
Semejak bicara dengan Miska, mama Rangga jadi begitu penasaran. Selama ini dia tidak pernah berbelanja di minimarket depan. Tapi demi untuk menyelidiki kebenaran yang di katakan Miska, mama Rangga pun berniat untuk berbelanja di sana.
"Ibu mau ke mana, kok sudah rapi?" seorang asisten rumah tangga tampak penasaran melihat mama Rangga membawa sebuah tas belanja.
"Hari ini biar aku yang belanja, apa saja yang habis?"
"Tapi baru kemarin, saya belanja Bu. Sabun-sabun juga masih ada!"
"Ya sudahlah, aku mau belanja keperluanku sendiri saja!"
Mama Rangga pun segera meminta sopir untuk mengantar sampai di minimarket depan tempat Zea bekerja.
Mama Rangga tampak mengamati minimarket itu, tidak besar dan dari luar ia sudah bisa melihat seorang karyawati yang tengah berdiri di balik meja kasir dan sepertinya itu satu-satunya karena ia tidak melihat yang lainnya.
"Masak sih wanita seperti dia?" gumamnya pelan tidak percaya. "Nggak, nggak pasti Miska ngaco!"
Ia pun berjalan menaiki tangga yang ada di depan minimarket, perlahan tangannya mendorong pintu.
Zea yang sedang merekap pendapatan Minggu ini segera mendongakkan kepalanya dan tersenyum.
"Selamat datang!" Zea yang tidak tahu siapa wanita yang baru saja ia sapa.
Mama Rangga mengamati Zea mulai dari wajah lalu turun ke bawah walaupun terhalang oleh meja kasir.
"Sepi ya!?" mama Rangga tampak mengamati sekitar, terlihat sepi dan sepertinya hanya dia pelanggan yang datang.
"Iya Bu, jam segini jarang ada yang datang!" jam makan siang seperti ini orang-orang akan lebih memilih pergi ke pedagang kaki lima yang menyuguhi makanan yang bisa mengganjal perut dari pada pergi ke minimarket. Terbukti dengan ramainya beberapa pedagang kaki lima yang ada di seberang jalan.
Berbeda dengan saat jam pulang kerja, para pekerja pabrik atau kantoran akan mampir sebentar hanya sekedar mencari kebutuhan yang tidak ada di rumah dari pada saat sampai di rumah harus kembali lagi keluar.
"Baguslah, aku sedikit kesulitan untuk membaca list belanjaan, bisa bantu saya kan?"
Zea mengamati sekitar dan memperkirakan tidak akan ada yang datang dalam waktu dekat,
"Iya Bu, bisa! Mari!"
Mereka pun berjalan menuju ke rak, Zea mengambil kertas list belanjaan yang di bawa oleh mama Rangga.
Tampak Zea begitu cekatan mengambilkan barang yang ada dalam list belanjaan. Tanpa Zea sadari, mama Rangga masih terus mengamatinya.
Cantik sih, tapi ini jelas bukan menantu idaman. Nggak mungkin kan Rangga melihat istimewa pada wanita ini ....
"Ini sudah sudah keambil, apa ibu ingin menambah belanjaan!"
"Ahhh iya, ambilkan aku gula sama sabun!"
"Tapi ini tadi sudah!"
"Kayaknya masih kurang! Bisa kan ambilkan lima lagi!?"
__ADS_1
"Iya Bu, mari!"
Mama Rangga kembali mengikuti Zea, ia belum mendapatkan informasi apapun sedari tadi.
"Siapa nama kamu?"
"Saya Zea Bu!"
"Asli orang sini?"
"Bukan!"
"Ohhh, sudah menikah?"
Pertanyaan itu berhasil membuat Zea menghentikan langkahnya. Ia ragu harus menjawab apa saat ini.
"Su_sudah!" jawabnya ragu, tapi ia menganggap pernikahan itu adalah hal yang serius.
"Kok ragu begitu jawabnya?" mama Rangga merasa curiga, ia menahan troli belanjanya agar Zea tidak melanjutkan dulu langkahnya.
"Baru menikah Bu!"
"Oh pantas saja, gugup begitu! Suaminya nggak kerja?"
"Kerja!" Zea sebenarnya tidak begitu suka saat pelanggannya bertanya masalah pribadi dengannya.
"Kalau suami kerja, kenapa masih kerja?"
Zea mulai kesal dengan wanita paruh baya di depannya itu,
"Saya nggak mau hanya mengandalkan suami Bu, saya hanya ingin jadi wanita mandiri!" ia berharap jawabnya bisa membuat orang di depannya tidak banyak bertanya lagi padanya.
"Suaminya orang sini saja?" ternyata dia salah, wanita itu masih saja menanyainya.
"Iya!" jawabnya asal lalu kembali melanjutkan langkahnya tapi kembali di tahan oleh wanita itu.
"Gang mana?"
Belum sampai Zea menjawabnya terlihat pintu terbuka,
"Maaf Bu ada pelanggan lain, lagi pula list belanjaan ibu sudah ke ambil semua, ibu bisa ambil sendiri kan yang kurang?!"
Zea pun segera meninggalkan mama Rangga.
"Selamat datang!" sambutnya pada pelanggan yang baru saja datang.
Setelah mengorek informasi dari Zea, mama Rangga pun segera pulang. Ia sudah bisa melihat gambaran dari Zea. Ia tidak jadi menambah belanjaan, karena memang dia belum butuh apa yang ia cari tadi.
"Sepertinya bukan dia, masak sih dia? nggak mungkin Rangga mau sama dia!"
__ADS_1
...***...
Rangga masih saja sama, setiap pulang kerja demi untuk mengindari melewati minimarket Zea yang masih buka. Rangga selalu menghabiskan malam di sebuah klub, menghabiskan beberapa gelas minuman dan baru pulang.
Tapi sepertinya malam ini berbeda, ia bahkan sampai menghabiskan satu botol minuman hingga membuatnya tidak sadarkan diri.
Tampak dua orang pria dengan seragam klub malam itu sedang memandangi pria yang tengah tidak sadarkan diri di mejanya karena terlalu banyak minum.
"Bagaimana ini?"
"Coba lihat KTP atau ponselnya, hubungi istri atau keluarganya!"
Akhirnya pria dengan seragam bartender itu menemukan benda pipih milik rangga dan menghubungi nomor yang berada di tombol nomor satu.
"Hallo, apa anda mengenal pemilik nomor ini?"
"Iya, saya _!"
"Saya temannya!"
"Pria pemilik ponsel ini sekarang sedang mabuk berat dan tidak sadarkan diri, bisakah anda menjemputnya ke sini?"
"Baik, tolong kirimkan alamatnya!"
"Baik!"
Setelah mematikan sambungan telponnya. Pria itu segera mengirimkan lokasi keberadaan mereka di sana.
...***...
Zea sebenarnya sudah hampir saja tertidur saat tiba-tiba ponselnya berdering. Ia segera mencari letak ponselnya yang ia letakkan begitu saja.
Hingga matanya terbelalak saat melihat siapa yang melakukan panggilan.
Zea ragu untuk menerimanya, hingga panggilan itu berlangsung sampai tiga kali.
"Ada apa sih? Aku kira semua sudah berakhir!" gumamnya pelan.
Ia pun akhirnya memutuskan untuk menerima telpon itu.
"Hallo ada apa?"
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya ya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
...Happy Reading 🥰🥰🥰...