Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku
Membangunkan Juniorku


__ADS_3

Jakarta, 14.00 wib


Mobil dokter Frans akhirnya sampai juga di depan rumah yang sudah satu minggu lebih ini di tinggalkan.


Dokter Frans masih terlihat diam di tempatnya karena Felic tertidur di pangkuannya, sedangkan di luar sedang hujan.


"Biar saya ambilkan payung tuan!" ucap Bi Molly yang akan turun.


"Saya di dalam saja dulu bi, kasihan kalau Fe di bangunin!" ucap dokter Frans yang terlihat mulai menahan kesemutan.


"Baiklah tuan!"


Bi Molly dan paman Richard pun turun lebih dulu, mereka terlihat resah meninggalkan dokter Frans dan Felic di dalam mobil.


Bi Molly mengambilkan sebuah payung dari dalam dan paman Richard segera memasukkannya di dalam mobil.


"Ini tuan payungnya!" ucap paman Ricard sambil meletakkan payungnya di kursi depan mobil.


"Terimakasih paman! Kalian boleh pergi!" ucap dokter Frans, paman Richard sudah faham dengan apa yang di katakan oleh dokter Frans, itu artinya dokter Frans sedang ingin berdua saja dengan istrinya.


"Baik tuan!"


Paman Richard pun menghampiri semua orang yang ada di teras rumah, ia seperti sedang bicara sesuatu dan mereka meninggalkan dokter Frans dan istri nya di dalam mobil, bahkan penjaga di depan pun menutup semua pintunya.


Dokter Frans kembali menatap istrinya yang begitu tenang tertidur pulas di pangkuannya. Ia sengaja meminta istrinya untuk naik ke atas pangkuannya agar istrinya lebih nyaman saat tidur.


Tangan dan kakinya sebenarnya sudah sangat kebas, tapi ia tidak membiarkan istrinya terbangun.


Tampak sekali jika wajahnya menahan sakit, sudah hampir dua jam istrinya di posisi ini, apalagi saat ini bobot tubuh istrinya sudah naik sekitar sepuluh kilo. ***** makan istrinya semakin naik saat hamil.


Dia kenapa tidak bangun-bangun ....., pasti sangat nyaman ya tidur di posisi ini ...., dekat dengan suamimu ....., batin dokter Frans.


Bukannya bangun, Felic malah semakin menyusupkan wajahnya ke ceruk leher suaminya, tangannya semakin erat mengalung ke leher dokter Frans.


"Ahhhh kenapa pakek gerak gerak sih ...., kan bisa bangunin si junior kalau kayak gini!" gumam dokter Frans saat Felic menggerakkan tubuhnya, sedikit menggeliat di atas pangkuan suaminya apalagi saat nafas Felic menyapu leher dokter Frans.


"Tuhhh kan ...., iya kan dia bangun!" gumam dokter Frans lagi saat merasakan juniornya sudah berdiri tegak siap tempur, tapi Felic malah semakin nyenyak tidurnya.


Udara dingin di luar karena hujan deras membuat tidur Felic semakin nyenyak saja.


Dokter Frans bukan merasa dingin tapi tubuhnya malah berasa panas, bibirnya sudah gemas ingin ******* bibir yang ada di bawah bibirnya.


Cup


Dokter Frans benar-benar menempelkan bibirnya dia atas bibir Felic dan beberapa kali mengecapnya, Felic bukannya bangun malah mengeluarkan suara lenguhan yang membuat naluri dokter Frans semakin besar saja.


Dokter Frans pun mulai mel*mat bibir Felic, memberi sedikit gigitan hingga membuat Felic membuka bibirnya, dokter Frans pun mulai mengabsen setiap inci mulut Felic dengan lidahnya.

__ADS_1


Tangan dokter Frans bermain di squisy milik Felic membuat Felic terbangun, ia sudah mendapati kancing dress nya terbuka hingga menampakkan dua gundukan itu muncul keluar.


"Frans ....!" ucap Felic dengan desahannya.


Dokter Frans tidak mempedulikan panggilan Felic, mengabsen setiap inci leher dan dada Felic dengan bibirnya hingga Felic beberapa kali mencengkeram kaos dokter Frans.


"Frans ...., nanti kalau ada yang lihat!" ucap Felic lagi membuat dokter Frans menghentikan kegiatannya, ia mendongakkan kepalanya menatap Felic.


"Tidak ada yang akan liat, aku sudah meminta mereka untuk masuk!" ucap dokter Frans dan benar saja saat ia melihat ke luar tidak ada siapapun di sana, bahkan pintu utama itu sudah tertutup.


