Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku
Dia datang lagi


__ADS_3

Felic hanya sibuk mengamati sahabatnya, ia terus tersenyum sepanjang menatap Ersya.


"Apa menurutmu mereka punya hubungan sebelumnya?" tanya Felic pada Wilson.


"Saya kurang tahu nyonya!"


"Apa kamu tahu bagaimana tentang pak Divta ini?" tanya Felic lagi, ia begitu penasaran, "Ceritakan padaku!"


"Tapi kami tidak boleh membocorkan segala informasi tentang keluarga finityGroup, nyonya!"


"Tapi aku kan sekarang sudah jadi bagian dari mereka!" ucap Felic dengan begitu pasti walaupun ia tidak terlalu faham dengan ucapannya sendiri.


Ahhhh ...., gue ngerasa kayak orang sombong nih ....


"Maaf nyonya, tapi akan lebih baik jika nyonya bertanya langsung pada tuan dokter!"


"Ahhhh ...., kenapa kau mengingatkanku tentang dia!" ucap Felic yang berubah kesal, "Dia benar-benar tidak datang, keterlaluan!" keluhnya lagi.


"Maafkan saya nyonya!" ucap Wilson yang merasa bersalah kerena telah membuat Felic kesal.


"Jangan suka minta maaf jika bukan kesalahanmu ....!"


"Maaf nyonya!"


"Istttt ....., kau ini!"


Felic kembali meneguk air putihnya yang ke enam, rasanya perutnya sudah kenyang sediri karena terlalu banyak minum.


“Apa nyonya tidak mau menghampiri mbak Ersya?’ tanya Wilson pada  Felic.


“Biarkan dulu saja, aku ingin melihat betapa hebatnya pak Divta itu! Jadi ngefans gue sama dia!” ucap Felic sambil terus memperhatikan Divta dan Ersya.


"Kenapa ada ruang khusus ya? Enak banget Ersya di ajak ke sana!" gumam Felic tapi masih bisa di dengar oleh Wilson.


"Karena ada undangan VVIP nyonya, sebenarnya tuan dokter juga mendapatkan nya karena Bactiar group berencana membangun kerja sama dengan rumah sakit FrAd Hospital!"


"Benarkah ....? Kenapa Frans nggak bilang, dia juga nggak datang! Dasar keras kepala!"


Tidak berapa lama seorang pemandu acara segera naik ke atas panggung dan membuka acara.


"Itu acaranya sudah mau mulai!" ucap Felic dan hendak berdiri.


"Sebaiknya nyonya di sini saja!" ucap Wilson.


"Siapa juga yang mau ke sana!"


Setelah pembukaan lalu di lanjutkan oleh sambutan Tuan Bactiar sebagai pemilik acara sekaligus memperkenalkan putri dan calon suaminya itu.


Dan beralih ke acara intinya Tisya dan Rizal bertukar cincin dan di sambut tepuk tangan oleh semua tamu. Terlihat Tisya dan Divta masih menikmati perdebatan mereka walaupun jika orang melihat mereka bukan sedang berdebat.


Karena Divta terlalu pintar mengemas perdebatan mereka dengan adegan romantis ala Divta.


Setelah acara inti selesai semua undangan di persilahkan untuk menikmati hidangan yang sudah di sediakan sambil menikmati persembahan musik yang di bawakan langsung oleh artis-artis nasional.


Felic yang sedari tadi hanya mengisi perutnya dengan air putih itu merasa sudah waktunya untuk buang air dan mengisinya kembali dengan hidangan yang di sediakan.


"Nyonya ...., nyonya mau ke mana?" tanya Wilson saat melihat Felic tiba-tiba berdiri dari duduknya, padahal sudah sedari tadi ia berusaha keras untuk menahan nyonya-nya agar tidak beranjak dari tempat duduknya.


“Aku akan ke kamar mandi dulu!” ucap Felic.


“baik nyonya! Biar saya antar!” ucap Wilson sambil mengikuti di belakangnya, hal itu membuat Felic menghentikan langkahnya.


“Nggak usah, sudah kamu di sini aja! Aku ke kamar mandi wanita, jadi nggak usah ikut, okey! ”


"Tapi nyonya, tuan dokter memerintahkan saya untuk mengikuti nyonya kemana pun nyonya pergi!"


"Tapi nggak ke toilet wanita juga, Wilson! Emang siapa sih yang mau jahat sama gue kalau di toilet!"


