
"Lima juga satu bulan, cukup kan untuk biaya hidup sehari hari!" ucap Wilson.
Dan Tisya pun mulai berpikir, uang liam juta sekarang sangat berarti buat hidupnya. Ini kesempatan yang bagus tapi ART adalah pekerjaan yang jelas-jelas ia tidak punya pengalaman di dalamnya, walaupun terlihat sepele tapi itu sangat rumit baginya.
Dulu ia bisa menghabiskan lima juta hanya dalam satu jam dan sekarang ia harus mencarinya dalam waktu satu bulan.
"Baiklah aku setuju!" ucap Tisya.
"Ok ...., nanti setelah menyelesaikan tugas dari perusahaan kamu bisa langsung membersihkan rumah ini, hanya membersihkan ingat, jangan memegang kompor atau apapun yang memicu kebakaran!"
"Siap!" ucap Tisya dengan meletakkan tangannya di pelipis seperti memberi hormat.
"Ya udah sana bekerja, jangan ganggu saya, saya juga mau kerja!"
Setelah Tisya meninggalkannya, Wilson pun menepuk dadanya lega bercampur kesal. Seandainya saja itu bukan perintah dokter Frans jelas ia tidak mau berlama-lama dengan Tisya, karena menurutnya berlama-lama dengan Tisya bisa membuat tensi darahnya naik.
Ya tadi saat perjalanan pulang tiba-tiba dokter Frans menelponnya menanyakan tentang Tisya.
Flashback on
Ponselnya berdering tepat saat ia sampai di rumah. Wilson pun segera mengambil ponselnya yang ada di dalam saku jasnya.
"Tuan dokter!?" gumam Wilson ia pun segera menggeser tombol hijaunya.
"Hallo tuan!" sapa Wilson saat ponsel itu sudah menempel di daun telinganya.
"Di mana Tisya?" tanya dokter Frans membuat Wilson mengerutkan keningnya.
Ahhhh jangan-jangan tuan dokter tahu lagi kalau aku meninggalkan Tisya di jalan ...., batin Wilson begitu khawatir.
"Wil ...., kamu masih di situ kan?" tanya dokter Frans.
"Iya tuan ..., nona Tisya sedang perjalanan ke sini tuan!"
"Saya punya tugas baru buat kamu!"
"Apa tuan?"
"Saya mau kamu buat Tisya menjadi lebih bertanggung jawab dan juga disiplin, dan lagi buat dia mandiri dan tidak manja!" ucap dokter Frans.
"Maksud tuan?"
"Saya ingin Tisya menjadi pribadi yang baik, meninggalkan semua hal yang di ajarkan oleh tuan Bactiar, menghargai hal-hal kecil!"
"Caranya bagaimana tuan?"
"Pekerjakan dia di rumah kamu!"
__ADS_1
"Maksudnya?"
"Terserah kamu bagaimana caranya, tapi pekerjakan dia di rumah kamu!"
Sebelum Wilson bertanya lagi dokter Frans pun lebih dulu mematikan ponselnya.
Wilson tahu maksud dari dokter Frans tapi ia tidak mungkin melakukan itu, jika seperti itu berarti kadar pertemuan mereka akan semakin banyak dan itu bisa membuatnya bermasalah sepanjang hari.
Flashback on
"Ada ada aja tuan dokter ini ...., dia bukannya akan merapikan rumah ini tapi malah akan menghancurkan rumah ini ....!" gumam Wilson sambil mulai mengerjakan pekerjaannya, ia mengetikkan beberapa berkas penting di laptopnya.
...***...
Di tempat lain, dokter Frans dan Felic sedang berhenti di sebuah rumah makan untuk mengisi perutnya, sudah hampir sore tapi mereka masih belum sampai.
Felic bahkan tidak tahu kemana tujuan mereka sebenarnya.
Bi Molly dan sopir duduk di meja lainnya. Mereka hanya berdua.
"Frans ...., apa menurutmu itu tidak keterlaluan buat Tisya?" tanya Felic yang masih begitu ragu dengan keputusan suaminya untuk mendidik adik perempuannya.
"Kamu percaya kan sama Wilson?" tanya dokter Frans.
"Iya!"
"Walaupun Wilson lebih muda dariku, tapi aku sudah mengenalnya saat usianya masih lima belas tahun, dia sangat disiplin dan juga bertanggung jawab dengan semua pekerjaannya. Yang paling penting dia bisa di percaya!"
"Siapa suruh dia berani peluk istriku, aku kan cemburu!"
"Cie ...., senengnya di cemburui suami!" ucap Felic sambil tersenyum membuat dokter Frans gemas, ia pun mengusap kepala istrinya itu dengan penuh kasih sayang.
