
Setelah pertemuannya dengan Felic nyonya Tania berusaha keras untuk mencari cara untuk kembali memisahkan dokter Frans dan istrinya.
Nyonya Tania begitu gusar,
ia benar-benar kesal karena tidak berhasil memisahkan dokter Frans dengan Felic.
Hal yang semakin membuatnya kesal adalah suaminya yang mengabaikannya hingga dua hari dan yang paling membuatnya kesal setelah pulang, suaminya itu langsung sibuk dengan pekerjaannya. suaminya terus saja di ruang kerjanya sedari datang tanpa berkeinginan untuk menyapanya.
“mama kenapa kelihatannya kesal banget?” tanya Tisya yang menghampiri mamanya. Ia membawa camilannya dan duduk di samping mamanya.
Tisya yang usianya masih dua puluh lima tahun itu kadang-kadang masih sangat labil, apalagi papa dan mama nya selama ini memanjakannya.
“Nggak pa pa sayang …!" ucap nyonya Tania sambil mengusap rambut putrinya.
"Papa kamu mana?” tanya nyonya Tania kemudian.
"Papa masih di ruang kerja, ma…!"
Hehhhh ....
nyonya Tania menghela nafas dalam kemudian kembali memperhatikan televisi.
"Mama tahu nggak?" tanya Tisya tiba-tiba.
"Apa?"
"Ada masalah ma, sama perusahaan!” ucap Tisya sambil memakan camilannya.
nyonya Tania terlihat terkejut, ia segera menoleh pada putrinya itu, "masalah apa?”
“Beberapa produk kita ada yang di tarik dari pasaran gara-gara laporan dari rumah sakit FrAd Medika!” ucap Tisya.
“Rumah sakit FrAd medika?” tanya nyonya Tania, ia tahu rumah sakit milik siapa FrAd Medika.
“Iya ma!" jawab Tisya, "Milik pria itu!” gumamnya lagi.
Nyonya Tania pun segera bangun dari duduknya.
"Mama mau ke mana?" tanya Tisya.
"Mama temui papa dulu ...!" ucap nyonya Tania lalu berjalan menuju ke ruang kerja suaminya.
Setelah sampai di depan ruangan itu, nyonya Tania segera mengetuk pintu.
Tok tok tok
Pintu terbuka dari dalam, sekertaris suaminya membukakan pintu itu, tuan Bactiar pun mendongakkan kepalanya melihat siapa yang datang.
Sekertaris tuan bactiar pun menundukkan punggungnya memberi hormat.
“Selamat malam, nyonya!”
"Saya ingin bicara berdua dengan suami saya!" ucap nyonya Tania.
Sekertaris tuan Bactiar meminta pendapat tuan Bactiar, tuan Bactiar pun menganggukkan kepalanya memberi isyarat agar sekertaris nya itu meninggalkan ruangan itu.
Setelah sekertaris itu keluar dari ruangan itu, nyonya Tania pun berjalan mendekat pada suaminya dan berdiri tepat di depan meja kerja suaminya.
"pa…!”
"Saya sedang sibuk, ma! Tidak ada waktu untuk membicarakan hal-hal yang tidak penting!" ucap tuan Bactiar
“Ada masalah apa pa? Ceritakan sama mama, pa! Siapa tahu mama bisa bantu!”
"Yang kita takutkan benar-benar terjadi, ini masalah yang akan kita hadapi jika berhadapan dengan pemilik rumah sakit FrAd Medika!”
"Maksud papa?"
"Rumah sakit itu menuntut kita untuk menghentikan produksi selama pemeriksaan, dan mereka menemukan beberapa produk yang memang tidak memenuhi standard BPOM!"
nyonya Tania segera menjatuhkan tubuhnya di kursi itu.
Apa ini gara-gara masalah kemarin? Apa Frans benar-benar tidak bisa memaafkan aku sebagai mamanya ...?
Setelah berhenti dari keterkejutannya, NyonyaTania pun segera memeriksa berkas pengajuan itu, dan benar hampir dua puluh lima persen produknya terpaksa di tarik dari peredaran, dan beberapa yang lainnya terpaksa.di lakukan pengawasan ketat pada proses produksinya.
“pa bagaimana ini?" tanya nyonya Tania setelah melihat hal itu.
“Mungkin Jalan satu-satunya adalah Tisya!”
Maksud pa pa?"
__ADS_1
"Tisya bisa kita jadikan sebagai alat barter sementara!"
‘Tisya …? maksudnya bagaimana pa? Jangan macam-macam pa, aku nggak mau Tisya dalam bahaya karena pa pa!”
“Aku akan mengirim Tisya ke sana untuk mencari kelemahan pria itu!!”
"Tapi pa?!"
"Tidak ada cara lain ma!"
Nyonya Tania tidak tahu apa yang akan di lakukan suaminya itu pada kedua anaknya. Di satu sisi ada putrinya dan di sisi lain ada putranya. Itu sama-sama berat.
***
Pagi ini Tisya sudah ada di perusahaan ayahnya. Ia sudah satu tahun ini menjabat menjadi manager di kator Bactiar group membantu papanya.
Rizal juga bekerja di sana dengan jabatan yang tentunya sudah cukup
tinggi tapi masih berada di bawah jabatan yang di miliki oleh Tisya walaupun kemampuannya jauh lebih bagus Rizal.
Tisya terlihat begitu sibuk di ruang kerjanya, tiba-tiba seseorang mengetuk pintu kaca miliknya.
Tok tok tok
Tisya pun menghentikan kegiatannya, ia mendongakkan kepalanya dan melihat siapa yang mengetuk pintunya. Ternyata salah satu bawahannya.
"Masuk!" perintah Tisya.
"Maaf mbak Tisya, tuan Bactiar memanggil ada ke ruangannya!"
"Baiklah ...., saya akan ke sana!"
Setelah karyawannya itu keluar dari ruangannya. Tisya pun segera merapikan mejanya dan membawa berkas yang memang harus segera di laporkan pada papanya.
Saat Tisya hendak keluar dari ruangannya, tiba-tiba Rizal menghadangnya.
"Mas ada apa?"
"Mau ke mana sayang?"
"Papa panggil aku!"
"Ada apa?"
Tisya pun meninggalkan Rizal begitu saja. Ia menuju ke ruangan sang papa.
Tok tok tok
Pintu pun segera terbuka dari dalam, sekertaris papanya sudah berdiri di balik pintu sambil menundukkan kepalanya memberi hormat.
“Papa panggil Tisya?!” tanya Tisya.
“duduklah dulu!"
Tisya pun segera duduk di depan papanya, hanya terhalang meja kerja sang papa.
" papa mau membicarakan hal yang serius sama kamu!" ucap tuan Bactiar setelah Tisya benar-benar duduk.
“apa pa?” tanya Tisya.
"papa punya misi penting untuk kamu, kamu lihat foto ini!” ucap tuan Bactiar sambil menunjukkan sebuah Foto.
“Bukankah dia pilik rumah sakit FrAd Medika?"
“Iya kau benar …!"
"Lalu Tisya harus apa pa sama pria ini?"
minta maaflah padanya, kalau tidak mau rayu dia itu akan lebih baik!” ucap Tuan Bactiar.
"Korek kelemahannya!" ucap tuan Bactiar lagi.
Apa itu artinya aku harus berhadapan dengan saudara satu ibu dengan ku, bagaimana ini .....
"Pa…, lalu bagaimana dengan mas Rizal pa?!”
“hanya sementara sayang, sampai perusahaan kita stabil lagi, jangan sampai dia berbuat ulah lagi, tapi jika berlanjut akan lebih baik sayang ...., papa mohon sama kamu demi perusahaan!”
"baiklah pa!”
"Ya sudah, besok datanglah dengan membawa berkas ini ke rumah sakit itu!"
__ADS_1
"Baik pa, kalau begitu Tisya permisi!"