"Tapi nyonya ...!"


"Nggak ada tapi-tapi ...!" ucap Felic lalu masuk ke dalam toilet wanita. membuat Wilson menghentikan langkahnya.


“baik nyonya!” ucap Wilson lirih. Ia menunggu di luar.


***


Di tempat lain, pria berambut gondrong itu terus saja mondar mandir di ruang kerjanya.


"Aman nggak ya ....!" gumamnya sambil memegangi kepalanya.


Ia benar-benar tidak tenang karena membiarkan istrinya pergi sendiri ke pesta itu.


"Dia benar-benar tidak menghubungiku!" gumamnya lagi sambil beberapa kali menyalakan ponselnya, tapi tidak ada notif pesan masuk.


"Apa dia marah padaku?! Jangan-jangan dia marah lagi ...!"


Ia sebenarnya tidak sedang sibuk atau memiliki pekerjaan yang mendesak, tapi ia punya


alasan yang besar hingga ia memutuskan untuk tidak pergi ke pesta itu.


Ia bahkan berkali-kali membolak-balik berkas yang di kirim perusahaan itu untuk mengajukan kerja samanya pada FrAd Hospital, tapi sampai saat ini ia tidak pernah menandatangani berkas itu. Ia tidak meng ACC nya, atau memang tidak akan pernah.


“Ini gila …, kenapa bisa …! Dia benar-benar bisa membuatku gila!” teriak dokter Frans sambil menyapu berkas itu dengan tangannya hingga jatuh berantakan di samping meja.


Dokter Frans kembali bangun dari duduknya. Ia menatap langit Jakarta yang sudah mulai menggelap. Ia melipat tangannya di depan dada, menikmati kesendiriannya.


"Kenapa masa lalu ini seakan mulai muncul satu per satu saat aku ingin melupakannya, padahal aku kira aku sudah berlari menjauh tapi ternyata aku masih berdiri di sini dengan bayangan masa lalu itu!"


Tapi di antara masa lalunya di sana ada masa depannya yang harus ia jaga. Jangan sampai karena masa lalu membuatnya melupakan masa depannya.


"Felic sendiri di sana ....!" gumamnya lagi.


“Aku harus menyusulnya, bagaimana kalau terjadi sesuatu sama dia dan bayinya!” ucap dokter Frans yang sudah mulai cemas. Ia mengabaikan bayi dan istrinya.


Dokter Frans segera menyambar ponselnya yang berada di atas meja.

__ADS_1


"Hallo ...!"


"Hallo tuan!"


"Siapkan baju untukku, aku akan menghadiri pesta!"


"Baik tuan ...!"


Dokter Frans pun kembali meletakkan ponselnya. dan dalam hitungan menit, beberapa orang masuk ke dalam ruangannya dengan membawa baju dan jasnya.


Mereka dengan cekatannya memakaikan baju itu ke rubuh dokter Frans. Setelah siap, dokter Frans pun segera menuju ke lobby, seseorang sudha menunggunya di depan rumah sakit lengkap dengan mobilnya.


"Silahkan tuan!"


"Terimakasih!" ucap dokter Frans lalu masuk ke dalam mobil.


“Antar saya ke hotel Bactiar Queen!” ucap dokter Frans yang sudah kembali menatap layar tabnya.


“baik tuan!”


Mobil pun melaju meninggalkan rumah sakit, memecah keramaian jalanan ibu kota saat akhir pekan. Cukup jauh hingga membutuhkan waktu cukup lama. Apalagi jalannya juga cukup padat.


"Hehhh ....!" beberapa kali dokter Frans menghela nafasnya, ia menatap ke luar kaca mobil. Memastikan jika ia tidak akan lama lagi.


Setelah setengah jam akhirnya mobil berhenti juga di depan hotel yang menjadi tempat diadakannya pesta.


Kedatangannya langsung di sambut beberapa kamera, karena dokter Frans juga bukan orang yang bisa di remehkan. Kedatangan dokter Frans pasti juga menjadi berita terbaru apalagi setelah berita jika dokter Frans menolak kerja sama dengan bactiar group.


Ia pun segera masuk ke gedung yang menjadi tempat pesta. Ia mencari-cari keberadaan Felic hingga ia melihat Wilson duduk sendiri.


"Wilson!" panggilnya pada Wilson. Wilson yang melihat kedatangan tuan nya itu segera menghampirinya.


"Tuan ...!"


"Dimana Felic?" tanya dokter Frans.


"Di toilet, tuan! Maaf karena nyonya tidak mau saya antar ke sana!"


"Ya jelas aja!" ucap dokter Frans kesal, "Sejak kapan di toiletnya?"


"Setengah jam yang lalu!"


"Setengah jam?!" tanya dokter Frans yang sudah terlihat terkejut.


"Iya tuan!"


Mendengar hal itu dokter Frans pun dengan cepat berlari ke toilet.


***


Felic menuju ke sebuah kamar mandi khusus wanita yang di peruntukkan untuk tamu.


Ia menuntaskan hajatnya. Saat hendak keluar dari toilet, ia mendengar dua orang yang masuk ke dalam toilet itu.


"Ma ....!"


"Aku kok jadi nggak yakin ya ma sama mas Rizal!"


"Kenapa sayang?"


"Lihat pak Divta tadi rasanya aku belum rela ma ngelepasin dia, jika Ersya si cewek nggak jelas itu aja bisa dapetin pak Divta masak aku enggak sih ma!"


Felic mengurungkan niatnya untuk keluar dari dalam toilet, ia memilih menguping pembicaraan mereka.


ohhh jadi kayak gitu ...., sukurin lo ....! Makanya jangan macam-macam sama sahabat aku ....


Felic kembali menempelkan telinganya di daun pintu.


"Sayang ...., jangan sampek papa kamu denger, papa kamu bisa marah besar!"


Karena kurang hati-hati Felic tanpa sengaja kakinya menendang tempat sampah yang ada di sudut toilet.


"Ups ....!"


"Siapa di situ ...?" tanya Tisya dan Mama Tania begitu terkejut.


Karena sudah kepalang tanggung, akhirnya Felic pun keluar dari toilet.


"Kamu ....!" ucap Tisya terkejut, "Kamu nguping ya pembicaraan kami!"


"Enak aja nguping, aku nggak sengaja dengar ya ...!"


Dengan santainya Felic melenggang dan berdiri di depan cermin besar itu, memperbaiki penampilannya. Membuat Tisya semakin geram.


Srekkkkkk


Tiba-tiba saja Tisya menarik rambut Felic.


"Aughhhh ....!" pekik Felic sambil menahan rambutnya.


"Tisya ...., lepaskan dia!" ucap mama Tania.


"Nggak ma ..., dia harus aku kasih pelajaran!"


"Lepas ....!" ucap Felic, kali ini ia benar-benar sedang tidak malu ribut karena ia harus menjaga bayinya.


"Enak banget kmu ngomongnya!" ucap Tisya kesal dan semakin mengeratkan tangannya di rambut Felic.


"Sudah Tisya, nanti papa kamu lihat!"


"Tisya nggak peduli ma, aku udah kesal banget sama dia!"


Srekkkkk


Felic yang sudah tidak bisa menahan kesal, ia pun berbalik meraih tangan Tisya dan menguncinya ke belakang punggung Tisya.

__ADS_1


“memang ada apa denganku, jangan cari gara-gara ya di pesta kamu. Aku sudah berusaha keras loh ini menahannya!” ucap Felic kesal, ia juga harus menahan sakit karena rambutnya yang di tarik begitu keras oleh Tisya.


"Lepas ...., jangan macam-macam ya di sini!" ucap Tisya sambil berusaha melepaskan kunci an Felic.


"Kalian apa-apa an sih ...., lepas kan Felic ...., jangan sakiti Tisya!" nyonya Tania berusaha untuk melerai mereka.


"Ahhhhh ....!" teriak Tisya saat ia berhasil melepaskan diri dari Felic.


Tisya pun gantian menodong Felic dengan telunjuknya hingga membuat Felic memundurkan tubuhnya.


“memang apa yang bisa kamu lakukan di sini, heh …? Ini wilayah saya, anak buah papa saya


banyak di sini! Kalau cuma buat nyakitin kamu aja nggak butuh banyak orang! Cukup saya ...!”


Felic pun segera menampik tangan Tisya hingga Tisya sedikit terhuyung dan kini gantian Felic yang menunjuk wajah Tisya dengan jari telunjuknya.


“Memang aku takut dengan anak buah kamu, nggak ngaruh banget!” ucap Felic yang tidak kalah kesalnya.


“sudah Tisya! Tahan jangan buat keributan di sini! Malu kalau di lihat tamu yang lainnya!” nyonya Tania berusaha melerai mereka lagi.


"Minggir ma ...., aku mau buat perhitungan sama wanita tidak tahu diri ini ....!" ucap Tisya sambil mendorong tubuh mamanya.


"Dengarkan aku, aku tidak takut sama kamu!" teriak Tisya


"Aku juga!" ucap Felic yang tidak mau kalah.


Hingga akhirnya terjadilah saling jambak, hingga nyonya Tania yang melihat pertengkaran mereka semakin sengit dan Tisya sudah mulai tersudut ia pun segera menarik tubuh Felic dan mendorongnya hingga tubuh Felic terhuyung dan membentur pembatas wastafel itu.


"Augh .....!" pekik Felic saat perutnya terbentur di sana.


"Augh ....!" Felic memegangi perutnya dan terjatuh di lantai.


Tisya dan mamanya hanya bisa saling pandang tidak mengerti dengan apa yang terjadi.


Brakkkkk


Tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka dengan sangat kasarnya. Pria itu terpaku saat melihat siapa saja yang ada di dalam toilet itu, tapi kemudian matanya beralih pada wanita yang sedang terduduk di lantai sambil memegangi perutnya itu.


"Fe .....!"


Felic pun dengan wajah pucat nya segera mendongakkan kepalanya.


"Frans ....!" ucap Felic dengan wajah lemas.


"Frans ....!" nyonya Tania pun ikut terkejut saat melihat dokter Frans di sana.


“Nyonya …, nyonya tidak pa pa?’ tanya Wilson yang melihat nyonya nya dalam masalah , ia juga sudah berdiri di belakang dokter Frans dan di susul oleh tuan Bactiar.


“Ma ...., ada apa ini?" tanya Tuan Bactiar itu pada nyonya Tania.


“Frans tolong aku ....!" ucap Felic dengan suara yang begitu lemah membuat dokter Frans tersadar. Ia segera menghampiri Felic.


“Aughhhh Frans sakit ….!” ucap Felic sambil menarik tangan suaminya itu.


“Nyonya …!” Wilson ikut menghampiri nyonya-nya itu.


"Wilson ...., siapkan mobil!" teriak dokter Frans tanpa menoleh pada Wilson.


"Baik tuan!" Wilson pun segera berlari keluar untuk mengambil mobil.


Dokter Frans segera membopong tubuh Felic dan berhenti sejenak di depan Tania. Mama dari Tisya dengan penuh kemarahan.


"Jika terjadi sesuatu sama kandungan istri saya, saya akan buat perhitungan sama kalian!" ucap dokter Frans.


"Dokter Frans ...., tunggu! Kita bisa bicarakan baik-baik!" ucap tuan Bactiar yang juga ikut menghadang langkah dokter Frans.


"Kita bicara lain waktu!" ucap Dokter Frans dan berlalu meninggalkan mereka.


Tuan Bactiar menatap tajam penuh kemarahan pada putri dan istri nya itu.


Felic menahan sakit sambil terus mencengkeram bahu dokter Frans, "Sakit ....!"


"Sabar ...., kita ke rumah sakit ...!"


Setelah sampai di depan, Wilson sudah siap dengan mobilnya dan membukakan pintu mobil untuk mereka.


"Silahkan tuan!"


Dokter Frans segera membawa felic ke dalam mobil dan Wilson pun segera menutup pintu mobilnya.


Mereka langsung membawa felic kembali ke rumah sakit.


***


Di tempat pesta itu, nyonya Tania tak kalah terkejutnya.


"Kita bicarakan ini nanti setelah pesta selesai!" ucap tuan Bactiar sambil berlalu meninggalkan putri dan istrinya itu.


Ia terduduk di tempatnya saat melihat seseorang yang baru ia lihat lagi setelah sekian lama.


"Frans ...!" gumamnya lirih sambil memegangi kepalanya. Tisya yang melihat hal itu segera menghampiri mamanya dan jongkok di depan mamanya.


‘Ma …, mama kenapa?” tanya Tisya.


“Tidak pa pa sayang, mama tidak pa pa!” ucap nyonya Tania sambil menghapus air matanya dan kembali bangun.


"Kita keluar sayang ...!"


...Saya kira saya sudah berjalan begitu jauh tapi ternyata tetap saja saya kembali ke kenangan masa lalu itu~Dr. Frans...


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya

__ADS_1


tri.ani.5249


Happy Reading 🥰🥰🥰


__ADS_2