
Pagi ini di rumah yang menjadi tempat tinggal Tisya dan Wilson tampak begitu ramai,
apalagi Tisya begitu heboh dengan kebaya pernikahannya itu.
“Bagaimana ma, apa Tisya terlihat cantik?” orang yang di panggil Ma itu terus saja menatap putrinya dengan senyum yang mengembang dan menganggukkan kepalanya.
“Putri mama memang selalu cantik!” ucap nya sambil menakup kedua pipi putrinya itu.
Ceklek
Seseorang membuka pintu dari luar, seorang wanita muda yang sedang hamil delapan bulan
itu muncul dari balik pintu.
“Ma …, Tisya …, lima belas menit lagi penghulunya datang!” ucapnya yang tidak mampu
menahan untuk ikut masuk ke dalam kamar itu.
“Tisya cantik sekali!” pujinya sambil menatap betapa cantik adik iparnya itu.
“Kak Fe juga cantik dengan gaun itu, kak Frans pasti sudah membuat kak Fe repot tadi
pagi!” ucap Tisya yang memuji kakak iparnya itu.
Wajah Felic tiba-tiba saja memerah karena malu mendengar ucapan Tisya, “Kamu kok bisa tahu sihhh!?”
“Emmmmm, aku tahu semua tentang dia!” Tisya menyombongkan diri.
“Kamu ini sok tahu banget sih, jangan menggoda kakak kamu, nanti praktekan sendiri saja sama suami kamu!” nyonya Tania membela menantunya itu.
Mereka sengaja mengadakan pernikahan di rumah saja karena permintaan kedua mempelai,
mereka mau pernikahan mereka sederhana saja, hanya ada keluarga inti dan beberapa saksi saja. Karena begitu sederhananya tamunya tidak sampai dua puluh
orang.
Di ruang lainnya, pria yang akan menikah itu sudah siap di depan dengan penampilan yang begitu rapi. Ia lengkap dengan kemeja putih, toxedo dan juga jas warna
silver senada dengan celana panjangnya. Peci melekat di kepalanya melengkapi
penampilannya.
Ia sudah berdiri bersama dengan dokter tampan itu, penampilan mereka hampir
senada. Warna silver sepertinya menjadi dresscort pernikahan itu.
“Kenapa Fe juga tidak kembali, bukankah aku hanya memintanya untuk memanggil mama sama Tisya, kenapa jadi tidak ikut keluar!” gumam dokter Frans tapi masih bisa di
dengar oleh Wilson.
“Apa perlu saya panggilkan tuan?”
“Tidak perlu, hari ini kamu jadi rajanya jadi jangan melayaniku lagi hari ini, lakukan
itu besok-besok!”
Wilson terus membenarkan jasnya, wajahnya terlihat begitu cemas sekaligus gugup. Ini pernikahan pertamanya. Ia bahkan harus melafalkan ijab qabul semalaman agar tidak sampai lupa.
“tuan!” seseorang datang menghampiri mereka.
“Iya, ada apa?”
“Pak penghulunya sudah datang!”
Dokter Frans menatap Wilson dan tersenyum, “sudah datang ya?” Wilson bertambah cemas
saja.
“baiklah aku akan menyambutnya!” ucap dokter Frans.
“Saya permisi ke kamar mandi dulu tuan!”
“Iya …, tapi jangan lama-lama!”
“Iya tuan!”
__ADS_1
Wilson memilih kembali ke kamarnya, ia terus mondar-mandir di dalam kamar. Beberapa kali
ia terlihat mengatur nafasnya.
“Aduhhhh bagaimana ini? Apa bisa aku? Ahhhhh …!”
Wilson sampai harus meloncat-loncat agar rasa gugupnya sedikit menghilang. “Bismillah, aku pasti bisa!”
Hehhhhhh
Setelah menghela nafasnya panjang, Wilson pun kembali merapikan penampilannya. Ia membuka kembali pintunya dan menghampiri penghulu yang sudah duduk bersama dokter Frans di altar pernikahan.
Ruang tamu dan ruang keluarga yang saling terhubung itu kini sudah di ubah menjadi
altar pernikahan yang di penuhi dengan hiasan bunga dan pernak-pernik pernikahan. Ada tulisan yang terpajang di dinding happy Wedding Wilson and
Tisya dengan warna emas itu dengan lampu di belakangnya.
“Itu pengantinnya pak!” ucap dokter Frans saat melihat Wilson sudah menghampiri
mereka.
“Silahkan duduk nak Wilson!” ucap pak penghulu.
Kenapa jantungku jadi seperti ini ya ….
“Mana pengantin perempuannya?” tanya pak penghulu.
