Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku
Jangan gunakan hati


__ADS_3

Tisya sepanjang hari ini sibuk dengan pekerjaannya, memberi arahan pada pak mandor dan para pekerja.


Sedangkan Wilson sedang sibuk dengan layar laptop nya, ia terpaksa bekerja di meja makan karena ruang kerjanya tidak beres-beres.


Sesekali Wilson tampak mengamati pekerjaan Tisya,


"Kenapa melihat begitu?" tanya Tisya saat melihat Wilson berdiri bersandar di pintu dengan tangan yang ia lipat di depan dada.


"Jangan Ge Er, aku lihat pak mandor, lakukan saja pekerjaanmu dan jangan pedulikan saya!" ucap Wilson.


pengerjaan rumah Wilson sudah lima puluh persen tinggal beberapa ruang saja yang belum di rubah.


"Aku akan pergi sebentar, jangan pergi ke mana-mana setelah pekerjaanmu selesai!" ucap Wilson pada Tisya.


"Kenapa tidak boleh?"


"Kamu bukankah akan bekerja di sini, jadi lakukan pekerjaan mu!"


Hehhhh ....., dia menyebalkan sekali, apa dia mau bertemu sama cewek itu ....? batin Tisya.


Wilson pun segera menyambar jasnya dan mengambil ponsel serta dompetnya.


Wilson menempelkan aerophonenya di lubang telinganya dan segera melakukan panggilan sambil memasuki mobil yang sebelumnya sudah ia panasi mesinnya.


"Hallo!" ucap Wilson saat telponnya sudah tersambung.


"Iya bos! Ada apa?"


"Jaga rumah saya selagi saya pergi, perketat keamanan!"


"Baik bos!"


Wilson pun segera mematikan sambungan telponnya dan kembali mengingat identitas orang yang akan ia temui saat ini. Ia mengambil sebuah botol yang ada di dasbor mobilnya.


"Amaira Bactiar! Jika ini salah satu permainan tuan Bactiar, maka jangan salahkan saya jika saya membalik keadaan!" gumam Wilson sambil mengendarai mobilnya.


Hingga akhirnya Wilson sampai juga di sebuah restauran ternama di Jakarta.


Setelah memarkirkan mobilnya ia segera masuk ke dalam restoran dan menuju ke meja yang sudah di pesan oleh Maira.


Saat ia menemukan mejanya, ternyata Maira sudah menunggunya di sana, gadis itu membelakangi pintu masuk hingga tidak menyadari kedatangan Wilson di sana.


"Hai Maira, maaf ya saya terlambat!" ucap Wilson membuat Maira segera berdiri.


"Hai ....!" dan Maira pun menarik tangan Wilson melakukan cipipa cipiki pada Wilson.


"Duduklah ....! Aku sudah memesankan makanan untukmu!" ucap Maira sambil meminta Wilson untuk duduk.

__ADS_1


"Terimakasih!"


"Jangan kaku gitu, relaks aja Wil ...!" ucap Maira yang masih terus memegang tangan Wilson.


"Iya ...., bisa lepaskan tangan saya?!"


Maira pun melihat tangannya dan segera melepaskan tangannya dari tangan Wilson.


"Maaf maaf ...., kelepasan soalnya! Saya sangat senang waktu kamu telpon lagi tadi dan bilang bisa ketemu! Lusa itu cukup lama buat saya!"


"Saya mau mengembalikan ini!" ucap Wilson sambil menggeser botol minum itu agar lebih dekat dengan Maira.


"Nggak perlu repot di kembalikan gini Wil ...., ambil saja nggak pa pa!" ucap Maira sambil menggeser kembali botol itu agar lebih dekat dengan Wilson.


Tapi Wilson kembali menggesernya lagi.


"Maaf Maira, tapi kata seseorang botol ini bukan botol biasa, botol dengan harga yang cukup mahal dan hanya ada di luar negri yang di pesan khusus!" ucap Wilson membuat Maira tercengang.


"Kamu tahu dari mana? Seseorangnya siapa? Kamu benar loh ini memang di pesan khusus oleh papa, lihat ini ada tanda keluarga kami!" ucap Maira sambil menunjukkan tanda kecil di botol itu, tanda yang sama persis seperti yang ada di produk yang di keluarkan oleh Bactiar group.


"Nggak penting siapa yang mengatakannya! Ya sudah saya lapar, bagaimana apa boleh sekarang saya makan?" tanya Wilson sambil menunjuk makanan yang sedari tadi di biarkan di atas meja.


"Iya ...., jadi lupa! Selamat makan!"


Mereka mulai makan siang, beberapa kali Maira menceritakan tentang kehidupannya di luar negri. Maira memang terlihat lebih ramah dari Tisya.


"Iya kau benar, mungkin nanti saya juga akan seperti itu!" ucap Wilson sambil tersenyum.


Andai saja si tikus kecil itu tidak judes dan lebih humble seperti Maira, pasti kami tidak perlu berdebat terus setiap hari ..., batin Wilson sambil terus menatap Maira yang tidak henti-hentinya bercerita, ia menceritakan banyak hal tentang kehidupannya.


Kenapa juga aku malah mikirin dia ...., seneng kan seharusnya bisa lepas sama dia ...


"Wil ...., saya sudah bercerita banyak hal loh, kamu belum bercerita tentang dirimu!"


"Saya harus bercerita apa?"


"Ya misalnya, kamu tinggal di mana? Saudaramu berapa? Trus bekerja di mana? Apa aja!" ucap Maira.


"Nanti kamu juga tahu sendiri!"


"Tapi kalau denger langsung dari kamu kan lebih enak, sekarang ceritakan saja tentang pekerjaanmu!"


"Saya hanya pekerja kantor biasa yang gajinya tidak banyak!"


"Tapi aku suka kamu!" ucap Maira tanpa di tutup-tutupi.


"Hehhh?" Wilson tidak percaya dengan apa yang ia dengar, bagaimana seseorang yang baru bertemu dua kali bisa langsung menyatakan perasaannya.

__ADS_1


Dia benar-benar to the point ....


"Aku serius Wil ...., sejak bertemu sama kamu aku langsung suka!" ucap Maira sambil kembali memegang tangan Wilson tapi Wilson segera menarik tangannya.


"Maaf ...., kamu belum mengenal saya!" ucap Wilson kemudian.


"Sambil jalan kita bisa saling mengenal Wil ...!" Maira masih tidak mau kalah.


"Terserah sama kamu, yang pasti saya sudah mengingatkan jika dalam bekerja jangan menempatkan hati!" ucapan Wilson benar-benar penuh makna tapi saat mengingat Tisya, Kenapa dia terus menggangguku ...., apa dia baik-baik saja di rumah? Ahhh nggak yakin ...., batin Wilson jadi memikirkan Tisya.


"Tapi saya tidak bekerja Wil ...., memang menyatakan perasaan itu sebuah pekerjaan?!" ucap Maira yang tidak mengerti dengan ucapan Wilson.


"Saya tidak tahu, mudah-mudahan yang saya pikirkan tidak benar!" ucap Wilson sambil meneguk air putihnya yang ada di atas meja, ia tidak mengerti dengan pikirannya sendiri. Walaupun tubuhnya sekarang sedang dengan Maira tapi pikirannya tetap tertuju pada Tisya.


"Jadi bagaimana, apa mau berkencan denganku?" tanya Maira lagi.


"Maaf ....!" ucap Wilson begitu tegas.


"Tapi aku tidak akan menyerah Wil ...!"


"Itu hak kamu, sudah selesai makannya dan saya harus segera kembali!" ucap Wilson sambil memakai kembali jasnya yang tadi sempat ia buka.


"Cepat sekali sih Wil ...., Ini baru satu jam dan kau sudah mau pergi!"


"Saya harus bekerja, sampai jumpa!" ucap Wilson sambil berdiri dan membungkukkan punggungnya.


Dia manis sekali ...., batin Maira sambil tersenyum.


"Sampai jumpa lagi Wil!"


Wilson pun segera meninggalkan Maira sendiri, ia terus kepikiran dengan Tisya. Ia tidak bisa meninggalkan Tisya sendiri terlalu lama, ia tidak bisa percaya dengan para pekerja itu, takut jika salah satu dari mereka memang seorang mata-mata.


Wilson segera menuju ke mobilnya yang terparkir dan masuk ke dalam mobil, meninggalkan restauran itu.


"Padahal sudah jauh masih juga menggangguku ....!" gumam Wilson.


Bersambung


...Jangan gunakan hati kalau bekerja? Tapi pekerjaan itu butuh hati agar kita bisa enjoy dengan pekerjaan kita, bagaimana dong?...


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


tri.ani.5249


Happy Reading 🥰🥰 🥰

__ADS_1


__ADS_2