Dokter Frans pun kembali melanjutkan kegiatannya, ia segera merebahkan tubuh Felic di dudukan mobil, melepas kaosnya dan kembali menyusupkan bibirnya di setiap inci tubuhnya Felic.


Dokter Frans sudah melepas semua baju Felic, begitupun dengan nya, di dalam mobil itu hanya terdengar suara ******* demi ******* yang menguap dan menghilang bersama derasnya air hujan.


Pergulatan panas di suasana yang dingin itu berlangsung hampir setengah jam, hingga dokter Frans merapikan kembali baju Felic begitupun dnegan dirinya.


"Gimana ....? Mau turun?" tanya dokter Frans.


"Mau ...., tapi nggak mau pakek payung, kita hujan-hujanan ya!" ucap Felic dengan berbinar-binar.


Jarak antara pintu utama dengan mobil masih sekitar lima meter. Mereka masih harus melewati ruang terbuka tanpa penutup atap.


"Jangan nanti sakit!"


"Kalau cuma hujan-hujanan aja nggak bakal bikin aku sakit sayang!"


Dokter Frans segera mengambil payung yang ada di kursi depan dan menyusul istrinya,


"Fe ....., ayo masuk!"


Dokter Frans memayungi Felic tapi dengan cepat Felic merebut payung itu dan membuangnya begitu saja dan menarik tangan nya, mengajaknya untuk ikut main hujan-hujanan.


"Enakan gini sayang!"


Dokter Frans yang awalnya begitu khawatir jadi ikut-ikutan main hujan-hujanan.


Beberapa pelayan berkerumun di jendela saat melihat hal yang tidak biasa itu,


"Ya ampun tuan sama nyonya romantis sekali ya!"


"Iya ....., jadi rindu sama suami!"


"Aku ngiri sama mereka!"


Bi Molly yang melihat anak buahnya sedang berkerumun menghadap jendela jadi begitu penasaran. Ia pun menghampiri mereka.


"Hemmm hemmmm!"

__ADS_1


Hal itu berhasil membuat semua pelayan pun menyingkir semua. Mereka berlalu dan memberi hormat meninggalkan tempat itu.


Bi Molly pun segera melihat apa yang di lihat oleh mereka.


"Tuan sama nyonya ...., ada ada aja ....!" gumam bi Molly sambil tersenyum,


Tapi senyum itu seketika memudar saat melihat betapa derasnya hujan saat ini.


Bi Molly pun segera berlari menuju ke tempat payung, dia mengambil dua buah payung dan menyusul mereka ke bawah air hujan.


"Tuan ...., nyonya ...., sudah ..,, ayo kita masuk!" ucap bi Molly.


"Tapi ini asik bi! Sebentar lagi ya!" ucap dokter Frans.


"Tidak, kalian harus segera berteduh!" ucap bi Molly dengan sangat serius membuat dokter Frans dan Felic terdiam.


"Baik bi!" dokter Frans segera mengambil satu buah payung yang ada di tangan bi Molly dan mulai membukanya, merangkul Felic dan mengajaknya masuk.


"Kenapa bi Molly jadi menyeramkan seperti itu?" tanya Felic lirih pada suaminya itu.


"Bibi memang seram kalau sudah marah!"


Bi Molly masih berdiri di tempatnya menatap dokter Frans dan Felic yang sudah masuk ke dalam rumah melalui pintu samping yang langsung terhubung dengan ruang keluarga.


"Mereka benar-benar seperti anak kecil!" gumam bi Molly lalu ikut masuk ke dalam rumah. Ia segera meletakkan payungnya kembali ke tepatnya tapi dengan membiarkan payung itu terbuka, ia menggantungnya di atas dengan posisi terbalik, begitupun dengan payung yang di pakai oleh dokter Frans dan Felic.


Setelah itu, bi Molly kembali ke dapur, melihat orang-orang yang menyiapkan untuk makan malam.


"Buatkan teh hangat untuk tuan dan nyonya!" ucap bi Molly.


"Baik nyonya!"


"Beri potongan jahe merah!"


"Baik nyonya!"


Bi Molly pun segera menuju ke bilik nya yang berada di rumah belakang dan mengganti bajunya dengan baju yang kering.


Bersambung


...Hal-hal kecil yang telah kita lalui, kebahagiaan yang telah kau berikan di hidupku, seperti warna pelangi di tengah langit yang mendung. Aku membutuhkanmu seperti kau adalah oksigenku...


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


tri.ani.5249

__ADS_1


Happy Reading 🥰🥰🥰🥰🥰


__ADS_2