“Masih di panggil pak!” dokter Frans memberi jeda pada ucapannya, saat tiga wanita berjalan beriringan dnegan calon pengantin perempuannya di tengah. Tiga wanita cantik itu keluar dari dalam kamarnya.
“Itu mereka!”
Dengan spontan Wilson pun ikut menoleh ke arah pandangan dokter Frans, matanya
langsung tertuju pada wanita yang berada di tengah itu,
cantik …..
rambut yang di sanggul.
Kenapa dia menatapku seperti itu, apa penampilanku aneh banget …? Batin Tisya yang salah
tingkah sendiri karena di tatap Wilson sampai segitunya.
Kini Tisya sudah berada di samping Wilson, tapi Wilson tetap saja tidak bisa beralih
menatap wanita yang beberapa menit lagi akan resmi menjadi istrinya itu.
“Bisa kita mulai sekarang?”
Pertanyaan dari pak penghulu seketika menyadarkan Wilson, ia pun segera mengalihkan
pandangannya pada pak penghulu.
“Iya!”
Kali ini dokter Frans hanya mengundang beberapa teman dekat Wilson yang juga bekerja
di rumah dokter Frans, paman Ricard, bi Molly sebagai coordinator konsumsi,
beberapa pelayan yang di bawa dari rumah dokter Frans, nyonya Tania dan beberapa tetangga dan tokoh masyarakat di tempat tinggal mereka. dokter Frans
bahkan tidak mengundang sahabatnya karena menurutnya memang acara ini adalah
privasi Wilson, ia memberi kebebasan pada Wilson untuk mengundang siapa saja.
Setelah semua undangan dan para saksi duduk, mc mulai membacakan basmallah dan diikuti dengan doa agar proses pernikahan berjalan lancar, setelah pembukaan dan
pembacaan ayat suci al-Qur’an. Pak penghulu pun memulainya dengan mengucap basmallah, memberi khutbah singkat tentang pernikahan pada mempelai.
Kemudian beralih ke acara inti yaitu pembacaan ijab qabul, penghulu meminta dokter Frans
untuk menjabat tangan Wilson.
__ADS_1
Nyonya Tania segera meletakkan kerudung panjang pada Wilson dan Tisya, memeluk mereka
dan kembali mundur, duduk di samping Felic. Sedangkan dokter Frans yang memang
ingin menikahkan adiknya, ia tidak mau menggunakan wali hakim.
“Kita mulai sekarang ya nak Wilson? Sudah siap?” tanya pak Penghulu.
“Siap!”ucap Wilson dengan begitu tegasnya.
Aku tidak peduli apapun alasan pernikahan ini, tapi aku berjanji akan melakukan yang terbaik dalam pernikahanku dengannya
…
“Bismillahi rahmani rahim,
silahkan lafal kan ijabnya dokter Frans!”
Dokter Frans menggenggam erat tangan Wilson, seperti memberi isyarat jika ia akan
menitipkan adik perempuannya itu pada pria di depannya itu.
“Dengan mengucap bismillahirrahmanirrahim Saya nikahkan dan kawinkan engkau saudara Wilson Ferdian bin Ferdianto dengan adik saya yang bernama Tisya Bianca binti
Bima Aditya dengan maskawin uang tunai sebesar sepuluh juta, tunai!”
Dengan cepat Wilson menyahut ucapan dokter Frans dengan hanya satu kali tarikan nafas.
Tisya yang berada di sampingnya hanya bisa terus menundukkan kepalanya, ia
tidak menyangka jika pernikahan ini terasa begitu nyata, bahkan hatinya begitu
bergetar saat mendengarkan Wilson mengucapkan ijab qabul.
“Saya terima nikah dan kawinnya Tisya Bianca binti Bima Aditya dengan maskawin tersebut
tunai!”
Tisya sudah melepas nama keluarga lamanya, ia sudah tidak mau terikat kembali dengan
nama Bactiar di belakang namanya. Ia memilih nama barunya untuk catatan
pernikahannya tanpa Bactiar.
“Bagaimana saksi, sah?” tanya pak penghulu pada semua yang hadir di tempat itu.
“Sah!”
“Sah!”
“Sah!”
Dengan cepat Wilson mengatupkan kedua tangannya dan mengusapkannya ke wajahnya dengan
penuh syukur. Semua yang hadir mengucapkan kata sah bersamaan.
Aku tahu kalian nanti pasti akan
jadi pasangan yang bahagia …, batin dokter Frans yang
juga tak mampu menyembunyikan rasa harunya.
Maaf ya undangannya terlambat
Bersambung
...Hubungan yang paling istimewa adalah hubungan yang langsung di saksikan oleh sang maha pencipta, hubungan yang perjanjian melibatkan-Nya...
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
IG @tri.ani.5249
__ADS_1
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