"Tisya kelak mempunyai tanggung jawab besar dan ia harus belajar mulai sekarang, aku yakin dengan bantuan Wilson. Tisya pasti bisa jadi orang!"
"Apa ini artinya ada udang di balik rempeyek?" tanya Felic hingga ia memiringkan kepalanya untuk mengetahui jawaban dari suaminya itu.
"Jika itu terjadi, apa salahnya juga ...., setidaknya Wilson jauh lebih baik dari si Rizal Rizal itu ...., dia itu cuma pria hidung belang yang nggak akan puas dengan satu wanita!"
"Iya ...., padahal mas Rizal dulu baik banget, dia setia banget sama Ersya, tapi ternyata ...., aku benar-benar kecewa sama mas Rizal ...!"
"Sebegitu kenalnya sama pria hidung belang itu!" ucap dokter Frans yang sudah mulai cemburu karena Felic memuji Rizal.
"Ya bagaimana nggak kenal, mas Rizal itu kakak kelas kamu, sudah menikah selama tiga tahun dengan Ersya!"
"Kalau Rangga?" tanya dokter Frans yang semakin cemburu saja.
"Kenapa jadi ke Rangga?" tanya Felic yang masih belum menyadari kecemburuan suaminya itu.
__ADS_1
"Siapa tahu kamu juga merasa kalau Rangga lebih baik dari aku!" ucap dokter Frans sambil mengalihkan pandangannya ke tempat lain dan meminum kopinya.
Sekarang Felic baru sadar jika suaminya itu sedang cemburu, sikapnya berubah dingin. Tadinya dokter Frans tangannya begitu sibuk mengelus rambut Felic dan tiba-tiba saja menjadi begitu cuek dan dingin.
Felic pun tersenyum, "Rangga baik sih ....!" ucap Felic membuat dokter Frans segera meletakkan cangkir kopinya dan menatap tajam pada Felic.
"Tapi tidak ada yang bisa mengalahkan baiknya suami dokterku yang tampan ini ....!" ucap Felic sambil menakup kedua pipi dokter Frans.
"Suka sekali membuat suaminya cemburu!" gumam dokter Frans.
"Siapa suruh cemburuan!"
"Memang aku bisa apa memilih untuk menjadi tidak cemburuan, salahkan saja cintaku padamu ini ....!" ucap dokter Frans lagi.
"Kenapa cintanya yang di salahkan?"
"Karena dia terlalu banyak mencintai kamu hingga tidak tahu bagaimana mengeluarkannya dari dalam sini!" ucap dokter Frans sambil menunjuk letak jantungnya.
"Ihhhhh ....., jadi terharu!"
"Ya udah cepetan habiskan makannya dan kita harus segera melanjutkan perjalanan agar tidak kemalaman!"
"Baiklah ....!"
Felic pun segera menghabiskan makanannya, ada yang berbeda dari menu makanan Felic, di depannya ada berbagai macam potongan buah-buahan yang di siapkan langsung oleh bi Molly dari dapur restoran dan juga minum nya susu ibu hamil.
Bi Molly juga mengawasi sendiri proses pemasakan makanan untuk Felic dan taun dokternya.
Setelah menyelesaikan makannya mereka pun segera meninggalkan rumah makan itu.
Mereka masih harus menyusuri persawahan dan beberapa perkebunan yang tidak terlalu luas, tapi jalannya cukup mudah untuk di lewati walaupun tidak begitu mulus seperti jalan di kota.
"Ini kita ke mana sih Frans?" tanya Felic lagi.
Jarak pandang Felic sudah sangat terbatas kerena jalanan sudah mulai gelap.
Akhirnya mobil mereka sampai juga di sebuah kampung. Sebanyak jarak kampung itu dengan kota tidak terlalu jauh kalau normal mungkin hanya butuh waktu dua jam saja untuk sampai tapi karena dokter Frans begitu khawatir dengan keadaan istri dan kandungannya, dokter Frans meminta sopir untuk berjalan lambat.
Setelah lima menit akhirnya mobil berhenti di depan rumah yang begitu sederhana, tidak besar tapi juga tidak terlalu kecil, rumah itu juga begitu asri karena banyak bunga yang di tata begitu rapi di depan rumah, di samping rumah juga ada berbagai macam tanaman buah yang di tanam di polibag besar.
Bersambung
...Indah dan bahagia bukan hanya seputar kemewahan, tapi indah dan bahagia itu sederhana dan tidak butuh kerumitan...
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
__ADS_1
tri.ani.5249
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰🥰