
"Ga, ini motor kamu?" Zea cukup terkejut saat mereka bertemu kembali di parkiran. Ia melihat Rangga yang memakai motor bebek bukan motor gede atau mobil.
"Oh ini, iya. Aku sengaja pengen ganti suasana!"
Rangga bohong ya ...., walaupun tidak mengatakannya tapi Zea tahu kalau saat ini Rangga tengah berbohong.
"Boleh aku ikut kamu?"
"Jangan, pakek motor tidak baik untuk kandungan kamu!"
"Siapa bilang, anak aku pasti seneng kalau naik motor!"
"Lain kali aja ya, jangan sekarang. Kamu tidak pa pa kan kalau pulangnya sama sopir kamu?"
"Ya udah nggak pa pa, kamu hati-hati ya!"
Selain karena ia merasa tidak aman membiarkan Zea bonceng motor, Rangga juga ingin menemui seseorang terlebih dulu sebelum pulang ke rumah lama orang tuanya.
Ia harus menemui koh Chang satu kali lagi, hanya dia yang bisa bicara dengan jujur tentang semua yang terlewatkan oleh ingatannya. Walaupun papanya juga mungkin akan mengatakan yang sesungguhnya tapi papanya tahu kondisi kesehatannya sudah pasti dia tidak akan menceritakan semuanya.
Rangga mendatangi minimarket kembali guna memastikan semuanya, ia sudah menghubungi koh Chang sebelumnya dan mereka sudah berjanji akan bertemu di sana.
Walaupun ini bukan hari Minggu tapi koh Chang sengaja datang ke minimarket karena memang ada kedatangan barang yang di percepat dari biasanya.
"Selamat sore koh, maaf kemarin saya pergi begitu saja!"
"Tidak pa pa, ayo duduk!"
Mereka pun duduk di bangku yang sama seperti beberapa hari lalu, "Din, buatkan satu cup mie buat Rangga!" pintanya pada karyawannya.
"Tidak perlu repot seperti itu koh!"
"Tidak pa pa, kata beberapa orang kamu dulu suka makan mie instan di sini, entah yang kamu sukai mie nya atau penjualnya!" ucapnya lagi dengan tertawa mengingat masa-masa itu tapi sayangnya Rangga tidak bisa ikut tertawa karena memang ia tidak mengingat tentang kenangan indah itu bersama Zea.
"Baiklah, katanya kamu ingin menanyakan hal yang serius sama saya, apa itu?" setelah menghentikan tawanya koh Chang kembali bertanya.
"Ini tentang Zea!"
"Zea?"
"Sebenarnya saya ...!" Rangga pun menceritakan tentang kecelakaan yang menimpanya, tentang bagaimana ia kehilangan ingatannya dan bagaimana dia melupakan Zea.
__ADS_1
Koh Chang tampak menganggukkan kepalanya beberapa kali, menandakan kalau ia mulai faham dengan situasinya.
"Baiklah aku mengerti sekarang, kamu ke sini ingin mencari tahu tentang masa-masa kamu yang hilang itu!?"
"Iya dan saya harap koh Chang tidak menceritakan hal ini pada siapapun termasuk Zea atau orang tua saya. Saya takut ada seseorang yang memang sengaja menginginkan saya atau Zea celaka, saya ingin menyelidikinya terlebih dulu."
"Lalu apa yang kamu inginkan?"
"Ceritakan semua yang koh Chang ketahui tentang saya dan Zea!"
Akhirnya koh Chang pun mulai cerita, ia menceritakan tentang bagaimana mereka bertemu, bagaimana pernikahan mereka yang terjadi secara mendadak bahkan tanpa restu dari orang tua Rangga. Pernikahan mereka yang masih sebatas agama dan di mana mereka tinggal selama ini sebelum pindah ke apartemen.
"Bisa beri tahu di mana rumah itu? Saya mau melihatnya ke sana, siapa tahu saya akan bisa mengingat semuanya di sana!"
Koh Chang pun akhirnya memberitahu semuanya, "Sekali lagi saya mohon jangan memberitahukan hal ini pada siapapun!"
"Iya pasti!"