"Iya!"
Tisya pun segera meninggalkan ruangan papanya, kali ini wajahnya terlihat begitu murung.
Rizal yang ternyata masih menunggu Tisya di ruangannya begitu terkejut melihat wajah murung sang tunangan.
"Ada apa sayang?Kenapa wajahnya murung?"
"Papa kasih kerjaan sama aku berat banget?"
"Apa?"
"Papa suruh aku deketin pemilik rumah sakit FrAd Medika agar pemiliknya membatalkan tuntutannya, kamu tidak pa pa kan jika aku melakukan hal itu? Hanya sementara mas!"
"Iya sayang ...., aku percaya sama kamu!"
"Makasih ya mas ...!"
Tisya pun segera memeluk tunangannya itu.
...***...
Di rumah sakit itu kembali terjadi keharuan saat dokter Frans mengajak sahabatnya untuk menemui seseorang di rumah sakit itu.
Dia adalah Agra, dokter Frans sengaja memberi surprise pada sahabatnya itu.
"Sebenarnya ada apa sih Frans, tumben banget kasih surprise segala?!"
"Sudah jangan bawel, ayo ikut saja!"
Dokter Frans terus menarik tangan sahabatnya itu hingga sampai di depan sebuah ruang rawat VIP.
Tepat saat mereka mau masuk seorang pria keluar dari dalam kamar itu.
"Dokter ...!"
"Pak Adi, kami mau bertemu dengan ibu, boleh kan?"
"Silahkan dokter, silahkan! Saya senang sekali kalau dokter sering berkunjung seperri ini, dan lagi saya mau mengucapkan terimakasih karena nak dokter begitu baik hingga membebaskan seluruh biaya perawatan ibu saya!" ucap pak Adi panjang lebar.
Pak Adi adalah anak semata wayah bu Narti, ia sudah berkeluarga dengan empat anak di rumahnya.
"Pak Adi tidak perlu sungkan, sudah menjadi kewajiban saya untuk merawat ibu!"
"Beruntung sekali ibu karena bertemu dengan orang sebaik nak dokter!"
"Jangan berlebihan pak, kalai begitu Kami permisi masuk dulu ya pak!"
"Silahkan, silahkan ....!"
Agra masih begitu bingung, siapa sebenarnya yang di panggil bu di sini.
Mereka pun akhirnya masuk dan mendapati seorang wanita tua di sana.
"Bu ...., coba tebak siapa yang Frans bawa ...!?" ucap dokter Frans tapi Agra malah terpaku di tempatnya.
"Siapa Frans ...?" tanya bu Narti, ia mengamati pria tinggi dengan jas rapi yang berada di samping dokter Frans itu. Matanya mulai basah saat ia ingat siapa pria itu, walaupun tidak begitu jelas tapi ia masih ingat dengan perawakan yang seperti itu.
"Bu ...., ibu ....!" ucap Agra dengan suara yang bergetar, dulu saat Agra menangis, bu Narti lah yang selalu menghiburnya.
"Agra ....! Agra ...., ini benar Agra kan?" tanya bu Narti sambil mengusap wajah Agra persis seperti yang di lakukan pada dokter Frans kemarin.
"Iya bu ...., ini Agra ....!"
"Ibu benar-benar merindukan kalian ...!" ucap bu Narti.
Agra dan dokter Frans pun segera mendekat dan memeluk wanita renta itu, usianya mungkin sekarang sudah hampir sembilan puluh tahun, sudah sangat tua.
Anak bu Narti yang melihat pertemuan mereka dari balik pintu itu hanya bisa mengusap air matanya, ia ikut terharu melihatnya.
...Yang di hindari kadang datang tapi yang di harapkan sering menjauh. Itulah kehidupan, kehidupan tidak bisa memberikan semua yang kamu mau, tapi kehidupan memberi banyak pelajaran untuk kamu tetap berdiri di atas kakimu sendiri~DTIS...
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
__ADS_1
Happy Reading 🥰🥰🥰