iya ada pembagian seperti itu ...., Tisya sesekali mengerutkan keningnya setiap Wilson bicara sok tahu sambil menahan rasa perih di tubuhnya.


"Dua puluh lima persen adalah nilai yang cukup besar!" ucap pria itu penuh pertimbangan.

__ADS_1


"Tapi tujuh puluh lima persen jauh lebih besar, jika kamu mempertahankan dua puluh lima persen itu dan memilih mengabaikan yang besar bukankah itu rugi, akan sangat rugi ...., saya memberi kesempatan bukan kesepakatan karena bisa jadi satu jam, setengah jam, seperempat jam atau lima menit lagi mereka datang dan menyelamatkan kami dan kamu tidak akan pernah punya kesempatan untuk mendapatkannya, semuanya, tidak dua lima atau tujuh lima persen!"


Kenapa Wilson pinter banget ngomongnya ...., nggak kepikiran gue ...., Kali ini Tisya tersenyum tipis.


"Baiklah!" pria itu kembali berdiri, mengambil satu map lagi dan meletakkannya tepat di depan Wilson.


"Lepaskan tangannya!" perintahnya pada salah satu anak buahnya.


"Baik bos!"


Salah satu pria berjas hitam itu melepaskan tangan Wilson dari tali yang mengikatnya. Kakinya masih terikat jadi cukup sulit untuk melawan.


"Ayo tanda tangan!"


"Lepaskan dulu Tisya dan saya akan tanda tangan!"


"Lepaskan dia!"


"Baik bos!"


Salah satu anak buah lainnya melepaskan tali pengikat Tisya, bukan hanya tangannya tapi kaki nya juga.


"Sudah kan? Ayo tanda tangan!"


"Saya harus memastikan dia keluar dari sini dengan selamat!"


"Antar dia keluar!" perintahnya lagi.


"Kita tidak punya banyak waktu, cepat!"


"Baik bos!"


Anak buah itu membawa Tisya keluar dari ruangan itu melewati beberapa preman lainnya. Yang tadi bertugas menangkap Tisya pun menghentikan mereka.


"Mau di bawa ke mana wanita ini?"


"Bos meminta melepaskan dia!"


Wah gawat nihh, dia tahu kalau Wilson bukan kak Frans ...., Tisya mulai was-was. Ia berharap orang yang membawanya keluar tidak akan mengatakan sesuatu.


"Kenapa?"


"Pria yang di dalam katanya lebih berharga!"


Pria itu terlihat mengerutkan keningnya, ia sampai meletakkan botol minum di tangannya dan turun dari tempatnya duduk.


"Tunggu, biar aku tanyakan dulu sama bos!"


Pria itu berjalan masuk ke dalam, Wilson sudah hampir menandatangani berkas-berkas itu.


"Tunggu!"

__ADS_1


Garry menoleh, ia merasa kesal karena di ganggu lagi, "Ada apa?"


"Kenapa bos melepaskan wanita itu, bukankah dia yang bos cari?"


"Tapi dia lebih berharga, dia yang punya tujuh lima persennya!"


"Bos ...., dia itu suami wanita itu bukan kakaknya!"


Seketika Garry melotot marah, ia menatap Wilson dengan penuh amarah.


"Bawa dia kembali!" ucapnya.


"Jangan sakiti istriku!" teriak Wilson, sebelum pria itu kembali keluar.


"Hehhh ..., bisa-bisanya aku di bohongi sama anak kemarin sore ....!" gumamnya sambil menarik dagu Wilson dan kembali menghempaskannya.


Pria tadi kembali keluar dan teriak pada pria yang membawa Tisya agar berhenti.


"Tangkap dia lagi!"


Kami ketahuan ....., Tisya berusaha kabur dengan menginjak kaki pria yang akan menarik tangannya kembali ke dalam.


"Aughhh sial ...!"


Tisya memanfaatkannya untuk kabur,


"Ayo kejar!"


Lima orang pria dengan tubuh besar itu segera mengejar Tisya. Dengan susah payah Tisya berlari dengan sisa kekuatannya, untung ada beberapa benda yang ada di dalam gudang itu yang bisa ia gunakan untuk menghadang langkah mereka seperti drum drum kosong dan beberapa kardus besar ia lemparkan ke tengah.


Saat sampai di depan pintu masuk, senyum Tisya merekah saat melihat seseorang yang ia kenal. Ia menghentikan langkahnya.


"Kak Frans!"


Tapi ia lupa jika di belakangnya ada orang-orang yang sedang mengejarnya.


"Tisya awas!" teriak dokter Frans.


Bukkkkk


Sebuah pukulan mendarat di tubuh Tisya hingga membuatnya tumbang.


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


IG @tri.ani5249


Happy Reading 🥰🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2