Langit pun sudah mulai gelap, ia tidak ingin membuang waktu. Rangga segara memacu motornya menuju ke kontrakan lama Zea. Beruntung orang yang mengontrak setelah mereka ternyata harus kembali pindah,
"Mas Rangga ya ini?" tanya seseorang yang berada dibalik pagar sebatas pinggang yang ada di samping kontrakan itu.
"Iya,"
Jadi dia juga tahu tentang aku dan Zea?
"Zea di rumah, oh iya bisa kasih tahu di mana rumah pemilik kontrakan ini?"
Wanita itu mengerutkan keningnya, "Mas Rangga ini sedang becanda ya?"
"Enggak saya serius tanya!"
"Rumahnya nggak pindah mas, itu yang ada di ujung jalan!"
"Terimakasih ya buk!"
Rangga pun kembali memutar motornya menuju ke pemilik kontrakan.
"Ada apa ya mas Rangga? Apa mas Rangga mau menyewa lagi? Kebetulan penghuninya sudah pindah dua bulan lalu!"
"Tidak, sebenarnya saya mau pinjam kuncinya sebentar!"
__ADS_1
"Buat apa?"
"Saya ingin melihat-lihat saja, siapa tahu ada barang yang tertinggal di sana!"
"Ya nggak mungkin lah mas, mas Rangga ini bisa-bisa aja!"
"Bagaimana kalau saya menyewa selama semalam ini, besok pagi-pagi sekali saya akan mengembalikan kuncinya. Hanya satu malam!"
"Bagaimana ya?"
Rangga pun segera menyerahkan tiga lembar uang seratus ribuan, "Baiklah saya setuju. Satu Minggu juga boleh, ini kuncinya!" akhirnya dengan sedikit memberi uang pada pemilik kontrakan Rangga di perbolehkan masuk.
Setelah mendapat kunci, Rangga segera kembali ke rumah kontrakannya.
Karena penghuni baru hanya menempati tempat itu tidak sampai dua bulan, jadi tidak terjadi perubahan dengan rumah itu.
Rangga mulai menyusuri rumah itu mulai dari ruang tamu, ia seperti mulai mendapatkan gambaran tentang masa-masa yang telah ia habiskan bersama Zea selama ini.
Tempat-tempat yang penuh kenangan yang pernah ia lakukan bersama Zea, saat mereka makan bersama, masak bersama, menonton tv dan terakhir kamar, bahkan kamar itu terlihat masih sama. Walaupun tidak di tempati sepertinya pemilik kontrakan rajin untuk membersihkannya hingga ia tidak mendapati debu di sana.
Rangga segera merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur itu, ia seolah merasakan keberadaan Zea di sana, kenangan bagaimana mereka menghabiskan malam-malam yang indah selama ini bersama Zea.
"aku begitu bahagia saat itu, bersamanya." gumam Rangga sambil memejamkan matanya, walaupun saat ini kepalanya begitu sakit hingga keringat dingin membasahi tubuhnya tapi ia tidak ingin meminum obatnya ia sedang ingin menikmati bagaimana mengingat masa lalu,
"Aku pasti kuat, ayo Ga ingat semuanya, kamu harus mengingat semuanya, jangan sampai kalah!" dengan suara seraknya ia terus meyakinkan dirinya sendiri, memegangi kepalanya yang rasanya seperti mau pecah. Bahkan sekarang ia sudah tidak berada di posisi yang sama, ia sampai berputar-putar di atas tempat tidur demi mengingat semuanya.
Ia bahkan sampai mengabaikan ponselnya yang terus berdering. Itu adalah panggilan dari papanya, ia mendapat berita dari Zea kalau rangga sudah pulang dari siang tapi ternyata sampai malam Rangga tidak juga datang.
Karena kehabisan tenaga, Rangga sampai tidak sadarkan diri. Hingga ia tersadar lagi di tengah malam. Ia memeriksa ponselnya, dan ternyata begitu banyak panggilan tidak terjawab dari papa dan juga Zea.
"Mereka pasti mengkhawatirkan ku!"
Rangga pun segera mengirimkan pesan pada papanya dan mengatakan kalau dia baik-baik saja, dia juga mengatakan kalau menginap di rumah teman. Ia tidak mengatakan yang sebenarnya karena memang belum waktunya.
Tapi apa yang ia lakukan hari ini tidak sia-sia, karena sekarang ia sudah mengingat semua bahkan mengingat kejadian kecelakaan waktu itu.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
IG @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...