
Setelah makan siang, dokter Frans dan Felic pun kembali bergabung dengan lainnya.
Ternyata di sana Agra dan Rendi sudah datang. Mereka baru saja tiba dari Surabaya.
Rencana mereka di Surabaya hanya dua hari ternyata mundur sampai lima hari.
“kalian dari mana saja baru datang?” tanya dokter Frans pada dua sahabatnya itu.
‘Makasih ya, pekerjaanmu bagus!” ucap Agra sambil mengamati persiapan pesta sudah
berjalan lancar tanpa bantuannya.
“lagumu …, sejak kapan kalian tidak merepotkan gue …!”
“Iya pak dokter …., maafkan kami!”
“Ehhhh …, es batu, si Ajun itu kloningan lo ya?” tanya dokter Frans pada sahabat
dinginnya itu, siapa lagi kalau bukan rendi.
“Emang kenapa?” tanya Agra yang begitu penasaran sedangkan Rendi hanya tersenyum tipis nyaris tidak terlihat.
“Masak gue mau ngajak Nadin ke kafe A&A aja pakek di jagain sama dia, emang gue
mau nyulik emaknya apa!”
Ha ha ha ….
Agra malah tertawa terpingkal mendengarkan keluhan sahabatnya itu, “Bagus itu, dia
adik perempuan gue! Nggak boleh sampek lecet sedikitpun!”
“Lo sama dia emang sama aja!” ucap dokter Frans kesal, dua sahabatnya itu memang
sama-sama posesif sama istrinya. Walaupun secara tidak sadar dia pun juga
melakukan hal sama dengan istrinya, hanya saja belum menyadarinya saja.
Saat mereka sedang asik bercanda tiba-tiba Zea datang menghampiri mereka, membuat
Agra dan Rendi mengerutkan keningnya bersamaan.
“Zea!”
“Zea!”
Ucap Rendi dan Agra bersamaan, Felic yang sedari tadi berdiri begitu dekat dengan
suaminya segera menggeser tubuhnya agar tidak terlalu menempel.
Ia tidak mungkin menyakiti perasaan wanita sebaik Zea, walaupun ia tahu wanita itu
adalah saingannya saat ini. Tapi tangan dokter Frans malah menariknya agar
tetap dekat dengannya membuat Felic tercengang dan menatap suaminya itu yang
sama sekali menatapnya, ia pun beralih menatap tangan yang menggenggam erat
tangannya itu.
__ADS_1
“Hai Gra …, hai Rend ….!” Zea menyapa balik mereka.
“Kamu di sini?” tanya Rendi yang tidak mengetahui kenapa bisa ada Zea di sana.
“Iya Rend, aku lupa belum cerita ya sama kamu!” ucap agra berusaha menjelaskan pada
sahabatnya itu, “jadi gini, Zea ini sekarang adalah mengasuh di panti asuhan
kasih bunda! Makanya Zea sengaja di libatkan secara langsung dalam persiapan
ini!”
“Ooooohhhh …!” ucap Rendi, tapi matanya langsung menatap pada wanita yang sedang berada di samping dokter Frans.
Walaupun dulu dia tidak tinggal di panti tapi ia tahu apapun yang terjadi di sana termasuk kedekatan Zea dengan dokter frans.
“Frans …, sudah waktunya jemput anak-anak!” ucap zea lagi setelah semuanya diam.
“Oh …., sekarang ya? Ya sudah biar aku ambil mobilnya kamu tunggu di depan ya!”
ucap dokter Frans.
“Iya …!”
Zea pun segera meninggalkan mereka, Felic yang mengerti apa yang akan di kerjakan
oleh suaminya, ia memilih melepaskan genggaman tangan suaminya.
“Frans …, aku ke sana dulu ya, aku akan membantu Ara!”
Tanpa menunggu jawaban dari suaminya, felic pun segera berlalu. Ia tahu apa
jawabannya, suaminya tidak mungkin menawarinya untuk ikut kalaupun iya, pasti
Dokter Frans hanya bisa menatap kepergian istrinya hingga felic sampai di tempat Ara
dan anak-anak.
“Gue pergi dulu ya!” ucap dokter Frans dan meninggalkan kedua sahabatnya. Saat langkahnya belum terlalu jauh tiba-tiba rendi sudah mengejarnya.
“Frans ….!” Panggil Rendi.
“Lo Rend, ada apa?”
“Aku mau bicara sebentar!”
Dokter Frans pun menghentikan langkahnya dan berbalik menatap sahabatnya itu. Tidak biasanya jika tidak ada yang serius rendi tidak akan menghentikan langkahnya, mereka
bisa bertemu lagi nanti dan bicara.
“Ada apa?”
“Aku cuma mau ngingetin saja sebagai sahabat. Jangan sampai kesalahan yang pernah aku lakukan terulang padamu!”
“Maksudnya?”
“Jangan karena sebuah kesalahan yang tidak kamu sengaja, membuatmu kehilangan apa yang sudah menjadi milikmu!”
Rendi mengakhiri ucapannya dengan menepuk bahu dokter Frans pelan dan meninggalkannya. Dokter Frans hanya terdiam di tempatnya, ia tahu apa yang di maksud oleh sahabatnya itu.
__ADS_1
***
Semua sudah siap dengan pestanya, anak-anak panti sudah berkumpul dan pak ustad yang
akan membawakan tausiyah juga sudah datang.
Rendi juga sudah menjemput Nadin dan
baby El. Acara peresmian dan empat bulanan di isi dengan pemotongan pita dan juga doa bersama, mendengarkan tausiah dari pak ustad dan di akhiri dengan santunan.
“Terimakasih ya atas undangan kalian, anak-anak senang sekali!” ucap Zea sebelum
berpamitan.
“kami juga senang bisa menghadirkan anak-anak!” ucap Agra mewakili semuanya.
“Apa kau tidak akan datang di acara nanti malam?” tanya Ara.
“Maaf …, aku nggak bisa! Mungkin lain waktu!”
“Sayang sekali!”
“Maaf ya …!” kali ini kata itu ia tujukan pada pria dengan kaca mata itu, dokter Frans.
Entah apa yang sudah mereka bicara sepanjang perjalanan menjemput anak-anak.
“Biar aku antar lagi!” ucap dokter Frans menawarkan diri.
“jangan …., kamu di sini saja! Ada mas Ajun yang akan mengantar kami!” ucap Zea sengaja
menolak tawaran dokter Frans.
Zea pun berpamitan, ia segera meninggalkan tempat itu bersama ajun. Sebelumnya Rendi
sengaja meminta ajun untuk mengantar pulang mereka.
“Mari mbak!”
Ucap Ajun mempersilahkan zea untuk masuk ke dalam mobil setelah anak-anak sudah
masuk ke dalam mobil semua, ajun sengaja membawa mobil bus mini agar cukup
semua. Mobil yang sama yang di bawa dokter Frans tadi.
“Terimakasih!”
Zea pun segera masuk ke dalam mobil, di samping kemudi. Setelah memastikan semuanya masuk, Ajun pun ikut masuk. Ia mulai melajukan mobilnya.
Sesekali Ajun memperhatikan wajah murung
wanita di sampingnya itu, sesekali terlihat Zea mengusap air matanya.
“Mbak Zea tidak pa pa?” tanya Ajun, ia tidak mungkin memanggil nama karena usia Zea memang jauh di atasnya. Zea seumuran dengan dokter Frans.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
__ADS_1
tri.ani.5249
Happy Reading 🥰🥰😘